My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 4

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play Love, Midsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

 

“Aku sudah pernah bicara dengannya. Di kafe. Beberapa waktu yang lalu.” Hagen memberi tahu Annamari.

“Itu tidak bisa dihitung sebagai memperkenalkan diri, Hagen.”

“Baiklah. Aku akan menemuinya nanti, kalau dia datang. Apa aku bisa kembali bekerja sekarang?” Memang Hagen adalah pendiri dan pemimpin firma konsultasi yang bergerak di bidang tata kota ini. Tetapi pemilik peraturan adalah Annamari. Tanpa Annamari kantor ini tidak akan berjalan.

Hagen tenggelam dalam pikirannya setelah Annamari meninggalkan ruangannya. Saat mencuri dengar pembicaraan Mara di kafe siang itu, Hagen tidak sempat memperkenalkan diri karena Mara buru-buru pergi. Siapa pun juga akan bergegas pergi kalau disapa oleh orang asing. Apalagi kalau orang asingnya dianggap menguping.

Gadis itu cantik sekali. Wajahnya berbentuk hati. Bibirnya penuh dan hidungnya sempurna. Bagian yang disukai Hagen adalah mata Mara. Mengingatkan Hagen pada mata ibunya. Lembut, namun penuh semangat. Berbeda dengan kebanyakan orang sini, Mara berambut hitam legam. Tubuhnya tidak tinggi. Pernah suatu ketika, Hagen menonton acara televisi, di mana Mara diwawancara selama tiga puluh menit, setelah gadis itu mendapat kehormatan menari di depan keluarga kerajaan. Pada wawancara tersebut Mara mengungkapkan bahwa selama tinggal di Denmark, sangat sering Mara berharap dirinya berkulit putih, berambut pirang, berbadan tinggi, dan bermata biru. Menjadi berbeda, kata Mara, membuat orang lebih tertarik melihat dan memperhatikannya. Setiap gerak dan perkataan Mara tidak akan luput dari penilaian orang. Oleh karena itu, Mara lebih memilih untuk bersembunyi.

Tetapi sekarang, tampaknya Mara sudah tidak bisa lagi bersembunyi lagi. Seluruh penduduk di negara ini, baik yang menyukai balet atau tidak, mengenal Mara. Termasuk Hagen. Awalnya Hagen terpaksa menemani adiknya menonton dan pada hari itu, adiknya menjelaskan mengenai siapa Mara. Sampai satu bulan kemudian, Hagen tidak bisa menghilangkan tarian indah Mara dari ingatannya. Setiap Mara tampil, Hagen membelikan tiket untuk adiknya, supaya dia memiliki kesempatan untuk menonton Mara. Hingga hari ini adiknya tidak curiga, malah semakin baik padanya. Supaya terus mendapatkan tiket.

Kalau Mara ambil bagian dalam buku yang digagas Hagen, seluruh dunia akan tahu namanya. Mungkin jika diadakan tur buku di negara lain, Hagen akan meminta Mara untuk ikut berbicara. Kombinasi yang menarik. Bukan warga negara Denmark, berkarier dan berprestasi di sini. Orang akan menyukainya.

Layar komputer Hagen menampilkan pesan dari Annamari, yang mengatakan bahwa Tim Catalan menolak rapat di ruangan Hagen dan menginginkan rapat diadakan di pelabuhan. Hagen berdiri dan membawa tabletnya keluar. Tidak terlalu banyak orang di kantor hari ini. Mungkin mereka memilih bekerja dari rumah. Bagian belakang gedung ini langsung menghadap laut. Dekat dengan area pelabuhan. Ada meja dan kursi di area marina yang selama ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk duduk bersantai, makan siang, atau mengadakan pertemuan. Cuaca bagus sekali hari ini. Matahari bersinar dengan hangat.

“Laure,” sapa Hagen kepada salah seorang gadis yang ikut duduk mengelilingi meja bundar. “Bukankah kamu ada wawancara hari ini?”

Gadis berambut pirang tersebut menggeleng dan berdiri. “Bukan wawancara. Pemotretan. Tapi nanti sore. Aku cuma bergosip di sini.”

Hagen mengangguk. “Di mana lokasinya?”

“Di dekat sini. Mara Hakinen akan akan dipotret sebelum dia berangkat ke acara pengumpulan dana untuk anak-anak penderita kanker,” jelas Laure. “Aku ingin menjadikan fotonya untuk cover belakang buku kita. Bagaimana menurutmu?”

“Kalau bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk membaca, tidak masalah bagiku.” Foto sampul depan sudah ditentukan. Puteri Mahkota kerajaan bersama dua anak perempuannya. “Aku akan ke sana nanti.”

“Ke mana?” Laure batal melangkah.

“Ke lokasi pemotretan.”

“Untuk apa?”

Untuk memperkenalkan diri kepada Mara. “Untuk menilai bagaimana kamu melakukan pekerjaanmu.”

Laure hanya menanggapinya dengan tawa.

***

Dari tempatnya berdiri, Hagen memperhatikan Mara yang sedang mengayuh santai sepedanya sambil mengikuti arahan fotografer. Sore ini Mara sangat cantik dengan gaun merahnya. Rambutnya diangkat ke atas dengan detail yang indah di bagian kanan. Riasan sederhana di wajahnya semakin menyempurnakan penampilannya. Meski mengenakan gaun panjang dan sepatu hak tinggi, Mara tampak nyaman duduk di atas sepeda.

Hagen melakukan segala cara untuk mengampanyekan kebiasaan bersepeda. Karena Hagen percaya bahwa sepeda adalah solusi bagi banyak masalah yang dihadapi kota-kota besar di dunia. Mulai masalah kemacetan hingga masalah kesehatan. Salah satu upaya Hagen adalah melalui buku. Kali ini, Hagen menginisiasi diterbitkannya buku yang berisi foto dan profil para wanita berbagai usia yang berprestasi dan menginspirasi, yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama dalam kesehariannya. Ada banyak orang yang terlibat. Mulai dari Puteri Mahkota, anggota senat, penyanyi, balerina, hingga seorang profesor. Buku sebelumnya, yang menampilkan tema serupa, namun semua tokoh yang terlibat adalah laki-laki, menjadi buku paling laris di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Seluruh hasil penjualan digunakan untuk membeli sepeda yang dibagikan kepada orang-orang di negara yang tertinggal secara ekonomi, korban bencana alam, maupun orang-orang yang terdampak konflik bersenjata. Hagen memperkirakan buku yang akan terbit ini akan menjangkau pembaca lebih banyak dan membuka pikiran mereka, mengenai salah satu solusi hidup yang mudah: sepeda.

“Aku sudah punya judul yang tepat untuk profil Mara Hakinen.” Laura, project coordinator yang ditunjuk Hagen, bersuara. “Simple simply classy to make even every princess envious.”

Tanpa sadar Hagen mengangguk. Sederhana dan berkelas adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan Mara. Setelah melihat foto Mara, seluruh anak-anak pasti akan melupakan tuan puteri yang canti di buku dongeng milik mereka. Mereka semua pasti ingin menjadi seperti Mara.

***

Kalau tidak menjadi balerina, Mara ingin bekerja di sini. Mara mengamati ruangan lebar di mana dia duduk saat ini. Kantor ini  nyaman sekali. Ada meja-meja lebar di tengah ruangan, dikelilingi kursi aneka warna. Ada lima rak buku putih dua sisi yang digunakan sebagai sekat. Sofa—di mana Mara duduk—dan bean bag merah mendominasi sepanjang dinding sisi kanan. Dinding dan mebel-mebel berwarna terang. Kabarnya, ada freezer khusus es krim di kantor ini dan semua pegawai boleh makan sepuasnya. Seolah ingin membuktikan kebenaran kabar tersebut, dua orang gadis berjalan keluar dari sebuah ruangan, masing-masing membawa popsicle.

“Untukmu.” Satu botol lemonade mendarat di meja rendah di depan Mara.

“Kamu?” Mara hampir menjerit saat melihat siapa yang duduk di sisi kanannya. Laki-laki yang mencuri dengar pembicaraan Mara di Granola saat itu.

“Hagen.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Mara menjabat tangan tersebut sebentar sambil menyebutkan nama.

“Hagen?” Mara mengerutkan kening. “Kamu yang menaruh bunga di sepedaku?”

“Apa kamu menyukainya?”

“Apa kamu gila?”

 

 

Bersambung.

___

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.

 

My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 3

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Midsommar, Midnatt, Bellamia, dan Daisy

Bagian 1 | Bagian 2

Di balik penampilan sempurna seorang balerina, ada ratusan jam latihan yang melelahkan dan cedera ringan maupun berat yang harus dilalui. Dari tempat duduk penonton, seorang balerina tampak cantik dan tariannya terlihat indah. Mempesona. Mereka tidak tahu, sesungguhnya seorang balerina sedang bermandi keringat dan mungkin, bau seperti kuda. Setelah melewati latihan, cedera, menahan ketidaknyamanan karena tubuhnya lengket dan basah, dan sebagainya selama sepuluh tahun, malam ini Mara tetap menari sebagaimana biasanya dia menari. Menari seolah panggung ini adalah panggung terakhirnya dan lain waktu dia tidak akan memiliki kesempatan untuk berdiri di sini.

Besok dia akan menerima pujian dan banyak kritikan atas penampilannya kali ini. Tidak masalah. Yang penting malam ini dia berhasil membawakan peran Nikiya dengan sangat baik. Setelah mandi air hangat dan mengganti baju, yang paling ingin dilakukan Mara adalah pulang ke rumah dan tidur.

“Mara.” Nora, salah satu balerina yang juga ambil bagian dalam pementasan malam ini, masuk ke ruang ganti membawa satu buket bunga superbesar. Bunga mawar, favorit Mara.

“Untukmu.” Sambil tersenyum lebar Nora mendekati Mara.

“Dari siapa?” Mara mengamati bunga-bunga mawar merah muda yang indah sekali di pelukannya. Tidak mungkin Rafka membeli bunga semahal ini untuknya. Adiknya terlalu pelit untuk melakukannya.

“Dari Hagen,” jawab Nora dengan ringan. Seolah-olah Mara mendapatkan dua belas kuntum bunga yang indah seperti ini bukan kejadian langka.

“Hagen? Siapa Hagen?” Kali ini Mara mengalihkan pandangan dari bunganya dan fokus menatap temannya.

“Siapa Hagen?” Nora malah mengolok dan menertawakan pertanyaan Mara. “Bukankah dia kekasihmu?”

“Kekasih?” Mata Mara hampir meloncat keluar. Jadi orang asing tersebut masuk ke sini dengan mengatakan bahwa dia adalah kekasih Mara? Semua orang percaya dan mengizinkannya? “Dari mana kamu tahu namanya? Apa dia bilang dia mengenalku?”

