Thing That Makes Me Happy

Jangan Pernah Hapus Naskahmu!

 

Seperti yang kukatakan dalam novel Savara, ditolak merupakan salah satu ketakutan terbesar manusia. Saat melamar kerja atau minta izin kepada orangtua, pasti dalam hati tebersit kekhawatiran bagaimana nanti kalau tidak diterima atau tidak diizinkan. Meskipun sudah sering ditolak berkali-kali, tetap saja hati kita nggak akan pernah siap 100% untuk legowo menerima penolakan berikutnya. Berbagai macam cara kita lakukan untuk menghibur diri bahwa kejadian itu bukan akhir dari segalanya. Masih ada hari esok dan ketika kita berusaha, hasil yang akan kita peroleh akan lebih baik.

Ketika memutuskan untuk menjadi penulis, aku tahu bahwa naskah ditolak penerbit adalah salah satu tahapan yang harus kulalui—dan mungkin sebagian besar penulis lain—dan nggak bisa kuhindari. Begitu bangga dan bahagianya aku menyelesaikan satu naskah, yang menurutku bagus, aku segera menulis sinopsis dan proposal. Harap-harap cemas menunggu berbulan-bulan dan aku mendapat e-mail yang menyatakan bahwa penerbit tidak bisa menerbitkan naskahku. Dua minggu aku mencoba berdamai dengan penolakan pertamaku. Setelah itu aku membaca ulang semuanya dan membuat perbaikan. Juga belajar membuat sinopsis. Plus mendaftar ikut pelatihan menulis. Setelah itu, masih juga naskahku ditolak di sana-sini. Satu setengah tahun berlalu untuk proses menunggu dan berharap ini.

Menyerah bukan pilihan. Aku mengistirahatkan naskah tersebut dan menulis naskah baru. Setelah yakin dan mendapat saran dari teman sesama penulis, kukirimkan kepada penerbit. Setelah menunggu tiga bulan, akhirnya diterima. My Bittersweet Marriage, buku pertamaku, terbit juga.  Editor memintaku untuk menyiapkan buku berikutnya dan aku mulai menyusun ancang-ancang untuk menulis lagi. Tentu saja naskah itu nantinya diterbitkan sebagai buku keduaku, When Love Is Not Enough.

Meski sudah bernaung di bawah satu penerbit, aku masih rajin mengirimkan naskah ke penerbit lain. Sudah punya basis pembaca dan pernah menerbitkan buku bukan jaminan naskah akan mudah diterima. Aku masih tetap ditolak-tolak juga. Seperti sebelumnya, naskah-naskah yang ditolak kusimpan dengan baik. Selain itu aku juga rajin ikut lomba menulis. Naskah-naskah yang tidak menang, aku simpan juga.

Aku tahu ada beberapa orang yang memutuskan menghapus naskah mereka karena terlalu menyakitkan melihat bukti kegagalan tersebut. Atau sebagai bentuk pelampiasan dari rasa kesal. Bisa juga karena menganggap karya yang mereka hasilkan nggak berharga. Kalau kalian ingin melakukan hal yang sama, JANGAN! Kalau sudah terlanjur melakukan, JANGAN LAGI!

Ketahuilah, berdasarkan pengalamanku, kalau kita yakin naskah kita bagus, alasan ditolaknya naskah kita bukan karena jelek. Tapi tak sesuai dengan yang dicari penerbit. Pada saat itu. Suatu saat nanti bisa jadi ada perubahan pada warna naskah yang dicari. Aku percaya setiap naskah punya rezeki masing-masing. Naskah-naskahku yang dulu ditolak itu, kini dua naskah sudah diterbitkan. Dengan tetap mengusahakan segala cara tentu saja. Bahkan aku pernah ikut acara bincang kepenulisan, kemudian ada teman yang aktif bergerak di bidang literasi mengenalkanku dengan seorang editor yang tengah. Setelah ngobrol, aku memberanikan diri minta nomor WhatsApp. Temanku sampai terkejut. Tapi karena dikasih, aku simpulkan beliau nggak keberatan. Bulan berikutnya aku mengirim pesan, bertanya apakah beliau mau membaca naskahku. Ternyata beliau suka dan semua mengalir sesuai keinginanku.

