My Books

Afnan Møller: An Interview

Afnan Møller adalah salah satu tokoh yang berarti dalam hidupku. Berkat dirinya buku pertamaku berhasil terbit dan kemudian menyusul buku-bukuku yang lain. Dalam banyak pesan yang kuterima melalui Instagram, Facebook, Twitter, e-mail, maupun WhatsApp, aku tahu bahwa teman-teman juga menyukai Afnan. Karena itu, ketika ada kesempatan, aku ‘mewawancarai’ Afnan dan mencari tahu bagaimana hidupnya dulu dan sekarang. Jalan yang kulalui berliku, aku harus menghubunginya melalui Instagram Hessa dan … di bawah ini kupersembahkan hasil ‘wawancara’ dengan Afnan beberapa hari yang lalu.

 

 

Good afternoon, Dr. Møller. Thanks for letting me interviewing you for all of your fans out there.

Afnan, please. Fans? Aku bukan artis atau apa. Hanya orang biasa.

Orang biasa? Mungkin menurut Hessa tidak.

Hessa. She is something, isn’t she? Sampai hari ini aku tidak pernah menyangka ada seorang gadis yang rela mengorbankan segalanya demi laki-laki sepertiku. Kalau mengingat betapa lamanya dia mengambil keputusan untuk menikah denganku, tentu permintaanku waktu itu sangat tidak mudah.

Aku lihat foto-foto Hessa di Instagram, sepertinya kalian baru pulang liburan dari tempat hangat.

Iya, musim panas ini Hagen memilih untuk ikut camp, science camp, because he is his father’s son, selama satu bulan dan kami baru ada waktu untuk liburan pada bulan Agustus. Hanya sebentar, tapi cukup bagi kami semua untuk mendapatkan cukup sinar matahari. Hessa masih aktif di sana? Aku sudah memperingatkannya untuk berhati-hati membagi kehidupannya kepada orang lain.

Hanya foto tempat-tempat yang dia datangi dan foto anak-anak. Bagaimana kabar Hessa sekarang?

Masih terus beradaptasi dengan Aarhus. Proses yang tidak akan pernah selesai. Tidak mudah pindah dari Indonesia, yang sudah dia tinggali sejak lahir sampai 27 tahun kemudian, ke sini. Hessa adalah wanita yang paling kuat di dunia, keteguhan hatinya sangat luar biasa. Dia tidak ingin menyerah memperjuangkan pernikahan kami. Seasonal Affective Disorder tidak membuatnya menangis minta pulang ke Indonesia. Kesepian dan kesenderian dia telan sendiri, hanya karena dia tidak ingin membebaniku.

Jadi, kamu pernah merasa terbebani?

Tidak sama sekali. Saat menikah dengannya, aku belum bisa mengatakan aku mencintainya. Karena, memang kamu memutuskan menikah dengan banyak pertimbangan, kecuali cinta. Hessa bukan beban, tetapi tanggung-jawab. Sejak melamarnya, aku sudah mengatakan bahwa aku akan memperlakukannya sebagaimana seorang suami memperlakukan seorang istri. Mau cinta atau tidak cinta, aku akan menyayanginya dan membahagiakannya. Meskipun, Hessa tidak merasakannya pada tahun pertama pernikahan kami. Mungkin karena aku tidak terlalu bisa menunjukkan. Orang tidak tahu betapa menderitanya Hessa pada masa itu.

Menderita seperti apa? 

Salah satu syarat yang kuajukan sebelum menikah adalah istriku harus mau pindah ke Aarhus dan tinggal di sini bersamaku. Dengan paksa aku mencabut akar kehidupan Hessa dan memindahkan ke tanah yang sama denganku. Di tanah ini, aku punya lebih banyak kehidupan daripada Hessa. Aku punya teman, aku punya pekerjaan, aku punya restoran favorit, aku punya segalanya. Tetapi milik Hessa semua harus ditinggalkan di Indonesia. Dia tidak punya siapa-siapa, tidak tahu harus melakukan apa, dia di rumah sendirian selama aku berada di kantor dari pagi hingga sore, bahkan dia tidak bisa berbahasa Denmark. Juga, aku salah memilih waktu untuk pindah ke Denmark. Menjelang musim semi. Cuaca dingin sekali dan hari semakin pendek. Tubuh Hessa menolak untuk menyesuaikan diri. Semua faktor tersebut berkumpul dalam tubuh Hessa dan dia jatuh sakit. Diagnosis dokter menunjukkan bahwa Hessa menderita Seasonal Affective Disorder dan tidak diperbolehkan hamil. Padahal menurut Hessa kehadiran seorang anak akan mengurangi rasa sepinya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengurangi penderitaan Hessa?

Menemaninya. Aku mengambil cuti dan menemaninya untuk mencari aktvitas-aktivitas luar ruangan. Seperti ke perpustakaan. Mengenalkannya dengan orang-orang yang berbagi kegemaran yang sama. Juga mencarikan guru untuk mengajarinya bahasa Denmark. Banyak orang yang mengatakan Hessa terlalu manja. Hanya mengandalkan diriku untuk menjalani hidup di Aarhus. Seharusnya dia travelling, mumpung berada di luar negeri. Percayalah, ketika anda semua dihadapkan pada posisi Hessa, travelling adalah sesuatu yang tidak akan ada pikirkan. Kecuali anda datang ke sini untuk jalan-jalan dengan berlindung di balik kata beasiswa. Prioritas Hessa bukan travelling. Melainkan mengenalku, memperkuat fondasi pernikahan kami, dan membangun rumah tangga di sini. Semua itu tidak akan tercapai jika Hessa sibuk travelling.

Berlindung di balik kata beasiswa?

Aku mengajar di universitas dan aku tahu cukup banyak mahasiswa mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri karena ingin jalan-jalan gratis. Orang-orang seperti itu tidak akan bertahan lama di dalam laboratorium yang kupimpin.

Oh, hahaha. Ada yang menanyakan, sebagai orang Denmark, kenapa namamu tidak ada Denmark-Denmark-nya? Tidak seperti kembaranmu, Mikkel.

Setiap orangtua tidak sembarangan memberi nama anaknya. Karena nama adalah doa. Kakekku orang Denmark dan menikah dengan wanita Maroko. Nenekku yang mengusulkan nama Afnan dan karena namanya baik, maka orangtuaku setuju. Sedangkan nama Mikkel dipilih untuk menghormati sahabat karib ayahku yang sudah meninggal.

Mumpung membicarakan masalah nama, apa arti nama Sofia bagimu?

Segalanya. Sofia adalah titik balik kehidupan kami. Baik sebagai pasangan maupun sebagai pribadi. Kami banyak beradu pendapat mengenai masalah kapan akan punya anak. Awalnya aku merasa bahwa fokus pada kesehatan Hessa jauh lebih penting daripada punya anak. Tetapi Hessa, wanita yang teguh hati itu, bersikeras memilikinya. Pada akhirnya kami belajar untuk mencari jalan tengah dan sama-sama bertanggung-jawab atas keputusan yang kami ambil bersama. Aku tidak pernah menyalahkan Hessa atas apa yang terjadi pada Sofia. Meski Hessa seringkali merasa bersalah dan mengganggap dirinya gagal sebagai seorang istri karena kejadian itu.

Di mataku kehidupan kalian sempurna.

Hessa yang sempurna. Aku jauh dari sempurna. Kalau ditanya siapa yang paling banyak berkontribusi untuk pernikahan kami, Hessa adalah orangnya. Semua penghargaan harus diberikan kepadanya.

Kamu sangat mengagumi dan memuja Hessa ya.

Tentu saja. Itu tugas seorang laki-laki sejati. Menyayangi dan memuja istrinya.

Untuk orang-orang yang belum menikah di luar sana, apa kamu menyarankan untuk mencari pasangan melalui perjodohan?

Tidak. Jalan untuk bertemu dengan belahan jiwa bermacam-macam. Kebetulan saja aku dan Hessa sama-sama setuju saat kedua orangtua kami mengusulkan untuk saling bertemu. Adikku, Lilja, menikah dengan Linus yang sudah dikenalnya sejak kanak-kanak. Kembaranku, Mikkel, punya banyak sekali teman wanita dengan berbagai macam latar belakang, siapa yang menyangka dia malah jatuh cinta pada Liliana, teman SMP Lilja. Tidak perlu mengambil pusing mengenai masalah tersebut. Jika sudah waktunya akan bertemu, bagaimana pun caranya. Tuhan punya skenario sendiri.

Tetapi kita bisa mengatakan bahwa kamu dan Hessa berhasil dan bahagia hingga sekarang.

Pemandangan yang indah didapatkan ketika kita berhasil mendaki hingga ke puncak gunung. Yang ingin kukatakan adalah, tidak semua kebahagiaan yang tidak didapat dengan mudah. Seringkali kita harus menghadapi jalan yang terjal, panjang, dan melelahkan terlebih dahulu. Menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, baik sebagai individu maupun pasangan, bersama dengan Hessa membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Tidak ada rencana untuk pulang dan mengabdi di Indonesia?

Bukan masalah penting tinggal di mana. Yang penting di mana pun aku berada, aku akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Berarti tidak?

Mungkin. Akar kehidupan Hessa sudah mulai tertancap di sini. Dia telah menyelesaikan master dan sedang menimbang-nimbang untuk meraih Ph.D, dia sempat bekerja sebagai guru, dan sekarang bersama teman-teman wanitanya di sini, dia mendirikan sebuah badan untuk membantu anak-anak di daerah konflik. Hagen nyaman dengan sistem kehidupan di sini. Pagi belajar di TK, siang hingga sore di daycare. Kehidupan kami sudah mulai stabil dan akan sulit membangun ulang di Indonesia.

Apa yang ingin kamu ucapkan pada Hessa?

Terima kasih sudah membuatku menjadi laki-laki paling beruntung sedunia. Anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat karena mewarisi nilai-nilai kehidupan darimu.

Terakhir, apa yang ingin kamu sampaikan kepada fansmu?

Aku masih tidak percaya mereka ada. Tetapi jika benar-benar ada, pasti kalian sudah mendengar kabar mengenai Hessa dan masa sulit yang harus dia hadapi setelah melahirkan Thea. Mungkin kalian sudah tahu bagaimana ceritanya. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian selalu mendoakan dan mencintai Hessa. Sehingga dia bisa semakin kuat dan akan bisa menghadapinya.

