My Books

Afnan Møller: An Interview

Afnan Møller adalah salah satu tokoh yang berarti dalam hidupku. Berkat dirinya buku pertamaku berhasil terbit dan kemudian menyusul buku-bukuku yang lain. Dalam banyak pesan yang kuterima melalui Instagram, Facebook, Twitter, e-mail, maupun WhatsApp, aku tahu bahwa teman-teman juga menyukai Afnan. Karena itu, ketika ada kesempatan, aku ‘mewawancarai’ Afnan dan mencari tahu bagaimana hidupnya dulu dan sekarang. Jalan yang kulalui berliku, aku harus menghubunginya melalui Instagram Hessa dan … di bawah ini kupersembahkan hasil ‘wawancara’ dengan Afnan beberapa hari yang lalu.

 

 

Good afternoon, Dr. Møller. Thanks for letting me interviewing you for all of your fans out there.

Afnan, please. Fans? Aku bukan artis atau apa. Hanya orang biasa.

Orang biasa? Mungkin menurut Hessa tidak.

Hessa. She is something, isn’t she? Sampai hari ini aku tidak pernah menyangka ada seorang gadis yang rela mengorbankan segalanya demi laki-laki sepertiku. Kalau mengingat betapa lamanya dia mengambil keputusan untuk menikah denganku, tentu permintaanku waktu itu sangat tidak mudah.

Aku lihat foto-foto Hessa di Instagram, sepertinya kalian baru pulang liburan dari tempat hangat.

Iya, musim panas ini Hagen memilih untuk ikut camp, science camp, because he is his father’s son, selama satu bulan dan kami baru ada waktu untuk liburan pada bulan Agustus. Hanya sebentar, tapi cukup bagi kami semua untuk mendapatkan cukup sinar matahari. Hessa masih aktif di sana? Aku sudah memperingatkannya untuk berhati-hati membagi kehidupannya kepada orang lain.

Hanya foto tempat-tempat yang dia datangi dan foto anak-anak. Bagaimana kabar Hessa sekarang?

Masih terus beradaptasi dengan Aarhus. Proses yang tidak akan pernah selesai. Tidak mudah pindah dari Indonesia, yang sudah dia tinggali sejak lahir sampai 27 tahun kemudian, ke sini. Hessa adalah wanita yang paling kuat di dunia, keteguhan hatinya sangat luar biasa. Dia tidak ingin menyerah memperjuangkan pernikahan kami. Seasonal Affective Disorder tidak membuatnya menangis minta pulang ke Indonesia. Kesepian dan kesenderian dia telan sendiri, hanya karena dia tidak ingin membebaniku.

Jadi, kamu pernah merasa terbebani?

Tidak sama sekali. Saat menikah dengannya, aku belum bisa mengatakan aku mencintainya. Karena, memang kamu memutuskan menikah dengan banyak pertimbangan, kecuali cinta. Hessa bukan beban, tetapi tanggung-jawab. Sejak melamarnya, aku sudah mengatakan bahwa aku akan memperlakukannya sebagaimana seorang suami memperlakukan seorang istri. Mau cinta atau tidak cinta, aku akan menyayanginya dan membahagiakannya. Meskipun, Hessa tidak merasakannya pada tahun pertama pernikahan kami. Mungkin karena aku tidak terlalu bisa menunjukkan. Orang tidak tahu betapa menderitanya Hessa pada masa itu.

Menderita seperti apa? 

Salah satu syarat yang kuajukan sebelum menikah adalah istriku harus mau pindah ke Aarhus dan tinggal di sini bersamaku. Dengan paksa aku mencabut akar kehidupan Hessa dan memindahkan ke tanah yang sama denganku. Di tanah ini, aku punya lebih banyak kehidupan daripada Hessa. Aku punya teman, aku punya pekerjaan, aku punya restoran favorit, aku punya segalanya. Tetapi milik Hessa semua harus ditinggalkan di Indonesia. Dia tidak punya siapa-siapa, tidak tahu harus melakukan apa, dia di rumah sendirian selama aku berada di kantor dari pagi hingga sore, bahkan dia tidak bisa berbahasa Denmark. Juga, aku salah memilih waktu untuk pindah ke Denmark. Menjelang musim semi. Cuaca dingin sekali dan hari semakin pendek. Tubuh Hessa menolak untuk menyesuaikan diri. Semua faktor tersebut berkumpul dalam tubuh Hessa dan dia jatuh sakit. Diagnosis dokter menunjukkan bahwa Hessa menderita Seasonal Affective Disorder dan tidak diperbolehkan hamil. Padahal menurut Hessa kehadiran seorang anak akan mengurangi rasa sepinya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengurangi penderitaan Hessa?

