My Books

Le Mariage Terbaru dari Ika Vihara x Elex Media: Right Time To Fall In Love

Blurb Right Time To Fall In Love:

Dari penulis A Wedding Come True dan My Bittersweet Marriage, pemenang The Wattys 2021 Kategori Romance:
Ketika rencananya untuk menikah dipupus takdir, Lamar Karlsson memutuskan pulang ke Indonesia. Meninggalkan segalanya–termasuk karier sebagai structural engineer–untuk memikirkan dan memetakan kembali masa depannya. Masa depan yang akan dilalui sendiri, tanpa risiko patah hati. Semua akan berjalan sempurna, seandainya Malissa Niharika–seorang environmental scientist–tidak mengetuk pintu rumah Lamar. Kini justru timbul masalah baru; Lamar tidak bisa mengusir Malissa dari pikirannya.

Setelah bangkit dari keterpurukan atas pengkhianatan dan skandal besar yang dilakukan almarhum suaminya, Malissa fokus membesarkan anak kembarnya. Waktu yang tersisa digunakan untuk menyelamatkan lingkungan melalui free store dan food rescue yang dirintisnya, sehingga mencari pasangan hidup tidak menjadi prioritas utama Malissa. Tetapi perkenalan dengan Lamar menyebabkan impian Malissa untuk memiliki pernikahan yang penuh cinta bersemi kembali.

Ini bukan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, Lamar meyakinkan dirinya. Masih terlalu cepat. Namun Malissa menunjukkan kepada Lamar bahwa hati memiliki cara kerja sendiri yang tidak bisa diintervensi. Apakah Lamar akan mendengarkan kata hatinya untuk segera memberi kepastian kepada Malissa? Atau tetap bertahan di zona teman, yang aman tapi tanpa kesempatan hidup bahagia selama-lamanya bersama Malissa?

Menyambut Le Mariage Keenamku+Judul Ketujuhku Bersama Elex Media Komputindo

Sampai juga aku di titik ini. Saat menerbitkan Le Mariage pertamaku, My Bittersweet Marriage, awal 2016, aku sama sekali nggak berpikir jauh ke depan. Jangankan buku ketujuh, setelah buku kedua When Love Is Not Enough, aku sempat berpikir untuk tidak lanjut menjadi penulis. Aku masih menulis, tapi hanya untuk konsumsi sendiri. Kusimpan saja di laptop. Tetapi editorku di Elex Media menghubungiku dan bertanya apa ada naskah yang sudah siap diterbitkan. Karena masih menulis, maka aku masih punya naskah novel yang telah selesai. Yaitu The Game of Love. Karena nggak berpikir untuk menerbitkan buku tersebut, maka naskah yang kutulis nggak sepanjang bukuku yang lainnya.

Saat proses revisi, ada catatan dari editor, yang mengatakan bahwa saat membaca The Game of Love, pembaca akan tertarik dengan kisah-kisah tokoh yang lain. Tokoh yang di The Game of Love tidak menjadi tokoh utama. Catatan itu mendorongku untuk menulis buku selanjutnya, A Wedding Come True. A Wedding Come True terbit saat pandemi. Di tengah rasa pesimisku–takut buku tersebut nggak laku sebab kondisi ekonomi sedang lesu–A Wedding Come True malah menjadi bukuku yang paling sukses sepanjang karier menulisku. Best seller baik buku cetak maupun e-book.

Ide-ide baru terus muncul dan aku sadar aku ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Kesempatan untuk meningkatkan kesadaran akan invisible disabilities, menceritakan tentang women in STEM–Science, Technology, Engineering, and Mathematic–sepertiku, dan membahas berbagai macam topik. Yang kupadukan dengan cerita romance yang manis, realistis, romantis, dan logis. Berapa pun jumlah pembaca bukuku, aku berharap dari sana sudah ada yang mengambil manfaat dari tulisanku. Sudut pandang mereka akan cinta dan kehidupan semakin bertambah. Wawasan semakin luas dan menjadi pribadi yang semakin toleran.

Dan sekarang aku berdiri di titik ini. Di buku ketujuhku. Le Mariage keenamku. Menghadirkan Right Time To Fall In Love. Tidak hanya kisah asmara Lamar dan Malissa yang kusajikan dengan manis, tapi aku juga membahas perubahan iklim, penyelamatan makanan dan barang-barang kebutuhan lain, structural engineering, single motherhood, dan beberapa topik lain.

Kalau kamu suka membaca cerita romance yang berbobot tapi tidak berat, kamu harus banget membaca Right Time To Fall In Love. Kalau ikut preorder, ada bonus booklet bab ekstra 65 halaman A6. Biar puas baca kisah Lamar, Malissa, dan si kembar yang lucu membangun keluarga.

My Books, Thing That Makes Me Happy

Bongkar Dapur Cerpen Juara Pertama Lomba Teman Tulis 2022

Setelah menunggu beberapa waktu, karena sempat diundur masa lombanya, akhirnya cerpen Sebaik-baik Manusia keluar sebagai juara pertama Lomba Teman Tulis 2022 yang diadakan aplikasi Lontara. Aku bersyukur, sangat bersyukur, atas pencapaian ini. Yang kuharapkan akan menaikkan kepercayaan diriku dan menguatkan niatku untuk terus mengangkat topik-topik berbeda dalam setiap cerita yang kutulis. Baik cerpen maupun novel.

Aku tertarik mengikuti Lomba Teman Tulis 2022 setelah melihat temanya, yang menurutku lebih menantang daripada tema tahun sebelumnya. Apalagi, sebagai orang yang menyukai detail aku semakin nyaman karena disediakan juga subtema pilihan. Jadi ke mana aku harus melangkah sudah jelas. Tinggal mengikuti jalur saja, tanpa perlu takut tersesat.

‘Bertumbuh menjadi Tangguh’ adalah subtema yang kupilih. Sebab aku paling paham dengan kalimat tersebut. Bagaimana tidak, aku sedang menjalaninya dan tahu menjadi tangguh memerlukan perjuangan yang tidak mudah. I am not disabled, but I have disabilities. Hanya saja orang lain tidak bisa melihat kekuranganku. Atau, kalau aku biasa menyebutnya, invisible disabilities. Kekurangan yang tak tampak dari luar. Aku tidak bisa berjalan kaki dalam waktu lama, setelah lututku dioperasi tahun 2017. Ditambah aku menerima diagnosis general anxiety disorder, yang berjalan bersisian dengan depresi. Salah satu tanda aku sudah semakin tangguh adalah berani memberi tahu orang-orang terdekat, teman, atasan, rekan dekat dan siapa pun yang banyak berinteraksi denganku mengenai kondisiku.

Mau tidak mau, kondisi tersebut membuat cara hidupku harus disetel ulang. Disesuaikan kembali. Aku harus bisa menyentuh hati orang-orang di sekitarku harus agar mereka bisa mengakomodasi kebutuhanku. Misalnya membuat atasanku menyetujui aku pindah bekerja dari lantai 3 ke lantai 1, karena lututku tidak kuat naik tangga banyak-banyak. Dalam profesiku sebagai penulis, aku meminta kepada editorku untuk langsung menuju pokok keperluan saat mengirim WhatsApp, agar tidak memicu kecemasan. Ketika diundang menjadi narasumber di radio, universitas, dan lain-lain, aku meminta dikirimi dulu jadwal acara dan daftar pertanyaan. Sebagian besar orang mengerti, sebagian lainnya tetap bilang aku kelihatan baik-baik saja.

Sebagaimana novel-novel yang kutulis, dari pengalamanku itulah ketika membuat cerpen aku bercerita dari sudut pandang seorang wanita yang juga mendapatkan diagnosis dokter dan mengetahui dirinya memiliki invisible disabilities pada usia dewasa. Invisible disabilities yang kupilih untuk cerpen Sebaik-baik Manusia adalah autis dan ADHD. Alasan spesifik kenapa aku memilihnya, aku kurang tahu. Hahaha. Yang jelas pada masa-masa sebelum menulisnya, aku banyak membaca mengenai spektrum autisme. Bukan karena sedang meriset tulisan, tapi memang aku tertarik saja.