Pengalaman terbaruku, tahun 2018 lalu aku menulis naskah dan mengikutkan untuk lomba. Sayangnya naskahku tidak masuk dalam 5 terbaik. Hingga bulan ini, aku tidak memiliki rencana apa-apa untuk naskah tersebut. Sampai aku mengirimkan kepada Kak Jia Effendi dan beliau memberi kesempatan untuk naskah Surat Terakhir Dari Rovaniemi setelah membaca sinopsis dan isi naskah.

Bagaimana jadinya kalau naskah-naskah tersebut kulupakan atau kuhapus hanya karena aku sangat kecewa ditolak terus oleh penerbit? Pasti akan semakin lama lagi aku menerbitkan buku.

Sepanjang tahun 2013 hingga tahun 2019, aku banyak menulis naskah. Ada yang selesai. Sebagian besar tidak selesai. Hanya dapat lima atau enam bab, lantas macet. Tidak ada yang kuhapus. Karena semua naskah tersebut bisa didaur ulang. Ketika menulis naskah baru, aku cari-cari apakah ada bagian-bagian dari naskah lama—yang tidak terbit, yang tidak selesai—yang bisa kugunakan. Jadi aku tinggal salin dan tempel, cukup membantu mempercepat proses penulisan.

Aku pernah membaca tulisan Erin Bow. Katanya tidak ada tulisan yang sia-sia. Layaknya petani yang mengalami gagal panen karena tomatnya busuk semua dan memanfaatkan tomat tersebut sebagai pupuk. Atau pembuat keju yang mengepel lantai menggunakan air dadih sisa produksi. Tulisan kita juga sama. Selain terus mencari kesempatan untuk menerbitkan, kalian juga bisa menggunakan kembali bagian-bagian naskah untuk membuat sesuatu baru.

Punya naskah ‘belum berhasil’ seperti yang kusebutkan di atas? Rajin-rajinlah membaca dan mengingat garis besar isinya. Supaya ketika menulis naskah lagi, sudah tahu harus mencuplik yang mana. Supaya cepat nambah jumlah kata dan kita merasa ringan melanjutkan. Itu aku. Semakin semangat kalau melihat tulisanku sudah panjang. Ingin segera menulis kata tamat.

Jika kalian semua tengah berjuang menembus penerbit terbaik pilihan kalian, sedang sering-seringnya ditolak, selalu ingatlah bahwa kualitas tulisan kalian semakin meningkat bersama kegagalan-kegagalan tersebut. Asalkan kalian selalu ingat untuk terus mencari di mana kurangnya dan memperbaikinya. Yang penting lagi, jangan pernah berhenti. Tetaplah menulis meski pembaca kalian cuma satu: diri kalian sendiri.

Thing That Makes Me Happy

THE LITTLE MATCHMAKER

Sebuah Cerita Pendek oleh Ika Vihara

Banyak orang bilang aku punya sembilan nyawa. Meski mereka tidak pernah tahu sekarang nyawaku tinggal berapa. Sering juga orang mengatakan aku pandai mengelabui malaikat pencabut nyawa. Aku tidak mudah mati, katanya. Bahkan beberapa dari mereka percaya aku bisa hidup selamanya. Ah, manusia. Seandainya aku bisa bicara bahasa mereka, aku akan meluruskan semua pemikiran tidak masuk akal itu.

Sama dengan mereka, aku hanya punya satu kesempatan hidup. Tetapi, berbeda dengan manusia yang rapuh—fisik dan mentalnya, aku sangat kuat. Kecelakaan yang membuat tulang manusia patah, hanya akan membuat tubuhku pegal-pegal. Ini bukan karena aku punya sembilan nyawa. Baca buku banyak-banyak, manusia, jangan sibuk membaca status orang lain di media sosial. Sebagai hewan yang tidak manja, anatomi tubuhku diciptakan untuk mengakomodasi itu. Luas permukaan tubuhku lebih besar dibandingkan dengan berat badanku, jadi benturan tidak akan mudah membuatku terluka parah. Otot dan tulangku lebih lentur daripada milik manusia, sehingga aku bisa bergerak lebih cepat menghindari kecelakaan. Tuhan menakdirkan aku untuk hidup di pohon, karena itu aku memiliki keahlian untuk menghindari jatuh. Atau jika aku harus jatuh, aku akan mencari posisi jatuh yang paling aman. Refleksku bagus sekali, manusia tidak akan pernah bisa menandingiku.