“Dari mana tahu namanya? Astaga, Mara. Kamu pikir aku hidup di bawah batu? Tentu saja aku tahu namanya. Semua orang juga tahu siapa dia. Dia tidak perlu mengatakan bahwa dia kekasihmu. Bunga ini, yang harganya paling tidak seribu krona, sudah membuktikan. Memangnya laki-laki akan membawa bunga semahal itu untuk sembarang orang?”

Kalau ditukar dengan rupiah, uang seribu krona setara dengan Rp 2.200.000,- lebih sedikit. Bunga ini tidak murah untuk diberikan kepada seseorang yang tidak dikenal. Sudahlah, nanti Mara akan mencari tahu siapa Hagen yang memberinya bunga istimewa ini. Sekarang dia harus pulang dan istirahat. Hari ini terlalu panjang untuknya.

Saat berjalan keluar bersama Nora, Mara mendapati Rafka sedang menunggunya di dekat tempat parkir sepeda. Sedang mengobrol akrab dengan seorang gadis berambut gelap. Nora melambaikan tangan saat membawa sepedanya meninggalkan lokasi parkir.

“Congrats.” Rafka langsung memeluknya. “Kalau Mama dan Papa di sini, dia pasti bangga melihatmu menari dengan sangat bagus seperti tadi.”

“Thanks.” Pengakuan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dia cintai, jauh lebih berarti daripada pujian yang pernah dia dapatkan dari para pengamat.

“Kenalkan ini Agnetha. Dia bilang dia selalu nonton pementasanmu dan dia nggak percaya kalau aku adalah adikmu. Dia orang Indonesia juga. Setengah.” Rafka mengenalkan gadis muda yang cantik yang berdiri di sampingnya.

Mara tertawa. “Wajah kami memang nggak mirip.” Karena dia dan Rafka berbeda ayah dan berbeda ibu. Mara sudah diasuh oleh ibu Rafka semenjak usia dua bulan. Tiga tahun kemudian, ibu Rafka menikah dengan ayah Rafka dan mereka berdua mengadopsi Mara secara hukum. Setahun kemudian, Rafka lahir. “Terima kasih sudah datang menonton malam ini. Apa kamu datang sendiri?”

“Tadi bersama kakakku, tapi dia tidak bisa lama-lama di sini. Harus mengejar penerbangan ke Amsterdam karena ada urusan di sana besok pagi-pagi buta,” jawab Agnetha.

“Kalau kalian masih ingin jalan-jalan atau apa, aku akan pulang duluan,” kata Mara. Malam masih sangat muda dan masih banyak tempat di Copenhagen yang bisa mengakomodasi mereka untuk lebih saling mengenal.

Setelah sepakat bahwa malam ini mereka berpisah jalan, Mara mengayuh santai sepedanya. Di depannya tampak tiga orang laki-laki di atas tiga sepeda sedang mengangkut satu ranjang besar. Mara tertawa. Orang Copenhagen benar-benar luar biasa. Kalau sebelumnya Mara terkagum-kagum melihat orang mengangkut pohon natal setinggi lebih dari dua meter menggunakan sepeda, kali ini Mara tidak tahu harus berkata apa melihat dengan mudahnya orang memindahkan ranjang besar tanpa bantuan mobil. Mara berhenti sebentar untuk mengambil gambar. Selama ini dia senang memotret hal-hal menarik mengenai kota yang sudah dia anggap sebagai rumah sendiri ini.

Kata Copenhagen mengingatkannya pada nama Hagen. Sosok misterius yang tadi memberinya bunga. Sambil melanjutkan perjalanan, Mara memikirkan kembali bung-bunga yang dia terima. Sepertinya Hagen, H, dan HM adalah orang yang sama. Saat berhenti di lampu merah, Mara mengeluarkan ponsel dan memasukkan nama Hagen ke dalam mesin pencari. Banyak berita berkaitan dengan urbanisme muncul pada halaman pertama. Seandainya Mara tahu nama belakangnya. Mara mendesah kecewa karena tidak punya petunjuk lain. Setelah menyimpan kembali ponselnya, Mara kembali melaju sambil berpikir. Apa yang dikatakan Nora betul. Atas tujuan apa seorang laki-laki memberikan bunga sebegini mahal kepada seseorang yang tidak benar-benar istimewa? Atau mungkin Mara istimewa baginya? Memikirkannya saja sudah membuat hati Mara melambung karena tersanjung.

Mungkin Nora tahu lebih banyak mengenai Hagen. Selama mereka bercakap tadi, Mara menangkap kesan bahwa, bagi Nora, Hagen adalah sosok yang familier. Saat berhenti menuntun sepedanya masuk ke dalam apartemen, Mara mengetik pesan singkat kepada temannya. Menanyakan nama lengkap Hagen. Kalau Mara memiliki nama lengkapnya, akan lebih mudah untuk menemukannya dan mengonfrontasi kebiasaan Hagen mengiriminya bunga, tanpa sekali pun menemuinya.

***

Tidak ada satu kota pun yang sempurna. Tetapi ada beberapa kota yang lebih baik dari kota-kota lainnya. Dalam proyek terbarunya, Hagen akan mengunjungi enam kota di masing-masing benua dan akan menunjukkan bagaimana sebuah kota mempermudah hidup penghuninya. Sekecil apa pun usaha yang dilakukan kota itu. Setelah empat tahun menggodok ide tersebut, membicarakan dengan production company, akhirnya program yang dia ususlkan disetujui dan season pertama akan mulai syuting dua bulan lagi. Trailer sudah mulai dilempar dan sejauh ini tanggapan dari banyak orang sangat menggembirakan.

“E-mail-e-mail yang penting sudah kutandai. Yang perlu perhatian segera adalah e-mail dari Barcelona. Sepertinya kamu harus membacanya, sebelum conference meeting dengan orang dari perwakilan pemerintah Catalunia jam satu nanti. Siapa namanya?” Annamari, executive assistant Hagen, mengernyitkan keningnya.

“Kalau begitu, tolong minta Tim Catalan untuk diskusi denganku sekarang,” kata Hagen, tidak menjawab pertanyaan Annamari. Membangun kota berbasis sepeda tidak mudah dilakukan. Perlu waktu yang tidak singkat. Tim Catalan yang dibentuk Hagen, akan mendampingi pemerintah Catalunia dalam setiap proses pembangunan, mulai dari desain hingga uji coba.

“Well, dalam e-mail tersebut ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan Tim Catalan.”

Hagen mengangkat sebelah alisnya. Tim yang dibentuk Hagen adalah tim serbabisa. Tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan.

“Catalonian Civil Engineers Assosiation akan mengadakan seminar saat kamu di sana. Mereka ingin memintamu menjadi pembicara utama.”

“Aku tidak ada rencana untuk ke sana.”

“Tapi kamu akan ke sana. Karena kamu tidak akan melewatkan peluang untuk membagikan ilmumu kepada banyak orang.” Asistennya tersenyum, sudah tahu bahwa Hagen tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengedukasi lebih banyak orang, mengenai pentingnya menata ulang sebuah kota dengan mengutamakan kepentingan manusia. “Oh, ya, Hagen, ada telepon dari Vancouver tadi, mereka ingin mengajukan proposal, juga memintamu menjadi juri dalam bicycle film festival.”

“Kalau tidak mendesak, aku akan memikirkan nanti. Setelah memanggil Tim Catalan, tolong belikan bunga mawar, bukan yang besar. Satu kuntum. Seperti yang sebelumnya. Dan kartu yang kertasnya bagus, yang bisa kugambari.”

“Mara Hakinen akan datang ke sini sore ini untuk diwawancara. Dia menjadi salah satu tokoh perempuan yang dipilih Laure untuk buku terbaru kita,” jelas Annamari. Dari semua orang di gedung ini, Hagen sangat mempercayai ibu tiga anak ini. Termasuk mengenai ketertarikannya kepada Mara, balerina kelahiran Indonesia, yang berdarah setengah Finlandia. “Aku akan tetap membeli bunganya, Hagen. Tapi sekarang sudah saatnya kamu berhenti bertingkah seperti penguntit. Perkenalkan dirimu dengan benar kepada gadis itu.”

 

Bersambung.

Catatan:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

My Bookshelf

Yth. Orangtua

Aku masih ingat apa yang dikatakan Rektor UGM saat mengukuhkan wisudawan dua tahun yang lalu. Pada waktu itu, Profesor Dwikorita Karnawati—sekarang kepala BMKG—menyampaikan kepada orangtua wisudawan yang hadir—kalau mereka menyimak—bahwa tantangan menjadi orangtua zaman sekarang adalah menambah wawasan dan memahami bahwa ada banyak, dan semakin banyak, pilihan profesi baru yang tidak ada ada pada zaman mereka muda dulu. Orangtua harus mau menerima bahwa anak-anak mereka tahu lebih banyak daripada mereka. Mudah saja bagi anak-anak untuk terinspirasi dengan orang-orang hebat di luar sana—terima kasih kepada internet—dan ingin mengikuti jejak mereka.

Zaman sekarang, setelah lulus kuliah, pilihan pekerjaan anak muda tidak lagi terbatas pada pegawai negeri sipil, pegawai BUMN, atau karyawan swasta. Meski seorang anak lulus dari jurusan akuntansi, jika dia ingin menjadi seorang toy photographer, tidak ada masalah. Ada banyak media tersedia untuk memajang dan memasarkan karyanya. Inti dari menuntut ilmu tinggi-tinggi bukan semata perkara ijazah. Tetapi, di antaranya, adalah mengubah cara bepikir dan membangun jaringan. Masalahnya, apakah semua orangtua akan baik-baik saja dengan pilihan karier anaknya? Apakah semua orangtua bisa menerima anaknya tidak mendapatkan gaji tetap pada ujung bulan? Banggakah orang tua menyebut bahwa anaknya bekerja dari rumah, self-employed, bukannya berangkat ke kantor setiap pagi dan pulang saat senja? Bahagiakah orangtua ketika anaknya tidak menjadi bawahan siapa-siapa, melainkan cita-citanya?

Tidak ada orangtua yang kutanyai terkait masalah ini. Aku hanya meneliti sekitarku. Orang-orang di dalam lingkaran keluargaku. Berdasarkan pengamatanku, jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah tidak. Jangankan mengenai karier, yang memutuskan kuliah di mana saja orangtuanya. Bagaimana sejak masuk SMA seorang anak sudah dicekoki doktrin bahwa selepas lulus nanti harus masuk sekolah kedinasan, supaya jadi pegawai negeri dan tidak pusing lagi mencari penghidupan. Sekolah sebentar saja sudah dijamin dapat gaji hingga uang pensiun. Boleh saja seorang anak bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil atau polisi, asalkan memang itu yang dia inginkan. Misalnya karena dia ingin mengabdi kepada negara. Bukan karena orangtua yang tidak ingin repot berlama-lama mendukung anaknya mengejar passion-nya.