Tantangan Shiya, tokoh utama cerpen Sebaik-baik Manusia, sama denganku. Memberi tahu orang-orang terdekatnya mengenai kondisi barunya. Termasuk menghadapi kekhawatiran ibunya akan kemungkinan Shiya bisa mendapatkan pasangan hidup. Menyusun perjalanan Shiya semenjak kanak-kanak hingga dia dewasa, perjuangannya mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya, hingga memanfaatkan kekuatan supernya untuk membantu orang lain dalam 4.000 kata sempat membuatku pusing. Di mana harus memilih titik berat, mengatur pace—supaya tidak terlalu cepat, dan lain-lain adalah proses yang sangat sulit. Sampai aku ingin menyerah dan ingin menjadikannya novel hahaha. Karena pada saat bersamaan juga ada lomba pitching novel. Tetapi demi melihat panjang novel hanya 40.000 kata dan itu nanggung untuk ukuranku, maka aku tetap bertahan pada cerpen.

Oh, aku membuat blurb untuk cerpenku, atas permintaan penyelenggara lomba, sebagai berikut:

Sejak kecil Shiya merasa dirinya mendarat di planet yang salah. Sebab Shiya kesulitan mengikuti cara hidup dan berkomunikasi manusia. Bertahun-tahun Shiya mencari tahu apa yang membedakan dirinya dengan mereka. Tetapi jawaban baru dia dapatkan 20 tahun kemudian. Menerima diagnosis autis dan ADHD pada usia dewasa membuat Shiya terguncang. Ditambah, ibunya memintanya merahasiakan kenyataan itu, karena khawatir tidak akan ada laki-laki yang mau menikah dengan Shiya. Kini Shiya dihadapkan pada dua pilihan. Diam dan melanjutkan hidup seperti dulu namun dia menderita atau mengumumkan kondisinya, menanggung semua risiko yang menyertai, dan hidup dengan identitas baru yang membuatnya bahagia.

Karena aku penulis romance, maka aku sisipkan juga unsur romantis di dalamnya. Bagaimana Shiya bertemu cinta sejatinya, seseorang yang mau menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pada saat dan dari jalan yang tidak disangka-sangka. Aku puas dengan hasilnya dan senang bisa menyelesaikannya. Bahkan aku berangan suatu hari nanti aku bisa menjadikan kisah Shiya menjadi novel hahaha. Kalau aku tidak terlalu malas untuk meriset lebih lanjut hehehe.

Aku mendapatkan pertanyaan dari salah satu teman di Instagram. Apa rahasianya bisa memenangkan lomba cerpen. Jawabannya adalah aku nggak tahu. Karena yang memutuskan memang atau tidak adalah juri. Dari sisi penulis, aku menyarankan untuk menulis cerpen yang benar-benar sesuai tema. Karena terbatasnya ruang, maka sebuah cerpen nggak boleh bertele-tele. Cerita harus menarik perhatian sejak kalimat pertama dan tentu saja, ada plot twist di akhir cerpen. Itu saja sih rumusku dalam menulis cerpen.

Kalau kamu ingin membacanya, cerpen Sebaik-baik Manusia nanti akan terbit dalam buku antologi. Bersama dengan sepuluh cerpen terbaik dalam Lomba Teman Tulis 2022. Aku akan mengumumkan lagi kalau sudah ada info lebih lanjut dari penerbit.

My Books

Baca Gratis Buku Ika Vihara di Aplikasi iPusnas

Judul bukuku yang dibeli oleh iPusnas terus bertambah. Kini ada A Wedding Come True dan My Bittersweet Marriage Collector Edition yang menyusul buku-buku sebelumnya; My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough dan The Game of Love. Kamu bisa membaca blurb buku di laman kumpulan karyaku. Jangan pernah ragu untuk membaca karyaku melalui aplikasi iPusnas. Sebab walaupun kamu membacanya tanpa biaya, aku tetap mendapatkan royalti sebagaimana jika bukuku dibeli melalui aplikasi Gramedia Digital atau Google Playstore. Ini seperti kamu ditraktir pemerintah membaca buku. Enak kan?

Untuk bisa menikmati semua bukuku di iPusnas, kamu cukup mengunduh aplikasinya di Playstore/Appstore. Seperti biasa, kamu harus membuat username dan password. Setelah itu kamu bisa memasukkan judul buku atau namaku di kolom pencarian. Klik judul buku yang kamu inginkan. Kalau tulisan Baca/Borrow sudah muncul di bawah cover, berarti kamu bisa langsung membacanya. Kalau masih dalam status Antre/Queue, kamu harus menunggu sampai ada orang lain yang mengembalikan. Jangan khawatir dengan nomor antrean(simbol jam beker di kiri bawah) yang mencapai ratusan. Agar kamu bisa ‘menyerobot antrean’ sering-sering saja mengecek judul tersebut. Biasanya mereka yang antre kadang masih sibuk jadi tidak gercep mengambil e-book yang baru dikembalikan. Oh ya, koneksi internet kamu perlukan saat kamu menekan tomobol baca dan menunggu e-book ter-download. Selanjutnya kamu bisa membacanya walau tidak tersambung internet.

Aplikasi iPusnas bisa menjadi jalan mudah bagimu untuk terus mendukungku. Secara finansial. Kita sama-sama tahu bahwa untuk menulis buku, ada biaya yang harus dikeluarkan yang seringkali tidak sedikit. Dari royaltilah penulis membiayai penulisan bukunya. Mungkin kamu pernah mengunduh atau membeli e-book bajakan. Atau mungkin membeli buku preloved/bekas/second. Keduanya tidak menghasilkan royalti sama sekali kepada penulis. Oleh karena itu, kamu bisa menebus kesalahan tersebut dengan membaca bukuku di aplikasi iPusnas. Agar aku mendapatkan hakku. Karena saat kamu membaca bajakan atau preloved, aku tidak mendapat apa-apa. Sedih.

Aku sangat berterima kasih karena kamu telah memilih menjadi pembaca yang bermartabat. Dengan menghargai karya penulis dan mau berkorban–meng-install aplikasi, membuat username dan password, dan lain-lain–untuk membaca karya penulis. Kamu tidak hanya mendukung kelangsungan karier penulis, tapi memajukan ekosistem literasi Indonesia. Kamu adalah pahlawan.

Selamat membaca karya-karya Ika Vihara di aplikasi Ipusnas.

Note: Selain iPusnas, ada juga aplikasi membaca buku milik pemerintah daerah seperti iJak, iMalang, dan sejenisnya.

My Books, Uncategorized

Review Novel The Perfect Match Karya Ika Vihara di Media Cetak

Berikut review The Perfect Match di media Kedaulatan Rakyat Mei 2022.

Menghilangkan Perfeksionisme dalam Diri Sendiri

Judul Buku : The Perfect Match
Penulis : Ika Vihara
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 2021
Halaman : 371 halaman
ISBN : 978-623-00-2503-7

 

 

SEKERAS apapun usaha manusia menjadi sempurna, kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Sebab, manusia memang diciptakan memiliki keterbatasan, kekurangan untuk saling membutuhkan satu sama lain. Kecenderungan perfeksionisme dalam diri justru dapat memberi pengaruh buruk pada kesehatan baik fisik dan mental.

Seperti tokoh utama dalam novel ini, Nalia Kahlana, yang berhenti mempercayai cinta dan pernikahan. Penyebabnya, masa lalu yang buruk kehilangan ibu dan ayah yang meninggalkannya tanpa alasan. Namun, segalanya berubah ketika ia bertemu dengan Edvind Raishard Rashid.

