My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 4

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play Love, Midsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

 

“Aku sudah pernah bicara dengannya. Di kafe. Beberapa waktu yang lalu.” Hagen memberi tahu Annamari.

“Itu tidak bisa dihitung sebagai memperkenalkan diri, Hagen.”

“Baiklah. Aku akan menemuinya nanti, kalau dia datang. Apa aku bisa kembali bekerja sekarang?” Memang Hagen adalah pendiri dan pemimpin firma konsultasi yang bergerak di bidang tata kota ini. Tetapi pemilik peraturan adalah Annamari. Tanpa Annamari kantor ini tidak akan berjalan.

Hagen tenggelam dalam pikirannya setelah Annamari meninggalkan ruangannya. Saat mencuri dengar pembicaraan Mara di kafe siang itu, Hagen tidak sempat memperkenalkan diri karena Mara buru-buru pergi. Siapa pun juga akan bergegas pergi kalau disapa oleh orang asing. Apalagi kalau orang asingnya dianggap menguping.

Gadis itu cantik sekali. Wajahnya berbentuk hati. Bibirnya penuh dan hidungnya sempurna. Bagian yang disukai Hagen adalah mata Mara. Mengingatkan Hagen pada mata ibunya. Lembut, namun penuh semangat. Berbeda dengan kebanyakan orang sini, Mara berambut hitam legam. Tubuhnya tidak tinggi. Pernah suatu ketika, Hagen menonton acara televisi, di mana Mara diwawancara selama tiga puluh menit, setelah gadis itu mendapat kehormatan menari di depan keluarga kerajaan. Pada wawancara tersebut Mara mengungkapkan bahwa selama tinggal di Denmark, sangat sering Mara berharap dirinya berkulit putih, berambut pirang, berbadan tinggi, dan bermata biru. Menjadi berbeda, kata Mara, membuat orang lebih tertarik melihat dan memperhatikannya. Setiap gerak dan perkataan Mara tidak akan luput dari penilaian orang. Oleh karena itu, Mara lebih memilih untuk bersembunyi.

Tetapi sekarang, tampaknya Mara sudah tidak bisa lagi bersembunyi lagi. Seluruh penduduk di negara ini, baik yang menyukai balet atau tidak, mengenal Mara. Termasuk Hagen. Awalnya Hagen terpaksa menemani adiknya menonton dan pada hari itu, adiknya menjelaskan mengenai siapa Mara. Sampai satu bulan kemudian, Hagen tidak bisa menghilangkan tarian indah Mara dari ingatannya. Setiap Mara tampil, Hagen membelikan tiket untuk adiknya, supaya dia memiliki kesempatan untuk menonton Mara. Hingga hari ini adiknya tidak curiga, malah semakin baik padanya. Supaya terus mendapatkan tiket.

Kalau Mara ambil bagian dalam buku yang digagas Hagen, seluruh dunia akan tahu namanya. Mungkin jika diadakan tur buku di negara lain, Hagen akan meminta Mara untuk ikut berbicara. Kombinasi yang menarik. Bukan warga negara Denmark, berkarier dan berprestasi di sini. Orang akan menyukainya.

Layar komputer Hagen menampilkan pesan dari Annamari, yang mengatakan bahwa Tim Catalan menolak rapat di ruangan Hagen dan menginginkan rapat diadakan di pelabuhan. Hagen berdiri dan membawa tabletnya keluar. Tidak terlalu banyak orang di kantor hari ini. Mungkin mereka memilih bekerja dari rumah. Bagian belakang gedung ini langsung menghadap laut. Dekat dengan area pelabuhan. Ada meja dan kursi di area marina yang selama ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk duduk bersantai, makan siang, atau mengadakan pertemuan. Cuaca bagus sekali hari ini. Matahari bersinar dengan hangat.

“Laure,” sapa Hagen kepada salah seorang gadis yang ikut duduk mengelilingi meja bundar. “Bukankah kamu ada wawancara hari ini?”

Gadis berambut pirang tersebut menggeleng dan berdiri. “Bukan wawancara. Pemotretan. Tapi nanti sore. Aku cuma bergosip di sini.”

Hagen mengangguk. “Di mana lokasinya?”

“Di dekat sini. Mara Hakinen akan akan dipotret sebelum dia berangkat ke acara pengumpulan dana untuk anak-anak penderita kanker,” jelas Laure. “Aku ingin menjadikan fotonya untuk cover belakang buku kita. Bagaimana menurutmu?”

“Kalau bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk membaca, tidak masalah bagiku.” Foto sampul depan sudah ditentukan. Puteri Mahkota kerajaan bersama dua anak perempuannya. “Aku akan ke sana nanti.”

“Ke mana?” Laure batal melangkah.

“Ke lokasi pemotretan.”

“Untuk apa?”

Untuk memperkenalkan diri kepada Mara. “Untuk menilai bagaimana kamu melakukan pekerjaanmu.”

Laure hanya menanggapinya dengan tawa.

***

Dari tempatnya berdiri, Hagen memperhatikan Mara yang sedang mengayuh santai sepedanya sambil mengikuti arahan fotografer. Sore ini Mara sangat cantik dengan gaun merahnya. Rambutnya diangkat ke atas dengan detail yang indah di bagian kanan. Riasan sederhana di wajahnya semakin menyempurnakan penampilannya. Meski mengenakan gaun panjang dan sepatu hak tinggi, Mara tampak nyaman duduk di atas sepeda.

