My Bookshelf

WRITING HANGOVER

Hangover. Aku nggak tahu dalam bahasa Indonesia dialihbahasakan menjadi kata apa. Di luar negeri, orang mengalami hangover setelah kebanyakan minum alkohol. Malam mereka mabuk, lalu tidur dan paginya pusing, lemes, bingung–ini yang disebut hangover. Katanya, kalau tidur–setelah mabuk–cukup lama, nggak akan kena hangover parah. Tapi meski kita nggak minum, kita juga bisa kena ‘hangover‘ di berbagai aspek kehidupan. Book hangover, kita baca buku yang bagus banget sampai beberapa hari kita cuma pengen membayang-bayangkan apa yang sudah kita baca, kita baca ulang, dan nggak ada niat buat melakukan hal lain. Diajak temen ke mall aja males, soalnya lebih pengen melamu. Cara menyembuhkannya sama seperti alcohol hangover, dibiarkan saja beberapa hari. Nanti setelah otak dan tubuh kita pulih, kita baca buku lagi. Kalau ketemu buku yang bagus.

Sekarang ini, aku mengalami hangover lain. WRITING HANGOVER. Kalau menyelesaikan naskah dan menerbitkannya adalah proses drinking–alias mabok, setelahnya aku hangover. Seperti sekarang, aku mengalami Bellamia hangover. Setelah berbulan-bulan bergulat dengan naskah dan buku Bellamia, susah sekali buatku untuk keluar dari karakter Gavin. Setiap nyoba nulis, yang keluar Gavin lagi Gavin lagi. Warna tulisanku juga mirip-mirip Bellamia. Tulisanku disorientasi, persis seperti orang hangover setelah mabok parah.

Kalau ada penulis yang ‘istirahat’ nulis lama, mungkin dia sedang hangover. Nggak tahu harus nulis apa setelah buku terbarunya terbit. Itu wajar dan lumrah. Tapi aku nggak mau hangover lama, sampai setahun atau lebih begitu. Dua tiga bulan cukuplah, kalau memungkinkan.

Sebagai penulis–kemarin sore–pasti kita ingin nulis sesuatu yang berbeda. Kalau nggak bisa berbeda daripada penulis lain, paling nggak berbeda dari buku kita sebelumnya. Jangankan pembaca, aku aja bosan nulisnya kalau seperti itu. Kalau sudah sukses dengan cerita model A, biasanya penulis bikin yang semodel, karena main aman:pembaca suka. Tulisan hangover. Kalau aku sebagai pembaca, ya aku cari buku lainlah. Ngapain baca cerita yang mirip. Tapi sekarang makin susah cari buku yang seger dan beda.

Anyway, balik lagi ke writing hangover. Yang pertama kulakukan adalah membaca buku. Kubeli buku lucu seperti Pants Are Everything, nggak ngangak juga. Masih mabok Gavin. Buku yang serius, seperti Without Their Permission–malah pingin mabok Dinar. Kuaduk-aduk terus segmen biografi. Sekalian riset buat karakter di naskah selanjutnya. Sekali terpuk dua lalat. Karena waktu yang tersedia buat nulis dan baca, nggak banyak. Dan aku nggak bisa menulis kalau nggak banyak membaca. Banyaakkk banget. Setelah baca dua buku penuh–sebulan, aku bisa lepas dari hangover dan bisa nulis lagi. Tanpa teringat Gavin seperti apa.

Setelah nggak begitu hangover lagi, aku nulis naskah ‘jembatan’. Perantara antara Bellamia dan buku selanjutnya–cerita tentang Savara dan cerita tentang Mikkel Moller. Setuju sama dua cerita itu? Jembatan yang kupilih adalah Midsommar, prequel Mikkel, cerita dia saat masih pacaran. Karena rencananya cerita ini bakal ada dalam marriage lit seperti My Bittersweeet Marriage dan When Love Is Not Enough. Midommar mungkin bakalan ada sedikit-sedikit bagian yang mirip sama Bellamia dan Gavin-nya. Tapi nggak papa, yang penting saat ngerjain buku yang sesungguhnya, Midnatt, aku sudah keluar dari pengaruh Bellamia dan Gavin. Savara sudah kuselesaikan sebelum Bellamia, tinggal perbaikan di sana-sini dan kurasa Bellamia nggak akan mempengaruhi.