Oppsie, itu suara Hagen? Sepertinya dia memerlukan ayahnya. Terima kasih sudah berbagi denganku hari ini. Aku yakin ini akan mengobati kerinduan kita semua kepada keluarga kalian. Tolong sampaikan pada Hessa, kalau dia bersedia, aku ingin mengobrol dengannya juga.

####

Penting:

  1. Cerita Afnan dan Hessa bisa diikuti dalam novel My Bittersweet Marriage dan Midnatt.
  2. Wawancara di atas adalah hasil imajinasiku belaka.
My Books

THE DANCE OF LOVE: Bagian 6

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play LoveMidsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4 | Bagian 5

 

Lebih menyenangkan menghabiskan musim panas di luar ruangan. Sambil menikmati es krim atau smoothie. Hati Mara hancur menyaksikan anak-anak harus tinggal di rumah sakit selama musim panas. Meski dinding lantai khusus anak di rumah sakit dihiasi dengan mural yang indah, tapi tetap tidak akan menggantikan hangatnya sinar matahari. Mara berjalan bersama Nora dan Viggo, masing-masing membawa setumpuk hadiah di tangan. Ada beberapa surat dari anak-anak yang masuk ke RDB. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka rindu menari balet dan menonton pertunjukan balet. Karena itu, hari ini Mara dan dua temannya membawa serta kostum mereka dan akan menari di sini, di depan anak-anak yang kurang beruntung.

“Ups, sorry.” Karena melamun sejak tadi, Mara menabrak sesorang saat berbelok di lorong. “I didn’t … oh … Hagen? Kenapa kamu pakai baju seperti itu?” Mara tertawa mendapati Hagen di hadapannya. Di hidung Hagen ada bola bulat merah dan rambut palsu berwarna kuning menghiasi kepalanya. Baju yang dikenakan Hagen berwarna oranye dengan celana dan suspender berwarna hitam.

“Berbeda dengan balerina yang cantik, tugasku di sini adalah menjadi badut dan melakukan trik sulap.” Hagen mengambil kotak-kotak kado dari tangan Mara. “Aku datang ke sini setiap hari Jumat pada minggu keempat. Aku tidak punya keahlian lain selain berbuat konyol dan membuat mereka tertawa.”

“Seandainya mereka seumuran denganku, mereka pasti akan lebih memilih dikunjungi oleh Hagen tanpa topeng,” kata Mara ketika mereka sudah sampai di ruang tunggu ruang rawat khusus anak.

“Kenapa wanita seumuran kamu memilih melihat wajah asliku?” Apa Mara menganggap hagen menarik? Tampan? Seksi? Atau apa? Hagen penasaran.

Mara menggeleng sedikit salah tingkah, lalu menunduk dan berjalan menjauh untuk menemani Nora bicara dengan suster. Tiga menit kemudian, Mara kembali menghampiri Hagen untuk mengambil kembali kotak-kotak kado.

“Terima kasih banyak, Hagen.”

“Apa kamu ada waktu untuk makan malam setelah dari sini?’ Hagen memeriksa jam tangannya. Sudah sore saat ini dan Hagen berharap Mara tidak ada acara lagi sampai akhir hari.

“Tentu saja aku selalu ada waktu untuk makan malam setiap hari, Hagen.”

Hagen tertawa mendengar candaan Mara. “Karena kita sama-sama perlu makan malam, bagaimana kalau melakukannya bersama?”

“Kamu mengajakku kencan?” tanya Mara.

“Kita tidak perlu membebani diri kita dengan judul kegiatan seperti itu. Kita akan makan dan jalan-jalan sebentar. Aku akan menjemputmu nanti jam lima? Di apartemenmu?”

Kening Mara berkerut. Hagen sudah tahu di mana dia tinggal tanpa Mara perlu memberikan alamatnya.“Stalker. Baiklah. Aku harus masuk dulu.”

Kalau tidak harus menghibur dan membesarkan hati anak-anak yang sedang sakit, saat ini Mara pasti sudah menelusuri berbagai macam situs untuk mencari tahu apa yang harus dan tidak boleh dilakukan pada kencan pertama. Termasuk pakaian apa yang pantas dikenakan saat kencan pertama dan di mana pasangan harus melakukan kencan pertama. Mara bukan jenis orang yang menjawab terserah jika dimintai pendapat ingin makan di mana atau ingin melakukan apa. Hagen tidak akan membawanya makan di restoran bintang lima, sebab Hagen tidak menyebutkan bahwa Mara harus memakai gaun. Kencan pertama mereka akan berjalan santai.

Meski Hagen tidak mau menjuduli acara makan malam mereka dengan ‘kencan’, Mara tetap mengategorikannya sebagai kencan. Satu kata tersebut teramat penting bagi Mara, karena selama ini, kencan pertamanya tidak pernah bisa berlanjut hingga kencan berikutnya. Karena salahnya sendiri. Mara terlalu takut jika seorang laki-laki merasa nyaman dengannya, maka laki-laki tersebut berharap lebih dari hubungan mereka. Hingga hari ini Mara tidak siap untuk menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Mara tidak berencana menikah hingga kariernya memasuki masa senja. Atau jika menikah, Mara tidak ingin memiliki anak hingga dia benar-benar sudah siap untuk meninggalkan panggung megah yang selama ini menjadi dunianya.

Mara mengiyakan permintaan Hagen untuk makan malam bersama sebab Mara tahu—dari berbagai sumber—bahwa Hagen masih sibuk membangun usahanya dan menjalin hubungan tentu belum menjadi prioritas utamanya. Mungkin mereka bisa menyepakati jadwal pertemuan yang akan menguntungkan mereka berdua. Bertemu sekali seminggu jika sama-sama sedang tidak ada kesibukan atau tidak pergi ke luar negeri misalnya. Tanpa sadar Mara tersenyum, yakin bahwa pertemanannya dengan Hagen akan berjalan sebagaimana yang dia harapkan.

***

Hagen memilih Julian Tolboden untuk lokasi makan malam mereka kali ini. Letaknya tidak jauh dari patung The Little Mermaid—yang terinspirasi dari cerita Den Lille Havfrue karya Hans Christian Andersen—yang sangat terkenal itu. Setelah makan malam, Hagen berencana mengajak Mara untuk berjalan-jalan sebentar di sana, sambil menunggu isi perut turun. Dari tempat mereka duduk saat ini, mereka bisa melihat pelabuhan ferry dengan laut birunya dan segala kesibukan di sana melalui jendela kaca lebar berkusen putih. Tetapi Hagen lebih suka dengan pemandangan di depannya. Wajah cantik Mara yang sedang serius membaca buku menu. Rambut hitam legam Mara berkilau tertimpa sinar matahari.

Hagen mengalihkan pandangan ketika Mara mengangkat kepala. Mata abu-abunya menatap Hagen penuh tanda tanya. Matahari mungkin sedang merasa malu karena kalah bersinar dengan senyuman Mara. Mara bertanya padanya apa ada yang salah dengan wajahnya. Kesalahan Mara hanya satu, menurut Hagen. Dia terlalu sempurna.

Kalau Hagen bisa duduk makan malam semeja dengan Mara dan tidak memiliki niat untuk menjadikan pertemanan mereka berkembang sesuai keinginan Hagen, dia pasti tidak waras lagi. Tetapi semuanya perlu waktu. Mara akan menganggapnya gila kalau Hagen terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada makan malam pertama mereka.

Karena tidak ingin terus memikirkan bagaimana rasanya mencium bibir penuh Mara, Hagen memilih untuk memperhatikan sekelompok orang yang sedang duduk di bagian restoran, seperti sedang merayakan kelulusan. Sebentar lagi beberapa di antara mereka dipastikan akan mabuk, Hagen sudah tahu betul bagaimana akhirnya acara berkumpul anak-anak muda.

“Salmon ‘n’ Chips dan Anton’s Juice. Rhubarb.” Setelah mempelajari menu, Mara menentukan pilihan. “Aku ingin makan udang, tapi aku harus mengupasnya sendiri, betul kan?” Mara mengonfirmasi pada gadis muda yang akan mencatat pesanan mereka.

“Kalau begitu aku akan memesan Shrimp ‘n’ Chips. Large. Supaya kamu bisa mencicipi dan aku akan mengupaskan kulitnya untukmu,” jelas Hagen ketika mata Mara membesar mendengar Hagen memesan makanan dengan ukuran tidak biasa. “Dan softdrink.”

“No beer?” tanya Mara setelah pesanan mereka selesai dikonfirmasi.

“No wine?” Hagen balik bertanya pada Mara.

“Umurku belum delapan belas tahun.” Jawaban sambil bercanda seperti ini selalu dilontarkan Mara ketika teman-temannya bertanya kenapa dia tidak pernah menyentuh alkohol.

“Kalau alkoholnya tidak sampai 16%, umur 16 tahun sudah boleh minum.”

“Oh ya? Kukira dipukul rata minimal usia 18 tahun.” Meski lama tinggal di Copenhagen, agaknya Mara masih belum banyak tahu mengenai informasi kecil semacam ini.

“Apa kamu sudah pernah makan di sini sebelumnya?” Hagen menunggu hingga pelayan selesai meletakkan minuman mereka di meja sebelum memulai percakapan berikutnya.

“Sudah. Barbecue, saat salah satu temanku ulangtahun. Dia seorang aktivis lingkungan dan dia percaya bahwa restoran ini menekan penggunakan karbon dalam semua bahan dan setiap proses memasak. Apa menurutmu informasi itu benar?” Mara menyesap minumannya.

“Aku tidak tahu benar atau salah, hanya saja jika benar, aku menghargai usaha mereka. Menghindari karbon sangat mungkin dilakukan. Apa kamu pernah pergi ke Samsø?”

“Belum pernah. Kenapa memangnya?” Mara pernah mendengar nama salah satu pulau kecil di laut Kattegat tetapi belum pernah mengunjunginya.

“Samsø adalah pulau bebas karbon. Kalau kamu bisa libur beberapa hari, kita bisa pergi ke sana bersama dan kamu akan merasakan tingginya kualitas udara Samsø. Kita bisa camping di sana. Berangkat dari sini naik sepeda, jadi kita tidak pusing tranportasi selama di sana.”

“Camping?” Raut wajah Mara saat memastikan satu kata ini membuat Hagen tertawa. Seperti Mara disuruh makan kelabang—bukan salmon—untuk makan malam mereka kali ini. “Terima kasih. Lebih baik aku diam di rumah.”