Edvind pria tampan dan cukup sukses berkarier sebagai dokter, yang tak pernah kesulitan mendapatkan teman kencan. Kegigihan Edvind untuk mengubah pandangan Nalia secara perlahan meruntuhkan pertahanannya. Kendati demikian, abandonment issue yang Nalia miliki melibatkan banyak pertimbangan akan hubungan asramanya dengan Edvind. (Hal 107)

Nalia hampir dapat mengendalikan abandonment issue yang ia miliki sebelum kemudian hal buruk menimpa kakaknya, Jari. Gloria kakak iparnya mengalami kritis saat melahirkan. Hal tersebut membuatnya kembali ragu dan takut akan masa lalu yang terulang, hingga memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Edvind.

Nasihat Gloria membuka kembali mata hati Nalia bahwa Edvind merupakan lelaki yang tepat untuknya. Tak seorang pun yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Yang bisa kita lakukan hanya menjalani hidup saat ini sebaik-baiknya. Begitu pula hidup, akan lebih mudah jika selalu melihat ke depan.

“Waktu yang kita miliki di dunia ini singkat dan akan sia-sia kalau dilewati tanpa mencintai dan dicintai. Pergilah, berjuanglah. Pertaruhkan hatimu, pertaruhkan dirimu, pertaruhkanseluruh hidupmu.” (Hal 337)

Novel karya Ika Vihara ini menyajikan kisah romansa dengan dialog yang cerdas sesuai dengan profesi tokoh-tokoh di dalamnya. Seperti impian Edvind yang ingin menjadi ahli genetika dan kariernya sebagai dokter, ketertarikan
Nalia pada pendidikan inklusif serta Alesha, sepupu Edvind, seorang ahli kesehatan mental. Karya ini menambah wawasan kita seputar sains dan cara menyembuhkan trauma.

The Perfect Match mengingatkan pembaca bahwasannya satu kesalahan dalam hidup bukanlah cela, dan satu kegagalan tidak akan membuat kita hina sepanjang hidup.*

*) Marisa Rahmashifa, mahasiswi Sastra Inggris UIN Malang.

My Books

MENANG “THE WATTYS” KATEGORI ROMANCE

Ini cerita yang sangat terlambat. Pengumuman pemenang dilakukan pada bulan Desember 2021 dan aku baru menceritakan di blog sekarang. Aku sudah mengabarkan di Instagram dan Twitter lebih dulu. Karena lebih mudah dan cepat. Meskipun begitu, aku tetap ingin membagi pengalaman memenangkan kompetisi yang diikuti oleh banyak penulis di platform Wattpad ini.

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, ini adalah tahun pertama keikutsertaanku dalam kompetisi The Wattys. Sepasang Sepatu Untuk Ava dimulai dan selesai pada kurun waktu yang tepat, selaras dengan yang tertulis dalam peraturan lomba. Dari peserta yang begitu banyak, aku tidak menyangka Ava akan menjadi juara pertama untuk kategori romance. Kemenangan ini berarti banyak untukku. Namaku diumumkan di halaman home/beranda Wattpad Indonesia dan dalam daftar bacaan resmi Wattpad Indonesia. Dengan begitu, mereka yang dulu belum kenal Ika Vihara akan tahu. Namaku—sebagai penulis—akan semakin dikenal. Kunjungan ke profil Wattpadku dan daftar karya juga akan meningkatkan popularitasku. Walaupun sedikit hahaha.

Dengan cerita Sepasang Sepatu Untuk Ava yang bisa dibaca dengan gratis selama setahun di Wattpad, aku berharap akan lebih banyak lagi pembaca yang ketagihan dengan tulisanku dan membaca karya-karyaku yang lain. Aku juga ingin meningkatkan pengikut di Wattpad sampai 50.000. Sudah hampir tercapai.

Kemenangan ini juga membuktikan aku bisa membuat logline cerita—satu kalimat saja—dan sinopsis 500 kata. Berdasarkan e-mail pemberitahuan Daftar Pendek/Short list, mereka baru membaca lebih dalam dan lebih lengkap untuk karya-karya yang masuk dalam daftar pendek. Karena Sepasang Sepatu Untuk Ava sudah menarik perhatian juri, maka aku menyimpulkan aku sudah bisa, sudah berhasil menulis logline dan sinopsis dengan baik.

Cerita yang memenangkan penghargaan The Wattys diharuskan berada di Wattpad selama satu tahun, sejak diumumkan masuk Daftar Pendek. Ini menjawab pertanyaan teman-teman, kapan Sepasang Sepatu Untuk Ava diterbitkan menjadi buku cetak. Tahun 2022. Sekitar bukan Desember. Meskipun aku belum tahu bagaimana caranya. Apakah secara tradisional atau tidak tradisional. Nanti saja dipikirkan kalau sudah waktunya.

Juga, seharusnya bisa menjawab pesan-pesan dari kakak-kakak editor dari berbagai platform maupun penerbit yang bertanya apakah aku bersedia menerbitkan Sepasang Sepatu Untuk Ava bersama mereka. Jawabannya belum bisa. Karena aku sudah bersedia menayangkan cerita ini dengan gratis di Wattpad. Sebelum aku menang The Wattys, sudah banyak penawaran-penawaran penerbitan yang kuterima. Setelah The Wattys, semakin banyak lagi. Terima kasih sudah menghubungiku dan menilai aku layak berkarya bersama anda.

Sepasang Sepatu Untuk Ava membuatku semakin percaya untuk berkarya sesuai dengan keyakinanku sendiri. Tidak perlu mengikut apa yang sedang trend atau viral atau laris. Kalau aku percaya karyaku membawa manfaat untukku dan mereka yang membacanya, membawa kebaikan padaku dan pada mereka yang membacanya, tidak menjerumuskan pembaca ke dalam pemikiran atau perbuatan yang destruktif, aku akan menulisnya. Aku akan memublikasikan. Karya yang ditulis dengan hati, akan menyentuh hati orang lain juga. Karya yang baik pasti akan menemukan jalan untuk bertemu dengan pembacanya, bagaimana pun caranya.

Ada salah seorang yang kukagumi mengatakan, berkaryalah dengan sungguh-sungguh. Karya yang berkualitas, yang meninggalkan nilai-nilai kebaikan di dalam diriku dan pembaca—tanpa mereka sadari bahkan—yang mengubah diriku dan orang lain menjadi pribadi lebih baik adalah yang paling dibutuhkan di dunia ini. Viral atau terkenal adalah bonus dan jangan dijadikan tujuan. Sebab kalau seperti itu, aku pasti akan berhenti berkarya.

Kamu bisa membaca Sepasang Sepatu Untuk Ava, gratis di Wattpad.

My Books, Uncategorized

Daftar Pendek The Wattys 2021: Sepasang Sepatu Untuk Ava

Tahun ini adalah salah satu tahun terberat dalam hidupku. Dalam karierku sebagai penulis. Gelombang kedua Covid-19 membuatku kehilangan beberapa orang terdekat. Kerabat, teman, dan tetangga. Hampir setiap hari berita duka terus berdatangan. Sampai hatiku yang sudah patah berkali-kali ini berteriak ingin semua penderitaan ini berhenti. Level kecemasanku naik sepuluh kali lipat. Yang ingin kulakukan sepanjang hari adalah bergelung di tempat tidur, di bawah selimut tebal dan berharap semua itu hanya mimpi buruk.