Dan Midsommar bisa dibaca gratis, seperti halnya naskah ‘jembatan’-ku yang lain. Link ada di bawah.

P.S: Aku juga punya sebuah rencana, yang sampai sekarang masih belum kuketahui bakalan bikin temen-temen seneng atau … nggak. Tunggu saja kaabr dariku, semoga dalam waktu dekat.

 

Link buat baca gratis naskah ‘jembatan’-ku:

Midsommar karya Ika Vihara

The Danis Boss karya Ika Vihara

Link baca gratis terkait:

Bellamia karya Ika Vihara

Geek Play Love karya Ika Vihara

My Books

Freebie: Baca Cerita The Mollers Gratis Di sini

 

Siapa The Mollers? Keluarga rekaanku. Aku sudah menuliscerita mereka sebanyak tiga judul. Bukan buku bersambung. Tokoh utamanya ganti-ganti, cuma nama belakangnya Moller semua. Sampai hari ini masih ada cerita mereka yang bisa dibaca gratis melalui link di bawah ini:

Midsommar Chapter 1 sd 6
The Dance of Love Chapter 1, 2, dan 3

The Danish Boss Chapter 1 sd 20

Sedangkan buku-buku The Mollers yang sudah ada di toko buku adalah:

My Bittersweet Marriage

Afnan Moller. Half-Danish. Memutuskan untuk menjadi warga negara Denmark, mengikuti ayahnya, saat usia 18 tahun.  Mikrobiologis di Aarhus University Hospital. Sudah tinggal di Aarhus selama 12 tahun dan akan tinggal di sana sampai akhir hayat. Sebagai muslim, menemukan calon istri yang seiman di sana sulit sekali. Ditambah kesibukannya–pekerjaan, seminar, dan sebagainya–

Hessa. 27 tahun. Ibunya sudah ribut menyuruhnya menikah, sebelum dilangkah adiknya yang sudah dilamar. Masalahnya, bagaimana menemukan orang yang bisa membuatnya jatuh cinta? Saat sedang pusing memikirkan cinta, ibunya memberitahu bahwa ada laki-laki yang tertarik dengannya. Hessa memperlajari profil Afnan, dengan bantuan internet, dan, mau tidak mau, mengakui bahwa dia terpikat dengan sepasang mata biru seperti samudera tersebut. Masalah besarnya hanya satu. Afnan tidak tinggal di sini. Dia tinggal di Denmark dan tidak punya waktu untuk saling mengenal. Yang diinginkan Afnan adalah menikah dan membawa istrinya tinggal di Aarhus. Bagaimana rasanya meninggalkan semua hidupnya di sini, untuk hidup di sebuah tempat yang namanya saja tidak pernah dia dengar? Bagaimana rasanya meninggalkan keluarga, sahabat, dan pekerjaan, demi hidup bersama laki-laki yang baru ditemui tiga kali?

When Love is Not Enough

We will meet:

Lilja Moller. 28 tahun. Berdarah Denmark. Baru saja pindah ke Indonesia dan bekerja di perusahaan keluarga.Menikah dengan Linus, orang yang sudah dia kenal sejak lahir, dan tidak bisa lagi menghitung betapa besar dia mencintai Linus. Mencintainya sebagai teman, kakak, kekasih dan ayah dari almarhum anak perempuannya. Tetapi cinta saja tidak cukup menahan Lily untuk tetap menghidupkan pernikahan mereka. Sehingga Lily menyimpulkan pernikahan mereka tidak layak dipertahankan. Sambil menahan rasa sakit akibat patah hati, Lily bersumpah tidak akan lagi mempertaruhkan dirinya untuk disakiti lagi.

Linus Zainulin. Linus the Genius, kata Lily. 30 tahun. Merasa sudah memiliki kehidupan yang sempurna. Mendapatkan pekerjaan yang paling dia minati di salah satu perusahaan terbesar di dunia di Munich, Jerman. Hobinya, bermain sepak bola mendatangkan keuntungan finansial dan ketenaran. Menikah dengan gadis impiannya, sahabat terbaiknya, Lily Moller. Yang cantik dan cerdas. Seolah ingin membuktikan bahwa tidak pernah ada sesuatu yang sempurna, Linus menghancurkan pernikahan mereka dan Lily memilih untuk pergi. Meninggalkannya dalam tumpukan penyesalan. Bagaimana cara mendapatkan Lily kembali? Bagaimana cara memenangkan hatinya lagi? Bisakah pernikahan dibangun oleh satu orang saja?