 

Bersambung.

 

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.

My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 4

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play Love, Midsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

 

“Aku sudah pernah bicara dengannya. Di kafe. Beberapa waktu yang lalu.” Hagen memberi tahu Annamari.

“Itu tidak bisa dihitung sebagai memperkenalkan diri, Hagen.”

“Baiklah. Aku akan menemuinya nanti, kalau dia datang. Apa aku bisa kembali bekerja sekarang?” Memang Hagen adalah pendiri dan pemimpin firma konsultasi yang bergerak di bidang tata kota ini. Tetapi pemilik peraturan adalah Annamari. Tanpa Annamari kantor ini tidak akan berjalan.

Hagen tenggelam dalam pikirannya setelah Annamari meninggalkan ruangannya. Saat mencuri dengar pembicaraan Mara di kafe siang itu, Hagen tidak sempat memperkenalkan diri karena Mara buru-buru pergi. Siapa pun juga akan bergegas pergi kalau disapa oleh orang asing. Apalagi kalau orang asingnya dianggap menguping.

Gadis itu cantik sekali. Wajahnya berbentuk hati. Bibirnya penuh dan hidungnya sempurna. Bagian yang disukai Hagen adalah mata Mara. Mengingatkan Hagen pada mata ibunya. Lembut, namun penuh semangat. Berbeda dengan kebanyakan orang sini, Mara berambut hitam legam. Tubuhnya tidak tinggi. Pernah suatu ketika, Hagen menonton acara televisi, di mana Mara diwawancara selama tiga puluh menit, setelah gadis itu mendapat kehormatan menari di depan keluarga kerajaan. Pada wawancara tersebut Mara mengungkapkan bahwa selama tinggal di Denmark, sangat sering Mara berharap dirinya berkulit putih, berambut pirang, berbadan tinggi, dan bermata biru. Menjadi berbeda, kata Mara, membuat orang lebih tertarik melihat dan memperhatikannya. Setiap gerak dan perkataan Mara tidak akan luput dari penilaian orang. Oleh karena itu, Mara lebih memilih untuk bersembunyi.

Tetapi sekarang, tampaknya Mara sudah tidak bisa lagi bersembunyi lagi. Seluruh penduduk di negara ini, baik yang menyukai balet atau tidak, mengenal Mara. Termasuk Hagen. Awalnya Hagen terpaksa menemani adiknya menonton dan pada hari itu, adiknya menjelaskan mengenai siapa Mara. Sampai satu bulan kemudian, Hagen tidak bisa menghilangkan tarian indah Mara dari ingatannya. Setiap Mara tampil, Hagen membelikan tiket untuk adiknya, supaya dia memiliki kesempatan untuk menonton Mara. Hingga hari ini adiknya tidak curiga, malah semakin baik padanya. Supaya terus mendapatkan tiket.

Kalau Mara ambil bagian dalam buku yang digagas Hagen, seluruh dunia akan tahu namanya. Mungkin jika diadakan tur buku di negara lain, Hagen akan meminta Mara untuk ikut berbicara. Kombinasi yang menarik. Bukan warga negara Denmark, berkarier dan berprestasi di sini. Orang akan menyukainya.

Layar komputer Hagen menampilkan pesan dari Annamari, yang mengatakan bahwa Tim Catalan menolak rapat di ruangan Hagen dan menginginkan rapat diadakan di pelabuhan. Hagen berdiri dan membawa tabletnya keluar. Tidak terlalu banyak orang di kantor hari ini. Mungkin mereka memilih bekerja dari rumah. Bagian belakang gedung ini langsung menghadap laut. Dekat dengan area pelabuhan. Ada meja dan kursi di area marina yang selama ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk duduk bersantai, makan siang, atau mengadakan pertemuan. Cuaca bagus sekali hari ini. Matahari bersinar dengan hangat.

“Laure,” sapa Hagen kepada salah seorang gadis yang ikut duduk mengelilingi meja bundar. “Bukankah kamu ada wawancara hari ini?”

Gadis berambut pirang tersebut menggeleng dan berdiri. “Bukan wawancara. Pemotretan. Tapi nanti sore. Aku cuma bergosip di sini.”

Hagen mengangguk. “Di mana lokasinya?”

“Di dekat sini. Mara Hakinen akan akan dipotret sebelum dia berangkat ke acara pengumpulan dana untuk anak-anak penderita kanker,” jelas Laure. “Aku ingin menjadikan fotonya untuk cover belakang buku kita. Bagaimana menurutmu?”

“Kalau bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk membaca, tidak masalah bagiku.” Foto sampul depan sudah ditentukan. Puteri Mahkota kerajaan bersama dua anak perempuannya. “Aku akan ke sana nanti.”

“Ke mana?” Laure batal melangkah.

“Ke lokasi pemotretan.”

“Untuk apa?”

Untuk memperkenalkan diri kepada Mara. “Untuk menilai bagaimana kamu melakukan pekerjaanmu.”

Laure hanya menanggapinya dengan tawa.

***

Dari tempatnya berdiri, Hagen memperhatikan Mara yang sedang mengayuh santai sepedanya sambil mengikuti arahan fotografer. Sore ini Mara sangat cantik dengan gaun merahnya. Rambutnya diangkat ke atas dengan detail yang indah di bagian kanan. Riasan sederhana di wajahnya semakin menyempurnakan penampilannya. Meski mengenakan gaun panjang dan sepatu hak tinggi, Mara tampak nyaman duduk di atas sepeda.

Hagen melakukan segala cara untuk mengampanyekan kebiasaan bersepeda. Karena Hagen percaya bahwa sepeda adalah solusi bagi banyak masalah yang dihadapi kota-kota besar di dunia. Mulai masalah kemacetan hingga masalah kesehatan. Salah satu upaya Hagen adalah melalui buku. Kali ini, Hagen menginisiasi diterbitkannya buku yang berisi foto dan profil para wanita berbagai usia yang berprestasi dan menginspirasi, yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama dalam kesehariannya. Ada banyak orang yang terlibat. Mulai dari Puteri Mahkota, anggota senat, penyanyi, balerina, hingga seorang profesor. Buku sebelumnya, yang menampilkan tema serupa, namun semua tokoh yang terlibat adalah laki-laki, menjadi buku paling laris di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Seluruh hasil penjualan digunakan untuk membeli sepeda yang dibagikan kepada orang-orang di negara yang tertinggal secara ekonomi, korban bencana alam, maupun orang-orang yang terdampak konflik bersenjata. Hagen memperkirakan buku yang akan terbit ini akan menjangkau pembaca lebih banyak dan membuka pikiran mereka, mengenai salah satu solusi hidup yang mudah: sepeda.

“Aku sudah punya judul yang tepat untuk profil Mara Hakinen.” Laura, project coordinator yang ditunjuk Hagen, bersuara. “Simple simply classy to make even every princess envious.”

Tanpa sadar Hagen mengangguk. Sederhana dan berkelas adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan Mara. Setelah melihat foto Mara, seluruh anak-anak pasti akan melupakan tuan puteri yang canti di buku dongeng milik mereka. Mereka semua pasti ingin menjadi seperti Mara.

***

Kalau tidak menjadi balerina, Mara ingin bekerja di sini. Mara mengamati ruangan lebar di mana dia duduk saat ini. Kantor ini  nyaman sekali. Ada meja-meja lebar di tengah ruangan, dikelilingi kursi aneka warna. Ada lima rak buku putih dua sisi yang digunakan sebagai sekat. Sofa—di mana Mara duduk—dan bean bag merah mendominasi sepanjang dinding sisi kanan. Dinding dan mebel-mebel berwarna terang. Kabarnya, ada freezer khusus es krim di kantor ini dan semua pegawai boleh makan sepuasnya. Seolah ingin membuktikan kebenaran kabar tersebut, dua orang gadis berjalan keluar dari sebuah ruangan, masing-masing membawa popsicle.

“Untukmu.” Satu botol lemonade mendarat di meja rendah di depan Mara.

“Kamu?” Mara hampir menjerit saat melihat siapa yang duduk di sisi kanannya. Laki-laki yang mencuri dengar pembicaraan Mara di Granola saat itu.

“Hagen.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Mara menjabat tangan tersebut sebentar sambil menyebutkan nama.

“Hagen?” Mara mengerutkan kening. “Kamu yang menaruh bunga di sepedaku?”

“Apa kamu menyukainya?”

“Apa kamu gila?”

 

 

Bersambung.

___

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.

 

My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 3

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Midsommar, Midnatt, Bellamia, dan Daisy

Bagian 1 | Bagian 2

Di balik penampilan sempurna seorang balerina, ada ratusan jam latihan yang melelahkan dan cedera ringan maupun berat yang harus dilalui. Dari tempat duduk penonton, seorang balerina tampak cantik dan tariannya terlihat indah. Mempesona. Mereka tidak tahu, sesungguhnya seorang balerina sedang bermandi keringat dan mungkin, bau seperti kuda. Setelah melewati latihan, cedera, menahan ketidaknyamanan karena tubuhnya lengket dan basah, dan sebagainya selama sepuluh tahun, malam ini Mara tetap menari sebagaimana biasanya dia menari. Menari seolah panggung ini adalah panggung terakhirnya dan lain waktu dia tidak akan memiliki kesempatan untuk berdiri di sini.

Besok dia akan menerima pujian dan banyak kritikan atas penampilannya kali ini. Tidak masalah. Yang penting malam ini dia berhasil membawakan peran Nikiya dengan sangat baik. Setelah mandi air hangat dan mengganti baju, yang paling ingin dilakukan Mara adalah pulang ke rumah dan tidur.

“Mara.” Nora, salah satu balerina yang juga ambil bagian dalam pementasan malam ini, masuk ke ruang ganti membawa satu buket bunga superbesar. Bunga mawar, favorit Mara.

“Untukmu.” Sambil tersenyum lebar Nora mendekati Mara.

“Dari siapa?” Mara mengamati bunga-bunga mawar merah muda yang indah sekali di pelukannya. Tidak mungkin Rafka membeli bunga semahal ini untuknya. Adiknya terlalu pelit untuk melakukannya.

“Dari Hagen,” jawab Nora dengan ringan. Seolah-olah Mara mendapatkan dua belas kuntum bunga yang indah seperti ini bukan kejadian langka.

“Hagen? Siapa Hagen?” Kali ini Mara mengalihkan pandangan dari bunganya dan fokus menatap temannya.