Ada artikel di letgrow.org yang menuliskan hasil  sebuah survei. Tiga puluh dua persen remaja hidup dalam kesedihan dan ketidakberdayaan yang tidak berkesudahan. Penyebabnya adalah mereka tidak diberikan kesempatan untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi mereka. Sebisa mungkin orangtua mengusahakan anak mereka mulus hidupnya dari lahir hingga dewasa. Anak-anak  tidak dibiarkan untuk jatuh dan terluka. Sehingga tidak tahu bagaimana caranya bangkit lagi. Padahal, pemberian kebebasan berperan dalam membangun kemandirian dan ketahanan mental. Tugas orangtua adalah membimbing dan mengarahkan, betul. Memberi nasihat, benar. Kalau sampai mengontrol keseluruhan aspek hidup mereka, itu agak kebablasan.

Kebanyakan orangtua berpikir bahwa masa depan anak harus ditata sejak dini. Sejak kecil sudah disuruh berenang, bukan demi kesehatan, tapi demi bisa masuk polisi. Nanti SMP di sini, supaya bisa SMA di sana, di SMA pilih jurusan A, supaya mudah nanti masuk sekolah kedinasan. Akibatnya apa. Nilai rapornya tidak terlalu bagus untuk ikut babak pertama seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Sebab selama sekolah, anak berpikir toh nanti yang dipakai hasil tes masuk. Ketika teman-temannya sudah mengamankan kursi di perguruan tinggi terbaik dengan rapornya, anak mereka masih harus menunggu seleksi nasional. Yang tidak diikuti dengan sepenuh hati, pilihan jurusan diisi sembarangan, yang paling tidak banyak peminatnya, karena nanti juga akan ditinggal saat diterima sekolah kedinasan.

Sayangnya, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Gagal masuk kedinasan. Jurusan yang dipilih di perguruan tinggi negeri bukan yang diinginkan. Sedangkan orangtua sudah kadung memakai uang untuk membeli rumah ketiga dan mobil baru. Permintaan untuk masuk perguran tinggi sesungguhnya sudah ditutup sejak awal, oleh orangtuanya sendiri. Yang tidak rela mengeluarkan uang untuk pendidikan anaknya. Sebab kuliah juga tidak akan menjamin mendapatkan pekerjaan, jadi kenapa uang dibuang-buang.

Yang dimaksud dengan tidak mendapatkan pekerjaan di sini adalah pekerjaan tradisional, yang kusebutkan di atas. Bakat anaknya adalah menggambar dan anaknya ingin masuk jurusan terkait. Meski sudah diberi banyak contoh orang-orang yang hidup nyaman dari menggambar—palaeoartist, skeletal drawer, scientific illustrator, dan sebagainya, sudah ditunjukkan Shutterstock dan tempat lain di mana para ilustrator menjual karyanya, sudah diberi tahu bahwa sekarang galeri seseorang bukan lagi di dalam ruangan—melainkan di media sosial, dan untuk menggambar komik superhero tidak harus tinggal di Amerika, tetap saja orangtuanya bergeming. Tunggu tahun depan untuk ikut tes sekolah kedinasan lagi. Menyedihkan sekali nasib anak itu. Dia hanya bisa termangu ketika teman-temannya mulai mengepakkan sayap mengenal dunia baru. Nanti saat dia reuni sepuluh tahun yang akan datang, saat teman-temannya menceritakan keberhasilan mewujudkan cita-cita, apa yang akan dia katakan? Dia hanyalah korban dari pemikiran orangtuanya yang tertinggal tiga dekade di belakang.

Orangtua zaman sekarang tidak lagi bisa bersembunyi di balik kalimat bahwa mereka tahu lebih banyak dan lebih baik sebab sudah hidup lebih lama. Sudah pernah muda dan sebagainya. Zaman sudah berbeda, ada pengalaman mereka yang tidak relevan lagi. Sedangkan wawasan anak lebih luas, sebab melalui media sosial saja, dia bisa melihat alumnus sekolah yang sudah sukses di luar bidang tradisional. Mendirikan start-up misalnya.

Bisakah kita menjadi orangtua berpikiran terbuka? Sebab kemajuan zaman akan semakin pesat dan pilihan profesi akan semakin beragam. Bisakah kita mengerem diri kita untuk tidak menjadi orangtua yang menganggap anak tidak tahu apa-apa? Seperti yang tertulis dalam letgrow.org, untuk menumbuhkan kontrol diri pada anak, kita harus berhenti mengontrol mereka. Kita harus memberi kesempatan pada anak-anak untuk membuat keputusan benar maupun salah. Mereka akan belajar dari setiap kesalahan dan mereka akan semakin kuat. Bisakah kita berdiri di belakang mereka, baik mereka sukses mau pun berhasil? Anak-anak akan merasa aman jika tahu orangtuanya tetap bangga apa pun hasil dari usaha mereka, sebab yang penting adalah mencoba. Bisakah kita mempercayai anak-anak kita untuk menentukan sendiri jalan hidupnya? Sebab merekalah yang menjalani, bukan kita, orangtua.

Semoga kita bisa.

Sumber gambar Freepik.com

My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 2

Oleh Ika Vihara

Penulis buku Midsommar, Midnatt, Bellamia, dan Geek Play Love

 

Mara berdiri di depan cermin setelah mengganti baju. Hari ini latihan terakhirnya sebelum pementasan La Bayadere[1]. Saat ini mungkin dia disebut orang sebagai penari balet yang istimewa. Tubuhnya tidak tinggi. Hanya 162 cm, yang di dalam balet, disebut sebagai wrong type body. Belasan tahun Mara berjuang demi membuktikan bahwa tinggi badan tidak akan menghalanginya untuk menari. Untuk berada pada titik ini. Menjadi solois kulit kuning pertama setelah tiga puluh dekade.

Ketakutan terbesar Mara adalah, bagaimana jika besok dia tidak bisa menari lagi dan dunia memerlukan tiga puluh tahun lagi untuk menemukan penari balet berkulit kuning yang bisa menggantikan posisi Mara sekarang? Mungkin saat ke Indonesia nanti, Mara akan mengunjungi sekolah balet lokal dan mencari tahu perkembangan balet di Indonesia.

“Mara, apa kamu masih ingin di sini?” Viggo mengetuk pintu ruang ganti.

Dalam pementasan La Bayadere nanti, Viggo akan memerankan Solor, laki-laki yang dicintai dan mencintai Nikiya. Bergegas Mara mengemasi barangnya dan bergerak keluar.

“Kami akan makan malam, apa kamu mau ikut?” tanya Viggo ketika mereka berjalan bersama menuju pintu keluar.

Beberapa teman menari Mara berjalan di depan mereka sambil tertawa. Di sini, di The Royal Danish Ballet, Mara seperti menemukan keluarga baru. Viggo, salah satu penari yang dikagumi Mara, memperlakukan Mara seperti adik sendiri.

“Boleh. Tapi, jangan menertawakanku kalau aku nggak minum alkohol.”

Viggo tertawa dan melangkah menuju sepedanya. “Aku lupa kalau umurmu tidak pernah melewati delapan belas tahun. Mara? Ada apa?”

Mara tertegun di depan sepedanya. Ada sekuntum bunga mawar berwarna kuning terikat di sana. Tidak pernah ada kejadian seperti ini selama dia hidup di Copenhagen. Bunganya indah, Mara mengakui. Tetapi meninggalkan benda pada properti milik orang lain seperti melanggar privasi. Privasi. Kenapa belakangan ini banyak sekali orang yang melanggar privasinya?

Ada sebuah amlop kecil disertakan bersama bunga tersebut.

I hope you are reaching up to the stars. H

Sambil tersenyum Mara mengamati kartu bergambar seorang balerina yang sedang melakukan pointe. Atau menumpukan berat badan pada ujung jari kaki, seperti berjinjit. Siapa H? Kening Mara berkerut ketika memikirkan semua nama teman-temannya. Tidak ada yang berinisial H.

“Mara?” Viggo sudah duduk di atas sepeda, berhenti di depan Mara.

“Nggak ada apa-apa.” Mara memasukkan bunga dan kartunya ke dalam tas.

Mungkin hanya salah satu penggemar yang ingin memberinya semangat. Tetapi penggemar tidak melakukan hal seperti ini. Menaruh sesuatu di sepeda bisa dihitung sebagai menguntit dan Mara bisa melaporkan kepada polisi. Saat mengikuti Viggo menuju pusat kota Copenhagen, Mara sibuk berpikir. Tidak perlu lapor polisi. Selama siapa pun itu tidak menyakitinya. Lagi pula hanya satu bunga yang tidak berbahaya. Kecuali kalau dia menerima satu keranjang bunga dengan seekor ular berbisa bersembunyi di dalamnya. Itu cerita La Bayadere, di mana Nikiya, yang diperankan Mara, mati karena ular berbisa. Mara tertawa karena tidak bisa lagi membedakan mana cerita dan mana kehidupan nyata.

***

“Mara!” teriak Rafka dan dengan kesal Mara menendang selimutnya. Tadi malam adiknya datang dari Jerman, di mana dia kuliah, melakukan kunjungan rutin dua bulan sekali ke Copenhagen, untuk mengecek hidup Mara dan melaporkan kepada orangtua mereka.

“Ada apa sih?” Mara keluar kamar dengan wajah terlipat. “Ini masih pagi. Kenapa kamu sudah teriak-teriak begitu?”

“Ada yang meninggalkan bunga di sepedamu.” Di tangan Rafka ada bunga mawar kuning dan sebuah amplop kecil berwarna putih.

“Siapa yang naruh di sana?” Dengan cepat Mara merebut bunga dan amplop tersebut.

“Pacarmu mungkin?”

“Laki-laki?” Selidik Mara.

“Kamu nggak kenal dengannya? Mara, kamu harus hati-ha….”

“Rafka,” erang Mara putus asa. Demi Tuhan, Mara lebih tua empat tahun dari Rafka, tetapi kenapa Rafka bertingkah seperti bukan adiknya. “Kamu lihat orangnya?”

“Tadi aku mau pergi pakai sepedamu, dompetku ketinggalan dan aku meninggalkan sepedamu di luar sebentar. Saat aku kembali, sudah ada bunga ini. Nggak ada orang lain di sekita sana kecuali seorang laki-laki yang sedang bersepeda.”

“Seperti apa orangnya?” desak Mara.

“Sepeti apa? Seperti orang biasa.”

“Rafka!” desis Mara.