Meski aku kuat begitu, bukan berarti manusia boleh seenaknya menyiksaku. Menelantarku. Seperti mereka, aku punya hati dak tidak suka diberi harapan palsu. Sering manusia berjanji akan selalu merawatku dan menyayangiku, tapi setelah mereka bosan, mereka meninggalkanku di tempat yang tidak kukenal. Di mana aku tidak tahu arah pulang. Majikanku yang lama melakukannya. Mereka meninggalkanku di pinggir jalan tanpa alasan.

“Mumu!”

Uh, aku benci sekali nama itu. Kalau aku bisa bicara, aku akan memberitahu Kazia—majikanku selama sepuluh tahun ini—bahwa dulu namaku adalah Isadora. Hanya karena Kazia cantik dan harum—aku suka setiap dia memelukku—juga sangat baik hati, aku mengizinkannya memanggilku Mumu.

“Mumu?”

Aku menggeliat dan tidak bergerak dari posisiku di kasur di depan televisi. Ya, Kazia yang berhati baik itu membuatkanku kasur setelah menyatakan akan membawaku pulang. Sampai sekarang aku masih ingat hari itu. Hari di mana aku resmi menjadi anggota keluarga ini. Tidak, aku tidak mengeong, mengiba-iba supaya orang membawaku pulang. Meski susah—sebab terbiasa hidup di dalam rumah—selama tiga hari aku berjuang melawan kerasnya dunia. Termasuk menghindari satu kucing hitam besar yang ingin memerkosaku.

Waktu itu aku sedang duduk di depan toko, berteduh menghindari gerimis. Perutku lapar, tidak ada sisa makanan di tempat sampah di sekitar toko. Aku belum bisa menangkap binatang—tikus atau apa—sebab aku terbiasa diberi makan. Tidak ada yang mengajariku dan aku tahu, kalau ingin hidup lebih lama, aku harus segera belajar. Karena tidak tahu harus berbuat apa untuk menghilangkan lapar, hari itu aku memilih untuk tidur. Ketika aku membuka mata beberapa saat kemudian, di depanku sudah berjongkok seorang bidadari yang sangat cantik. Kukira aku sudah mati karena kelaparan hari itu. Gadis cantik di depanku terus bicara padaku, mengatakan bahwa sama sepertiku, dia juga tengah merasa sendirian. Bahwa dia baru pulang dari memakamkan ibunya.

Karena tidak ingin membiarkan gadis cantik itu menangis seorang diri, aku mengikutinya sampai ke sini. Malam itu Kazia bercerita banyak padaku, mengenai dukanya dan aku mendengarkan semuanya. Tidak tahan melihatnya banjir air mata, aku mulai menari-nari dengan konyol. Seumur hidup belum pernah aku berusaha berdiri dengan dua kaki selama lebih dari lima menit. Seperti yang sudah kuduga, Kazia tertawa. Gadis itu lebih cantik saat tertawa.

Seminggu kemudian aku membawakannya hadiah. Seekor tikus yang susah-payah kutangkap. Makhluk tidak berguna itu sudah lama berkeliaran di gudang dan membuat ayah Kazia kesal setengah mati. Bukannya berterima kasih padaku, Kazia malah menyuruhku melepaskan tikus itu. Dengan alasan kasihan. Kurasa bodoh dan baik hati hampir tidak ada bedanya. Tetapi karena Kazia yang meminta, aku menuruti. Untungnya sampai hari ini tidak ada lagi tikus yang berani tinggal di sini.

“Kamu sakit?” Kazia duduk di lantai di sebelah kasurku dan menggaruk punggungku.

Nikmat sekali. Aku mendesah dan membalik badan.