Pilihanku untuk menyibukkan pikiranku adalah memperbaiki naskah cerita yang kutulis sekitar tahun 2014 atau 2015. Tidak ada judul untuk cerita itu. Nama salah satu tokoh utamanya pun harus kuganti, karena aku sudah memakai nama itu untuk nama tokoh utama di bukuku, A Wedding Come True.  Naskah tersebut hanya sepanjang 145 halaman dan jalan ceritanya tidak kompleks sama sekali. Sambil merombak naskah tersebut, aku mencari judul dan akhirnya aku memilih Sepasang Sepatu Untuk Ava. Nggak ada aroma-aroma Cinderella–kenapa sepatu selalu identik dengannya hahaha–tapi memang sepasang sepatu di sini memegang peran penting untuk kemajuan hubungan Ava dan Manal.Tapi aku tahu, menuruti apa yang diinginkan kecemasanku, adalah keputusan yang nggak sehat. Nggak akan kesehatan mentalku menjadi lebih baik. Jadi setiap pagi aku tetap turun dari tempat tidur, mandi, dan bekerja seperti biasa. Saat itu semua pegawai belum kembali ke kantor. Sebisa mungkin aku memilih tempat bekerja yang jauh dari ranjang atau sofa. Aku menjadwalkan setiap kegiatan dengan teliti dan mendetail, sehingga aku tahu di bagian mana ada waktu luang. Waktu luang ini harus kuisi, atau pikiranku akan bergerak liar ke mana-mana.

Sambil menulis ulang, aku mengunggahnya di Wattpad. Tujuanku adalah ‘mentraktir’ teman-teman setiaku di sana, yang menemani perjalanan menulisku selama 6 tahun. Karena aku hampir nggak pernah mengunggah cerita tamat di sana. Sebagian orang berpendapat cerita yang kutulis selalu serius, atau bahkan dibilang berat. Berkaca dari sana, aku nggak begitu mempermasalahkan berapa pun jumlah view yang kudapat. Mereka yang bisa menyukai ceritaku akan benar-benar membacanya dan mendapatkan manfaat. Yang nggak kalah penting juga, aku dan mereka jadi punya kesempatan mengobrol di kolom komentar. Menambah teman, bertukar pikiran.

Saat banner dan button The Wattys 2021 muncul di halaman karya, aku menekannya. Karena, kenapa tidak. Aku belum memikirkan langkah selanjutnya untuk Sepasang Sepatu Untuk Ava; apakah akan mengirimkan ke penerbit, menerbitkannya sendiri, atau lainnya. Selama aku membuat keputusan, aku mengikutkan Sepasang Sepatu Untuk Ava dalam kompetisi tahunan The Wattys yang diadakan Wattpad. Jujur saja, awalnya aku nggak berpikir Ava akan bisa masuk daftar pendek. Karena aku yakin, banyak cerita dengan viewers lebih banyak dariku(saat kuikutkan kompetisi hanya sekitar 150.000 saja)yang juga ikut serta. Kalau membicarakan paltform menulis online kan nggak bisa dipungkiri ukuran kesuksesan adalah banyaknya view.

Kompetisi ini juga menjadi kesempatan baik untuk mengasah kemampuanku membuat logline dan sinopsis. Dari dulu aku lemah di dua bagian tersebut. Eliminasi pertama pasti dimulai dari sana. Jadi keberhasilanku masuk ke daftar pendek sudah menjadi penyemangat bagiku, bahwa aku bisa membuat logline dan sinopsis dengan baik. Suatu hari nanti kalau aku ingin mengajukan cerita tersebut ke penerbit, aku sudah nggak perlu pusing lagi memikirkan sinopsis.

Kalau kamu adalah seorang penulis, yang sedang berjuang memperkenalkan karyamu di suatu platform, aku ingin meyakinkanmu untuk nggak mempermasalahkan jumlah views. Menulislah sebaik-baiknya. Naskah yang berkualitas, walaupun tidak mainstream, akan tetap mendapatkan jalan untuk bersinar.

Sekarang Sepasang Sepatu Untuk Ava masih harus berada di Wattpad. Belum bisa diapa-apakan. Bersama finalis lain menunggu pengumuman pemenang nanti tanggal 4 Desember 2021. Kamu bisa membacanya gratis di Wattpad ikavihara.

My Books

The Perfect Match: Deleted Scene

Selama menulis The Perfect Match, ada bagian-bagian yang tak kusertakan dalam naskah final. Ada berbagai pertimbangan, salah satunya adalah melemahkan abandonment issue yang dimiliki Nalia. Seperti bagian di bawah ini. Kalau kamu sudah baca bukunya, apa kamu bisa menebak kira-kira di bagian mana seharusnya potongan ini berada?

***

“Astra masih berusaha mengubah keputusanmu?” Setelah meletakkan teh herbal dan pisang goreng cokelat di meja, Gloria menarik kursi di seberang Nalia dan duduk.

Siang ini, setelah pulang dari kampus, Nalia memutuskan datang ke rumah kakaknya. Kakak iparnya sedang cuti karena akan melahirkan dua minggu lagi.

“Aku nggak tahu lagi harus ngomong apa.” Nalia mengangkat cangkir putih yang baru saja dihidangkan dan menghirup aroma lavender yang menenangkan. Seminggu yang lalu Nalia membatalkan rencana pernikahan. Semua biaya pernikahan yang telah dikeluarkan sudah diganti oleh Nalia. Semua. “Kenapa dia nggak bisa terima aku nggak juga bisa mencintainya sampai sekarang? Besok pun aku nggak akan bisa mencintainya.

“Seharusnya dia berterima kasih padaku karena aku menyelamatkannya dari pernikahan tanpa cinta. Tapi dia tetap bilang nggak masalah aku nggak mencintainya, dia akan memberiku waktu untuk mencoba lagi. Belajar mencintainya. Cinta kok dipelajari.”

“Menurutku dia benar, Nalia,” kata Gloria hati-hati. “Cinta adalah keterampilan. Seperti menjahit, memasak, berenang, dan lain-lain, ada banyak keterampilan yang nggak kita miliki sejak lahir. Kita harus belajar dan berlatih keras kalau ingin memilikinya.”

“Cara berlatihnya gimana? Aku sudah pacaran tiga kali. Semua kujalani dengan serius dan aku berusaha mencintai mereka. Tapi aku tetap nggak bisa. Perasaanku kepada mereka cuma sebatas tertarik … dan aku senang aja nggak jomlo. Lebih dari itu … membayangkan seumur hidup terikat dengan mereka, aku nggak bisa.”

Ketika Nalia menceritakan kepada Gloria mengenai rencana pernikahannya dengan Astra, Gloria tidak begitu antusias mendengarnya. Menurut Gloria, ada sesuatu yang kurang di antara Nalia dan Astra. Sesuatu yang, masih menurut Gloria, tidak akan membuat pernikahan mereka menyenangkan. Berjalan dengan baik, bisa saja, kalau kedua belak pihak sama-sama bekerja. Tetapi menyenangkan? Belum tentu. Saran Gloria pada waktu itu, Astra dan Nalia sebaiknya menunda dulu rencana tersebut. Tetapi Nalia tidak mau mendengar.

“Mungkin memang aku belum siap. Nggak akan siap. Karena aku….” Nalia urung melanjutkan karena ponsel di dalam tasnya bunyi panjang. Setelah mengecek nama penelepon, Nalia menatap kakak iparnya, meminta izin menerima panggilan. Ada perjanjian di antara Nalia dan teman-temannya—Alesha, Edna, dan Renae—bahwa mereka hanya akan menelepon tanpa mengirim pesan tersebih dahulu—bertanya sibuk atau tidak—jika ada keperluan yang benar-benar mendesak.

“Hei, Lesha,” sapa Nalia setelah Gloria mengangguk dan tersenyum.

“Nalia, Edna … di rumah sakit. Ada kebakaran di E&E….”

Nalia mendorong mundur kursinya ke belakang. “Di rumah sakit mana?”

Belum selesai Alesha menyebutkan nama rumah sakit, Nalia sudah mengakhiri sambungan untuk memesan taksi. “Glo, aku harus ke rumah sakit. Edna di sana, ada kebaran di bakery-nya. Maaf, kayaknya hari ini aku nggak bisa nemenin Jenna belajar.”