“Siapa Hagen?” Nora malah mengolok dan menertawakan pertanyaan Mara. “Bukankah dia kekasihmu?”

“Kekasih?” Mata Mara hampir meloncat keluar. Jadi orang asing tersebut masuk ke sini dengan mengatakan bahwa dia adalah kekasih Mara? Semua orang percaya dan mengizinkannya? “Dari mana kamu tahu namanya? Apa dia bilang dia mengenalku?”

“Dari mana tahu namanya? Astaga, Mara. Kamu pikir aku hidup di bawah batu? Tentu saja aku tahu namanya. Semua orang juga tahu siapa dia. Dia tidak perlu mengatakan bahwa dia kekasihmu. Bunga ini, yang harganya paling tidak seribu krona, sudah membuktikan. Memangnya laki-laki akan membawa bunga semahal itu untuk sembarang orang?”

Kalau ditukar dengan rupiah, uang seribu krona setara dengan Rp 2.200.000,- lebih sedikit. Bunga ini tidak murah untuk diberikan kepada seseorang yang tidak dikenal. Sudahlah, nanti Mara akan mencari tahu siapa Hagen yang memberinya bunga istimewa ini. Sekarang dia harus pulang dan istirahat. Hari ini terlalu panjang untuknya.

Saat berjalan keluar bersama Nora, Mara mendapati Rafka sedang menunggunya di dekat tempat parkir sepeda. Sedang mengobrol akrab dengan seorang gadis berambut gelap. Nora melambaikan tangan saat membawa sepedanya meninggalkan lokasi parkir.

“Congrats.” Rafka langsung memeluknya. “Kalau Mama dan Papa di sini, dia pasti bangga melihatmu menari dengan sangat bagus seperti tadi.”

“Thanks.” Pengakuan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dia cintai, jauh lebih berarti daripada pujian yang pernah dia dapatkan dari para pengamat.

“Kenalkan ini Agnetha. Dia bilang dia selalu nonton pementasanmu dan dia nggak percaya kalau aku adalah adikmu. Dia orang Indonesia juga. Setengah.” Rafka mengenalkan gadis muda yang cantik yang berdiri di sampingnya.

Mara tertawa. “Wajah kami memang nggak mirip.” Karena dia dan Rafka berbeda ayah dan berbeda ibu. Mara sudah diasuh oleh ibu Rafka semenjak usia dua bulan. Tiga tahun kemudian, ibu Rafka menikah dengan ayah Rafka dan mereka berdua mengadopsi Mara secara hukum. Setahun kemudian, Rafka lahir. “Terima kasih sudah datang menonton malam ini. Apa kamu datang sendiri?”

“Tadi bersama kakakku, tapi dia tidak bisa lama-lama di sini. Harus mengejar penerbangan ke Amsterdam karena ada urusan di sana besok pagi-pagi buta,” jawab Agnetha.

“Kalau kalian masih ingin jalan-jalan atau apa, aku akan pulang duluan,” kata Mara. Malam masih sangat muda dan masih banyak tempat di Copenhagen yang bisa mengakomodasi mereka untuk lebih saling mengenal.

Setelah sepakat bahwa malam ini mereka berpisah jalan, Mara mengayuh santai sepedanya. Di depannya tampak tiga orang laki-laki di atas tiga sepeda sedang mengangkut satu ranjang besar. Mara tertawa. Orang Copenhagen benar-benar luar biasa. Kalau sebelumnya Mara terkagum-kagum melihat orang mengangkut pohon natal setinggi lebih dari dua meter menggunakan sepeda, kali ini Mara tidak tahu harus berkata apa melihat dengan mudahnya orang memindahkan ranjang besar tanpa bantuan mobil. Mara berhenti sebentar untuk mengambil gambar. Selama ini dia senang memotret hal-hal menarik mengenai kota yang sudah dia anggap sebagai rumah sendiri ini.

Kata Copenhagen mengingatkannya pada nama Hagen. Sosok misterius yang tadi memberinya bunga. Sambil melanjutkan perjalanan, Mara memikirkan kembali bung-bunga yang dia terima. Sepertinya Hagen, H, dan HM adalah orang yang sama. Saat berhenti di lampu merah, Mara mengeluarkan ponsel dan memasukkan nama Hagen ke dalam mesin pencari. Banyak berita berkaitan dengan urbanisme muncul pada halaman pertama. Seandainya Mara tahu nama belakangnya. Mara mendesah kecewa karena tidak punya petunjuk lain. Setelah menyimpan kembali ponselnya, Mara kembali melaju sambil berpikir. Apa yang dikatakan Nora betul. Atas tujuan apa seorang laki-laki memberikan bunga sebegini mahal kepada seseorang yang tidak benar-benar istimewa? Atau mungkin Mara istimewa baginya? Memikirkannya saja sudah membuat hati Mara melambung karena tersanjung.

Mungkin Nora tahu lebih banyak mengenai Hagen. Selama mereka bercakap tadi, Mara menangkap kesan bahwa, bagi Nora, Hagen adalah sosok yang familier. Saat berhenti menuntun sepedanya masuk ke dalam apartemen, Mara mengetik pesan singkat kepada temannya. Menanyakan nama lengkap Hagen. Kalau Mara memiliki nama lengkapnya, akan lebih mudah untuk menemukannya dan mengonfrontasi kebiasaan Hagen mengiriminya bunga, tanpa sekali pun menemuinya.

***

Tidak ada satu kota pun yang sempurna. Tetapi ada beberapa kota yang lebih baik dari kota-kota lainnya. Dalam proyek terbarunya, Hagen akan mengunjungi enam kota di masing-masing benua dan akan menunjukkan bagaimana sebuah kota mempermudah hidup penghuninya. Sekecil apa pun usaha yang dilakukan kota itu. Setelah empat tahun menggodok ide tersebut, membicarakan dengan production company, akhirnya program yang dia ususlkan disetujui dan season pertama akan mulai syuting dua bulan lagi. Trailer sudah mulai dilempar dan sejauh ini tanggapan dari banyak orang sangat menggembirakan.

“E-mail-e-mail yang penting sudah kutandai. Yang perlu perhatian segera adalah e-mail dari Barcelona. Sepertinya kamu harus membacanya, sebelum conference meeting dengan orang dari perwakilan pemerintah Catalunia jam satu nanti. Siapa namanya?” Annamari, executive assistant Hagen, mengernyitkan keningnya.

“Kalau begitu, tolong minta Tim Catalan untuk diskusi denganku sekarang,” kata Hagen, tidak menjawab pertanyaan Annamari. Membangun kota berbasis sepeda tidak mudah dilakukan. Perlu waktu yang tidak singkat. Tim Catalan yang dibentuk Hagen, akan mendampingi pemerintah Catalunia dalam setiap proses pembangunan, mulai dari desain hingga uji coba.

“Well, dalam e-mail tersebut ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan Tim Catalan.”

Hagen mengangkat sebelah alisnya. Tim yang dibentuk Hagen adalah tim serbabisa. Tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan.

“Catalonian Civil Engineers Assosiation akan mengadakan seminar saat kamu di sana. Mereka ingin memintamu menjadi pembicara utama.”

“Aku tidak ada rencana untuk ke sana.”

“Tapi kamu akan ke sana. Karena kamu tidak akan melewatkan peluang untuk membagikan ilmumu kepada banyak orang.” Asistennya tersenyum, sudah tahu bahwa Hagen tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengedukasi lebih banyak orang, mengenai pentingnya menata ulang sebuah kota dengan mengutamakan kepentingan manusia. “Oh, ya, Hagen, ada telepon dari Vancouver tadi, mereka ingin mengajukan proposal, juga memintamu menjadi juri dalam bicycle film festival.”

“Kalau tidak mendesak, aku akan memikirkan nanti. Setelah memanggil Tim Catalan, tolong belikan bunga mawar, bukan yang besar. Satu kuntum. Seperti yang sebelumnya. Dan kartu yang kertasnya bagus, yang bisa kugambari.”

“Mara Hakinen akan datang ke sini sore ini untuk diwawancara. Dia menjadi salah satu tokoh perempuan yang dipilih Laure untuk buku terbaru kita,” jelas Annamari. Dari semua orang di gedung ini, Hagen sangat mempercayai ibu tiga anak ini. Termasuk mengenai ketertarikannya kepada Mara, balerina kelahiran Indonesia, yang berdarah setengah Finlandia. “Aku akan tetap membeli bunganya, Hagen. Tapi sekarang sudah saatnya kamu berhenti bertingkah seperti penguntit. Perkenalkan dirimu dengan benar kepada gadis itu.”

 

Bersambung.

Catatan:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 2

Oleh Ika Vihara

Penulis buku Midsommar, Midnatt, Bellamia, dan Geek Play Love

 

Mara berdiri di depan cermin setelah mengganti baju. Hari ini latihan terakhirnya sebelum pementasan La Bayadere[1]. Saat ini mungkin dia disebut orang sebagai penari balet yang istimewa. Tubuhnya tidak tinggi. Hanya 162 cm, yang di dalam balet, disebut sebagai wrong type body. Belasan tahun Mara berjuang demi membuktikan bahwa tinggi badan tidak akan menghalanginya untuk menari. Untuk berada pada titik ini. Menjadi solois kulit kuning pertama setelah tiga puluh dekade.

Ketakutan terbesar Mara adalah, bagaimana jika besok dia tidak bisa menari lagi dan dunia memerlukan tiga puluh tahun lagi untuk menemukan penari balet berkulit kuning yang bisa menggantikan posisi Mara sekarang? Mungkin saat ke Indonesia nanti, Mara akan mengunjungi sekolah balet lokal dan mencari tahu perkembangan balet di Indonesia.

“Mara, apa kamu masih ingin di sini?” Viggo mengetuk pintu ruang ganti.

Dalam pementasan La Bayadere nanti, Viggo akan memerankan Solor, laki-laki yang dicintai dan mencintai Nikiya. Bergegas Mara mengemasi barangnya dan bergerak keluar.

“Kami akan makan malam, apa kamu mau ikut?” tanya Viggo ketika mereka berjalan bersama menuju pintu keluar.

Beberapa teman menari Mara berjalan di depan mereka sambil tertawa. Di sini, di The Royal Danish Ballet, Mara seperti menemukan keluarga baru. Viggo, salah satu penari yang dikagumi Mara, memperlakukan Mara seperti adik sendiri.