Hagen melakukan segala cara untuk mengampanyekan kebiasaan bersepeda. Karena Hagen percaya bahwa sepeda adalah solusi bagi banyak masalah yang dihadapi kota-kota besar di dunia. Mulai masalah kemacetan hingga masalah kesehatan. Salah satu upaya Hagen adalah melalui buku. Kali ini, Hagen menginisiasi diterbitkannya buku yang berisi foto dan profil para wanita berbagai usia yang berprestasi dan menginspirasi, yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama dalam kesehariannya. Ada banyak orang yang terlibat. Mulai dari Puteri Mahkota, anggota senat, penyanyi, balerina, hingga seorang profesor. Buku sebelumnya, yang menampilkan tema serupa, namun semua tokoh yang terlibat adalah laki-laki, menjadi buku paling laris di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Seluruh hasil penjualan digunakan untuk membeli sepeda yang dibagikan kepada orang-orang di negara yang tertinggal secara ekonomi, korban bencana alam, maupun orang-orang yang terdampak konflik bersenjata. Hagen memperkirakan buku yang akan terbit ini akan menjangkau pembaca lebih banyak dan membuka pikiran mereka, mengenai salah satu solusi hidup yang mudah: sepeda.

“Aku sudah punya judul yang tepat untuk profil Mara Hakinen.” Laura, project coordinator yang ditunjuk Hagen, bersuara. “Simple simply classy to make even every princess envious.”

Tanpa sadar Hagen mengangguk. Sederhana dan berkelas adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan Mara. Setelah melihat foto Mara, seluruh anak-anak pasti akan melupakan tuan puteri yang canti di buku dongeng milik mereka. Mereka semua pasti ingin menjadi seperti Mara.

***

Kalau tidak menjadi balerina, Mara ingin bekerja di sini. Mara mengamati ruangan lebar di mana dia duduk saat ini. Kantor ini  nyaman sekali. Ada meja-meja lebar di tengah ruangan, dikelilingi kursi aneka warna. Ada lima rak buku putih dua sisi yang digunakan sebagai sekat. Sofa—di mana Mara duduk—dan bean bag merah mendominasi sepanjang dinding sisi kanan. Dinding dan mebel-mebel berwarna terang. Kabarnya, ada freezer khusus es krim di kantor ini dan semua pegawai boleh makan sepuasnya. Seolah ingin membuktikan kebenaran kabar tersebut, dua orang gadis berjalan keluar dari sebuah ruangan, masing-masing membawa popsicle.

“Untukmu.” Satu botol lemonade mendarat di meja rendah di depan Mara.

“Kamu?” Mara hampir menjerit saat melihat siapa yang duduk di sisi kanannya. Laki-laki yang mencuri dengar pembicaraan Mara di Granola saat itu.

“Hagen.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Mara menjabat tangan tersebut sebentar sambil menyebutkan nama.

“Hagen?” Mara mengerutkan kening. “Kamu yang menaruh bunga di sepedaku?”

“Apa kamu menyukainya?”

“Apa kamu gila?”

 

 

Bersambung.

___

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.

 

My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 3

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Midsommar, Midnatt, Bellamia, dan Daisy

Bagian 1 | Bagian 2

Di balik penampilan sempurna seorang balerina, ada ratusan jam latihan yang melelahkan dan cedera ringan maupun berat yang harus dilalui. Dari tempat duduk penonton, seorang balerina tampak cantik dan tariannya terlihat indah. Mempesona. Mereka tidak tahu, sesungguhnya seorang balerina sedang bermandi keringat dan mungkin, bau seperti kuda. Setelah melewati latihan, cedera, menahan ketidaknyamanan karena tubuhnya lengket dan basah, dan sebagainya selama sepuluh tahun, malam ini Mara tetap menari sebagaimana biasanya dia menari. Menari seolah panggung ini adalah panggung terakhirnya dan lain waktu dia tidak akan memiliki kesempatan untuk berdiri di sini.

Besok dia akan menerima pujian dan banyak kritikan atas penampilannya kali ini. Tidak masalah. Yang penting malam ini dia berhasil membawakan peran Nikiya dengan sangat baik. Setelah mandi air hangat dan mengganti baju, yang paling ingin dilakukan Mara adalah pulang ke rumah dan tidur.

“Mara.” Nora, salah satu balerina yang juga ambil bagian dalam pementasan malam ini, masuk ke ruang ganti membawa satu buket bunga superbesar. Bunga mawar, favorit Mara.

“Untukmu.” Sambil tersenyum lebar Nora mendekati Mara.

“Dari siapa?” Mara mengamati bunga-bunga mawar merah muda yang indah sekali di pelukannya. Tidak mungkin Rafka membeli bunga semahal ini untuknya. Adiknya terlalu pelit untuk melakukannya.

“Dari Hagen,” jawab Nora dengan ringan. Seolah-olah Mara mendapatkan dua belas kuntum bunga yang indah seperti ini bukan kejadian langka.

“Hagen? Siapa Hagen?” Kali ini Mara mengalihkan pandangan dari bunganya dan fokus menatap temannya.

“Siapa Hagen?” Nora malah mengolok dan menertawakan pertanyaan Mara. “Bukankah dia kekasihmu?”

“Kekasih?” Mata Mara hampir meloncat keluar. Jadi orang asing tersebut masuk ke sini dengan mengatakan bahwa dia adalah kekasih Mara? Semua orang percaya dan mengizinkannya? “Dari mana kamu tahu namanya? Apa dia bilang dia mengenalku?”

“Dari mana tahu namanya? Astaga, Mara. Kamu pikir aku hidup di bawah batu? Tentu saja aku tahu namanya. Semua orang juga tahu siapa dia. Dia tidak perlu mengatakan bahwa dia kekasihmu. Bunga ini, yang harganya paling tidak seribu krona, sudah membuktikan. Memangnya laki-laki akan membawa bunga semahal itu untuk sembarang orang?”