 

My Bookshelf

Hari Ini Setahun Yang Lalu

Cerita ini berawal dari sebuah obrolan santai dengan seorang teman berkebangsaan Denmark. Dia ingin menghabiskan hidup di negara hangat dan makan nasi sementara saya ingin merasakan tinggal di negara dingin dan makan roti. Sebuah obrolan yang membuat saya mendapatkan gagasan untuk sebuah premis cerita dengan menggabungkan unsur-unsur roman di dalamnya. Sebuah obrolan yang membuat saya ingin tahu lebih banyak lagi tentang negara dingin itu dan kehidupan di sana. (halaman v, My Bittersweet Marriage)

21 Maret 2016

Hari itu, bersamaan dengan hari ulang tahun sahabat terbaikku, pendukung utamaku, Instagram dan Facebook-ku banjir dengan foto-foto istimewa. Mention dan tag teman-teman kuliah, teman SMA, teman kursus bahasa Inggris, teman-teman kerja, teman-temanku sekelasku saat belajar menulis di Jogja, teman-teman Wattpad dan banyak lagi orang. Mereka memberitahuku bahwa mereka sudah membawa pulang buku pertamaku, My Bittersweet Marriage.

Aku masih ingat pada tahun 2015, setelah nunggu berbulan-bulan, akhirnya naskah yang kuajukan ke penerbit diterima. Nerima kabarnya hari Jumat, malam habis Magrib. Atau aku tahunya habis Magrib. Pada waktu itu, di sini, aku tidak punya banyak followers dan viewers. Aku mencoba percaya saja bahwa naskah yang sudah kutulis sebaik-baiknya, akan mendapat kepercayaan. Karena itu aku menjawab kekecewaan teman-teman yang kecil hati karena khawatir naskahnya tidak kunjung terbit karena tidak capai empat atau tujuh juta viewers, tidak selamanya seperti itu. Jalan kita tidak mudah. Nothing good is easy. 

Yang pertama terlintas dalam benakku ketika menerima kabar terbit, aku ingin menarik naskah dan memperbaikinya lagi. Aku belum puas betul dengan naskah itu dan aku merasa aku terlalu terburu-buru untuk menerbitkan. Tapi apa mau dikata, sudah terlanjur. Jadi seperti itulah adanya My Bittersweet Marriage.

Ada banyak pertanyaan dari teman-teman, kenapa aku menulis tentang Denmark, dalam My Bittersweet Marriage(dan The Danish Boss)

Ada banyak pertanyaan dari teman-teman, kenapa aku menulis tentang Denmark, dalam My Bittersweet Marriage(dan The Danish Boss). Jawabannya seperti paragraf pertama di atas. Tentu saja temanku berperan banyak dalam riset tentang Aarhus dan Denmark. Menyelesaikan novel tersebut adalah pencapain tertinggi dalam hidupku, mengalahkan rasa saat aku berhasil ada dalam 10 orang terbaik selepas management training program. Riset dan studi pustaka untuk novel itu(dan novel-novelku yang lain) perlu banyak waktu dan biaya. Misal harga buku yang berisi hasil penelitian dari Lembaga Peneliti Kebahagiaan Denmark, hampir Rp 300.000 satu eks. Belum lagi malam-malam yang kuhabiskan buat nanya-nanya sama temanku. Saat di Korea pun kubombardir dengan pertanyaan, kenapa ada bendera Denmark dalam setiap kue.

Selain teman, aku juga tahu beberapa orang yang mungkin berniat untuk memberiku kritik. Tapi sayang tidak tahu bagaimana caranya menyampaikan dengan benar. Aku tidak pernah membenci kalian. Meski aku tidak tahu kenapa kalian membenciku–sayangnya, sering bukan karena karyaku–tapi karena kepo status Facebook-ku.  Lalu baper dan sensi sendiri. Ada juga yang sok menggurui diriku, dengan isi kuliah yang lucu. Kalau teman-teman berteman denganku di Facebook saat itu, saat awal terbit novel ini, kalian pasti ketawa bersamaku. Tapi sekarang sudah berlalu.