“Boleh. Tapi, jangan menertawakanku kalau aku nggak minum alkohol.”

Viggo tertawa dan melangkah menuju sepedanya. “Aku lupa kalau umurmu tidak pernah melewati delapan belas tahun. Mara? Ada apa?”

Mara tertegun di depan sepedanya. Ada sekuntum bunga mawar berwarna kuning terikat di sana. Tidak pernah ada kejadian seperti ini selama dia hidup di Copenhagen. Bunganya indah, Mara mengakui. Tetapi meninggalkan benda pada properti milik orang lain seperti melanggar privasi. Privasi. Kenapa belakangan ini banyak sekali orang yang melanggar privasinya?

Ada sebuah amlop kecil disertakan bersama bunga tersebut.

I hope you are reaching up to the stars. H

Sambil tersenyum Mara mengamati kartu bergambar seorang balerina yang sedang melakukan pointe. Atau menumpukan berat badan pada ujung jari kaki, seperti berjinjit. Siapa H? Kening Mara berkerut ketika memikirkan semua nama teman-temannya. Tidak ada yang berinisial H.

“Mara?” Viggo sudah duduk di atas sepeda, berhenti di depan Mara.

“Nggak ada apa-apa.” Mara memasukkan bunga dan kartunya ke dalam tas.

Mungkin hanya salah satu penggemar yang ingin memberinya semangat. Tetapi penggemar tidak melakukan hal seperti ini. Menaruh sesuatu di sepeda bisa dihitung sebagai menguntit dan Mara bisa melaporkan kepada polisi. Saat mengikuti Viggo menuju pusat kota Copenhagen, Mara sibuk berpikir. Tidak perlu lapor polisi. Selama siapa pun itu tidak menyakitinya. Lagi pula hanya satu bunga yang tidak berbahaya. Kecuali kalau dia menerima satu keranjang bunga dengan seekor ular berbisa bersembunyi di dalamnya. Itu cerita La Bayadere, di mana Nikiya, yang diperankan Mara, mati karena ular berbisa. Mara tertawa karena tidak bisa lagi membedakan mana cerita dan mana kehidupan nyata.

***

“Mara!” teriak Rafka dan dengan kesal Mara menendang selimutnya. Tadi malam adiknya datang dari Jerman, di mana dia kuliah, melakukan kunjungan rutin dua bulan sekali ke Copenhagen, untuk mengecek hidup Mara dan melaporkan kepada orangtua mereka.

“Ada apa sih?” Mara keluar kamar dengan wajah terlipat. “Ini masih pagi. Kenapa kamu sudah teriak-teriak begitu?”

“Ada yang meninggalkan bunga di sepedamu.” Di tangan Rafka ada bunga mawar kuning dan sebuah amplop kecil berwarna putih.

“Siapa yang naruh di sana?” Dengan cepat Mara merebut bunga dan amplop tersebut.

“Pacarmu mungkin?”

“Laki-laki?” Selidik Mara.

“Kamu nggak kenal dengannya? Mara, kamu harus hati-ha….”

“Rafka,” erang Mara putus asa. Demi Tuhan, Mara lebih tua empat tahun dari Rafka, tetapi kenapa Rafka bertingkah seperti bukan adiknya. “Kamu lihat orangnya?”

“Tadi aku mau pergi pakai sepedamu, dompetku ketinggalan dan aku meninggalkan sepedamu di luar sebentar. Saat aku kembali, sudah ada bunga ini. Nggak ada orang lain di sekita sana kecuali seorang laki-laki yang sedang bersepeda.”

“Seperti apa orangnya?” desak Mara.

“Sepeti apa? Seperti orang biasa.”

“Rafka!” desis Mara.

“Ya bermata biru, berambut cokelat, tinggi. Seperti semua orang sini kan?” Rafka berjalan ke dapur, sambil membawa dua gelas kopi dan kantong kertas, yang bisa ditebak, berisi roti. Sarapan mereka pagi ini. Tetapi Mara tidak tertarik untuk sarapan. Mara memilih kembali ke kamar dan memeriksa isi amplopnya.

“Mara,” panggil Rafka ketika Mara hampir mencapai pintu kamar. “Papa bilang kamu nggak boleh pacaran dengan orang sini.”

“Ini hidupku. Terserah aku mau menikah dengan orang mana.” Mara mendelik sebal. Bagaimana dia akan berjodoh dengan orang Indonesia, kalau dia sendiri tidak tinggal di Indonesia? Ada-ada saja. “Kalau menuruti Papa, aku nggak akan menikah seumur hidup.”

Tidak akan ada satu laki-laki pun di dunia ini yang cukup baik di mata ayahnya. Kecuali laki-laki pilihan ayahnya. Oh, tidak. Mendadak Mara merasa ngeri memikiekan kemungkinan ini.

“Raf….” Mara memasukkan amplop ke dalam saku piamanya dan berjalan ke dapur.

“Hmmm?”

Mara duduk di kursi di samping Rafka dan mengambil satu gelas kopi di meja.

“Waktu kamu pulang ke Indonesia dulu, Mama dan Papa nggak ngomongin soal perjodohan, kan?” Dalam keluarga mereka, terdapat sejarah perjodohan. Dan seperti kata orang, sejarah selalu berulang. Mara tidak ingin hal itu terjadi padanya. Dia hanya ingin menikah dengan laki-laki pilihannya, bukan pilihan orangtuanya.

Rafka tertawa keras. “Mana ada yang mau sama kamu?”

“Serius, Raf.”

“Bukan Mama dan Papa yang pernah menyebut. Tapi Nanna dan Papi,” jawab Rafka. Nanna dan Papi adalah kakek mereka dari pihak ayah. “Mereka mencari pewaris untuk meneruskan perusahaan. Di antara kita semua, nggak ada yang tertarik dengan hal seperti itu. Jadi menikahkanmu dengan … siapa pun yang mereka anggap cocok, adalah jalan utama.”

Saat ini, sepupu ayahnya yang menjalankan perusahaan makanan beku milik kakek dan neneknya. Anak-anak dari sepupu ayahnya memilih untuk berkarier di bidang lain. Satu menjadi perancang busana, satu menjadi atlet bulu tangkis dan lainnya menjadi dokter.

“Kenapa harus aku?” Mara menggumam. “Kenapa mereka nggak merekrut orang lain?”

“Karena hanya kamu yang sudah masuk usia menikah dan kamu keturunan langsung Papi. Ingat apa yang Papi pernah katakan? Perusahaan tersebut adalah tempat untuk berkarya bagi anak dan cucu-cucunya. Tapi nggak ada satu cucunya yang tertarik bekerja di sana.”

“Mama nggak akan membiarkan itu terjadi.” Mara menghabiskan kopinya.

“Mungkin saja,” jawab Rafka tak acuh.

Ada banyak hal yang harus dipikirkan Mara hari ini. Sebelum memikirkan pernikahan. Ada hari besar lain yang harus dia lalui sebelum hari pernikahan, yaitu hari di mana dia akan mementaskan Nikiya. Malam nanti. Mara berjalan masuk ke kamar dan tidak melanjutkan percakapan dengan adiknya.

Setelah mengatur posisi di tempat tidur dan kembali masuk ke dalam selimut—cuaca di Copenhagen turun hingga lima derajat Celsius di musim semi seperti ini—Mara membuka amplop di tangannya. Tidak ada tulisan apa-apa pada kartunya. Hanya sebuah lukisan seorang balerina dan pasangan menarinya. Salah satu adegan dalam La Bayadere. Di mana Nikiya dan Solor bersatu dalam cinta dalam kehidupan selanjutnya. Lukisan yang sangat bagus.

Ada inisial di sudut kanan bawah. Mara memperhatikan baik-baik. HM.

H? HM? Siapa dia? Apakah orang yang sama?

Bersambung.

[1] The Temple Dancer

__

Catatan:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

My Books

MIDSÖMMAR: SNEAK PEAK

 

 

 

 

 

 

Cinta. Kalau bukan karena cinta, dia tidak akan berdiri di sini. Jika bukan demi laki-laki yang dicintai, dia tidak akan menempuh perjalanan sejauh ini. Perjalanan pertamanya ke luar negeri. Memakan jarak separuh belahan bumi dari rumahnya, yang berada di bawah garis khatulistiwa. Tempatnya berdiri saat ini, terletak hampir dekat dengan kutub utara. Untuk bisa sampai di koordinat ini saja dia harus duduk dan melayang hampir sehari penuh di udara. Atau kurang. Tidak tahu. Lilian kehilangan hitungan.

Memang yang harus dilakukan bukan berhitung. Tapi menyelesaikan segala urusan sebelum bergerak untuk mencari jam bulat besar di terminal tiga. Tubuhnya sudah sangat penat. Kepalanya pening dan perutnya mual. Tuhan, kenapa hanya untuk bertemu orang yang dicintai perjuangannya harus seberat ini. Sudah melelahkan, biayanya juga tidak murah. Sebagai orang yang terbiasa hidup sederhana—kalau tidak mau disebut pas-pasan—membuang uang lebih dari lima puluh juta untuk selembar tiket terasa seperti menanggung dosa besar yang tidak terampuni. Uang sebanyak itu hampir mendekati gaji plus bonus setelah satu tahun memeras keringat.

Lilian memejamkan mata, berusaha menyuruh tubuhnya untuk bertahan sebentar lagi. Suara-suara percakapan dalam berbagai bahasa tertangkap telinganya sejak tadi. Begitu turun dari satu jam penerbangan dari bandara Munich-Franz Josef Strauss, kepalanya berdenyut dan kakinya gemetar. Sambil menahan dingin, Lilian mengeratkan syal merah yang melingkari lehernya. Betul kata Mikkel, lupakan pakaian musim panas dan bawa baju-baju tebal. Padahal saat mengecek di internet kemarin, Lilian merasa tidak salah baca kalau sekarang musim panas. Kalau musim panas saja sudah begini menyakitkan, bagaimana dengan musim dinginnya?

Pada saat seperti ini, bagaimana rasa cinta terhadap tanah airnya tidak bertambah? Negara tropis yang hangat lebih cocok untuknya. Scandinavia is too cold for her.

Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga, Lilian melangkah di bandara Kastrup. Laki-laki yang melintas di sebelahnya, dengan ponsel menempel di telinga, berbicara keras sekali, seperti sedang meneriaki seisi bandara, dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami Lilian. Membuat Lilian ingin menyumpal kedua lubang telinganya.