Kalau ditukar dengan rupiah, uang seribu krona setara dengan Rp 2.200.000,- lebih sedikit. Bunga ini tidak murah untuk diberikan kepada seseorang yang tidak dikenal. Sudahlah, nanti Mara akan mencari tahu siapa Hagen yang memberinya bunga istimewa ini. Sekarang dia harus pulang dan istirahat. Hari ini terlalu panjang untuknya.

Saat berjalan keluar bersama Nora, Mara mendapati Rafka sedang menunggunya di dekat tempat parkir sepeda. Sedang mengobrol akrab dengan seorang gadis berambut gelap. Nora melambaikan tangan saat membawa sepedanya meninggalkan lokasi parkir.

“Congrats.” Rafka langsung memeluknya. “Kalau Mama dan Papa di sini, dia pasti bangga melihatmu menari dengan sangat bagus seperti tadi.”

“Thanks.” Pengakuan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dia cintai, jauh lebih berarti daripada pujian yang pernah dia dapatkan dari para pengamat.

“Kenalkan ini Agnetha. Dia bilang dia selalu nonton pementasanmu dan dia nggak percaya kalau aku adalah adikmu. Dia orang Indonesia juga. Setengah.” Rafka mengenalkan gadis muda yang cantik yang berdiri di sampingnya.

Mara tertawa. “Wajah kami memang nggak mirip.” Karena dia dan Rafka berbeda ayah dan berbeda ibu. Mara sudah diasuh oleh ibu Rafka semenjak usia dua bulan. Tiga tahun kemudian, ibu Rafka menikah dengan ayah Rafka dan mereka berdua mengadopsi Mara secara hukum. Setahun kemudian, Rafka lahir. “Terima kasih sudah datang menonton malam ini. Apa kamu datang sendiri?”

“Tadi bersama kakakku, tapi dia tidak bisa lama-lama di sini. Harus mengejar penerbangan ke Amsterdam karena ada urusan di sana besok pagi-pagi buta,” jawab Agnetha.

“Kalau kalian masih ingin jalan-jalan atau apa, aku akan pulang duluan,” kata Mara. Malam masih sangat muda dan masih banyak tempat di Copenhagen yang bisa mengakomodasi mereka untuk lebih saling mengenal.

Setelah sepakat bahwa malam ini mereka berpisah jalan, Mara mengayuh santai sepedanya. Di depannya tampak tiga orang laki-laki di atas tiga sepeda sedang mengangkut satu ranjang besar. Mara tertawa. Orang Copenhagen benar-benar luar biasa. Kalau sebelumnya Mara terkagum-kagum melihat orang mengangkut pohon natal setinggi lebih dari dua meter menggunakan sepeda, kali ini Mara tidak tahu harus berkata apa melihat dengan mudahnya orang memindahkan ranjang besar tanpa bantuan mobil. Mara berhenti sebentar untuk mengambil gambar. Selama ini dia senang memotret hal-hal menarik mengenai kota yang sudah dia anggap sebagai rumah sendiri ini.

Kata Copenhagen mengingatkannya pada nama Hagen. Sosok misterius yang tadi memberinya bunga. Sambil melanjutkan perjalanan, Mara memikirkan kembali bung-bunga yang dia terima. Sepertinya Hagen, H, dan HM adalah orang yang sama. Saat berhenti di lampu merah, Mara mengeluarkan ponsel dan memasukkan nama Hagen ke dalam mesin pencari. Banyak berita berkaitan dengan urbanisme muncul pada halaman pertama. Seandainya Mara tahu nama belakangnya. Mara mendesah kecewa karena tidak punya petunjuk lain. Setelah menyimpan kembali ponselnya, Mara kembali melaju sambil berpikir. Apa yang dikatakan Nora betul. Atas tujuan apa seorang laki-laki memberikan bunga sebegini mahal kepada seseorang yang tidak benar-benar istimewa? Atau mungkin Mara istimewa baginya? Memikirkannya saja sudah membuat hati Mara melambung karena tersanjung.

Mungkin Nora tahu lebih banyak mengenai Hagen. Selama mereka bercakap tadi, Mara menangkap kesan bahwa, bagi Nora, Hagen adalah sosok yang familier. Saat berhenti menuntun sepedanya masuk ke dalam apartemen, Mara mengetik pesan singkat kepada temannya. Menanyakan nama lengkap Hagen. Kalau Mara memiliki nama lengkapnya, akan lebih mudah untuk menemukannya dan mengonfrontasi kebiasaan Hagen mengiriminya bunga, tanpa sekali pun menemuinya.

***

Tidak ada satu kota pun yang sempurna. Tetapi ada beberapa kota yang lebih baik dari kota-kota lainnya. Dalam proyek terbarunya, Hagen akan mengunjungi enam kota di masing-masing benua dan akan menunjukkan bagaimana sebuah kota mempermudah hidup penghuninya. Sekecil apa pun usaha yang dilakukan kota itu. Setelah empat tahun menggodok ide tersebut, membicarakan dengan production company, akhirnya program yang dia ususlkan disetujui dan season pertama akan mulai syuting dua bulan lagi. Trailer sudah mulai dilempar dan sejauh ini tanggapan dari banyak orang sangat menggembirakan.

“E-mail-e-mail yang penting sudah kutandai. Yang perlu perhatian segera adalah e-mail dari Barcelona. Sepertinya kamu harus membacanya, sebelum conference meeting dengan orang dari perwakilan pemerintah Catalunia jam satu nanti. Siapa namanya?” Annamari, executive assistant Hagen, mengernyitkan keningnya.

“Kalau begitu, tolong minta Tim Catalan untuk diskusi denganku sekarang,” kata Hagen, tidak menjawab pertanyaan Annamari. Membangun kota berbasis sepeda tidak mudah dilakukan. Perlu waktu yang tidak singkat. Tim Catalan yang dibentuk Hagen, akan mendampingi pemerintah Catalunia dalam setiap proses pembangunan, mulai dari desain hingga uji coba.