Nalia hanya mengajar pada hari Senin, Selasa dan Rabu. Sehingga hari Kamis dan Jumat bisa dimanfaatkan untuk datang ke kampus—menyelesaikan revisi tesisnya dan bersiap untuk menempuh pendidikan doktor. Jenna, anak pertama Jari dan Gloria, terlahir dengan autisme. Semenjak Jenna lahir empat tahun yang lalu, Nalia semakin yakin pada jalan yang dipilihnya. Neurodiversity. Harapan Nalia, dalam waktu dekat, ketika bertemu Jenna orang tidak akan melihat kondisi Jenna sebagai perbedaan, melainkan keragaman.

Gloria memeluk adik iparnya dan tersenyum menenangkan. “Nggak apa-apa, Sayang. Hati-hati di jalan ya. Semoga nggak terjadi sesuatu yang serius pada temanmu ya.”

Nalia menggumamkan terima kasih dan mencium pipi Gloria, lalu bergegas keluar rumah ketika ada notifikasi bahwa mobil yang dipesan Nalia sudah tiba. Dalam hati Nalia berdoa semoga Edna baik-baik saja. Tadi malam Edna mengabari bahwa dirinya sedang hamil anak pertamanya. Suami Edna, Alwin Hakkinen, sedang melakukan perjalanan terkait pekerjaan di Eropa. Kepada Nalia Edna menjelaskan sebenarnya Edna ingin ikut, tapi dirinya terlanjur menerima pesanan beberapa kue pengantin untuk hari Sabtu dan Minggu ini.

Nalia melambaikan tangan kepada Gloria, kemudian masuk ke taksi. Semoga tidak terjadi apa-apa pada kandungan Edna. Sebagai teman terdekat Edna, Nalia tahu Edna tidak akan bisa berdiri tegak jika harus kehilangan janin di kandungannya. Suda terlalu banyak kehilangan yang harus dihadapi Edna sepanjang usianya. Selamanya Edna adalah teman yang istimewa bagi Nalia. Sebelum kenal dengan Edna—saat hari pertama masuk SMA—Nalia adalah orang yang sulit berteman. Diajak berteman, Nalia tidak antusias. Mengajak berteman lebih dulu? Nalia tidak mau melakukannya.

Hingga suatu ketika, Edna—yang duduk satu meja dengan Nalia di kelas—tidak masuk sekolah. Guru menyampaikan bahwa kedua orangtua Edna meninggal karena mengalami kecelakaan di tanah suci. Pada waktu itu ingatan Nalia bergerak menuju hari-hari setelah kematian ibunya. Di mana Nalia sangat berharap dia tidak sendirian dan punya teman berbagi. Setelah menimbang-nimbang, malamnya Nalia menelepon Edna. Persahabatan mereka terbentuk pada hari itu. Ednalah yang memaksa Nalia keluar dari cangkang dan membuka diri kepada dunia. Kepada semua temannya di sekolah, Edna mengenalkan Nalia. Bahkan sampai mereka dewasa seperti ini, Edna tidak pernah berhenti memastikan Nalia juga punya teman. Memastikan Nalia tahu bagaimana mencari teman. Yang terbaik di antara semua teman adalah Alesha dan Renae.

Dua puluh menit kemudian, Nalia masuk ke rumah sakit dan berjalan menuju ruang rawat Edna. Petunjuk yang dikirimkan Alesha melalui WhatsApp sangat jelas. Ketika Nalia tiba, dia mendapati Alesha bercakap-cakap dengan seorang laki-laki. Kalau melihat pakaian yang dikenakan, laki-laki itu seorang dokter. Nalia tidak ingat dia pernah pergi ke rumah sakit dan mendapati dokter seperti itu. Dari postur tubuhnya, profesi yang tepat untuknya adalah pemain sepak bola. Atau perenang. Ukuran tubuhnya saja membuat orang terintimidasi. Nalia bertaruh laki-laki tersebut tidak pernah takut menghadapi siapa pun.

Badannya tinggi sekali. Dan tegap. Karena Nalia payah jika disuruh membuat perkiraan, Nalia tidak bisa menebak berapa centimeter. Alesha yang tinggi saja puncak kepalanya hanya menyentuh pundak laki-laki itu. Kedua kakinya nampak kukuh seperti pangkal pohon yang bisa bertahan ratusan tahun. Dada bidangnya menyempit di bagian pinggang dan pinggul. Tidak seperti Astra, yang mulai memelihara belut di perut, milik laki-laki itu, dari kejauhan saja, bisa dipastikan padat dan keras.

“Nalia.” Alesha mendengar langkah kaki Nalia dan dengan gerakan tangan, meminta Nalia mendekat. “Sorry, aku bikin kamu panik. Edna nggak papa. Dia shocked, lecet-lecet sama menghirup asap. Sudah ditangani dokter dan dia sedang tidur. Ini kenalin, sepupuku, Edvind. Dia dokter di sini. Ed, ini Nalia.”

Seandainya bentuk badan Edvind tidak cukup membuat Nalia—dan wanita mana pun terpukau—mereka harus melihat wajah Edvind. Semua orang yang akan membuat iklan dan memerlukan laki-laki tampan dan seksi sebagai pemeran, pasti akan langsung menyetujui kalau Edvind melamar. Tulang-tulang rahangnya membentuk konstruksi wajah yang … Nalia tidak tahu harus menyebutnya apa. Aristochratic? Bibirnya sensual. Hidungnya mengingatkan Nalia pada paruh elang. Warna bola matanya hitam, sehitam alisnya yang tidak kalah sempurna. Rambut hitamnya pendek dan rapi.

Laki-laki itu mengulurkan tangan, menyeringai seksi dan menyalami Nalia. Sentuhan kecil—yang biasa dilakukan Nalia dengan banyak orang—membuat Nalia tersentak. Ada sesuatu yang bangkit di dalam diri Nalia dan Nalia tidak bisa menjelaskan itu apa. Demi Tuhan, Nalia, ini bukan pertama kali kamu salaman dengan laki-laki, kenapa harus berdebar-debar begitu?

“Hei, Nalia.”

Nalia mengerjapkan mata. Bahkan suara Edvind pun melengkapi kesempurnaan sosoknya. Dalam. Ramah. Percaya diri. Dan penuh rasa ingin tahu. Mungkin dokter harus punya semua kualifikasi itu.

“Kenapa Alesha dan Edna nggak pernah bilang mereka punya teman secantik kamu?”

Oh, and a big flirt. Laki-laki seperti ini yang dibutuhkan Nalia. Yang tidak mencari hubungan serius dan yang tidak beranggapan bahwa semua hubungan harus berakhir dengan pernikahan seperti Astra.

“Karena aku dan Edna tahu kalau kamu nggak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk mendekatinya?” Alesha menatap garang sepupunya. “Behave, Ed. Jangan macam-macam. She’s off limit. Laki-laki sepertimu, yang nggak bisa berkencan dengan wanita yang sama lebih dari tiga kali, nggak berhak bersamanya. Aku dan Edna nggak akan diam, kalau kamu mempermainkan teman kami.”

Nalia mengedipkan sebelah mata dan melemparkan senyum terbaiknya kepada Edvind. Memberi kode bahwa Edvind boleh melanjutkan apa saja rencana yang dimiliki untuk mendekati Nalia. Untuk mempermainkan Nalia. Atau mereka bisa saling mempermainkan. Bermain bersama. Setelah pusing membatalkan rencana pernikahan, Nalia sedang tidak ingin mencari calon suami. Yang dia perlukan adalah laki-laki yang bisa menemaninya saat dia ingin berkencan di malam minggu seperti pasangan-pasangan lain.