Mata Lilian sibuk memperhatikan papan-papan petunjuk arah—dalam tiga bahasa: Denmark, Inggris, dan Mandarin—di seluruh penjuru bandara, sebelum melangkah lagi untuk bergabung dengan satu gelombang besar orang yang bergerak menuju tempat pengambilan bagasi. Untungnya, dia tidak perlu mengeluh—selama hampir 24 jam ini, sudah berapa kali dia mengeluh?—karena pengambilan bagasi tidak memakan waktu lama, delapan conveyor belt mengirim bawaan semua orang dengan cepat.

Lilian sudah hampir menyerah berjalan saat akhirnya jam bulat raksasa berwarna putih—tempat di mana Mikkel menunggunya—terlihat. Gampang sekali ditemukan. Mencolok. Atau malah menggelikan, menurut Lilian. Jam analog besar tersebut menggantung di atas layar hitam raksasa—yang menampilkan semua jadwal penerbangan dari dan ke bandara ini—di main hall terminal tiga.

Jam delapan pagi. Waktu Copenhagen.

Lilian mengerjapkan mata. Setelah satu setengah tahun tidak bertemu, sosok yang sangat dan paling dia rindukan sekarang benarbenar nyata ada di depan mata. Bukan dalam format .jpeg. Juga bukan dalam bentuk pixel. Tidak melalui perantara layar laptop atau ponsel. Tapi Mikkel versi manusia betul-betul berdiri lurus di depannya. Lilian mengembuskan napas lega. Sejujurnya dia sempat merasa sedikit khawatir saat pesawat mulai meninggalkan Jakarta. Takut kalau Mikkel tidak menjemputnya di Copenhagen. Apa yang harus dia lakukan saat tiba di sini dan tidak bisa menemukan Mikkel?

Tapi Mikkel tidak mungkin melakukan hal itu kepadanya, Lilian percaya. Mikkel terlalu mencintainya untuk membiarkannya sengsara. Mikkel. Laki-laki yang selalu dicintainya. Tinggi, kukuh dan tampan—seperti yang diingat Lilian—dengan dark whased jeans dan black classic coat yang dibiarkan terbuka. Meski terdengar konyol, Lilian tetap mengakui bahwa hatinya menghangat melihat Mikkel menunggunya. Suhu udara delapan derajat Celsius saat ini—terima kasih Accuweather—bahkan tidak akan bisa membuatnya menggigil ketika melihat Mikkel tersenyum kepadanya.

“Mikkel!” Lilian berteriak sekuat-kuatnya.

Masa bodoh orang mengira mereka sedang syuting film atau apa. Realita ini ratusan kali lebih indah daripada belasan judul film yang pernah dia tonton dan puluhan judul novel yang sudah dia baca.

“Hi, Sweets.” Dua kata yang diucapkan Mikkel terdengar menyenangkan di telinga Lilian. Tidak menyakitkan seperti yang didengar Lilian di setiap sesi video call mereka. Di mana mereka hanya bisa bicara, tanpa berbuat apa-apa.

Dengan sekali loncat, Lilian mendarat di pelukan yang selama ini hanya bisa dia bayangkan. Tubuh Lilian sedikit terangkat saat Mikkel mendekapnya dengan sangat erat. Lilian menghirup wangi yang dia rindukan, mengisi penuh paru-parunya. Pipi kanannya menempel di dada Mikkel yang berbalut sweater berwarna biru gelap. Setelah kedinginan belasan jam di pesawat, sekarang terasa hangat sekali. Seluruh bagian tubuhnya hidup kembali. Bahkan sampai hatinya yang terdalam. Ini yang paling dia inginkan. Berada di sini. Di pelukan kekasihnya.

“I missed you.” Lilian menatap ke atas, tepat ke mata biru Mikkel.

“I’ve missed you too.” Tahu apa obat rindu terbaik di dunia ini? Bukan bertemu. Tetapi dibalas dirindukan.

Saat ini, lagu-lagu cinta di ponsel Lilian—yang didengarkan sepanjang perjalanan dari Munich ke Copenhagen tadi—terdengar basi sekali. Suara semua penyanyi tidak seindah suara tawa Mikkel yang baru saja didengarnya. Kalimat mereka tidak sarat makna seperti kata rindu sederhana yang baru saja meluncur dari bibir yang kini menciumi kepalanya.

Mikkel menatap dalam-dalam mata Lilian. “I demand a kiss.”

Lilian menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya. “Aku nggak gosok gigi selama di jalan, Mikkel. Aku nggak mau nyium kamu dengan bibir terbuka.” Memang Lilian sempat berkumur dengan mouthwash, tapi tetap saja dia tidak percaya diri untuk membiarkan Mikkel menjelajahi mulutnya.

“Kalau mau cium, di sini.” Lilian menunjuk bibirnya yang terkatup rapat.

“Kamu pikir kita masih remaja? Ciuman model begitu?”  Mikkel menggerutu tidak terima. “Aku sudah pernah menciummu pagi-pagi saat kamu bangun tidur. Dan aku tetap hidup.” Tidak mencium Lilian sama sekali yang akan membuatnya mati.

“Waktu itu, tujuh jam sebelumnya aku gosok gigi.” Yang dimaksud Mikkel adalah ciuman pada saat Mikkel datang ke rumah Lilian selepas subuh untuk memberi kejutan ulang tahun. “Ini aku nggak gosok gigi selama 24 ja….” Sebelum Lilian menyelesaikan kalimat, Mikkel sudah lebih dulu menempelkan bibir di sana.

Lilian sempat melotot sebentar, kaget karena Mikkel tidak memberi aba-aba. Tapi menit selanjutnya, dia sudah memejamkan mata dan ikut melepaskan kerinduan mereka. Tidak ada gunanya melawan, jadi lebih baik menikmati. Lilian bisa merasakan Mikkel tersenyum dalam ciumannya. Ciuman paling panjang dan paling dalam yang dia dapat selama satu tahun ini. Ciuman terbaik, kalau boleh dikategorikan. Mau tidak terbaik bagaimana, ini pertama kalinya mereka bertemu, setelah lebih dari tiga ratus hari.

Peduli setan orang mau bilang apa melihat mereka berciuman di tengah bandara padat begini. Mikkel sudah pernah menciumnya di Soekarno-Hatta. Di sini, di Eropa ini, orang lebih memaklumi—atau malah tidak peduli—dengan hal-hal semacam ini bukan? Otak Lilian berhenti bekerja lagi dan menikmati ciuman panjang ketiganya.

“See? I survived.” Mikkel tersenyum penuh kemenangan.

Ibu jari Mikkel menyapu bibir Lilian dengan lembut. Lalu kembali membungkam bibir Lilian yang sudah siap protes lagi. “I never get enough of you….”

Sulit dipercaya. Setelah belasan bulan bertarung dengan koneksi internet yang busuk, perbedaan waktu, urusan domestik— pekerjaan, keluarga, teman, dan masalah dalam negeri lain—serta masalah-masalah teknis atau non teknis lain, akhirnya mereka bisa bersama lagi. Mengulang ciuman untuk keempat kali. Airport kisses are the best.

Plus, rekor baru dalam sejarah perjalanan mereka. Berciuman di dua negara berbeda. Denmark dan Indonesia.

####

Selengkapnya silakan baca pada novel karya Ika Vihara, Midsommar.

Pembelian dengan bonus Midnatt, silakan menghubungi e-mail novel.vihara@gmail.com

 

My Books

NEW PROJECT

Soooo, aku punya utang janji kepada teman-teman semua untuk menerbitkan cerita Mikkel dan Savara. Insyaallah aku akan memenuhinya. Semoga bisa bersamaan, jadi bonusnya bisa digabung jadi satu, yang besar dan banyak sekalian 😀

Progres? Savara sudah kuserahkan pada editor–yang sama dengan editor Bellamia–untuk mendapat koreksi. Sedangkan Mikkel, rencananya wedding lit juga, masih kutulis sampai bab I. Semoga aku bisa menyelesaikan dengan cepat.

Karena eh karena, di sela-sela aku menyelesaikan dua utangku, aku ada poject kejutan. Akan ada buku baru. Buku apa? Seperti yang kutulis pada gambar di atas. Dari quote buku apa? Hahaha yep, Geek Play Love. Setelah self published dengan penjualan bagus, aku memutuskan untuk merelakan buku tersebut diterbitkan mass market. Akan ada di toko-toko buku di dekat kita.

Pada buku versi baru, secara jalan cerita tidak ada yang berubah. Dinar dan Jasmine kenal di mana kita sudah tahu. Apa pekerjaan Dinar, gimana sifat Dinar, dan manisnya Jasmine, semua sudah tahu. Konflik juga tidak berubah. Ending tidak berubah. Lalu ada bedanya dengan versi SP? Bedanya adalah penambajan 11.000 kata, atau lebih. Kira-kira 100 halaman, atau lebih. Di antaranya ada penambahan cerita di bagian Dinar sedang di Graz, Austria. Sebelumnya hanya sekilas kuceritakan, di versi baru aku perpanjang dan perluas. Juga bagian saat mereka berkunjung ke kampung halaman Dinar, semakin kuperdalam. Dan di beberapa tempat lain aku menambahkan bagian-bagian yang mendukung alur cerita.

Untuk teman-teman yang ingin lebih lama menikmati kisah Dinar dan Jasmine, silakan nanti beli buku versi baru. Untuk yang cukup dengan hanya tahu ceritanya, buku versi self-published sudah cukup. Aku belum tahu apa akan ada edisi khusus berbonus. Lihat peminat, mungkin kalau ada bonus, bakalan cerita si berat hehehe.