Menemaninya. Aku mengambil cuti dan menemaninya untuk mencari aktvitas-aktivitas luar ruangan. Seperti ke perpustakaan. Mengenalkannya dengan orang-orang yang berbagi kegemaran yang sama. Juga mencarikan guru untuk mengajarinya bahasa Denmark. Banyak orang yang mengatakan Hessa terlalu manja. Hanya mengandalkan diriku untuk menjalani hidup di Aarhus. Seharusnya dia travelling, mumpung berada di luar negeri. Percayalah, ketika anda semua dihadapkan pada posisi Hessa, travelling adalah sesuatu yang tidak akan ada pikirkan. Kecuali anda datang ke sini untuk jalan-jalan dengan berlindung di balik kata beasiswa. Prioritas Hessa bukan travelling. Melainkan mengenalku, memperkuat fondasi pernikahan kami, dan membangun rumah tangga di sini. Semua itu tidak akan tercapai jika Hessa sibuk travelling.

Berlindung di balik kata beasiswa?

Aku mengajar di universitas dan aku tahu cukup banyak mahasiswa mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri karena ingin jalan-jalan gratis. Orang-orang seperti itu tidak akan bertahan lama di dalam laboratorium yang kupimpin.

Oh, hahaha. Ada yang menanyakan, sebagai orang Denmark, kenapa namamu tidak ada Denmark-Denmark-nya? Tidak seperti kembaranmu, Mikkel.

Setiap orangtua tidak sembarangan memberi nama anaknya. Karena nama adalah doa. Kakekku orang Denmark dan menikah dengan wanita Maroko. Nenekku yang mengusulkan nama Afnan dan karena namanya baik, maka orangtuaku setuju. Sedangkan nama Mikkel dipilih untuk menghormati sahabat karib ayahku yang sudah meninggal.

Mumpung membicarakan masalah nama, apa arti nama Sofia bagimu?

Segalanya. Sofia adalah titik balik kehidupan kami. Baik sebagai pasangan maupun sebagai pribadi. Kami banyak beradu pendapat mengenai masalah kapan akan punya anak. Awalnya aku merasa bahwa fokus pada kesehatan Hessa jauh lebih penting daripada punya anak. Tetapi Hessa, wanita yang teguh hati itu, bersikeras memilikinya. Pada akhirnya kami belajar untuk mencari jalan tengah dan sama-sama bertanggung-jawab atas keputusan yang kami ambil bersama. Aku tidak pernah menyalahkan Hessa atas apa yang terjadi pada Sofia. Meski Hessa seringkali merasa bersalah dan mengganggap dirinya gagal sebagai seorang istri karena kejadian itu.

Di mataku kehidupan kalian sempurna.

Hessa yang sempurna. Aku jauh dari sempurna. Kalau ditanya siapa yang paling banyak berkontribusi untuk pernikahan kami, Hessa adalah orangnya. Semua penghargaan harus diberikan kepadanya.

Kamu sangat mengagumi dan memuja Hessa ya.

Tentu saja. Itu tugas seorang laki-laki sejati. Menyayangi dan memuja istrinya.

Untuk orang-orang yang belum menikah di luar sana, apa kamu menyarankan untuk mencari pasangan melalui perjodohan?

Tidak. Jalan untuk bertemu dengan belahan jiwa bermacam-macam. Kebetulan saja aku dan Hessa sama-sama setuju saat kedua orangtua kami mengusulkan untuk saling bertemu. Adikku, Lilja, menikah dengan Linus yang sudah dikenalnya sejak kanak-kanak. Kembaranku, Mikkel, punya banyak sekali teman wanita dengan berbagai macam latar belakang, siapa yang menyangka dia malah jatuh cinta pada Liliana, teman SMP Lilja. Tidak perlu mengambil pusing mengenai masalah tersebut. Jika sudah waktunya akan bertemu, bagaimana pun caranya. Tuhan punya skenario sendiri.