“Well, dalam e-mail tersebut ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan Tim Catalan.”

Hagen mengangkat sebelah alisnya. Tim yang dibentuk Hagen adalah tim serbabisa. Tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan.

“Catalonian Civil Engineers Assosiation akan mengadakan seminar saat kamu di sana. Mereka ingin memintamu menjadi pembicara utama.”

“Aku tidak ada rencana untuk ke sana.”

“Tapi kamu akan ke sana. Karena kamu tidak akan melewatkan peluang untuk membagikan ilmumu kepada banyak orang.” Asistennya tersenyum, sudah tahu bahwa Hagen tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengedukasi lebih banyak orang, mengenai pentingnya menata ulang sebuah kota dengan mengutamakan kepentingan manusia. “Oh, ya, Hagen, ada telepon dari Vancouver tadi, mereka ingin mengajukan proposal, juga memintamu menjadi juri dalam bicycle film festival.”

“Kalau tidak mendesak, aku akan memikirkan nanti. Setelah memanggil Tim Catalan, tolong belikan bunga mawar, bukan yang besar. Satu kuntum. Seperti yang sebelumnya. Dan kartu yang kertasnya bagus, yang bisa kugambari.”

“Mara Hakinen akan datang ke sini sore ini untuk diwawancara. Dia menjadi salah satu tokoh perempuan yang dipilih Laure untuk buku terbaru kita,” jelas Annamari. Dari semua orang di gedung ini, Hagen sangat mempercayai ibu tiga anak ini. Termasuk mengenai ketertarikannya kepada Mara, balerina kelahiran Indonesia, yang berdarah setengah Finlandia. “Aku akan tetap membeli bunganya, Hagen. Tapi sekarang sudah saatnya kamu berhenti bertingkah seperti penguntit. Perkenalkan dirimu dengan benar kepada gadis itu.”

 

Bersambung.

Catatan:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 2

Oleh Ika Vihara

Penulis buku Midsommar, Midnatt, Bellamia, dan Geek Play Love

 

Mara berdiri di depan cermin setelah mengganti baju. Hari ini latihan terakhirnya sebelum pementasan La Bayadere[1]. Saat ini mungkin dia disebut orang sebagai penari balet yang istimewa. Tubuhnya tidak tinggi. Hanya 162 cm, yang di dalam balet, disebut sebagai wrong type body. Belasan tahun Mara berjuang demi membuktikan bahwa tinggi badan tidak akan menghalanginya untuk menari. Untuk berada pada titik ini. Menjadi solois kulit kuning pertama setelah tiga puluh dekade.

Ketakutan terbesar Mara adalah, bagaimana jika besok dia tidak bisa menari lagi dan dunia memerlukan tiga puluh tahun lagi untuk menemukan penari balet berkulit kuning yang bisa menggantikan posisi Mara sekarang? Mungkin saat ke Indonesia nanti, Mara akan mengunjungi sekolah balet lokal dan mencari tahu perkembangan balet di Indonesia.

“Mara, apa kamu masih ingin di sini?” Viggo mengetuk pintu ruang ganti.

Dalam pementasan La Bayadere nanti, Viggo akan memerankan Solor, laki-laki yang dicintai dan mencintai Nikiya. Bergegas Mara mengemasi barangnya dan bergerak keluar.

“Kami akan makan malam, apa kamu mau ikut?” tanya Viggo ketika mereka berjalan bersama menuju pintu keluar.

Beberapa teman menari Mara berjalan di depan mereka sambil tertawa. Di sini, di The Royal Danish Ballet, Mara seperti menemukan keluarga baru. Viggo, salah satu penari yang dikagumi Mara, memperlakukan Mara seperti adik sendiri.

“Boleh. Tapi, jangan menertawakanku kalau aku nggak minum alkohol.”

Viggo tertawa dan melangkah menuju sepedanya. “Aku lupa kalau umurmu tidak pernah melewati delapan belas tahun. Mara? Ada apa?”

Mara tertegun di depan sepedanya. Ada sekuntum bunga mawar berwarna kuning terikat di sana. Tidak pernah ada kejadian seperti ini selama dia hidup di Copenhagen. Bunganya indah, Mara mengakui. Tetapi meninggalkan benda pada properti milik orang lain seperti melanggar privasi. Privasi. Kenapa belakangan ini banyak sekali orang yang melanggar privasinya?

Ada sebuah amlop kecil disertakan bersama bunga tersebut.

I hope you are reaching up to the stars. H

Sambil tersenyum Mara mengamati kartu bergambar seorang balerina yang sedang melakukan pointe. Atau menumpukan berat badan pada ujung jari kaki, seperti berjinjit. Siapa H? Kening Mara berkerut ketika memikirkan semua nama teman-temannya. Tidak ada yang berinisial H.

“Mara?” Viggo sudah duduk di atas sepeda, berhenti di depan Mara.

“Nggak ada apa-apa.” Mara memasukkan bunga dan kartunya ke dalam tas.

Mungkin hanya salah satu penggemar yang ingin memberinya semangat. Tetapi penggemar tidak melakukan hal seperti ini. Menaruh sesuatu di sepeda bisa dihitung sebagai menguntit dan Mara bisa melaporkan kepada polisi. Saat mengikuti Viggo menuju pusat kota Copenhagen, Mara sibuk berpikir. Tidak perlu lapor polisi. Selama siapa pun itu tidak menyakitinya. Lagi pula hanya satu bunga yang tidak berbahaya. Kecuali kalau dia menerima satu keranjang bunga dengan seekor ular berbisa bersembunyi di dalamnya. Itu cerita La Bayadere, di mana Nikiya, yang diperankan Mara, mati karena ular berbisa. Mara tertawa karena tidak bisa lagi membedakan mana cerita dan mana kehidupan nyata.