My Books

Freebie: Baca Cerita The Mollers Gratis Di sini

 

Siapa The Mollers? Keluarga rekaanku. Aku sudah menuliscerita mereka sebanyak tiga judul. Bukan buku bersambung. Tokoh utamanya ganti-ganti, cuma nama belakangnya Moller semua. Sampai hari ini masih ada cerita mereka yang bisa dibaca gratis melalui link di bawah ini:

Midsommar Chapter 1 sd 6
The Dance of Love Chapter 1, 2, dan 3

The Danish Boss Chapter 1 sd 20

Sedangkan buku-buku The Mollers yang sudah ada di toko buku adalah:

My Bittersweet Marriage

Afnan Moller. Half-Danish. Memutuskan untuk menjadi warga negara Denmark, mengikuti ayahnya, saat usia 18 tahun.  Mikrobiologis di Aarhus University Hospital. Sudah tinggal di Aarhus selama 12 tahun dan akan tinggal di sana sampai akhir hayat. Sebagai muslim, menemukan calon istri yang seiman di sana sulit sekali. Ditambah kesibukannya–pekerjaan, seminar, dan sebagainya–

Hessa. 27 tahun. Ibunya sudah ribut menyuruhnya menikah, sebelum dilangkah adiknya yang sudah dilamar. Masalahnya, bagaimana menemukan orang yang bisa membuatnya jatuh cinta? Saat sedang pusing memikirkan cinta, ibunya memberitahu bahwa ada laki-laki yang tertarik dengannya. Hessa memperlajari profil Afnan, dengan bantuan internet, dan, mau tidak mau, mengakui bahwa dia terpikat dengan sepasang mata biru seperti samudera tersebut. Masalah besarnya hanya satu. Afnan tidak tinggal di sini. Dia tinggal di Denmark dan tidak punya waktu untuk saling mengenal. Yang diinginkan Afnan adalah menikah dan membawa istrinya tinggal di Aarhus. Bagaimana rasanya meninggalkan semua hidupnya di sini, untuk hidup di sebuah tempat yang namanya saja tidak pernah dia dengar? Bagaimana rasanya meninggalkan keluarga, sahabat, dan pekerjaan, demi hidup bersama laki-laki yang baru ditemui tiga kali?

When Love is Not Enough

We will meet:

Lilja Moller. 28 tahun. Berdarah Denmark. Baru saja pindah ke Indonesia dan bekerja di perusahaan keluarga.Menikah dengan Linus, orang yang sudah dia kenal sejak lahir, dan tidak bisa lagi menghitung betapa besar dia mencintai Linus. Mencintainya sebagai teman, kakak, kekasih dan ayah dari almarhum anak perempuannya. Tetapi cinta saja tidak cukup menahan Lily untuk tetap menghidupkan pernikahan mereka. Sehingga Lily menyimpulkan pernikahan mereka tidak layak dipertahankan. Sambil menahan rasa sakit akibat patah hati, Lily bersumpah tidak akan lagi mempertaruhkan dirinya untuk disakiti lagi.

Linus Zainulin. Linus the Genius, kata Lily. 30 tahun. Merasa sudah memiliki kehidupan yang sempurna. Mendapatkan pekerjaan yang paling dia minati di salah satu perusahaan terbesar di dunia di Munich, Jerman. Hobinya, bermain sepak bola mendatangkan keuntungan finansial dan ketenaran. Menikah dengan gadis impiannya, sahabat terbaiknya, Lily Moller. Yang cantik dan cerdas. Seolah ingin membuktikan bahwa tidak pernah ada sesuatu yang sempurna, Linus menghancurkan pernikahan mereka dan Lily memilih untuk pergi. Meninggalkannya dalam tumpukan penyesalan. Bagaimana cara mendapatkan Lily kembali? Bagaimana cara memenangkan hatinya lagi? Bisakah pernikahan dibangun oleh satu orang saja?

 

Give Away, My Books, My Bookshelf

Review Buku – Bellamia by Ika Vihara

Review ini aku copy dari web salah satu pembaca, Tari. Terima kasih untuk reviewnya 🙂

Bellamia

Oh wow! Kalian semua harus baca novel ini. Ini novel pertama Ika Vihara yang kubaca dan aku bakalan menjamin kalau novel ini manis banget. Manis yang berbeda dari novel romance lain. Manis yang realistis. Sejak kalimat pembuka aku sudah disuguhi kalimat-kalimat yang berbobot. Dari halaman pertama sampai habis bikin bahagia, bikin tersipu, bikin marah, bikin kesel, bikin ketawa dan bikin iri! Iri banget aku sama Amia.

“Aku tahu kamu bisa melakukan apa aja sendiri, Amia. Apa tidak bisa kamu pura-pura tidak bisa? Biar aku ada gunanya.”

Amia tertawa, Gavin terdengar putus asa.

“Tolong antar aku pulang.” Amia memutuskan.

Aku suka banget sama buku ini dan nggak ragu buat bilang Ika adalah salah satu penulis favoritku sekarang. Ika memilih tokoh engineerpower engineer, yang setiap hari bikinin kita listrik dan pekerjaan tersebut jadi terdengar keren dan mulia. Aku nggak akan marah lagi kalau listrik mati, karena ingat Gavin lembur kalau itu terjadi.

Teknik menulis Ika sudah jempol. Kalimat-kalimatnya mengalir, interaksi antartokoh pas, ya seperti kita bercakap sehari-hari sama teman, pacar, orangtua. Semua serba realistis. Sampai aku percaya Gavinku ada di sekitarku dan Amia adalah sainganku. Plus, banyak pengetahuan yang kudapat dari sini. Aku jadi tahu kalau Einstein pernah punya kesimpulan soal jatuh cinta.

Aku sedang iseng Google rekomenasi buku dan sampai pada blog pribadi penulis. Dan aku yakin aku mau baca buku ini setelah baca blurb-nya:

Amia selalu percaya bahwa karier dan cinta tidak boleh berada dalam gedung yang sama. Interoffice romance lebih banyak membawa kerugian bagi karier seseorang. Sudah banyak kejadian pegawai mengundurkan diri setelah putus cinta dan Amia tidak ingin mengikuti jejak mereka.

Selain di kantor, di mana Gavin bisa bertemu dengan gadis yang menarik perhatiannya? Gavin tidak ada waktu untuk ikut komunitas, tidak bertemu dengan teman kuliah maupun teman SMA dan lebih banyak menghabiskan hidup di kantor.

Ketika Amia patah kaki dalam simulasi terorisme, Gavin—dengan alasan bertanggung jawab sebagai atasan—mulai membuka jalan untuk mengubah pandangan Amia. Namun Amia mengajukan satu syarat.

Merahasiakan hubungan dari semua orang.

Dari situ saja aku sudah dijanjikan sesuatu yang berbeda: simulasi terorisme! Di kantorku juga ada seperti itu tapi kenapa nggak ada ‘Gavin’ yang mendatangiku.

“Bapak ngapain di sini?”

Jus kemasan tetrapak menempel di pipi Amia.

“Menjenguk pegawai yang cedera karena simulasi.” Gavin meletakkan jus jeruk itu di pangkuan Amia dan dia sendiri duduk di kursi besi panjang di sebelah kanan Amia.

“Kenapa Bapak repot-repot?” Amia tidak pernah mendengar cerita ada top management menjenguk staf seperti dirinya.

“Karena aku bertanggung jawab terhadap keselamatan semua pegawai?”

Ini memang cerita tentang interoffice romance, alias cinta lokasi di kantor. Ini memang cerita tentang atasan dan bawahan. Di saat aku bosan dengan model cerita Cinderella, (bawahan dengan CEO, red), Ika membuat cerita ini berbeda. Seperti yang kubilang, Gavin adalah power engineer, yang cerdas, berkharisma, tampan, dan percaya diri. Kecintaan Gavin pada engineering, listrik, dan kemaslahatan umat betul-betul disampaikan dengan baik sampai aku berpikir, ini yang engineer penulisnya atau Gavin? Amia berasal dari keluarga berada, berpendidikan, puas dengan hidupnya yang sekarang dan tidak menginginkan apa-apa lagi. Kecuali cinta. Dan Amia ini keras kepala banget nggak mau mencari cinta di kantor.

Cerita yang lengkap sekali. Meski Amia dan Gavin menghadapi masalah, bukan cuma mereka yang bertambah dewasa, tapi aku, dan mungkin pembaca yang lain juga. Betul-betul cerita ini layak untuk dibaca dan sampai dengan bulan Oktober ini, ini adalah buku romance terbaik yang pernah kubaca.

Jadi … kembali ke interoffice romance, hari pertama Amia bertemu dengan Gavin, atasannya yang paling atas, Amia tidak menyangkal kalau dia terpersona pada Gavin. Well, Mia, siapa yang nggak? Dan Gavin pada pertemuan mereka yang pertama juga, dengan cerdik langsung memanfaatkan posisinya lebih tinggi dari Amia, untuk mendekatinya. Jempol.

“Apa kamu tahu alamat ini?” Gavin menunjukkan kertas putih itu kepada Amia.

“Tahu, Pak.” Sejak lahir dia tinggal di sini, tentu saja tahu.

“Antar saya ke sana.” Gavin berdiri. Memang ada GPS. Pengisi suaranya juga wanita. Tapi kalau tersedia GPS alami—penduduk lokal—yang menarik dan cantik seperti ini, semua laki-laki akan melupakan software navigasi tersebut. Gavin tersenyum dalam hati. Memuji dirinya atas keputusan cerdas yang baru dibuatnya.

Amia sadar kalau Gavin tertarik padanya dan Amia berusaha untuk menghindar dari potensi drama yang mungkin terjadi kalau teman-temannya tahu atasan/idola mereka tertarik pada Amia. Bahkan Amia menolak berteman dengan Gavin.

“Saya bisa dipecat kalau manggil bos pakai nama langsung.” Sampai hari ini Amia masih tahu adat dan tidak akan memanggil atasannya seperti yang diinginkan Gavin.

“Ini, kan, di luar kantor, Amia.”

“Karena di luar kantor, saya nggak wajib menuruti perintah Bapak.” Amia berargumen.

“Kenapa?”

“Karena Bapak atasan saya di kantor. Bukan di luar,” jawabnya putus asa.

“You got it? Kita bukan atasan dan bawahan sekarang. Karena tidak di kantor, seperti yang kamu bilang sendiri. Teman?” Gavin puas dengan kemenangannya.

Shit. Amia mengeluh dalam hati.

Tapi Gavin pantang menyerah. Dia tetap berusaha menginginkan kesempatan dari Amia, meski jawaban yang didapat dari Amia tetap ‘tidak.’

“Jadi apa akan ada second date?”

Amia batal melangkah saat mendengar pertanyaan Gavin.

“Nggak. Dan tadi bukan date.” Demi apa pun di dunia ini, kenapa kegiatan makan es krim disebut kencan oleh laki-laki ini?

“I deserve a date, Amia.” Dalam bulan ini, kalau tidak bisa berkencan dengannya, sebaiknya dia mati saja.