“Ya bermata biru, berambut cokelat, tinggi. Seperti semua orang sini kan?” Rafka berjalan ke dapur, sambil membawa dua gelas kopi dan kantong kertas, yang bisa ditebak, berisi roti. Sarapan mereka pagi ini. Tetapi Mara tidak tertarik untuk sarapan. Mara memilih kembali ke kamar dan memeriksa isi amplopnya.

“Mara,” panggil Rafka ketika Mara hampir mencapai pintu kamar. “Papa bilang kamu nggak boleh pacaran dengan orang sini.”

“Ini hidupku. Terserah aku mau menikah dengan orang mana.” Mara mendelik sebal. Bagaimana dia akan berjodoh dengan orang Indonesia, kalau dia sendiri tidak tinggal di Indonesia? Ada-ada saja. “Kalau menuruti Papa, aku nggak akan menikah seumur hidup.”

Tidak akan ada satu laki-laki pun di dunia ini yang cukup baik di mata ayahnya. Kecuali laki-laki pilihan ayahnya. Oh, tidak. Mendadak Mara merasa ngeri memikiekan kemungkinan ini.

“Raf….” Mara memasukkan amplop ke dalam saku piamanya dan berjalan ke dapur.

“Hmmm?”

Mara duduk di kursi di samping Rafka dan mengambil satu gelas kopi di meja.

“Waktu kamu pulang ke Indonesia dulu, Mama dan Papa nggak ngomongin soal perjodohan, kan?” Dalam keluarga mereka, terdapat sejarah perjodohan. Dan seperti kata orang, sejarah selalu berulang. Mara tidak ingin hal itu terjadi padanya. Dia hanya ingin menikah dengan laki-laki pilihannya, bukan pilihan orangtuanya.

Rafka tertawa keras. “Mana ada yang mau sama kamu?”

“Serius, Raf.”

“Bukan Mama dan Papa yang pernah menyebut. Tapi Nanna dan Papi,” jawab Rafka. Nanna dan Papi adalah kakek mereka dari pihak ayah. “Mereka mencari pewaris untuk meneruskan perusahaan. Di antara kita semua, nggak ada yang tertarik dengan hal seperti itu. Jadi menikahkanmu dengan … siapa pun yang mereka anggap cocok, adalah jalan utama.”

Saat ini, sepupu ayahnya yang menjalankan perusahaan makanan beku milik kakek dan neneknya. Anak-anak dari sepupu ayahnya memilih untuk berkarier di bidang lain. Satu menjadi perancang busana, satu menjadi atlet bulu tangkis dan lainnya menjadi dokter.

“Kenapa harus aku?” Mara menggumam. “Kenapa mereka nggak merekrut orang lain?”

“Karena hanya kamu yang sudah masuk usia menikah dan kamu keturunan langsung Papi. Ingat apa yang Papi pernah katakan? Perusahaan tersebut adalah tempat untuk berkarya bagi anak dan cucu-cucunya. Tapi nggak ada satu cucunya yang tertarik bekerja di sana.”

“Mama nggak akan membiarkan itu terjadi.” Mara menghabiskan kopinya.

“Mungkin saja,” jawab Rafka tak acuh.

Ada banyak hal yang harus dipikirkan Mara hari ini. Sebelum memikirkan pernikahan. Ada hari besar lain yang harus dia lalui sebelum hari pernikahan, yaitu hari di mana dia akan mementaskan Nikiya. Malam nanti. Mara berjalan masuk ke kamar dan tidak melanjutkan percakapan dengan adiknya.

Setelah mengatur posisi di tempat tidur dan kembali masuk ke dalam selimut—cuaca di Copenhagen turun hingga lima derajat Celsius di musim semi seperti ini—Mara membuka amplop di tangannya. Tidak ada tulisan apa-apa pada kartunya. Hanya sebuah lukisan seorang balerina dan pasangan menarinya. Salah satu adegan dalam La Bayadere. Di mana Nikiya dan Solor bersatu dalam cinta dalam kehidupan selanjutnya. Lukisan yang sangat bagus.

Ada inisial di sudut kanan bawah. Mara memperhatikan baik-baik. HM.

H? HM? Siapa dia? Apakah orang yang sama?

Bersambung.

[1] The Temple Dancer

__

Catatan:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

Uncategorized

THE DANCE OF LOVE

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

 

 

 BAGIAN 1

Oleh Ika Vihara

Penulis buku My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, dan The Danish Boss

Mara masih ingat, dan akan selalu ingat, bagaimana dia dan ketiga adiknya selalu berteriak protes dan menutup mata ketika melihat orangtua mereka sengaja berciuman di tengah rumah. Juga sangat ingat bagaimana ayahnya menyalahkan istrinya karena mereka berdua sama-sama tidak ingat untuk menjemput Kallan, salah satu adiknya, di TK karena sibuk bekerja. Lalu gantian ibunya memarahi suaminya yang selalu lupa menurunkan dudukan toilet. Seaneh apa pun alasan yang menyebabkan pertengkaran, kedua orangtuanya selalu bisa menemukan cara untuk berdamai di akhir hari. Mulai dari menari berdua mengikuti lagu di teras belakang sampai berdiam di kamar dan meminta Mara mengawasi adik-adiknya.

Semua itu adalah contoh yang sangat bagus dari orangtua, untuk menunjukkan bagaimana cinta sejati bekerja. Cinta tidak hanya sekadar kata. Cinta adalah menjembatani perbedaan pendapat dan kembali menemukan cara untuk berdamai di akhir hari. Setiap hari. Orangtuanya tidak perlu menjelaskan kepadanya akan pentingnya cinta dan bagaimana cara menemukannya. Dengan sendirinya, Mara sudah mempelajari selama menjadi anak mereka.

“Penny to your thought, Lolipop.” Suara ayahnya terdengar di telinganya.

Mara tersenyum dan kembali fokus pada layar ponselnya. Siang ini, setelah keluar dari studio dan selesai berlatih, Mara memilih duduk di Granola bersama semangkuk es krim, untuk sekadar memberi apresiasi kepada dirinya, yang akan menjadi solois dalam pertunjukan spesial The Royal Danish Ballet. Sudah sangat lama Mara menantikan peran ini. Dalam balet, Giselle diceritakan sebagai sosok seorang wanita yang meninggal karena patah hati setelah mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain. Meski perjalanan cintanya tidak begitu berwarna, Mara cukup membayangkan bagaimana jika ibunya mengetahui suaminya, yang sangat dicintai, bersama wanita lain. Rasa sakit itu yang dia masukkan ke dalam setiap gerakannya.

“You are true ballerina, Mara,” kata artistic director RDB setelah melihat Mara mementaskan Giselle dengan sangat apik waktu itu.

“Aku sudah beli tiket pesawat buat pulang, Papa.” Mara tidak akan melewatkan hari ulang tahun ibu kandungnya. Selama lima belas tahun terakhir, keluarganya memilih untuk merayakan hidup ibu kandung Mara, bukan memperingati kematiannya.

Ah, ibu dan ayah kandungnya. Satu cerita yang tidak kalah indah, tentang pasangan yang memenuhi ikrar sehidup semati. Mara sudah mendengar secara lengkap kisah mereka menjelang ulang tahunnya yang ketujuh belas. Bagaimana kedua orangtuanya meninggal pada hari yang sama dan dimakamkan berdampingan.

“Jangan bawa calon suami pulang. Papa belum siap.”

Kali ini Mara tertawa. “Aku nggak punya pacar, Pa.”

Dengan segala kesibukannya, Mara tidak tahu kapan, di mana atau bagaimana dia akan menemukan cinta. Hari-harinya selalu diisi dengan latihan—meski sudah profesional, seorang balerina harus berlatih setiap hari didampingi guru, supaya tubuh tidak lupa—dan keliling dunia. Menari adalah hobinya dan Mara tidak menyangka bahwa kegemarannya akan berubah menjadi pekerjaan, memberinya penghidupan dan kebahagiaan.

“Tidak perlu susah mencari, Sayang.” Ibunya, ikut bicara, setelah hanya mendengarkan sejak tadi. “Kamu dan pasanganmu akan bertemu dengan cara yang tidak terduga. Papa, orang yang malas keluar rumah saja ketemu jodohnya. Jodohnya datang sendiri ke rumah. Dia tidak berusaha apa-apa….”

“Hei!” Ayahnya protes dan disambut tawa ibunya.

“Ketika kamu bertemu dengan seseorang, dengan sendirinya, kamu akan tahu bahwa dia adalah belahan jiwamu. Kamu akan bisa merasakan. Kadang orang merasakan pada pertemuan pertama. Kadang setelah satu tahun berteman. Kadang perlu waktu lebih lama. Seperti papamu, yang tidak sadar-sadar bahwa dia mencintai Mama.”

Mendengar nasihat ibunya, Mara mengangguk lega. Sejak masih kanak-kanak dan menyukai cerita princess, sampai saat ini, kepercayaannya mengenai pangeran berkuda putih tidak pernah memudar. Mereka akan datang saat belahan jiwa berada dalam bahaya bukan? Tetapi amit-amit, bagian berada dalam bahaya tidak perlu terjadi.

“Papa ingin kamu punya suami orang sini saja, Mara. Setelah kamu puas menari, kamu akan pulang ke Indonesia dan tinggal bersama kami.” Bersamaan dengan itu, tampaknya ayahnya mendapat cubitan dari istrinya, karena ayahnya mengaduh pelan.

“Aku janji, Pa. Aku akan kembali. Aku sudah berpikir untuk mengajar di sana.”

“Rafka akan datang menonton pertunjukanmu, Mara.” Ibunya memberi informasi yang sudah diketahui Mara. Sudah jadwalnya. Salah satu adiknya, Rafka, kuliah di Jerman dan secara berkala datang ke Copenhagen.

“Ma, aku ini Kakak lho.” Mara menyuarakan keberatan. “Kenapa malah aku yang diawasi Rafka?” Tugas dari ayahnya, Rafka harus memastikan keselamatan Mara.

“Kalian saling menjaga,” jawab ibunya.

Setelah lima menit bicara dengan ayah dan ibunya, Mara bercakap dengan Kalan dan Lane, dua adik kembarnya yang tidak pernah berhenti menggambar komik. Sayang sekali, Elma, adiknya yang paling bungsu sedang tidur karena tidak enak badan. Padahal Mara kangen sekali dengannya.

Setelah bertukar ‘I love you’, Mara melepas earplug dari telinganya dan membuka buku yang terbuka di depannya. Meski punya e-reader, Mara tetap suka membaca buku dari kertas.

“’Xcuse me.” Sebuah suara mengganggu konsentrasi membaca Mara.

Mara mengangkat kepala dan melihat seorang laki-laki, dengan mata biru yang cerah dan hangat seperti langit musim panas, rambut berwarna cokelat gelap seperti tanah yang terkena hujan pertama di musim gugur, dan warna kulitnya … pikiran Mara langsung teringat pada orang-orang yang menghabiskan bulan Juli di pantai dan berjemur sepanjang hari. Lebih gelap dan seksi daripada kulit orang Copenhagen pada umumnya.