Aku tidak sakit, aku hanya merasa tua. Dalam hati aku tahu umurku tidak akan lama lagi. Kucing tidak hidup selamanya. Bahkan umur kami lebih pendek daripada manusia.

“Kita sudah lama bersama, Mumu, aku nggak ingin kamu pergi dan aku sendirian lagi di sini.” Jemari Kazia yang sangat halus menggaruk perutku. “Jadi kalau kamu sakit, kamu harus kasih tahu aku. Supaya kita bisa segera mencari obatnya.”

Kazia sudah kehilangan ibunya. Lima tahun kemudian, dia kehilangan ayahnya. Kakak laki-lakinya tinggal di negara yang sangat jauh. Kalau aku harus mati juga, siapa yang menemani Kazia? Saat seperti ini aku benar-benar berharap aku punya sembilan nyawa.

Kazia berdiri dan berjalan ke kamar. Tidak lama kemudian, dia sudah ganti baju dan bergerak ke dapur. Biasanya aku duduk di bawah meja makan, menunggu Kazia menjatuhkan makanan manusia yang yang sangat kusukai. Meski belakangan Kazia bersikeras ingin mengatur dietku. Diet. Aku tidak perlu diet. Meski tua dan selalu makan enak, aku tetap merasa seksi, tidak kelebihan berat badan, sebab aku suka bergerak ke sana kemari. Namun kali ini aku terlalu lelah untuk mengekori Kazia. Aku memejamkan mata dan memikirkan cara bagaimana aku bisa mendapatkan teman yang setia untuk Kazia, ketika aku mati nanti. Tidak mungkin aku melahirkan anak. Karena Kazia sudah menutup kesempatan itu. Gadis ini punya banyak kasih sayang dan cinta dalam dirinya. Sayang sekali jika orang lain—atau hewan lain—tidak mendapatkan kesempatan untuk menikmatinya.

Huaaammmmm … Aku menguap lebar dan memutuskan untuk memikirkan itu besok. Satu yang pasti. Lebih baik Kazia hidup serumah dengan manusia—laki-laki kalau bisa—daripada bersama kucing tua sakit-sakitan sepertiku.

***

“Kamu bukan kucing liar,” kata seorang laki-laki muda yang berjongkok di sampingku. “Tubuhmu terlalu bersih. Dan kamu pakai kalung. Rumahmu di mana?”

Tadi aku menghabiskan hari dengan berkeliling dan saat menuju rumah Kazia, hujan turun. Aku berteduh di sini, di atas keset sebuah rumah berdinding merah muda. Dulu seorang nenek tinggal di sini dan nenek itu baik sekali padaku. Suka memberiku makan dan minum. Juga mengizinkanku tidur siang di keset tebal dan empuk ini. Sering nenek itu bercerita mengenai banyak hal padaku. Tidak seperti manusia, aku pandai menjaga rahasia. Selain itu aku adalah pendengar yang baik. Kata Kazia, pendengar yang baik adalah orang yang memperhatikan apa yang dikatakan lawan bicaranya dan tidak menyela. Setelah sang nenek meninggal, rumah ini kosong. Meski begitu aku masih suka mampir. Anak laki-laki ini aku tidak tahu siapa. Baru pertama kali kutemui. Tetapi aku tahu dia orang baik. Iya, aku bisa menilai seseorang adalah kawan atau ancaman dengan sekali lihat. Karena aku memang hebat seperti itu.

Aku ingin pulang, tapi aku lelah. Sebentar lagi gelap dan Kazia pasti panik mencariku. Ah, aku teringat kalung di leherku. Dulu Kazia memesan kalung ini khusus untukku. Laki-laki muda tersebut mengerti ketika aku menegakkan tubuhku dan menyodorkan leherku padanya.

“Ah, namamu Mumu.” Dia membaca papan kecil berbentuk kepala kucing di leherku. Kazia menuliskan alamat singkat dan nomor teleponnya di sana. Meski aku belum pernah tersesat, aku harus mengakui bahwa Kazia sangat cerdas.

“Kamu tinggal di dekat sini.” Melihatku lemas tidak bertenaga, laki-laki itu tersenyum dan mengangkat tubuhku. “Baiklah, baiklah, aku akan mengantarmu pulang.”