Menarik sekali melihat bagaimana Gavin berusaha mengubah pemikiran Amia mengenai office romance. Karena Gavin menghabiskan banyak waktu di kantor, gimana mungkin dia akan ketemu jodoh di luar sana? Sedangkan Amia, berusaha untuk memegang prinsip hidupnya bahwa menjalin hubungan dengan teman sekantor adalah bencana.

Ah, jangan pikir ini akan sama dengan cerita romance lain. Tidak ada orang ketiga yang mengganggu mereka. Yang membuat menarik, penulis bisa bikin konflik yang hanya melibatkan dua tokoh ini. Perasaanku teraduk-aduk selama mereka berkonflik. KESAL, MARAH, MENDUKUNG AMIA, TAPI JUGA INGIN PUK-PUK GAVIN. Semua konflik itu malah membuat kedua tokoh utama menjadi semakin matang dan dewasa. Pembaca juga ikut kecipratan menjadi bijak.

Aku suka semua bagian dari buku ini. Cara berpikir Amia dan Gavin, cara mereka instropeksi diri, cara mereka menyampaikan perasaan, cara bertengkar bahkan. Bagaimana perjuangan mereka untuk menemukan kebahagiaan. Aku lega banget setiap kali Amia atau Gavin berhasil melewati satu ujian hidup.

Orang rajin mengganti oli mesin setiap tiga ribu kilometer. Servis seribu kilometer atau sepuluh kilometer. Jadi kenapa tidak menerapkan aturan ini pada kekasih mereka? Seorang kekasih perlu untuk dihubungi dan dikabari secara berkala. Sehari sekali. Dua hari sekali. Bertemu seminggu sekali—minmal. Diberi perhatian dan disayang. Supaya hubungan mereka tidak macet di tengah jalan.

Aku selalu suka cerita yang membuatku percaya bahwa semua orang di dunia ini bisa mendapatkan kisah cinta yang indah. Bellamia ini salah satunya. Membumi. Apa yang terjadi pada Amia bisa terjadi padaku, pada kita. Gavin bisa ditemui di sekitar kita. Kalau tidak jadi engineer, mungkin Gavinku dokter. Juga buku ini menenangkan hatiku dari galauku yang sedang menunggu datangnya kekasih hati.

“Akan ada balasan kebahagian untukmu, Mia. Walaupun nanti bukan dengan Riyad, akan ada cinta lain untukmu. Akan ada orang yang mencintaimu sebesar rasa cintamu padanya. Yang dengan yakin akan memilihmu di antara banyak wanita di dunia.”

5 bintang dariku!

Oh ya, ada excerpt dari Bellamia yang bisa dibaca di blog pribadi Ika. Bisa dibaca dan siapa tau jatuh cinta kayak aku.

Juga sedang ada give away. Hadiahnya novel Bellamia bertanda tangan penulisnya.

Ada review yang kebanyakan bintang 5 di Goodreads.

Follow fanpage penulisnya dan ada cerita gratis yang dibagikan setiap minggu!

My Books

Bellamia: The Excerpt

 


Are you in mood to test Bellamia? Here the excerpt special for you.

Mau bagaimana lagi. Terpaksa Amia membawa kakinya ke depan pintu. Wow! Ini akan jadi kali pertama Amia masuk ke ruangan power plant manager. Sebelumnya belum pernah sama sekali. Tidak pernah ada urusan dengan mereka. Ragu-ragu Amia mengetuk pintu. Tidak ada sahutan. Setelah tiga kali mengetuk dan memikirkan risiko buku-buku jarinya patah, Amia memutuskan untuk mendorong pintu lalu melongokkan kepala. Tatapannya terpaku pada meja besar di ruangan itu. Kosong. Tidak tampak keberadaan manusia.

Repot sekali mencari orang bernama Gavin ini, Amia sedikit jengkel. Erik juga memberi informasi tidak jelas sama sekali. Apa tidak bisa sekalian pakai tagging koordinat di mana persisnya posisi Gavin? Sudah berapa puluh menit waktunya terbuang sia-sia?

“Ya?” Sebuah suara membuat Amia melompat dan menjatuhkan amplopnya.

A deep baritone. Mata Amia bergerak mencari sumber suara.

“Astaga!” Amia mengelus dada dan menengok ke kiri. Orang yang dia curigai bernama Gavin itu sedang santai membaca koran di sofa.

Sebuah wajah muncul dari balik koran. My God! Baru kali ini dia bertemu laki-laki dan sukses membuatnya lupa bagaimana cara bernapas. Apa patung buatan Michelangelo benar-benar bisa hidup dan berjalan? Bagian bibir dan dagu seperti dipindahkan langsung dari wajah David. Rambut hitam legamnya sangat rapi, seperti dua menit lagi dia akan dipanggil masuk ke studio untuk membacakan berita. Matanya yang tersembunyi di dalam tulang dahi dan tulang pipi yang tinggi, menyorot tajam ke arah Amia.

“Masuk.” Lagi-lagi, suaranya membuat Amia tergeragap.

Setelah mengambil amplop cokelatnya di lantai, Amia melangkah masuk.

“Pak Gavin?” Amia memastikan. Sambil memperhatikan. Celana abu-abu dan kemeja hitam lengan panjang. Suram, Amia menghakimi dalam hati. Tapi seksi, dengan berat hati Amia menambahkan. Menurut perkiraan Amia, laki-laki itu mungkin seumuran dengan Adrien, kakaknya.

“Ini dari Pak Erik.” Amia tidak bisa menjelaskan isinya karena tadi lupa bertanya pada Erik. Gara-gara buru-buru ingin tebar pesona di lantai produksi.

“Apa ini?” Seperti yang sudah diduga Amia, Gavin pasti bertanya. Full of authority. Suaranya menuntut untuk diperhatikan. Seandainya sekarang mereka sedang berada di sebuah auditorium yang penuh sesak, Amia yakin ruangan tersebut akan senyap dan semua orang pasti mendengarkan dengan tenang apa saja yang dikatakan Gavin.

“Saya tidak tahu, Pak.”

“Bapak buka saja.” Amia menyarankan dan berusaha untuk tersenyum. Senyum yang sering membuat laki-laki menjadi terlalu ramah padanya, semoga berfungsi juga pada Gavin.

Isinya kunci mobil, kunci rumah, kartu akses, plus selembar kertas. Kenapa Erik menyuruh mengurus hal-hal seperti ini? Amia mengeluh dalam hati.

“Apa kamu tahu alamat ini?” Gavin menunjukkan kertas putih itu kepada Amia.

“Tahu, Pak.” Sejak lahir dia tinggal di sini, tentu saja tahu.

“Antar saya ke sana.” Gavin berdiri. Memang ada GPS. Pengisi suaranya juga wanita. Tapi kalau tersedia GPS alami—penduduk lokal—yang menarik dan cantik seperti ini, semua laki-laki akan melupakan software navigasi tersebut. Gavin tersenyum dalam hati. Memuji dirinya atas keputusan cerdas yang baru dibuatnya.

Otomatis Amia memanfaatkan kesempatan ini untuk memperhatikan postur tubuh Gavin. Mungkin laki-laki itu benar-benar David versi manusia. Bahu dan dadanya lebar. Perutnya tidak menyembul sama sekali. Lengannya padat. Kakinya panjang. Kulitnya cokelat. Tidak putih seperti Riyad, yang malas kena sinar matahari.

“Sekarang, Pak?” Dalam kepalanya, Amia memperkirakan selisih tinggi badan dengan atasan barunya. Sepatu sepuluh sentinya seperti tidak banyak membantu untuk membuat tinggi badannya—yang hanya 161 cm—naik secara signifikan.

“Iya. Kamu keberatan?” Nada bicaranya seperti mengancam, kamu berani menolak?

“Iya.” Amia menjawab dengan jujur. “Ini bukan jobdesc saya, kebetulan orang yang seharusnya mengurus ini sedang tidak masuk jadi supervisor saya minta tolong.”

“Ya, supervisormu sudah menyuruhmu ke sini, sekalian saja. Namamu siapa?”

“Amia.”

“Tunggu di sini.” Gavin berjalan ke mejanya.

Siapa yang kuasa menolak? Meskipun berusaha tidak terbawa pesonanya, laki-laki itu tetap atasannya. Amia kembali menjatuhkan pantat di sofa.

“Pak Peter.”

Dengan horor Amia menoleh ke arah Gavin yang sedang bicara di telepon. Dia menelepon kepala departemen Amia.

“Saya ingin minta bantuan dari salah satu pegawai Bapak. Namanya Amia.”

Sial betul orang yang namanya Gavin ini, Amia mengerang dalam hati.

“Sudah diizinkan.” Gavin berjalan keluar mendahului Amia. Mau tidak mau, Amia mengekor di belakangnya.

“Kalau ada telepon, tolong bilang saya keluar, ya.” Gavin berpesan kepada Melina yang sudah duduk lagi di kursinya. Yang diiyakan sambil tersenyum lebar oleh Melina.

“Turun dulu, Kak.” Amia pamit kepada Melina.

“Sering-sering ke sini, Am.” Melina menjawab, masih dengan ceria.

Tentu saja semua orang di lantai ini—para sekretaris kepala departemen—akan selalu ceria. Termasuk yang sudah punya anak dua seperti Melina. Ada atasan baru yang masih muda tetapi dewasa, berkharisma namun—Amia benci mengatakan ini—seksi. Mungkin kantor pusat salah merekrut orang. Mestinya Gavin difoto untuk cover majalah, bukan disuruh mengurus listrik.

“Kenapa ke lantai tiga?” Gavin menegur Amia yang memencet angka tiga di lift.

“Saya mau ambil tas saya, Pak.” Dompet dan ponsel Amia semua di sana.

“Itu buang-buang waktu dan kamu tidak akan memerlukan itu.”

“Bapak ini minta tolong kok ngatur.” Amia memberanikan diri untuk protes. Siang ini dia sudah berbaik hati menunda setumpuk pekerjaan untuk menemani Gavin menengok rumah baru dan dia tidak diperbolehkan membawa peralatan perang?

Setidaknya dia perlu membawa ponsel, siapa tahu ada apa-apa di jalan dan dia harus menghubungi seseorang. Atau untuk bergosip dengan Vara agar dia tidak bosan selama bersama atasannya. Amia kesulitan mengikuti langkah panjang Gavin. Sepatu dan rok pensilnya tidak mendukung untuk berjalan dengan cepat.

P.S:

Bellamia bisa didapatkan di toko buku terdekat.