Tetapi kita bisa mengatakan bahwa kamu dan Hessa berhasil dan bahagia hingga sekarang.

Pemandangan yang indah didapatkan ketika kita berhasil mendaki hingga ke puncak gunung. Yang ingin kukatakan adalah, tidak semua kebahagiaan yang tidak didapat dengan mudah. Seringkali kita harus menghadapi jalan yang terjal, panjang, dan melelahkan terlebih dahulu. Menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, baik sebagai individu maupun pasangan, bersama dengan Hessa membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Tidak ada rencana untuk pulang dan mengabdi di Indonesia?

Bukan masalah penting tinggal di mana. Yang penting di mana pun aku berada, aku akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Berarti tidak?

Mungkin. Akar kehidupan Hessa sudah mulai tertancap di sini. Dia telah menyelesaikan master dan sedang menimbang-nimbang untuk meraih Ph.D, dia sempat bekerja sebagai guru, dan sekarang bersama teman-teman wanitanya di sini, dia mendirikan sebuah badan untuk membantu anak-anak di daerah konflik. Hagen nyaman dengan sistem kehidupan di sini. Pagi belajar di TK, siang hingga sore di daycare. Kehidupan kami sudah mulai stabil dan akan sulit membangun ulang di Indonesia.

Apa yang ingin kamu ucapkan pada Hessa?

Terima kasih sudah membuatku menjadi laki-laki paling beruntung sedunia. Anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat karena mewarisi nilai-nilai kehidupan darimu.

Terakhir, apa yang ingin kamu sampaikan kepada fansmu?

Aku masih tidak percaya mereka ada. Tetapi jika benar-benar ada, pasti kalian sudah mendengar kabar mengenai Hessa dan masa sulit yang harus dia hadapi setelah melahirkan Thea. Mungkin kalian sudah tahu bagaimana ceritanya. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian selalu mendoakan dan mencintai Hessa. Sehingga dia bisa semakin kuat dan akan bisa menghadapinya.

Oppsie, itu suara Hagen? Sepertinya dia memerlukan ayahnya. Terima kasih sudah berbagi denganku hari ini. Aku yakin ini akan mengobati kerinduan kita semua kepada keluarga kalian. Tolong sampaikan pada Hessa, kalau dia bersedia, aku ingin mengobrol dengannya juga.

####

Penting:

  1. Cerita Afnan dan Hessa bisa diikuti dalam novel My Bittersweet Marriage dan Midnatt.
  2. Wawancara di atas adalah hasil imajinasiku belaka.
My Books

THE DANCE OF LOVE: Bagian 6

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play LoveMidsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4 | Bagian 5

 

Lebih menyenangkan menghabiskan musim panas di luar ruangan. Sambil menikmati es krim atau smoothie. Hati Mara hancur menyaksikan anak-anak harus tinggal di rumah sakit selama musim panas. Meski dinding lantai khusus anak di rumah sakit dihiasi dengan mural yang indah, tapi tetap tidak akan menggantikan hangatnya sinar matahari. Mara berjalan bersama Nora dan Viggo, masing-masing membawa setumpuk hadiah di tangan. Ada beberapa surat dari anak-anak yang masuk ke RDB. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka rindu menari balet dan menonton pertunjukan balet. Karena itu, hari ini Mara dan dua temannya membawa serta kostum mereka dan akan menari di sini, di depan anak-anak yang kurang beruntung.

“Ups, sorry.” Karena melamun sejak tadi, Mara menabrak sesorang saat berbelok di lorong. “I didn’t … oh … Hagen? Kenapa kamu pakai baju seperti itu?” Mara tertawa mendapati Hagen di hadapannya. Di hidung Hagen ada bola bulat merah dan rambut palsu berwarna kuning menghiasi kepalanya. Baju yang dikenakan Hagen berwarna oranye dengan celana dan suspender berwarna hitam.

“Berbeda dengan balerina yang cantik, tugasku di sini adalah menjadi badut dan melakukan trik sulap.” Hagen mengambil kotak-kotak kado dari tangan Mara. “Aku datang ke sini setiap hari Jumat pada minggu keempat. Aku tidak punya keahlian lain selain berbuat konyol dan membuat mereka tertawa.”