Bukan warna kulitnya yang seksi, dalam hati Mara meralat, yang paling menarik dari laki-laki yang tiba-tiba menyapanya ini adalah senyumnya. Senyum yang bisa melelehkan gunung es di kutub utara dalam hitungan detik saja.

Seandainya hari ini Mara jatuh saat berlatih, keseleo, dan kesal karena harus istirahat beberapa hari, begitu melihat senyum di wajah tampan milik laki-laki ini, dia yakin akan dengan mudah melupakan ketidakberuntungannya. Dia tidak akan berhenti mensyukuri hidupnya hari ini. Semua orang pasti merasa berada di surga ketika menerima satu senyuman dari laki-laki muda berbaju hitam ini.

“Apa kamu orang Indonesia?” Sapanya dengan bahasa Indonesia yang lancar, tetapi dengan aksen yang tidak biasa. Aksennya tidak mengganggu. Malah terdengar seksi.

Tuhan, kenapa sejak tadi otaknya tidak bisa berhenti mengeluarkan kata seksi.

“Menguping pembicaraan orang itu nggak sopan,” gerutu Mara karena menurutnya, laki-laki ini melanggar privasi.

“Aku tidak mencuri dengar.” Laki-laki berkemeja hitam itu mengerutkan kening. “Kamu bicara di dalam cafe dan aku mengenali bahasa yang kamu gunakan.”

Salah Mara sendiri, membicarakan mengenai hal pribadi dengan keluarganya di muka umum, berpikir tidak akan ada orang yang mengerti bahasa Indonesia di sekitarnya.

“I am a fan,” katanya, setelah Mara mengabaikannya dan memilih kembali memperhatikan bukunya.

“Thank you.” Kali ini, mau tidak mau, Mara tersenyum. Siapa saja yang pernah menyaksikan pertunjukannya, bahkan mengenali dirinya, akan selalu mendapat tempat di hati dan hidupnya. Sebab tanpa mereka, Mara bukan apa-apa.

“Ada sesuatu yang ingin kuketahui darimu.”

Dengan tatapan matanya, Mara mempersilakan laki-laki itu melanjutkan.

“Apa ada cara tertentu supaya surat penggemar yang kukirimkan ke The Royal Danish Ballet akan dibalas?”

“Nggak ada. Aku memang nggak bisa membalas satu per satu.” Seandainya Mara lebih rajin membalas semuanya, pasti dia tidak akan melewatkan surat dari laki-laki ini. Apa tulisan tangannya berkarakter juga seperti wajahnya? Uh, Mara menggelengkan kepala, menyuruh dirinya untuk tidak berfantasi.

“Aku tidak mengirim untukmu, tapi untuk Josefina Jepsen.”

Mara merasakan wajahnya memanas. Oh, Tuhan, ini memalukan sekali. Tentu saja semua orang lebih mengenal Josefina, senior Mara di RDB. “Oh … itu … Aku kurang tahu. Banyak sekali yang mengirim surat dan hadiah kepada Josefina.”

Melihat Mara salah tingkah, laki-laki itu tertawa pelan. “Aku hanya bercanda. Aku belum pernah mengirim surat ke RDB. Mungkin besok aku akan mengirimnya. Untukmu. Jadi, apakah ada cara supaya suratku dibalas?”

“Ada orang yang khusus memilah-milah surat mana yang harus kubalas atau tidak.” Setelah membuatnya malu seperti tadi, orang ini berharap suratnya akan dibalas? Kecuali dengan tidak sengaja, karena Mara tidak tahu namanya.

“Aku mengerti.”

“Terima kasih sudah menonton. Aku harus pergi.” Mara memeriksa jam di pergelangan tangannya. Sore ini dia akan mengepas kostum, lalu mengunjungi paman dan bibinya untuk makan malam.

“Aku tidak sabar menunggu penampilanmu selanjutnya,” katanya. “Aku yakin kamu akan membawakan Nikiya jauh lebih indah daripada saat kamu membawakan Giselle.”

Apakah kamu akan menonton saat aku menari lagi nanti? Ingin sekali Mara menanyakan ini, tetapi dia menahannya. Untuk apa? Kalau laki-laki ini tidak hadir, ruangan tetap akan penuh. Tetapi, Mara tidak tahu apa yang salah dengan dirinya. Kenapa hatinya menginginkan laki-laki ini datang pada hari pertunjukannya dan membawakannya bunga. Khayalan yang nggak masuk akal, Mara memarahi dirinya sendiri. Siapa tahu laki-laki ini menonton balet karena menemani pasangannya, atau bahkan anak perempuannya.

Bersambung.

My Bookshelf

BACA CERITA GRATIS DI MAILING LIST IKA VIHARA

 

Kalau teman-teman bergabung dengan mailing-list-ku, teman-teman akan menerima satu bagian cerita SAVARA dan cerita pendek menarik lain ke inbox e-mail masing-masing secara berkala. Cerita-cerita pendeknya bisa berupa cerita para tokoh novelku, yang sudah terbit, saat masih remaja atau di masa depan. Aku yang akan mengirimkannya langsung. Di atas adalah design yang akan kugunakan sebagai edisi pertama.

KAPAN E-MAIL AKAN DIMULAI? Kalau yang bergabung sudah 100 orang. Saat ini baru ada 40 orang. Jadi, silakan ajak teman-teman kalian, atau bagikan link ke ikavihara.com. Supaya makin cepat terpenuhi kuota dan makin cepat kita mulai!

Berikut ini cara bergabung di mailing list, kalau masih bingung.

DARI BROWSER PONSEL

Masuk ke ikavihara.com, lalu tunggu sampai muncul pop-up seperti gambar di bawah. Klik gabung, setelah itu isikan alamat e-mail teman-teman di sana, lalu klik kembali gabung. Pastikan e-mailnya aktif, supaya bisa langsung baca ketika kukirimi.

 

 

DARI BROWSER LAPTOP

Masuk ke ikavihara.com, dan ketikkan langsung alamat e-mail di field yang tersedia, dan klik gabung.

 

Aku nggak sabar mau berbagi cerita dengan teman-teman, jadi … semoga kuota 100 cepat terpenuhi. Aku tunggu banget ya, teman-teman. In the meantime, have a nice weekend!

Thing That Makes Me Happy

THING THAT MAKES ME HAPPY (2): HEARTFELT MESSAGE

 

Is it wonderful that my books will have traveled farther than I have?

Or … frightening?

Sampai pada titik ini, aku tahu bahwa lebih mudah untuk berhenti menulis daripada menjaga kebiasaan baik tersebut. Iya, bagiku menulis adalah sebuah kebiasaan, bukan pekerjaan, bukan pula hobi. Sebuah kegiatan, sebelum disebut sebagai kebiasaan, harus dilakukan dulu berulang-ulang. Aku tidak tahu apa yang kutulis, tapi aku tetap menulis. Mau nanti ada hasilnya–diterbitkan–atau tidak–teronggok saja–namanya kebiasaan akan selalu kulakukan. Karena itu, tiga tahun sejak aku menulis kalimat pertamaku, aku berada di posisi yang berbeda, a well-practiced-writer.

Seperti kusebutkan dalam bukuku When Love Is Not Enough, aku tidak pernah sendirian dalam menulis sebuah buku. Ada banyak sekali orang yang membantuku. Yang paling berperan besar adalah teman-teman semua yang membaca bukuku dan menunggu buku selanjutnya. Tanpa kalian, aku tidak akan pernah sampai pada Midsommar dan Midnatt.

Bersama dengan jauhnya perjalanan bukuku ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi, aku mendapatkan banyak teman yang belum pernah kutemui. Tapi tidak masalah. Definisi teman jauh lebih dalam daripada itu. Bagiku semua yang telah membaca bukuku adalah temanku. Yang paling membuatku bahagia adalah, jika teman-temanku mengirimkan sebaris atau dua baris kalimat melalui media sosialku, e-mail, atau LINE dan WhatsApp.

Setiap kali aku merasa ingin berhenti menulis, aku membaca kembali pesan-pesan dari teman-teman. Aku ingin berhenti menulis bukan karena malas atau apa. Tapi karena aku merasa upayaku untuk memberi perubahan baik pada dunia, melalui tulisan, tidak akan pernah ada gunanya. Apa kontribusiku, orang yang menulis 350 halaman buku, akan ada pengaruhnya bagi kehidupan lebih dari tujuh miliar penduduk bumi? Dari situ aku sering berpikir bahwa diriku kecil sekali dan aku tidak akan bisa berbuat banyak.

Pesan dari teman-teman membuatku memiliki tujuan baru. Aku tidak perlu mengubah dunia, karena belum bisa. Tapi aku bisa membuat perubahan baik pada hidup beberapa orang. Yang membaca bukuku, tentu saja. Orang yang tadinya tidak tahu mengenai Aarhus, Lund, Seasonal Affective Dissorder, dan sebagainya yang kujelaskan di novelku, menjadi tahu. Yang tadinya tidak begitu tertarik dengan dunia STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sekarang mulai banyak yang berdiskusi denganku. Yang mulanya tidak percaya bahwa pendidikanlah yang mengubah hidup kita, bukan menikah dengan orang kaya, sekarang beberapa sudah menyampaikan bahwa mereka berhasil kuliah di tempat-tempat jauh seperti Afnan, Lilja, Mikkel, atau Dinar, dari novel-novelku.

Bukuku adalah hidupku. Aku ingin sekali hidupku bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun itu. Dan aku bahagia ketika teman-teman menceritakan kebaikan yang didapat dari bukuku. Semua lebih berharga daripada status best seller, kurasa.

Ah, aku jadi ingat, tadi malam di Instagram, ada yang mengunggah semua foto bukuku yang sudah dan sedang dia baca, dan dalam caption-nya, Mbak Maya mengatakan bahwa rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi ada bentuk lain, salah satunya: teman. Aku seratus persen menyetujui. Teman-teman semua alah rezeki paling berharga yang akan selalu kusyukuri–supaya ditambah–dan sampai kapan pun teman-teman akan selalu menjadi harta yang paling berharga dalam hidupku. Terima kasih sudah berteman denganku selama ini.

We are never far apart. Since friendship doesn’t count  miles, it is measured by heart.

 

Thing That Makes Me Happy

THING THAT MAKES ME HAPPY (1)

 

Kebahagiaan.

Dicari atau datang sendiri?