“Oh, she’s worth the risk. She’s worth everything.” Walau berbicara kepada Alesha, tapi tatapan mata Edvind tertuju pada Nalia. Hati Nalia, tanpa bisa dikendalikan, melambung tinggi dan perut Nalia menghangat. “Lagi pula, Alesha, apa kamu dan Edna nggak pernah berpikir bahwa aku nggak pernah serius berhubungan sama wanita, itu karena aku belum bertemu dengan wanita yang tepat?”

***

Selengkapnya baca cerita Nalia dalam novel The Perfect Match, karya Ika Vihara, dari penerbit Elex Media. Tersedia di seluruh toko buku di Indonesia. E-book bisa dibaca melalui aplikasi Gramedia Digital, baik single edition, fiction package maupun Full Premium Package. E-book juga tersedia di Google Playstore.

My Books

From Zero To Happily Ever After

Perjalanan Novel The Perfect Match dari Ide di Kepalaku Menjadi Buku di Tanganmu

Saat live di Instagram tanggal 19 Juni yang lalu, ada yang menanyakan seperti apa sih perjalanan The Perfect Match, sejak di kandungan ibunya–aku–hingga lahir dan disukai oleh banyak pembaca. Perjalanannya panjang. Total waktu yang diperlukan dari menggodok ide hingga bukunya terbit adalah 9 bulan. Benar-benar seperti mengandung bayi manusia.

Yang paling memakan waktu adalah proses meriset kebutuhan cerita. Ada banyak hal baru yang harus kupelajari dan kupahami, sehingga aku bisa menenunnya ke dalam jalan cerita. The Perfect Match ber-genre romance, yang manis dan romantis, dengan beberapa tema yaitu cinta(tema utama), inklusivitas, dan kesehatan mental(dalam buku ini abandonment issue). Masih seperti semua novel-novel karyaku terdahulu, The Perfect Match juga tetap logis dan realistis. Kamu akan merasakan pengalaman berbeda dalam membaca novel romance, saat kamu membaca The Perfect Match.

Aku menjelaskan proses kreatif yang kulalui dalam rangkaian cuitan yang bisa kamu baca dengan mengklik kotak di bawah. Kamu tidak perlu punya akun Twitter untuk bisa membacanya, berurutan dari atas ke bawah.

Semoga bermanfaat. Mungkin kamu bisa mangadaptasi proses-proses tersebut untuk berkarya. Atau sekadar menjadi pengetahuan di balik buku favoritmu. Terima kasih sudah menyukai karya-karya Ika Vihara, terutama Edvind dan Nalia dalam The Perfect Match.

My Books

Afnan Møller: An Interview

Afnan Møller adalah salah satu tokoh yang berarti dalam hidupku. Berkat dirinya buku pertamaku berhasil terbit dan kemudian menyusul buku-bukuku yang lain. Dalam banyak pesan yang kuterima melalui Instagram, Facebook, Twitter, e-mail, maupun WhatsApp, aku tahu bahwa teman-teman juga menyukai Afnan. Karena itu, ketika ada kesempatan, aku ‘mewawancarai’ Afnan dan mencari tahu bagaimana hidupnya dulu dan sekarang. Jalan yang kulalui berliku, aku harus menghubunginya melalui Instagram Hessa dan … di bawah ini kupersembahkan hasil ‘wawancara’ dengan Afnan beberapa hari yang lalu.

 

 

Good afternoon, Dr. Møller. Thanks for letting me interviewing you for all of your fans out there.

Afnan, please. Fans? Aku bukan artis atau apa. Hanya orang biasa.

Orang biasa? Mungkin menurut Hessa tidak.

Hessa. She is something, isn’t she? Sampai hari ini aku tidak pernah menyangka ada seorang gadis yang rela mengorbankan segalanya demi laki-laki sepertiku. Kalau mengingat betapa lamanya dia mengambil keputusan untuk menikah denganku, tentu permintaanku waktu itu sangat tidak mudah.

Aku lihat foto-foto Hessa di Instagram, sepertinya kalian baru pulang liburan dari tempat hangat.

Iya, musim panas ini Hagen memilih untuk ikut camp, science camp, because he is his father’s son, selama satu bulan dan kami baru ada waktu untuk liburan pada bulan Agustus. Hanya sebentar, tapi cukup bagi kami semua untuk mendapatkan cukup sinar matahari. Hessa masih aktif di sana? Aku sudah memperingatkannya untuk berhati-hati membagi kehidupannya kepada orang lain.

Hanya foto tempat-tempat yang dia datangi dan foto anak-anak. Bagaimana kabar Hessa sekarang?

Masih terus beradaptasi dengan Aarhus. Proses yang tidak akan pernah selesai. Tidak mudah pindah dari Indonesia, yang sudah dia tinggali sejak lahir sampai 27 tahun kemudian, ke sini. Hessa adalah wanita yang paling kuat di dunia, keteguhan hatinya sangat luar biasa. Dia tidak ingin menyerah memperjuangkan pernikahan kami. Seasonal Affective Disorder tidak membuatnya menangis minta pulang ke Indonesia. Kesepian dan kesenderian dia telan sendiri, hanya karena dia tidak ingin membebaniku.

Jadi, kamu pernah merasa terbebani?

Tidak sama sekali. Saat menikah dengannya, aku belum bisa mengatakan aku mencintainya. Karena, memang kamu memutuskan menikah dengan banyak pertimbangan, kecuali cinta. Hessa bukan beban, tetapi tanggung-jawab. Sejak melamarnya, aku sudah mengatakan bahwa aku akan memperlakukannya sebagaimana seorang suami memperlakukan seorang istri. Mau cinta atau tidak cinta, aku akan menyayanginya dan membahagiakannya. Meskipun, Hessa tidak merasakannya pada tahun pertama pernikahan kami. Mungkin karena aku tidak terlalu bisa menunjukkan. Orang tidak tahu betapa menderitanya Hessa pada masa itu.

Menderita seperti apa? 

Salah satu syarat yang kuajukan sebelum menikah adalah istriku harus mau pindah ke Aarhus dan tinggal di sini bersamaku. Dengan paksa aku mencabut akar kehidupan Hessa dan memindahkan ke tanah yang sama denganku. Di tanah ini, aku punya lebih banyak kehidupan daripada Hessa. Aku punya teman, aku punya pekerjaan, aku punya restoran favorit, aku punya segalanya. Tetapi milik Hessa semua harus ditinggalkan di Indonesia. Dia tidak punya siapa-siapa, tidak tahu harus melakukan apa, dia di rumah sendirian selama aku berada di kantor dari pagi hingga sore, bahkan dia tidak bisa berbahasa Denmark. Juga, aku salah memilih waktu untuk pindah ke Denmark. Menjelang musim semi. Cuaca dingin sekali dan hari semakin pendek. Tubuh Hessa menolak untuk menyesuaikan diri. Semua faktor tersebut berkumpul dalam tubuh Hessa dan dia jatuh sakit. Diagnosis dokter menunjukkan bahwa Hessa menderita Seasonal Affective Disorder dan tidak diperbolehkan hamil. Padahal menurut Hessa kehadiran seorang anak akan mengurangi rasa sepinya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengurangi penderitaan Hessa?

Menemaninya. Aku mengambil cuti dan menemaninya untuk mencari aktvitas-aktivitas luar ruangan. Seperti ke perpustakaan. Mengenalkannya dengan orang-orang yang berbagi kegemaran yang sama. Juga mencarikan guru untuk mengajarinya bahasa Denmark. Banyak orang yang mengatakan Hessa terlalu manja. Hanya mengandalkan diriku untuk menjalani hidup di Aarhus. Seharusnya dia travelling, mumpung berada di luar negeri. Percayalah, ketika anda semua dihadapkan pada posisi Hessa, travelling adalah sesuatu yang tidak akan ada pikirkan. Kecuali anda datang ke sini untuk jalan-jalan dengan berlindung di balik kata beasiswa. Prioritas Hessa bukan travelling. Melainkan mengenalku, memperkuat fondasi pernikahan kami, dan membangun rumah tangga di sini. Semua itu tidak akan tercapai jika Hessa sibuk travelling.