“Seandainya mereka seumuran denganku, mereka pasti akan lebih memilih dikunjungi oleh Hagen tanpa topeng,” kata Mara ketika mereka sudah sampai di ruang tunggu ruang rawat khusus anak.

“Kenapa wanita seumuran kamu memilih melihat wajah asliku?” Apa Mara menganggap hagen menarik? Tampan? Seksi? Atau apa? Hagen penasaran.

Mara menggeleng sedikit salah tingkah, lalu menunduk dan berjalan menjauh untuk menemani Nora bicara dengan suster. Tiga menit kemudian, Mara kembali menghampiri Hagen untuk mengambil kembali kotak-kotak kado.

“Terima kasih banyak, Hagen.”

“Apa kamu ada waktu untuk makan malam setelah dari sini?’ Hagen memeriksa jam tangannya. Sudah sore saat ini dan Hagen berharap Mara tidak ada acara lagi sampai akhir hari.

“Tentu saja aku selalu ada waktu untuk makan malam setiap hari, Hagen.”

Hagen tertawa mendengar candaan Mara. “Karena kita sama-sama perlu makan malam, bagaimana kalau melakukannya bersama?”

“Kamu mengajakku kencan?” tanya Mara.

“Kita tidak perlu membebani diri kita dengan judul kegiatan seperti itu. Kita akan makan dan jalan-jalan sebentar. Aku akan menjemputmu nanti jam lima? Di apartemenmu?”

Kening Mara berkerut. Hagen sudah tahu di mana dia tinggal tanpa Mara perlu memberikan alamatnya.“Stalker. Baiklah. Aku harus masuk dulu.”

Kalau tidak harus menghibur dan membesarkan hati anak-anak yang sedang sakit, saat ini Mara pasti sudah menelusuri berbagai macam situs untuk mencari tahu apa yang harus dan tidak boleh dilakukan pada kencan pertama. Termasuk pakaian apa yang pantas dikenakan saat kencan pertama dan di mana pasangan harus melakukan kencan pertama. Mara bukan jenis orang yang menjawab terserah jika dimintai pendapat ingin makan di mana atau ingin melakukan apa. Hagen tidak akan membawanya makan di restoran bintang lima, sebab Hagen tidak menyebutkan bahwa Mara harus memakai gaun. Kencan pertama mereka akan berjalan santai.

Meski Hagen tidak mau menjuduli acara makan malam mereka dengan ‘kencan’, Mara tetap mengategorikannya sebagai kencan. Satu kata tersebut teramat penting bagi Mara, karena selama ini, kencan pertamanya tidak pernah bisa berlanjut hingga kencan berikutnya. Karena salahnya sendiri. Mara terlalu takut jika seorang laki-laki merasa nyaman dengannya, maka laki-laki tersebut berharap lebih dari hubungan mereka. Hingga hari ini Mara tidak siap untuk menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Mara tidak berencana menikah hingga kariernya memasuki masa senja. Atau jika menikah, Mara tidak ingin memiliki anak hingga dia benar-benar sudah siap untuk meninggalkan panggung megah yang selama ini menjadi dunianya.

Mara mengiyakan permintaan Hagen untuk makan malam bersama sebab Mara tahu—dari berbagai sumber—bahwa Hagen masih sibuk membangun usahanya dan menjalin hubungan tentu belum menjadi prioritas utamanya. Mungkin mereka bisa menyepakati jadwal pertemuan yang akan menguntungkan mereka berdua. Bertemu sekali seminggu jika sama-sama sedang tidak ada kesibukan atau tidak pergi ke luar negeri misalnya. Tanpa sadar Mara tersenyum, yakin bahwa pertemanannya dengan Hagen akan berjalan sebagaimana yang dia harapkan.

***

Hagen memilih Julian Tolboden untuk lokasi makan malam mereka kali ini. Letaknya tidak jauh dari patung The Little Mermaid—yang terinspirasi dari cerita Den Lille Havfrue karya Hans Christian Andersen—yang sangat terkenal itu. Setelah makan malam, Hagen berencana mengajak Mara untuk berjalan-jalan sebentar di sana, sambil menunggu isi perut turun. Dari tempat mereka duduk saat ini, mereka bisa melihat pelabuhan ferry dengan laut birunya dan segala kesibukan di sana melalui jendela kaca lebar berkusen putih. Tetapi Hagen lebih suka dengan pemandangan di depannya. Wajah cantik Mara yang sedang serius membaca buku menu. Rambut hitam legam Mara berkilau tertimpa sinar matahari.