Belakangan ini aku berusaha mengurangi kegiatan men-scroll media sosial dan news feed. Mengecek Instagram/Twitter/Facebook kulakukan dua kali sehari. Siang dan malam. Untuk membalas komentar dari teman-teman, atau membagi sesuatu yang kuanggap boleh dilihat oleh banyak orang. Kalau aku ingin tahu kehidupan terkini salah seorang teman, aku mengunjungi profile-nya dan meninggalkan komentar di sana. Update berita? Aku membaca di koran, selain ulasannya lebih dalam, juga lebih fokus, tidak tertarik untuk mengklik link Baca Juga, yang biasanya membuat kegiatan baca berita jadi merembet lebih lama.

Masalah menghabiskan waktu dengan apa ada hubungannya dengan kebahagiaan, menurutku. Melihat orang-orang lebih kaya, lebih sukses, lebik cantik, dan lebih lain-lain memberi beban padaku. Ada banyak pertanyaan timbul di benakku. Apa aku salah memilih pekerjaan? Apa aku kurang beruntung? Apa aku bahagia dengan pilihan jalan hidupku? Dan macam-macam pertanyaan yang tidak kusukai.

Eventhough we know that no one has a perfect life, sometimes it just hurts to see other have a blessed life, while we are struggling. Aku bercerita kepada temanku dan dia mengatakan,“You have to remember that Allah has given everybody rizq. It is distributed evenly between human.”

Dalam kepalaku, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa benar, Tuhan memberi rezeki dengan adil. Untukku, bisa jadi tidak berbentuk uang dan kekayaan. Tapi … bakat. Sejauh ini aku sudah mewadahi beberapa bakatku: menulis, menjahit, dan memasak. Dan kemarin, aku mendapati bahwa mungkin, aku berbakat juga dalam membuat kue. Atau baking. Siapa tahu, kalau tidak dicoba?

Kemarin, jam setengah delapan pagi aku bergerak ke toko bahan kue dan membeli bahan-bahan yang kuperlukan, khusus biji bunga matahari kudapat dari bunga matahari yang ditanam adikku. Hanya perlu waktu 15 menit sampai semua bahan siap dan aku mulai menimbang. Selama prosesnya, aku berpikir. Seperti inilah proporsi segala sesuatu dalam hidup, pikirku. Tentu Tuhan sudah menimbang dengan tepat apa-apa, tidak lebih dan tidak kurang, yang diberikan padaku, sehingga hasilnya bisa kunikmati.

Apa yang lebih membahagiakan daripada aroma biskuit hangat yang baru keluar dari oven? Mempersilakan orang lain untuk menikmatinya. Semua lebih membahagiakan jika dinikmati bersama orang lain. Baking and giving are truly acts of love, kalau mengutip kata Martin Phillip dalam buku Breaking Bread.

Kalau ada yang ingin melihat apakah dirinya berbakat juga dalam membuat biskuit, aku membagi resep sederhana ini untuk dicoba.

SUNFLOWER SEEDS COOKIES/BISKUIT BIJI BUNGA MATAHARI

Bahan:

113 gram mentega suhu ruang

400 gram brown sugar

2 butir telur

2 sdt vanilla essence

280 gram terigu

280 gram old fashionate oats

1 sdt soda kue

1 sdt garam

150 gram biji bunga matahari yang sudah dikupas

Cara Membuat:

  1. Campur mentega dan brown sugar dalam satu wadah yang lebar, supaya leluasa, menggunakan garpu. Ketika sudah tercampur, tambahkan telur dan vanilla essence.
  2. Masukkan oats, terigu, soda kue dan garam. Aduk sampai tercampur. Aku tidak pakai mixer pada proses ini, hanya menggunakan garpu.
  3. Taburkan biji bunga matahari di atas adonan
  4. Siapkan loyang, olesi dengan mentega dan lapisi dengan baking sheet atau kertas roti. Ambil adonan menggunakan scoop es krim, supaya volumenya konsisten, dan jatuhkan di atas loyang. Pencet-pencet sedikit supaya agak pipih. Beri jarak yang cukup supaya biskuit tidak saling menempel saat mengembang.
  5. Panaskan oven dan panggang biskuit selama 8-10 menit dengan suhu 177 derajat celsius.

Percayalah, ketika membuka pintu oven dan melihat biskuit-biskuit yang cantik dan harum, kita akan tersenyum bahagia. Apalagi ketika kita menggigitnya. That is heaven on earth … or tongue. 

Satu pertanyaan dariku. Apa yang membuat teman-teman bahagia hari ini?

My Books

MIDSÖMMAR: SNEAK PEAK

 

 

 

 

 

 

Cinta. Kalau bukan karena cinta, dia tidak akan berdiri di sini. Jika bukan demi laki-laki yang dicintai, dia tidak akan menempuh perjalanan sejauh ini. Perjalanan pertamanya ke luar negeri. Memakan jarak separuh belahan bumi dari rumahnya, yang berada di bawah garis khatulistiwa. Tempatnya berdiri saat ini, terletak hampir dekat dengan kutub utara. Untuk bisa sampai di koordinat ini saja dia harus duduk dan melayang hampir sehari penuh di udara. Atau kurang. Tidak tahu. Lilian kehilangan hitungan.

Memang yang harus dilakukan bukan berhitung. Tapi menyelesaikan segala urusan sebelum bergerak untuk mencari jam bulat besar di terminal tiga. Tubuhnya sudah sangat penat. Kepalanya pening dan perutnya mual. Tuhan, kenapa hanya untuk bertemu orang yang dicintai perjuangannya harus seberat ini. Sudah melelahkan, biayanya juga tidak murah. Sebagai orang yang terbiasa hidup sederhana—kalau tidak mau disebut pas-pasan—membuang uang lebih dari lima puluh juta untuk selembar tiket terasa seperti menanggung dosa besar yang tidak terampuni. Uang sebanyak itu hampir mendekati gaji plus bonus setelah satu tahun memeras keringat.

Lilian memejamkan mata, berusaha menyuruh tubuhnya untuk bertahan sebentar lagi. Suara-suara percakapan dalam berbagai bahasa tertangkap telinganya sejak tadi. Begitu turun dari satu jam penerbangan dari bandara Munich-Franz Josef Strauss, kepalanya berdenyut dan kakinya gemetar. Sambil menahan dingin, Lilian mengeratkan syal merah yang melingkari lehernya. Betul kata Mikkel, lupakan pakaian musim panas dan bawa baju-baju tebal. Padahal saat mengecek di internet kemarin, Lilian merasa tidak salah baca kalau sekarang musim panas. Kalau musim panas saja sudah begini menyakitkan, bagaimana dengan musim dinginnya?

Pada saat seperti ini, bagaimana rasa cinta terhadap tanah airnya tidak bertambah? Negara tropis yang hangat lebih cocok untuknya. Scandinavia is too cold for her.

Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga, Lilian melangkah di bandara Kastrup. Laki-laki yang melintas di sebelahnya, dengan ponsel menempel di telinga, berbicara keras sekali, seperti sedang meneriaki seisi bandara, dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami Lilian. Membuat Lilian ingin menyumpal kedua lubang telinganya.

Mata Lilian sibuk memperhatikan papan-papan petunjuk arah—dalam tiga bahasa: Denmark, Inggris, dan Mandarin—di seluruh penjuru bandara, sebelum melangkah lagi untuk bergabung dengan satu gelombang besar orang yang bergerak menuju tempat pengambilan bagasi. Untungnya, dia tidak perlu mengeluh—selama hampir 24 jam ini, sudah berapa kali dia mengeluh?—karena pengambilan bagasi tidak memakan waktu lama, delapan conveyor belt mengirim bawaan semua orang dengan cepat.

Lilian sudah hampir menyerah berjalan saat akhirnya jam bulat raksasa berwarna putih—tempat di mana Mikkel menunggunya—terlihat. Gampang sekali ditemukan. Mencolok. Atau malah menggelikan, menurut Lilian. Jam analog besar tersebut menggantung di atas layar hitam raksasa—yang menampilkan semua jadwal penerbangan dari dan ke bandara ini—di main hall terminal tiga.

Jam delapan pagi. Waktu Copenhagen.

Lilian mengerjapkan mata. Setelah satu setengah tahun tidak bertemu, sosok yang sangat dan paling dia rindukan sekarang benarbenar nyata ada di depan mata. Bukan dalam format .jpeg. Juga bukan dalam bentuk pixel. Tidak melalui perantara layar laptop atau ponsel. Tapi Mikkel versi manusia betul-betul berdiri lurus di depannya. Lilian mengembuskan napas lega. Sejujurnya dia sempat merasa sedikit khawatir saat pesawat mulai meninggalkan Jakarta. Takut kalau Mikkel tidak menjemputnya di Copenhagen. Apa yang harus dia lakukan saat tiba di sini dan tidak bisa menemukan Mikkel?

Tapi Mikkel tidak mungkin melakukan hal itu kepadanya, Lilian percaya. Mikkel terlalu mencintainya untuk membiarkannya sengsara. Mikkel. Laki-laki yang selalu dicintainya. Tinggi, kukuh dan tampan—seperti yang diingat Lilian—dengan dark whased jeans dan black classic coat yang dibiarkan terbuka. Meski terdengar konyol, Lilian tetap mengakui bahwa hatinya menghangat melihat Mikkel menunggunya. Suhu udara delapan derajat Celsius saat ini—terima kasih Accuweather—bahkan tidak akan bisa membuatnya menggigil ketika melihat Mikkel tersenyum kepadanya.

“Mikkel!” Lilian berteriak sekuat-kuatnya.

Masa bodoh orang mengira mereka sedang syuting film atau apa. Realita ini ratusan kali lebih indah daripada belasan judul film yang pernah dia tonton dan puluhan judul novel yang sudah dia baca.

“Hi, Sweets.” Dua kata yang diucapkan Mikkel terdengar menyenangkan di telinga Lilian. Tidak menyakitkan seperti yang didengar Lilian di setiap sesi video call mereka. Di mana mereka hanya bisa bicara, tanpa berbuat apa-apa.

Dengan sekali loncat, Lilian mendarat di pelukan yang selama ini hanya bisa dia bayangkan. Tubuh Lilian sedikit terangkat saat Mikkel mendekapnya dengan sangat erat. Lilian menghirup wangi yang dia rindukan, mengisi penuh paru-parunya. Pipi kanannya menempel di dada Mikkel yang berbalut sweater berwarna biru gelap. Setelah kedinginan belasan jam di pesawat, sekarang terasa hangat sekali. Seluruh bagian tubuhnya hidup kembali. Bahkan sampai hatinya yang terdalam. Ini yang paling dia inginkan. Berada di sini. Di pelukan kekasihnya.

“I missed you.” Lilian menatap ke atas, tepat ke mata biru Mikkel.

“I’ve missed you too.” Tahu apa obat rindu terbaik di dunia ini? Bukan bertemu. Tetapi dibalas dirindukan.