***

“Mara!” teriak Rafka dan dengan kesal Mara menendang selimutnya. Tadi malam adiknya datang dari Jerman, di mana dia kuliah, melakukan kunjungan rutin dua bulan sekali ke Copenhagen, untuk mengecek hidup Mara dan melaporkan kepada orangtua mereka.

“Ada apa sih?” Mara keluar kamar dengan wajah terlipat. “Ini masih pagi. Kenapa kamu sudah teriak-teriak begitu?”

“Ada yang meninggalkan bunga di sepedamu.” Di tangan Rafka ada bunga mawar kuning dan sebuah amplop kecil berwarna putih.

“Siapa yang naruh di sana?” Dengan cepat Mara merebut bunga dan amplop tersebut.

“Pacarmu mungkin?”

“Laki-laki?” Selidik Mara.

“Kamu nggak kenal dengannya? Mara, kamu harus hati-ha….”

“Rafka,” erang Mara putus asa. Demi Tuhan, Mara lebih tua empat tahun dari Rafka, tetapi kenapa Rafka bertingkah seperti bukan adiknya. “Kamu lihat orangnya?”

“Tadi aku mau pergi pakai sepedamu, dompetku ketinggalan dan aku meninggalkan sepedamu di luar sebentar. Saat aku kembali, sudah ada bunga ini. Nggak ada orang lain di sekita sana kecuali seorang laki-laki yang sedang bersepeda.”

“Seperti apa orangnya?” desak Mara.

“Sepeti apa? Seperti orang biasa.”

“Rafka!” desis Mara.

“Ya bermata biru, berambut cokelat, tinggi. Seperti semua orang sini kan?” Rafka berjalan ke dapur, sambil membawa dua gelas kopi dan kantong kertas, yang bisa ditebak, berisi roti. Sarapan mereka pagi ini. Tetapi Mara tidak tertarik untuk sarapan. Mara memilih kembali ke kamar dan memeriksa isi amplopnya.

“Mara,” panggil Rafka ketika Mara hampir mencapai pintu kamar. “Papa bilang kamu nggak boleh pacaran dengan orang sini.”

“Ini hidupku. Terserah aku mau menikah dengan orang mana.” Mara mendelik sebal. Bagaimana dia akan berjodoh dengan orang Indonesia, kalau dia sendiri tidak tinggal di Indonesia? Ada-ada saja. “Kalau menuruti Papa, aku nggak akan menikah seumur hidup.”

Tidak akan ada satu laki-laki pun di dunia ini yang cukup baik di mata ayahnya. Kecuali laki-laki pilihan ayahnya. Oh, tidak. Mendadak Mara merasa ngeri memikiekan kemungkinan ini.

“Raf….” Mara memasukkan amplop ke dalam saku piamanya dan berjalan ke dapur.

“Hmmm?”

Mara duduk di kursi di samping Rafka dan mengambil satu gelas kopi di meja.

“Waktu kamu pulang ke Indonesia dulu, Mama dan Papa nggak ngomongin soal perjodohan, kan?” Dalam keluarga mereka, terdapat sejarah perjodohan. Dan seperti kata orang, sejarah selalu berulang. Mara tidak ingin hal itu terjadi padanya. Dia hanya ingin menikah dengan laki-laki pilihannya, bukan pilihan orangtuanya.

Rafka tertawa keras. “Mana ada yang mau sama kamu?”

“Serius, Raf.”

“Bukan Mama dan Papa yang pernah menyebut. Tapi Nanna dan Papi,” jawab Rafka. Nanna dan Papi adalah kakek mereka dari pihak ayah. “Mereka mencari pewaris untuk meneruskan perusahaan. Di antara kita semua, nggak ada yang tertarik dengan hal seperti itu. Jadi menikahkanmu dengan … siapa pun yang mereka anggap cocok, adalah jalan utama.”

Saat ini, sepupu ayahnya yang menjalankan perusahaan makanan beku milik kakek dan neneknya. Anak-anak dari sepupu ayahnya memilih untuk berkarier di bidang lain. Satu menjadi perancang busana, satu menjadi atlet bulu tangkis dan lainnya menjadi dokter.

“Kenapa harus aku?” Mara menggumam. “Kenapa mereka nggak merekrut orang lain?”

“Karena hanya kamu yang sudah masuk usia menikah dan kamu keturunan langsung Papi. Ingat apa yang Papi pernah katakan? Perusahaan tersebut adalah tempat untuk berkarya bagi anak dan cucu-cucunya. Tapi nggak ada satu cucunya yang tertarik bekerja di sana.”

“Mama nggak akan membiarkan itu terjadi.” Mara menghabiskan kopinya.

“Mungkin saja,” jawab Rafka tak acuh.

Ada banyak hal yang harus dipikirkan Mara hari ini. Sebelum memikirkan pernikahan. Ada hari besar lain yang harus dia lalui sebelum hari pernikahan, yaitu hari di mana dia akan mementaskan Nikiya. Malam nanti. Mara berjalan masuk ke kamar dan tidak melanjutkan percakapan dengan adiknya.

Setelah mengatur posisi di tempat tidur dan kembali masuk ke dalam selimut—cuaca di Copenhagen turun hingga lima derajat Celsius di musim semi seperti ini—Mara membuka amplop di tangannya. Tidak ada tulisan apa-apa pada kartunya. Hanya sebuah lukisan seorang balerina dan pasangan menarinya. Salah satu adegan dalam La Bayadere. Di mana Nikiya dan Solor bersatu dalam cinta dalam kehidupan selanjutnya. Lukisan yang sangat bagus.

Ada inisial di sudut kanan bawah. Mara memperhatikan baik-baik. HM.

H? HM? Siapa dia? Apakah orang yang sama?

Bersambung.