Berlindung di balik kata beasiswa?

Aku mengajar di universitas dan aku tahu cukup banyak mahasiswa mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri karena ingin jalan-jalan gratis. Orang-orang seperti itu tidak akan bertahan lama di dalam laboratorium yang kupimpin.

Oh, hahaha. Ada yang menanyakan, sebagai orang Denmark, kenapa namamu tidak ada Denmark-Denmark-nya? Tidak seperti kembaranmu, Mikkel.

Setiap orangtua tidak sembarangan memberi nama anaknya. Karena nama adalah doa. Kakekku orang Denmark dan menikah dengan wanita Maroko. Nenekku yang mengusulkan nama Afnan dan karena namanya baik, maka orangtuaku setuju. Sedangkan nama Mikkel dipilih untuk menghormati sahabat karib ayahku yang sudah meninggal.

Mumpung membicarakan masalah nama, apa arti nama Sofia bagimu?

Segalanya. Sofia adalah titik balik kehidupan kami. Baik sebagai pasangan maupun sebagai pribadi. Kami banyak beradu pendapat mengenai masalah kapan akan punya anak. Awalnya aku merasa bahwa fokus pada kesehatan Hessa jauh lebih penting daripada punya anak. Tetapi Hessa, wanita yang teguh hati itu, bersikeras memilikinya. Pada akhirnya kami belajar untuk mencari jalan tengah dan sama-sama bertanggung-jawab atas keputusan yang kami ambil bersama. Aku tidak pernah menyalahkan Hessa atas apa yang terjadi pada Sofia. Meski Hessa seringkali merasa bersalah dan mengganggap dirinya gagal sebagai seorang istri karena kejadian itu.

Di mataku kehidupan kalian sempurna.

Hessa yang sempurna. Aku jauh dari sempurna. Kalau ditanya siapa yang paling banyak berkontribusi untuk pernikahan kami, Hessa adalah orangnya. Semua penghargaan harus diberikan kepadanya.

Kamu sangat mengagumi dan memuja Hessa ya.

Tentu saja. Itu tugas seorang laki-laki sejati. Menyayangi dan memuja istrinya.

Untuk orang-orang yang belum menikah di luar sana, apa kamu menyarankan untuk mencari pasangan melalui perjodohan?

Tidak. Jalan untuk bertemu dengan belahan jiwa bermacam-macam. Kebetulan saja aku dan Hessa sama-sama setuju saat kedua orangtua kami mengusulkan untuk saling bertemu. Adikku, Lilja, menikah dengan Linus yang sudah dikenalnya sejak kanak-kanak. Kembaranku, Mikkel, punya banyak sekali teman wanita dengan berbagai macam latar belakang, siapa yang menyangka dia malah jatuh cinta pada Liliana, teman SMP Lilja. Tidak perlu mengambil pusing mengenai masalah tersebut. Jika sudah waktunya akan bertemu, bagaimana pun caranya. Tuhan punya skenario sendiri.

Tetapi kita bisa mengatakan bahwa kamu dan Hessa berhasil dan bahagia hingga sekarang.

Pemandangan yang indah didapatkan ketika kita berhasil mendaki hingga ke puncak gunung. Yang ingin kukatakan adalah, tidak semua kebahagiaan yang tidak didapat dengan mudah. Seringkali kita harus menghadapi jalan yang terjal, panjang, dan melelahkan terlebih dahulu. Menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, baik sebagai individu maupun pasangan, bersama dengan Hessa membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Tidak ada rencana untuk pulang dan mengabdi di Indonesia?

Bukan masalah penting tinggal di mana. Yang penting di mana pun aku berada, aku akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Berarti tidak?

Mungkin. Akar kehidupan Hessa sudah mulai tertancap di sini. Dia telah menyelesaikan master dan sedang menimbang-nimbang untuk meraih Ph.D, dia sempat bekerja sebagai guru, dan sekarang bersama teman-teman wanitanya di sini, dia mendirikan sebuah badan untuk membantu anak-anak di daerah konflik. Hagen nyaman dengan sistem kehidupan di sini. Pagi belajar di TK, siang hingga sore di daycare. Kehidupan kami sudah mulai stabil dan akan sulit membangun ulang di Indonesia.

Apa yang ingin kamu ucapkan pada Hessa?

Terima kasih sudah membuatku menjadi laki-laki paling beruntung sedunia. Anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat karena mewarisi nilai-nilai kehidupan darimu.

Terakhir, apa yang ingin kamu sampaikan kepada fansmu?

Aku masih tidak percaya mereka ada. Tetapi jika benar-benar ada, pasti kalian sudah mendengar kabar mengenai Hessa dan masa sulit yang harus dia hadapi setelah melahirkan Thea. Mungkin kalian sudah tahu bagaimana ceritanya. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian selalu mendoakan dan mencintai Hessa. Sehingga dia bisa semakin kuat dan akan bisa menghadapinya.

Oppsie, itu suara Hagen? Sepertinya dia memerlukan ayahnya. Terima kasih sudah berbagi denganku hari ini. Aku yakin ini akan mengobati kerinduan kita semua kepada keluarga kalian. Tolong sampaikan pada Hessa, kalau dia bersedia, aku ingin mengobrol dengannya juga.

####

Penting:

  1. Cerita Afnan dan Hessa bisa diikuti dalam novel My Bittersweet Marriage dan Midnatt.
  2. Wawancara di atas adalah hasil imajinasiku belaka.
My Books

MIDSÖMMAR: SNEAK PEAK

 

 

 

 

 

 

Cinta. Kalau bukan karena cinta, dia tidak akan berdiri di sini. Jika bukan demi laki-laki yang dicintai, dia tidak akan menempuh perjalanan sejauh ini. Perjalanan pertamanya ke luar negeri. Memakan jarak separuh belahan bumi dari rumahnya, yang berada di bawah garis khatulistiwa. Tempatnya berdiri saat ini, terletak hampir dekat dengan kutub utara. Untuk bisa sampai di koordinat ini saja dia harus duduk dan melayang hampir sehari penuh di udara. Atau kurang. Tidak tahu. Lilian kehilangan hitungan.

Memang yang harus dilakukan bukan berhitung. Tapi menyelesaikan segala urusan sebelum bergerak untuk mencari jam bulat besar di terminal tiga. Tubuhnya sudah sangat penat. Kepalanya pening dan perutnya mual. Tuhan, kenapa hanya untuk bertemu orang yang dicintai perjuangannya harus seberat ini. Sudah melelahkan, biayanya juga tidak murah. Sebagai orang yang terbiasa hidup sederhana—kalau tidak mau disebut pas-pasan—membuang uang lebih dari lima puluh juta untuk selembar tiket terasa seperti menanggung dosa besar yang tidak terampuni. Uang sebanyak itu hampir mendekati gaji plus bonus setelah satu tahun memeras keringat.

Lilian memejamkan mata, berusaha menyuruh tubuhnya untuk bertahan sebentar lagi. Suara-suara percakapan dalam berbagai bahasa tertangkap telinganya sejak tadi. Begitu turun dari satu jam penerbangan dari bandara Munich-Franz Josef Strauss, kepalanya berdenyut dan kakinya gemetar. Sambil menahan dingin, Lilian mengeratkan syal merah yang melingkari lehernya. Betul kata Mikkel, lupakan pakaian musim panas dan bawa baju-baju tebal. Padahal saat mengecek di internet kemarin, Lilian merasa tidak salah baca kalau sekarang musim panas. Kalau musim panas saja sudah begini menyakitkan, bagaimana dengan musim dinginnya?