Hagen mengalihkan pandangan ketika Mara mengangkat kepala. Mata abu-abunya menatap Hagen penuh tanda tanya. Matahari mungkin sedang merasa malu karena kalah bersinar dengan senyuman Mara. Mara bertanya padanya apa ada yang salah dengan wajahnya. Kesalahan Mara hanya satu, menurut Hagen. Dia terlalu sempurna.

Kalau Hagen bisa duduk makan malam semeja dengan Mara dan tidak memiliki niat untuk menjadikan pertemanan mereka berkembang sesuai keinginan Hagen, dia pasti tidak waras lagi. Tetapi semuanya perlu waktu. Mara akan menganggapnya gila kalau Hagen terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada makan malam pertama mereka.

Karena tidak ingin terus memikirkan bagaimana rasanya mencium bibir penuh Mara, Hagen memilih untuk memperhatikan sekelompok orang yang sedang duduk di bagian restoran, seperti sedang merayakan kelulusan. Sebentar lagi beberapa di antara mereka dipastikan akan mabuk, Hagen sudah tahu betul bagaimana akhirnya acara berkumpul anak-anak muda.

“Salmon ‘n’ Chips dan Anton’s Juice. Rhubarb.” Setelah mempelajari menu, Mara menentukan pilihan. “Aku ingin makan udang, tapi aku harus mengupasnya sendiri, betul kan?” Mara mengonfirmasi pada gadis muda yang akan mencatat pesanan mereka.

“Kalau begitu aku akan memesan Shrimp ‘n’ Chips. Large. Supaya kamu bisa mencicipi dan aku akan mengupaskan kulitnya untukmu,” jelas Hagen ketika mata Mara membesar mendengar Hagen memesan makanan dengan ukuran tidak biasa. “Dan softdrink.”

“No beer?” tanya Mara setelah pesanan mereka selesai dikonfirmasi.

“No wine?” Hagen balik bertanya pada Mara.

“Umurku belum delapan belas tahun.” Jawaban sambil bercanda seperti ini selalu dilontarkan Mara ketika teman-temannya bertanya kenapa dia tidak pernah menyentuh alkohol.

“Kalau alkoholnya tidak sampai 16%, umur 16 tahun sudah boleh minum.”

“Oh ya? Kukira dipukul rata minimal usia 18 tahun.” Meski lama tinggal di Copenhagen, agaknya Mara masih belum banyak tahu mengenai informasi kecil semacam ini.

“Apa kamu sudah pernah makan di sini sebelumnya?” Hagen menunggu hingga pelayan selesai meletakkan minuman mereka di meja sebelum memulai percakapan berikutnya.

“Sudah. Barbecue, saat salah satu temanku ulangtahun. Dia seorang aktivis lingkungan dan dia percaya bahwa restoran ini menekan penggunakan karbon dalam semua bahan dan setiap proses memasak. Apa menurutmu informasi itu benar?” Mara menyesap minumannya.

“Aku tidak tahu benar atau salah, hanya saja jika benar, aku menghargai usaha mereka. Menghindari karbon sangat mungkin dilakukan. Apa kamu pernah pergi ke Samsø?”

“Belum pernah. Kenapa memangnya?” Mara pernah mendengar nama salah satu pulau kecil di laut Kattegat tetapi belum pernah mengunjunginya.

“Samsø adalah pulau bebas karbon. Kalau kamu bisa libur beberapa hari, kita bisa pergi ke sana bersama dan kamu akan merasakan tingginya kualitas udara Samsø. Kita bisa camping di sana. Berangkat dari sini naik sepeda, jadi kita tidak pusing tranportasi selama di sana.”

“Camping?” Raut wajah Mara saat memastikan satu kata ini membuat Hagen tertawa. Seperti Mara disuruh makan kelabang—bukan salmon—untuk makan malam mereka kali ini. “Terima kasih. Lebih baik aku diam di rumah.”

 

Bersambung.

 

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.