Saat ini, lagu-lagu cinta di ponsel Lilian—yang didengarkan sepanjang perjalanan dari Munich ke Copenhagen tadi—terdengar basi sekali. Suara semua penyanyi tidak seindah suara tawa Mikkel yang baru saja didengarnya. Kalimat mereka tidak sarat makna seperti kata rindu sederhana yang baru saja meluncur dari bibir yang kini menciumi kepalanya.

Mikkel menatap dalam-dalam mata Lilian. “I demand a kiss.”

Lilian menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya. “Aku nggak gosok gigi selama di jalan, Mikkel. Aku nggak mau nyium kamu dengan bibir terbuka.” Memang Lilian sempat berkumur dengan mouthwash, tapi tetap saja dia tidak percaya diri untuk membiarkan Mikkel menjelajahi mulutnya.

“Kalau mau cium, di sini.” Lilian menunjuk bibirnya yang terkatup rapat.

“Kamu pikir kita masih remaja? Ciuman model begitu?”  Mikkel menggerutu tidak terima. “Aku sudah pernah menciummu pagi-pagi saat kamu bangun tidur. Dan aku tetap hidup.” Tidak mencium Lilian sama sekali yang akan membuatnya mati.

“Waktu itu, tujuh jam sebelumnya aku gosok gigi.” Yang dimaksud Mikkel adalah ciuman pada saat Mikkel datang ke rumah Lilian selepas subuh untuk memberi kejutan ulang tahun. “Ini aku nggak gosok gigi selama 24 ja….” Sebelum Lilian menyelesaikan kalimat, Mikkel sudah lebih dulu menempelkan bibir di sana.

Lilian sempat melotot sebentar, kaget karena Mikkel tidak memberi aba-aba. Tapi menit selanjutnya, dia sudah memejamkan mata dan ikut melepaskan kerinduan mereka. Tidak ada gunanya melawan, jadi lebih baik menikmati. Lilian bisa merasakan Mikkel tersenyum dalam ciumannya. Ciuman paling panjang dan paling dalam yang dia dapat selama satu tahun ini. Ciuman terbaik, kalau boleh dikategorikan. Mau tidak terbaik bagaimana, ini pertama kalinya mereka bertemu, setelah lebih dari tiga ratus hari.

Peduli setan orang mau bilang apa melihat mereka berciuman di tengah bandara padat begini. Mikkel sudah pernah menciumnya di Soekarno-Hatta. Di sini, di Eropa ini, orang lebih memaklumi—atau malah tidak peduli—dengan hal-hal semacam ini bukan? Otak Lilian berhenti bekerja lagi dan menikmati ciuman panjang ketiganya.

“See? I survived.” Mikkel tersenyum penuh kemenangan.

Ibu jari Mikkel menyapu bibir Lilian dengan lembut. Lalu kembali membungkam bibir Lilian yang sudah siap protes lagi. “I never get enough of you….”

Sulit dipercaya. Setelah belasan bulan bertarung dengan koneksi internet yang busuk, perbedaan waktu, urusan domestik— pekerjaan, keluarga, teman, dan masalah dalam negeri lain—serta masalah-masalah teknis atau non teknis lain, akhirnya mereka bisa bersama lagi. Mengulang ciuman untuk keempat kali. Airport kisses are the best.

Plus, rekor baru dalam sejarah perjalanan mereka. Berciuman di dua negara berbeda. Denmark dan Indonesia.

####

Selengkapnya silakan baca pada novel karya Ika Vihara, Midsommar.

Pembelian dengan bonus Midnatt, silakan menghubungi e-mail novel.vihara@gmail.com

 

My Bookshelf

MEMELUK OKTOBER

Oktober, setahun yang lalu

Aku rindu hujan. Meski aku benci hujan. Hujan dan kamu. Hujan pernah mengiringi salah satu kebersamaan kita. Ketika aku sudah bisa berdamai dengan waktu, malam mingguku tak lagi kugunakan untuk mengingatmu dengan air mataku, walaupun aku juga tidak bisa mengingatmu sambil mengulas senyum.

***

Saat itu, pertama kalinya dalam hidupku aku mau mengajak lelaki kencan di malam minggu. Aku? Tak habis pikir siapa kamu bisa membuatku berbuat begitu. Istimewa ya kamu?

Tidak tahu apa yang sedang kupikirkan saat aku mulai mengetikkan pesan singkat Sabtu malam itu.

Keluar yuk!

Bukan karena aku sedang bosan, atau aku tidak ada kerjaan. Saat itu aku malah sedang berada di ruang karaoke, bersama dua kawan. Kawanku tentu saja bisa dipakai untuk teman malam mingguan, tidak perlu mengajak kamu. Mungkin saat itu aku terbawa pengaruh lagu galau.

Setelah menekan tombol send, detik berikutnya aku harap-harap cemas. Cemas apa kau mau menerima atau menolak ajakanku. Aku? Cemas? Biasanya selama ini aku yang membuat para lelaki, yang berniat mendekatiku, mempunyai perasaan itu. Lihat, lagi-lagi, kamu istimewa bukan?

Dan aku seolah ingin bertepuk tangan ketika kamu menjawab.

Ke mana?

Sedetik kemudian aku sudah mengirimkan balasan paling memalukan

Malam mingguan.

Dunia pasti menertawakanku, aku bukan remaja lagi. Rasanya sudah basi kalau aku membutuhkan kegiatan malam mingguan, dan aku pula yang menawarkan kencan.

Boleh. Kapan dan ke mana, You decide.

Nah, cupid-cupid bodoh dalam hatiku pun ikut bersorak kegirangan mengetahui kamu mengiyakan ajakanku. Kukirimkan pesan lagi. aku perlu menanyakan ini.

So, get me here, as usual?

Langsung ada balasan lagi.

Aku kepingin naik Mio. Di kampusku ya, jam 6?

Oh! Bahkan aku mengiyakan saat kamu memintaku untuk menjemputmu, setengah jam dari sekarang, di kampusmu yang jauh letaknya dari tempatku berada saat ini.

Kalau kamu tahu, semenit kemudian aku sibuk mengalkulasi waktu yang kuperlukan. Aku hanya punya 30 menit sebelum pukul enam. Masih harus pulang dan berdandan. Dan masih harus membuat diriku repot dengan menjemputmu. Tapi tidak sia-sia, kan, aku berdandan habis-habisan dulu, sebelum menemuimu?

”Kamu keliahatan segar dan cantik.”

Pujianmu itu sudah membayar semua hal tolol yang kulakukan sejak aku mengirimimu pesan singkat itu. Aku berharap kamu tidak menganggapku agresif karena aku berani mengajakmu berkencan.

Acara pertama kita, makan dan duduk bersama. Kamu mendengarkan aku bercerita. Sembari menikmati makan malam di bawah langit kota Surabaya yang berhias bintang redup, bintang yang sepertinya sudah malas bercahaya.

“Aku nggak suka kubis.” Aku mendorong tanganmu yang berusaha menyelundupkan kubis ke piringku.

“Jangan pilih-pilih makanan!” katamu, memaksaku, sambil tetap memindahkan kubis-kubis itu.

“Hah! Sok sekali kamu itu ya, mengaturku begitu.” Aku cemberut dan menusuk kubis itu dengan garpu. Hal-hal sepele itu, menurutku manis, meski menyebalkan. Lalu kamu akan menanggapi protesku dengan mengusap lembut puncak kepalau.

“Kita makan hampir tiga jam di sana,” katamu sambil tertawa.

Memang aku lambat dalam urusan makan. Salahmu sendiri punya kecepatan makan 10 kali lipat ketimbang kecepatan makanku. Dan seingatku kamu pernah bilang, “Aku senang-senang aja nungguin kamu makan.” Jadi tidak ada masalah, kan, aku makan berlama-lama sambil bercerita?

Aku selalu mengisi waktu kita dengan bercerita. Seperti biasa pula, kamu mendengarkan dan mengingat semuanya. Semuanya! Ah, itulah kenapa aku mencintaimu. Sampai sekarang juga kamu pasti masih ingat semua apa yang selalu kuceritakan, kamu memang benar-benar istimewa.

“Sekarang kemana?” Pertanyaanmu membuatku memutar bola mata. Aku tidak sempat merencanakan akan pergi ke mana. Ke mana saja boleh bagiku, asalkan bersamamu.

“Madura!” Aku menjawab setengah berteriak. Biasanya aku menghabiskan malam minggu dengan nonton midnight, nongkrong di gerai es krim, atau apa saja yang dilakukan manusia normal di malam minggu. Bukannya mengajakmu pergi ke seberang pulau. Tetapi kamu menanggapinya dengan membelokkan Mio putihku menuju jembatan Suramadu.

Mungkin aku kampungan. Baru pertama kali itu aku pergi melewati Suramadu pada malam hari, di malam minggu dan dalam keadaan sedang berkencan. Dan kita menikmatinya pelan-pelan sambil sedikit membicarakan masa depan. Menyeberang jembatan, dan kedatangan kita disambut hujan.

Bersamamu di bawah gerimis terasa menyenangkan. Berteriak panik sekaligus kegirangan karena bisa bermain hujan. Lalu kamu menarikku untuk berteduh di warung tenda ketika hujan mulai membesar. Dan petir mulai menyambar.

Aku hampir saja tidak bisa menahan senyumku, karena kamu yang mengingat dengan baik bahwa aku tidak suka lumpur, berusaha menarikku berjalan melewati tanah yang masih kering. Tapi menit berikutnya aku cemberut karena kamu sibuk berbasa-basi dengan orang asing. Menanggapi pertanyaannya dan malah asyik bercerita dengan mereka mengenai macam-macam yang tidak penting.

“Dingin?” Setelah beberapa saat akhirnya kamu bertanya kepadaku.

Aku menggelengkan kepala. Padahal aku sangat kedinginan. Mungkin seperti ini yang disebut merajuk. Aku mamandang segelas kopimu. Pasti enak hujan-hujan begitu minum kopi. Sayang aku tidak bisa minum kopi. Kurasakan kmau merapatkan tubuhmu, mendekat ke tubuhku, dan melepaskan jaketmu.

“Pakai ini ya?”

Aku sedikit terkesima dengan sikapmu itu. Apa aku terlihat menggigil? Aku menggeleng, menolak menerima jaket itu.

“Lain kali kamu harus bawa jaket.” Kamu membantuku mengenakan jaket yang kebesaran itu.

Sudah sering kamu bilang agar aku membawa jaket kemana-mana, tapi aku tidak suka. Aku lebih suka jaket yang kamu pinjamkan kepadaku, baunya itu bau kamu. Aku suka.

Dan suka dengan banyak waktu yang kuhabiskan bersamamu malam itu. Aku suka menikmati hujan bersamamu. Aku mau menukar hangatnya selimutku dengan dinginnya udara tetapi aku bersamamu. Seperti ini.