Pada saat seperti ini, bagaimana rasa cinta terhadap tanah airnya tidak bertambah? Negara tropis yang hangat lebih cocok untuknya. Scandinavia is too cold for her.

Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga, Lilian melangkah di bandara Kastrup. Laki-laki yang melintas di sebelahnya, dengan ponsel menempel di telinga, berbicara keras sekali, seperti sedang meneriaki seisi bandara, dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami Lilian. Membuat Lilian ingin menyumpal kedua lubang telinganya.

Mata Lilian sibuk memperhatikan papan-papan petunjuk arah—dalam tiga bahasa: Denmark, Inggris, dan Mandarin—di seluruh penjuru bandara, sebelum melangkah lagi untuk bergabung dengan satu gelombang besar orang yang bergerak menuju tempat pengambilan bagasi. Untungnya, dia tidak perlu mengeluh—selama hampir 24 jam ini, sudah berapa kali dia mengeluh?—karena pengambilan bagasi tidak memakan waktu lama, delapan conveyor belt mengirim bawaan semua orang dengan cepat.

Lilian sudah hampir menyerah berjalan saat akhirnya jam bulat raksasa berwarna putih—tempat di mana Mikkel menunggunya—terlihat. Gampang sekali ditemukan. Mencolok. Atau malah menggelikan, menurut Lilian. Jam analog besar tersebut menggantung di atas layar hitam raksasa—yang menampilkan semua jadwal penerbangan dari dan ke bandara ini—di main hall terminal tiga.

Jam delapan pagi. Waktu Copenhagen.

Lilian mengerjapkan mata. Setelah satu setengah tahun tidak bertemu, sosok yang sangat dan paling dia rindukan sekarang benarbenar nyata ada di depan mata. Bukan dalam format .jpeg. Juga bukan dalam bentuk pixel. Tidak melalui perantara layar laptop atau ponsel. Tapi Mikkel versi manusia betul-betul berdiri lurus di depannya. Lilian mengembuskan napas lega. Sejujurnya dia sempat merasa sedikit khawatir saat pesawat mulai meninggalkan Jakarta. Takut kalau Mikkel tidak menjemputnya di Copenhagen. Apa yang harus dia lakukan saat tiba di sini dan tidak bisa menemukan Mikkel?

Tapi Mikkel tidak mungkin melakukan hal itu kepadanya, Lilian percaya. Mikkel terlalu mencintainya untuk membiarkannya sengsara. Mikkel. Laki-laki yang selalu dicintainya. Tinggi, kukuh dan tampan—seperti yang diingat Lilian—dengan dark whased jeans dan black classic coat yang dibiarkan terbuka. Meski terdengar konyol, Lilian tetap mengakui bahwa hatinya menghangat melihat Mikkel menunggunya. Suhu udara delapan derajat Celsius saat ini—terima kasih Accuweather—bahkan tidak akan bisa membuatnya menggigil ketika melihat Mikkel tersenyum kepadanya.

“Mikkel!” Lilian berteriak sekuat-kuatnya.

Masa bodoh orang mengira mereka sedang syuting film atau apa. Realita ini ratusan kali lebih indah daripada belasan judul film yang pernah dia tonton dan puluhan judul novel yang sudah dia baca.

“Hi, Sweets.” Dua kata yang diucapkan Mikkel terdengar menyenangkan di telinga Lilian. Tidak menyakitkan seperti yang didengar Lilian di setiap sesi video call mereka. Di mana mereka hanya bisa bicara, tanpa berbuat apa-apa.

Dengan sekali loncat, Lilian mendarat di pelukan yang selama ini hanya bisa dia bayangkan. Tubuh Lilian sedikit terangkat saat Mikkel mendekapnya dengan sangat erat. Lilian menghirup wangi yang dia rindukan, mengisi penuh paru-parunya. Pipi kanannya menempel di dada Mikkel yang berbalut sweater berwarna biru gelap. Setelah kedinginan belasan jam di pesawat, sekarang terasa hangat sekali. Seluruh bagian tubuhnya hidup kembali. Bahkan sampai hatinya yang terdalam. Ini yang paling dia inginkan. Berada di sini. Di pelukan kekasihnya.

“I missed you.” Lilian menatap ke atas, tepat ke mata biru Mikkel.

“I’ve missed you too.” Tahu apa obat rindu terbaik di dunia ini? Bukan bertemu. Tetapi dibalas dirindukan.

Saat ini, lagu-lagu cinta di ponsel Lilian—yang didengarkan sepanjang perjalanan dari Munich ke Copenhagen tadi—terdengar basi sekali. Suara semua penyanyi tidak seindah suara tawa Mikkel yang baru saja didengarnya. Kalimat mereka tidak sarat makna seperti kata rindu sederhana yang baru saja meluncur dari bibir yang kini menciumi kepalanya.

Mikkel menatap dalam-dalam mata Lilian. “I demand a kiss.”

Lilian menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya. “Aku nggak gosok gigi selama di jalan, Mikkel. Aku nggak mau nyium kamu dengan bibir terbuka.” Memang Lilian sempat berkumur dengan mouthwash, tapi tetap saja dia tidak percaya diri untuk membiarkan Mikkel menjelajahi mulutnya.

“Kalau mau cium, di sini.” Lilian menunjuk bibirnya yang terkatup rapat.

“Kamu pikir kita masih remaja? Ciuman model begitu?”  Mikkel menggerutu tidak terima. “Aku sudah pernah menciummu pagi-pagi saat kamu bangun tidur. Dan aku tetap hidup.” Tidak mencium Lilian sama sekali yang akan membuatnya mati.

“Waktu itu, tujuh jam sebelumnya aku gosok gigi.” Yang dimaksud Mikkel adalah ciuman pada saat Mikkel datang ke rumah Lilian selepas subuh untuk memberi kejutan ulang tahun. “Ini aku nggak gosok gigi selama 24 ja….” Sebelum Lilian menyelesaikan kalimat, Mikkel sudah lebih dulu menempelkan bibir di sana.

Lilian sempat melotot sebentar, kaget karena Mikkel tidak memberi aba-aba. Tapi menit selanjutnya, dia sudah memejamkan mata dan ikut melepaskan kerinduan mereka. Tidak ada gunanya melawan, jadi lebih baik menikmati. Lilian bisa merasakan Mikkel tersenyum dalam ciumannya. Ciuman paling panjang dan paling dalam yang dia dapat selama satu tahun ini. Ciuman terbaik, kalau boleh dikategorikan. Mau tidak terbaik bagaimana, ini pertama kalinya mereka bertemu, setelah lebih dari tiga ratus hari.

Peduli setan orang mau bilang apa melihat mereka berciuman di tengah bandara padat begini. Mikkel sudah pernah menciumnya di Soekarno-Hatta. Di sini, di Eropa ini, orang lebih memaklumi—atau malah tidak peduli—dengan hal-hal semacam ini bukan? Otak Lilian berhenti bekerja lagi dan menikmati ciuman panjang ketiganya.

“See? I survived.” Mikkel tersenyum penuh kemenangan.

Ibu jari Mikkel menyapu bibir Lilian dengan lembut. Lalu kembali membungkam bibir Lilian yang sudah siap protes lagi. “I never get enough of you….”

Sulit dipercaya. Setelah belasan bulan bertarung dengan koneksi internet yang busuk, perbedaan waktu, urusan domestik— pekerjaan, keluarga, teman, dan masalah dalam negeri lain—serta masalah-masalah teknis atau non teknis lain, akhirnya mereka bisa bersama lagi. Mengulang ciuman untuk keempat kali. Airport kisses are the best.

Plus, rekor baru dalam sejarah perjalanan mereka. Berciuman di dua negara berbeda. Denmark dan Indonesia.

####

Selengkapnya silakan baca pada novel karya Ika Vihara, Midsommar.

Pembelian dengan bonus Midnatt, silakan menghubungi e-mail novel.vihara@gmail.com