[1] The Temple Dancer

__

Catatan:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

Uncategorized

THE DANCE OF LOVE

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

 

 

 BAGIAN 1

Oleh Ika Vihara

Penulis buku My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, dan The Danish Boss

Mara masih ingat, dan akan selalu ingat, bagaimana dia dan ketiga adiknya selalu berteriak protes dan menutup mata ketika melihat orangtua mereka sengaja berciuman di tengah rumah. Juga sangat ingat bagaimana ayahnya menyalahkan istrinya karena mereka berdua sama-sama tidak ingat untuk menjemput Kallan, salah satu adiknya, di TK karena sibuk bekerja. Lalu gantian ibunya memarahi suaminya yang selalu lupa menurunkan dudukan toilet. Seaneh apa pun alasan yang menyebabkan pertengkaran, kedua orangtuanya selalu bisa menemukan cara untuk berdamai di akhir hari. Mulai dari menari berdua mengikuti lagu di teras belakang sampai berdiam di kamar dan meminta Mara mengawasi adik-adiknya.

Semua itu adalah contoh yang sangat bagus dari orangtua, untuk menunjukkan bagaimana cinta sejati bekerja. Cinta tidak hanya sekadar kata. Cinta adalah menjembatani perbedaan pendapat dan kembali menemukan cara untuk berdamai di akhir hari. Setiap hari. Orangtuanya tidak perlu menjelaskan kepadanya akan pentingnya cinta dan bagaimana cara menemukannya. Dengan sendirinya, Mara sudah mempelajari selama menjadi anak mereka.

“Penny to your thought, Lolipop.” Suara ayahnya terdengar di telinganya.

Mara tersenyum dan kembali fokus pada layar ponselnya. Siang ini, setelah keluar dari studio dan selesai berlatih, Mara memilih duduk di Granola bersama semangkuk es krim, untuk sekadar memberi apresiasi kepada dirinya, yang akan menjadi solois dalam pertunjukan spesial The Royal Danish Ballet. Sudah sangat lama Mara menantikan peran ini. Dalam balet, Giselle diceritakan sebagai sosok seorang wanita yang meninggal karena patah hati setelah mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain. Meski perjalanan cintanya tidak begitu berwarna, Mara cukup membayangkan bagaimana jika ibunya mengetahui suaminya, yang sangat dicintai, bersama wanita lain. Rasa sakit itu yang dia masukkan ke dalam setiap gerakannya.

“You are true ballerina, Mara,” kata artistic director RDB setelah melihat Mara mementaskan Giselle dengan sangat apik waktu itu.

“Aku sudah beli tiket pesawat buat pulang, Papa.” Mara tidak akan melewatkan hari ulang tahun ibu kandungnya. Selama lima belas tahun terakhir, keluarganya memilih untuk merayakan hidup ibu kandung Mara, bukan memperingati kematiannya.

Ah, ibu dan ayah kandungnya. Satu cerita yang tidak kalah indah, tentang pasangan yang memenuhi ikrar sehidup semati. Mara sudah mendengar secara lengkap kisah mereka menjelang ulang tahunnya yang ketujuh belas. Bagaimana kedua orangtuanya meninggal pada hari yang sama dan dimakamkan berdampingan.

“Jangan bawa calon suami pulang. Papa belum siap.”

Kali ini Mara tertawa. “Aku nggak punya pacar, Pa.”

Dengan segala kesibukannya, Mara tidak tahu kapan, di mana atau bagaimana dia akan menemukan cinta. Hari-harinya selalu diisi dengan latihan—meski sudah profesional, seorang balerina harus berlatih setiap hari didampingi guru, supaya tubuh tidak lupa—dan keliling dunia. Menari adalah hobinya dan Mara tidak menyangka bahwa kegemarannya akan berubah menjadi pekerjaan, memberinya penghidupan dan kebahagiaan.

“Tidak perlu susah mencari, Sayang.” Ibunya, ikut bicara, setelah hanya mendengarkan sejak tadi. “Kamu dan pasanganmu akan bertemu dengan cara yang tidak terduga. Papa, orang yang malas keluar rumah saja ketemu jodohnya. Jodohnya datang sendiri ke rumah. Dia tidak berusaha apa-apa….”

“Hei!” Ayahnya protes dan disambut tawa ibunya.

“Ketika kamu bertemu dengan seseorang, dengan sendirinya, kamu akan tahu bahwa dia adalah belahan jiwamu. Kamu akan bisa merasakan. Kadang orang merasakan pada pertemuan pertama. Kadang setelah satu tahun berteman. Kadang perlu waktu lebih lama. Seperti papamu, yang tidak sadar-sadar bahwa dia mencintai Mama.”

Mendengar nasihat ibunya, Mara mengangguk lega. Sejak masih kanak-kanak dan menyukai cerita princess, sampai saat ini, kepercayaannya mengenai pangeran berkuda putih tidak pernah memudar. Mereka akan datang saat belahan jiwa berada dalam bahaya bukan? Tetapi amit-amit, bagian berada dalam bahaya tidak perlu terjadi.

“Papa ingin kamu punya suami orang sini saja, Mara. Setelah kamu puas menari, kamu akan pulang ke Indonesia dan tinggal bersama kami.” Bersamaan dengan itu, tampaknya ayahnya mendapat cubitan dari istrinya, karena ayahnya mengaduh pelan.

“Aku janji, Pa. Aku akan kembali. Aku sudah berpikir untuk mengajar di sana.”

“Rafka akan datang menonton pertunjukanmu, Mara.” Ibunya memberi informasi yang sudah diketahui Mara. Sudah jadwalnya. Salah satu adiknya, Rafka, kuliah di Jerman dan secara berkala datang ke Copenhagen.