Tiba-tiba aku berharap hujan tidak reda, agar waktu bisa kita nikmati berdua saja. Rasanya tak akan habis hal-hal yang bisa dibicarakan malam itu.

Tetapi waktu terus berlalu.

***

Tengah malam.

Hujan tak kunjung reda. Kamu merasa aku sudah lelah dan saatnya beristirahat di rumah. Sebenarnya aku sudah membayangkan hangatnya meringkuk di bawah selimut sedari tadi. Tapi bersamamu begini tidak kalah hangat. Malah jauh lebih hangat. Sampai ke dalam hati.

Lima belas menit kemudian aku dan kamu mendebatkan hal manis lagi, jas hujan merahku. Saat itu jam tanganku sudah menunjukkan dini hari, pukul satu.

“Kamu pakai ini ya?” Kamu meletakkan jas hujan merah itu di dekatku.

Kamu melepaskan kemeja dan memberikannya kepadaku juga. Aku melotot tidak percaya. Kamu sudah meminjamkan jaketmu, sekarang kemeja dan kamu hanya menggunakan kaos hitam yang sangat tipis itu.

“Kamu saja yang pakai. Aku di belakang dengan baju setebal ini? Aman saja.” Aku menunjukkan kemeja dan jaketnya yang sedang kupakai, meyakinkannya.

“Nanti kamu sakit.” Kamu bersikeras memberikan jas hujan merah itu kepadaku.

Aku menggelengkan kepala. Meskipun aku juga mempertanyakan kekuatan fisikku sendiri, tapi aku rasa kamu lebih membutuhkan jas hujan merah itu.

“Besok kamu tes kerja, aku nggak mau merasa bersalah karena kamu flu dan tidak bisa ikut.” Aku mendorong kembali jas hujan merah itu ke arahmu.

Kamu memandangku, dan memilih berhenti mendebatku. Ekspresi mati di wajahku selalu bisa membuatmu menurutiku.

Menembus hujan badai, aku menikmati hangatnya punggungmu. Aku memeluk pinggangmu. Rasanya aku rela menukar kehangatan selimutku dengan punggungmu selamanya.

Tiba-tiba aku berharap lagi, agar perjalanan ini tidak berakhir. Aku suka bersamamu, memelukmu. Aku tidak peduli kamu merasakan yang sama atau tidak.

Sepertinya Tuhan sedang memperhatikan kita, decitan rem yang kamu tarik mendadak membuatku menyesali doaku tadi. Hampir saja kita celaka.

“Maaf!” teriakm di antara deru hujan.

Aku memilih tidak menanggapi. Suara gemeletuk gigiku pasti akan membuatmu khawatir. Tanganku yang kebas karena dingin masih memegangmu erat-erat. Dalam hati aku terus merapal doa, semoga kita selamat, masih banyak hari-hari yang akan kita lalui bersama esok.

Akhirnya setelah bersama hujan di sepanjag perjalanan, kamu memandangku cemas, ketika berdiri di depan pagar rumahku. Aku basah kuyup, bibirku biru, dan suaraku yang bergetar melawan dingin yang menusuk hingga ke tulangku.

Just go, I’ll be fine.” Aku tersenyum dan meyakinkanmu.

Kamu tak beranjak juga. Aku juga tahu badanku tidak sedang baik-baik saja. Tapi semua bukan salahmu, aku yang menyarankan pergi ke seberang pulau. Siapa sangka hujan lebat menyertai kita.

“Kamu masuk dan ganti baju, ya.” Kamu tersenyum dan menyentuh lenganku.

Aku menurutimu. Lalu berhenti untuk mengintipmu dari balik pintu, hingga kau berlalu. Malam ini, aku tahu dengan pasti bahwa aku mencintaimu.

***

Oktober, hari ini

Aku seperti berjudi. Taruhannya waktu. Untuk memenangkan hatimu. Aku telah siap di sini, jika nanti semua sia-sia, dan aku hanya memenangkan sepi. Semua berawal dari malam minggu itu. Cerita tentang cinta, rindu, percaya, perpisahan, dan penantian. Tepat malam ini setahun yang lalu.

Seandainya tahun lalu tidak ada iseng-iseng mengobrol hampir setiap malam di setelah malam minggu itu, di sela-sela kesibukanmu mengerjakan tugas akhirmu, di antara perjuanganku melawan rasa kantukku. Hanya untuk sekadar melepas kangen yang menghimpitku.

Seandainya aku tidak iseng mengirimimu ucapan selamat atas kelulusanmu. Seandainya aku tidak mengiyakan ajakanmu untuk pergi berkencan, dengan alasan merayakan ini itu. Seandainya aku berhenti di malam minggu setahun lalu.

“Kamu cuek sekali kalau sama aku.” Aku masih ingat protes kerasmu beberapa bulan yang lalu.

“Masa?” Aku tersenyum simpul. Tentu aku berbuat begitu, untuk melihat apakah kamu akan memilih berhenti atau terus maju. Untuk mendapatkanku.

“Iya. Kalau sama teman-temanku kamu mengobrol ramai sekali,” jawabmu.

Bodoh. Tentu saja karena kamu berbeda, umpatku dalam hati.

Tidakkah kamu ingat aku selalu mengatakan bahwa kamu selalu membuatku kehilangan kemampuan berkata-kata.

Akhir-akhir ini aku tidak bisa banyak berkata-kata saat bersamamu. Karena aku terlalu sibuk mengurusi debar jantungku. Agar tak terdengar sampai ke telingamu.

Jika aku menghentikan komunikasi denganmu setahun yang lalu, tentu tak akan ada bulan Oktober yang sangat menyesakkan ini, menurutku.

Tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap kebersamaan kita. Dan kamu mengaku juga iya. Walaupun kamu tidak pernah menyinggung mengenai cinta.

Masih jelas di kepalaku apa-apa yang kamu katakan. Masih jelas dalam ingatanku tempat-tempat yang sudah kita ukir menjadi kenangan.

“Am I a good girl?” Saat itu aku bertanya kepadamu, ketika aku sudah hampir lelah menunggumu menyadari perasaanku.

“Exactly you are. And for me, you are the best girl I’ve ever known. You’re one in million.

Jawaban yang keluar dari mulutmu jelas jawaban yang tidak kuduga. Tidak kuduga kamu akan mengatakan begitu. Kamu mengatakan dengan lembut sekaligus tegas. Bahkan aku yang biasa mendapatkan pujian dari lelaki, masih harus menundukkan kepala agar kamu tidak melihat rona merah di pipiku. Hanya karena kata-katamu.

Masih terasa bagaimaa rasanya kamu menggenggam tanganku saat pertama kali, masih kuingat pula pertama kali aku memeluk pinggangmu. Aku mengingat lebar punggungmu, mengingat wangi tubuhmu. Holding your hand means holding a whole world for me.

“Ada suatu tempat yang ingin kukunjungi,” katamu tiba-tiba, setelah aku tidak bisa menanggapi kata-kata paling manis darimu.

“Kota mana?” Aku mengernyitkan keningku.

“Bukan kota.” Jawabanmu membuatku bertambah tidak mengerti.

“Lalu?”

“Nggak tahu bisa ke sana atau tidak.”

“Ke mana sih?”

“Ada deh.”

Kamu berhasil membuatku mati penasaran.

“Nggak kasih tahu aku?”

“Nanti kalau aku sudah sampai di sana.”

Aku memilih diam dan mendoakan apa pun yang kamu harapkan, bisa kamu wujudkan. Tapi jika betul terjadi, maukah kamu mengajakku? Rasanya seperti kamu hendak meninggalkanku. Ke tempat yang ingin kamu kunjungi itu. Dan aku semakin merana karena tahu kamu memilih tidak membawaku.

Inilah yang akhirnya membuatku menyimpulkan kamu bukan jawaban yang dimaksud Tuhan. Cintaku hanya akan bertepuk sebelah tangan.

***

“Ingat tempat yang ingin kukunjungi?” tanyamu tiba-tiba.

“Luar negeri? Dalam negeri?” sahutku, sudah tidak terlalu tertarik dengan lagi.

Ke mana pun kamu pergi, kamu tetap tidak akan membawaku bersamamu, kan?

“Tebak dulu!” Kamu tidak mau langsung memberitahu, seperti biasa.

“Jakarta?”

Kamu menggelengkan kepala.

“Italia?”

Kamu menggelengkan kepala lagi. ”Tempatnya jauh lebih berharga.”

“Kamu bilang akan memberitahu kalau sudah mengunjunginya.”

Aku sudah sampai di sana,” jawabmu, terdengar puas dan bangga.

“Di mana?” Aku tak mengerti, seingatku kau tidak pergi ke mana-mana. Ah, ya, walaupun aku tidak selalu tahu, karena kamu tidak perlu selalu meminta izinku.

“Hatimu,” jawabmu singkat.

Hampir berhenti detak jantungku. Aku membisu. Kembali sibuk menenangkan debar jantungku. Dan menyembunyika senyum lebarku. Aku yakin kamu milikku. Tapi jawaban-jawabanmu yang di luar dugaan selalu bisa membuatku merasa tersanjung di saat-saat yang tidak kuduga.

“Dari dulu aku ingin masuk ke hatimu. Aku tidak menyangka aku bisa ada di situ. Jadi izinkan aku tetap di situ, ya?” Kau mengatakannya sambil metapaku dan menggenggam tanganku.

Aku benar-benar membiarkan air mataku jatuh, air mata yang menetes karena terharu. Kamu milikku. Benar-benar milikku.

Tidak ada lagi jarak yang menjauhkanmu dari detak jantungku, aku mengangguk dan berbisik dalam hati.

Sungguh, kamu bisa memegang kata-kataku.

***

Aku dilanda sesuatu yang, ah … seolah memabukkanku. Kamu. Hingga sekarang pun kamu masih seperti candu.

Sampai saat ini, satu tahun setelah hari itu, kamu boleh memegang kata-kataku. Tempat berharga itu masih milikmu. Walaupun kamu memilih pergi, meninggalkan hatiku dan membuang cintaku. Saat kamu kembali, kamu boleh menempati tempat paling berharga di hatiku.

Malam ini, sembil menatap bintang paling terang di langit, aku berbisik kepada angin dingin bulan Oktober, sambil memeluk diriku sendiri, “Kudengar kamu di sana sudah bahagia sekarang, memiliki semua apa yang diinginkan orang. Kamu jaga diri baik-baik disana ya! Semoga Tuhan menetapkan kebaikan di mana saja kamu berada.”

####

Catatan:

Cepen ini kutulis pada tahun 2010, enam tahun sebelum buku pertamaku, My Bittersweet Marriage, terbit. Dan cerpen ini pernah diterbitkan dalam bentuk antologi pada tahun 2011.

Baca juga:

The Dance of Love