Juga ketemu pembajak-pembajak bukuku. Karena merekalah aku jadi tahu bahwa sebenarnya banyak yang tertarik untuk membaca bukuku, tapi terhalang biaya. Jadi membeli buku versi scan atau pdf atau apa dengan harga seperti shampoo sachet. Kalau aku sarankan, lebih baik pinjam ke teman buat baca daripada beli versi gelap seperti itu. Atau ke taman baca yang menyediakan bukuku. Seingatku, aku cukup banyak ngirim buku buat taman baca, supaya bisa dibaca gratis untuk teman-teman yang kebutuhan hidupnya mendesak.

Dalam tiap doaku, aku berharap bukuku bermanfaat untuk kita semua. Ada pemahaman dan sudut pandang baru tentang hidup dan cinta yang bisa kita dapat. Tentang Copenhagen, Aarhus, Denmark, programming, engineering, marriage, budaya dan banyak lagi. I hope I am not adding to negativity. I hope I am adding to positive energy. I wanna send out the ray of hope for you. I want to reach you, and be there for you, through my books. Aku ingin kita tahu bahwa membaca novel romance seperti karyaku ini tidak hanya memupuk imajinasi teman-teman, tapi menambah ilmu, meski sedikit, yang bermanfaat.

Aku mau mengucapkan banyak terima kasih kepada teman-teman yang sudah memberi kesempatana padaku, yang bukan siapa-siapa ini, untuk dibaca dan dibeli karyanya. Sebagai(orang yang ngaku) penulis baru, hal tersebut sangat berarti. Terima kasih sudah memberikan rumah baru buat Afnan dan Hessa, bersama dengan karya-karya penulis hebat favorit teman-teman. Semoga aku akan bisa menjadi sehebat mereka Dan terima kasih sudah berteman denganku, dan The Mollers: My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, dan The Danish Boss. Juga Geek Play Love dan Bread Love(Jangan bilang belum punya bukuku satu pun huhuhu)

Sekarang dengan makin dikenal banyak orang, aku semakin merasa beban di pundakku semakin berat

Sekarang dengan makin dikenal banyak orang, aku semakin merasa beban di pundakku semakin berat. Aku nggak bisa sembarangan lagi menulis, walau untuk sekadar Twit atau status Facebook. Karena tulisan adalah alat paling efektif untuk mempengaruhi opini teman-teman. Banyak teman-teman yang ingin jadi penulis bertanya padaku, mencontoh diriku–meski aku merasa belum layak. Punya pembaca banyak bukan selamanya menjadi nikmat, tapi bisa juga ujian. They said, we don’t need to be Isaac Newton, Albert EInstein, Soren Kierkegaard, or any other famous scientists, philosophers, politicians or famous peope for my thought to be worthwhile. Aku tidak bisa memberi contoh yang buruk, seperti melempar hate speech, atau menyombongkan diri dengan berteman dengan kelompok tertentu.  Because I have followers and they listen and look up to me.

My Books

WHEN LOVE IS NOT ENOUGH: THE EXCERPT

 

Hujan rintik membasahi bumi saat jasad Leyna dimakamkan sore ini. Linus yang menggendong jenazah anaknya, pelan-pelan membaringkannya di lubang yang tidak lebih besar daripada ukuran dua kotak sepatu. Leyna Jasmine Zainulin. Nama yang tertulis di batu nisan di atas kepala Leyna. Meninggal kurang dari enam bulan setelah dilahirkan.

Saat seorang suami ditinggal mati oleh istri, maka dia disebut duda. Istri yang ditinggal mati suami, dia disebut janda. Anak yang ditinggal mati ayah, dia dinamakan yatim. Dan anak yang ditinggal mati ibu, dia dinamakan piatu.

Bagaimana dengan seorang ayah atau seorang ibu yang ditinggal mati anaknya? Tidak ada nama untuk mereka. Mungkin orang tidak berpikir untuk memberikan sebutan bagi orang sepertinya dan Lily. Continue reading “WHEN LOVE IS NOT ENOUGH: THE EXCERPT”