“Ma, aku ini Kakak lho.” Mara menyuarakan keberatan. “Kenapa malah aku yang diawasi Rafka?” Tugas dari ayahnya, Rafka harus memastikan keselamatan Mara.

“Kalian saling menjaga,” jawab ibunya.

Setelah lima menit bicara dengan ayah dan ibunya, Mara bercakap dengan Kalan dan Lane, dua adik kembarnya yang tidak pernah berhenti menggambar komik. Sayang sekali, Elma, adiknya yang paling bungsu sedang tidur karena tidak enak badan. Padahal Mara kangen sekali dengannya.

Setelah bertukar ‘I love you’, Mara melepas earplug dari telinganya dan membuka buku yang terbuka di depannya. Meski punya e-reader, Mara tetap suka membaca buku dari kertas.

“’Xcuse me.” Sebuah suara mengganggu konsentrasi membaca Mara.

Mara mengangkat kepala dan melihat seorang laki-laki, dengan mata biru yang cerah dan hangat seperti langit musim panas, rambut berwarna cokelat gelap seperti tanah yang terkena hujan pertama di musim gugur, dan warna kulitnya … pikiran Mara langsung teringat pada orang-orang yang menghabiskan bulan Juli di pantai dan berjemur sepanjang hari. Lebih gelap dan seksi daripada kulit orang Copenhagen pada umumnya.

Bukan warna kulitnya yang seksi, dalam hati Mara meralat, yang paling menarik dari laki-laki yang tiba-tiba menyapanya ini adalah senyumnya. Senyum yang bisa melelehkan gunung es di kutub utara dalam hitungan detik saja.

Seandainya hari ini Mara jatuh saat berlatih, keseleo, dan kesal karena harus istirahat beberapa hari, begitu melihat senyum di wajah tampan milik laki-laki ini, dia yakin akan dengan mudah melupakan ketidakberuntungannya. Dia tidak akan berhenti mensyukuri hidupnya hari ini. Semua orang pasti merasa berada di surga ketika menerima satu senyuman dari laki-laki muda berbaju hitam ini.

“Apa kamu orang Indonesia?” Sapanya dengan bahasa Indonesia yang lancar, tetapi dengan aksen yang tidak biasa. Aksennya tidak mengganggu. Malah terdengar seksi.

Tuhan, kenapa sejak tadi otaknya tidak bisa berhenti mengeluarkan kata seksi.

“Menguping pembicaraan orang itu nggak sopan,” gerutu Mara karena menurutnya, laki-laki ini melanggar privasi.

“Aku tidak mencuri dengar.” Laki-laki berkemeja hitam itu mengerutkan kening. “Kamu bicara di dalam cafe dan aku mengenali bahasa yang kamu gunakan.”

Salah Mara sendiri, membicarakan mengenai hal pribadi dengan keluarganya di muka umum, berpikir tidak akan ada orang yang mengerti bahasa Indonesia di sekitarnya.

“I am a fan,” katanya, setelah Mara mengabaikannya dan memilih kembali memperhatikan bukunya.

“Thank you.” Kali ini, mau tidak mau, Mara tersenyum. Siapa saja yang pernah menyaksikan pertunjukannya, bahkan mengenali dirinya, akan selalu mendapat tempat di hati dan hidupnya. Sebab tanpa mereka, Mara bukan apa-apa.

“Ada sesuatu yang ingin kuketahui darimu.”

Dengan tatapan matanya, Mara mempersilakan laki-laki itu melanjutkan.

“Apa ada cara tertentu supaya surat penggemar yang kukirimkan ke The Royal Danish Ballet akan dibalas?”

“Nggak ada. Aku memang nggak bisa membalas satu per satu.” Seandainya Mara lebih rajin membalas semuanya, pasti dia tidak akan melewatkan surat dari laki-laki ini. Apa tulisan tangannya berkarakter juga seperti wajahnya? Uh, Mara menggelengkan kepala, menyuruh dirinya untuk tidak berfantasi.

“Aku tidak mengirim untukmu, tapi untuk Josefina Jepsen.”

Mara merasakan wajahnya memanas. Oh, Tuhan, ini memalukan sekali. Tentu saja semua orang lebih mengenal Josefina, senior Mara di RDB. “Oh … itu … Aku kurang tahu. Banyak sekali yang mengirim surat dan hadiah kepada Josefina.”

Melihat Mara salah tingkah, laki-laki itu tertawa pelan. “Aku hanya bercanda. Aku belum pernah mengirim surat ke RDB. Mungkin besok aku akan mengirimnya. Untukmu. Jadi, apakah ada cara supaya suratku dibalas?”

“Ada orang yang khusus memilah-milah surat mana yang harus kubalas atau tidak.” Setelah membuatnya malu seperti tadi, orang ini berharap suratnya akan dibalas? Kecuali dengan tidak sengaja, karena Mara tidak tahu namanya.

“Aku mengerti.”

“Terima kasih sudah menonton. Aku harus pergi.” Mara memeriksa jam di pergelangan tangannya. Sore ini dia akan mengepas kostum, lalu mengunjungi paman dan bibinya untuk makan malam.

“Aku tidak sabar menunggu penampilanmu selanjutnya,” katanya. “Aku yakin kamu akan membawakan Nikiya jauh lebih indah daripada saat kamu membawakan Giselle.”

Apakah kamu akan menonton saat aku menari lagi nanti? Ingin sekali Mara menanyakan ini, tetapi dia menahannya. Untuk apa? Kalau laki-laki ini tidak hadir, ruangan tetap akan penuh. Tetapi, Mara tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Kenapa hatinya menginginkan laki-laki ini datang pada hari pertunjukannya dan membawakannya bunga. Khayalan yang nggak masuk akal, Mara memarahi dirinya sendiri. Siapa tahu laki-laki ini menonton balet karena menemani pasangannya, atau bahkan anak perempuannya.

Bersambung.

My Books

5 Bellamia’s Fun Fact

  1. Nikola Tesla. Salah satu orang yang tulisannya–buku dan wawancaranya–kubaca sebelum membuat tokoh Gavin. Nggak semua orang kenal sama Tesla, kan? Kalau bicara listrik, pasti yang terlintas nama Thomas Alva Edison. Memang Tesla yang nggak banyak menerima penghargaan atas temuannya, karena hasil-hasil penelitiannya dicuri. Orang ini menarik, cerdas, teguh pada tujuannya untuk menciptakan sesuatu yang memudahkan hidup orang banyak dan  tidak menikah. Tapi aku nggak ingin Gavin jomblo seumur hidup.

    Memang benda temuan Tesla memberi penghidupan kepada Gavin, sebab dengan meneruskan apa yang sudah ditemukan engineer Kroasia-Amerika itu, gajinya menjadi besar. Hanya saja dia tidak akan mengikuti jejaknya untuk single seumur hidup.

  2. Versi pertama naskah Bellamia macet di tengah jalan. Aku hanya bisa menulis sampai bab ketiga dan nggak tahu gimana harus melanjutkannya. Premisnya sama, interoffice romance. Dengan Gavin sebagai world’s best engineer dan Amia adalah seseorang yang mengetuk pintu ruangannya. Akhirnya aku memutuskan untuk menghapus keseluruhan cerita yang sudah kutulis sepanjang 30 halaman. Aku menulis ulang di halaman kosong, sejak kalimat pertama.

    Gavin mengangguk dan menggeret kopernya begitu saja, tanpa merasa perlu mengucapkan terima kasih.

    “Sepertinyak Bapak lupa sesuatu.” Amia mengingatkan.

    “Apa?” Gavin memeriksa kamar hotelnya kalau ada barangnya yang tertinggal.

    “Terima kasih,” jawab Amia, menyindir Gavin yang tidak mengucapkan apa-apa.

    “Anytime.” Gavin menjawab dengan santai.

    Amia mengerutkan keningnya, orang ini bagaimana sih, disuruh mengucapkan terima kasih kok malah membalas ucapan terima kasih.

    “Maksud saya, Bapak lupa berterima kasih sama saya.” Harus sabar menghadapi Gavin in

    Di atas adalah salah satu bagian yang terhapus dari naskah awal Bellamia. Karena nggak pantes aja Amia ngikutin orang nggak dikenal ngambil koper di hotel, hahaha.

  3. Pada bagian surat Amia, ada bencana besar yang bikin aku nangis sesiangan di hari Minggu. Aku sudah menulis surat tersebut, di dokumen lain. Ketika kucari dan mau kugabungkan dengan keseluruhan naskah, aku nggak menemukan ‘surat’ tersebut. Aku perlu waktu untuk menyesali perbuatan bodohku itu, sebelum mengingat apa yang udah kutulis. Tapi nggak ingat juga, akhirnya aku bikin ‘surat’ baru. Dan kalimat favoritku dalam surat itu?

    Saat kamu menciumku untuk pertama kali, aku memperingatkan diriku untuk tidak terlibat masalah denganmu. Masalah yang sekarang kutahu apa namanya. Cinta.

  4. Bagian favoritku pada novel Bellamia adalah saat Gavin mendatangi Amia di rumah sakit dan memaksa untuk mengantarnya pulang. Awww … siapa yang nggak mau pada hari terburuknya, didatangi oleh laki-laki tampan dan perhatian seperti itu? Gyaaah … aku ingin pas operasi lutut dulu ada Gavin yang … memberi kejutan padaku.

    “HP ketinggalan di kantor jadi … hoi … hoi … apa nih?” Amia panik saat Gavin tiba-tiba mendorong kursi rodanya.

    “I’ll drive you home.”

    “No, thanks. Tolong, Pak! Saya nunggu Vara, kasihan nanti dia kecele kalau datang ke sini.” Akan lebih aman kalau dia pulang bersama sahabatnya daripada dengan atasannya.

  5. Makanan-makanan yang kusebutkan di dalam novel Bellamia adalah makanan favoritku–dan semua orang 😀 Oreo, yang dimakan Amia bareng Savara, lollipop yang diberikan Gavin untuk obat patah hatinya Amia, dan lainnya bisa ditemukan sendiri. Siapa yang nggak suka makan Oreo? Kalorinya besar sekali, untung Amia nggak takut gemuk.

    “Kamu pikir bagian apa yang paling enak dari ayam? Aku lebih suka makan kulitnya daripada ayamnya. Jadi kalau kamu nggak ingin aku membencimu seumur hidup, jangan sentuh kulit ayam di piringku.” Amia memperingatkan. “Ini peringatan terakhir.”

    BONUS:

  6. Ada bagian naskah Bellamia yang ditandai secara khusus oleh editor Bellamia, Mbak Niratisaya, karena beliau suka dengan attitude Amia dan Gavin pada bagian tersebut. Aku juga setuju dengan beliau. Bagian yang mana ya kira-kira?

    Aku tertarik sama kamu. Kalau kamu kerja sama, tidak akan melelahkan seperti ini.” Sebaiknya Amia tahu apa yang sesungguhnya dirasakan Gavin.

    “Tapi aku nggak suka sama kamu,” tukasnya.

    “Tidak masalah. Lama-lama kamu juga suka. It’s just a matter of time.” Tidak perlu buru-buru. Gavin punya banyak waktu.

    Menyebalkan sekali kan Gavin ini? Kalau quote Amia yang ditandai keren oleh editor adalah ini:

    Hidup ini bukan geladi bersih. Ini pertunjukan sesungguhnya. Jadi orang harus selalu menampilkan yang terbaik.

     

    Jadi, bagian mana dari novel Bellamia yang teman-teman sukai?