Dengan begini aku bisa menghemat tenaga. Siang tadi aku hanya makan sedikit. Gigiku sakit sekali. Mungkin besok Kazia akan membawaku ke dokter, kalau dia tahu. Biaya dokter tidak murah, aku tahu. Tetapi kadang aku tidak bisa menahan rasa sakit dan membiarkan Kazia tahu. Sebab sudah kehilangan kedua orangtuanya karena sakit, Kazia seperti tidak mau menganggap remeh gejala sakit yang kurasakan.

“Mumu!” Kazia berlari menyongsong ketika laki-laki muda itu melangkah ke teras rumah. “Ke mana saja kamu? Bikin khawatir aja.”

“Dia tidur-tiduran di teras rumah nenekku.” Laki-laki muda itu yang menjawab.

Mereka saling bertatapan. Aku menggelengkan kepala. Orang yang sedang menggendongku ini jelas sedang terpesona kepada Kazia. Laki-laki mana yang tidak? Kazia menurunkan padangannya dan tersenyum tersipu. Percaya padaku, ini adalah awal yang sempurna bagi jalan hidup kedua orang ini. Kecuali kalau laki-laki ini sama berengseknya dengan mantan pacar Kazia. Yang menikah dengan sahabat Kazia tepat tiga bulan setelah ayah Kazia meninggal. Pada hari itu Kazia kehilangan sahabat dan kepercayaan terhadap cinta. Tidak pernah lagi Kazia tertarik untuk berteman dekat dengan siapa pun. Kecuali denganku, yang tidak akan pernah menyakiti dan mengkhianatinya.

Kalau sampai laki-laki ini menyakiti Kazia, aku akan mencakar mukanya. Tidak akan kubiarkan Kazia hidup berlinangan air mata seperti itu lagi. Kali ini aku akan memberi laki-laki ini kesempatan untuk membuka hati Kazia. Sebab aku tidak ingin Kazia menghabiskan sisa hidupnya sendirian dan aku tidak mungkin bisa menemani sampai Kazia tua.

“Terima kasih sudah membawa Mumu pulang.” Kazia mengulurkan tangan dan mengambil-alih untuk menggendongku. “Apa … kamu tinggal di sekitar sini?”

Aku bangga pada Kazia yang kembali menemukan kemampuannya berbicara. Tidak melongo seperti orang dungu hanya karena sedang jatuh cinta.

“Baru seminggu. Di rumah nenekku. Rumah nomor 23.”

Perutku lapar, teriakku. Anak-anak muda ini bisa pacaran besok-besok. Sekarang kucing tua yang lelah ini lebih membutuhkan makanan dan tidur lebih cepat.

“Sudah waktunya Mumu makan malam. Apa….” Kazia menelan ludah. Kebiasaan jika dia sedang gugup. Untung dia terlihat semakin terlihat cantik saat sedang gugup. Dengan tidak sabar aku menunggu apa yang akan dia katakan. “Apa kamu mau ikut makan bersama kami?”

“Sebagai ucapan terima kasihku … karena … kamu mengantarkan Mumu.” Cepat-cepat Kazia menambahkan, sebelum laki-laki muda di depannya buka suara.

***

“Mumu! Mumu, lihat kami beli apa untukmu?” Suara riang Kazia terdengar begitu pintu rumah terbuka.

Aku sudah tidak tertarik lagi dengan apa pun yang diberikan Kazia padaku. Waktuku sudah semakin dekat. Yang kupikirkan sekarang adalah bagaimana caranya mati tanpa harus membuat Kazia menangis. Air mata Kazia adalah satu-satunya hal yang tidak ingin kulihat. Mungkin aku akan bangkit dari kubur untuk menghapusnya, jika sampai dia menangis tersedu-sedu di hari kematianku.

Selama ini aku tidak menunjukkan kepada Kazia rasa sakit yang menjalari seluruh tubuhku. Tidak ada gunanya pergi ke dokter. Memang usiaku hanya akan sampai di sini. Tidak akan bisa diperpanjang lagi.

Kazia dan Hale—laki-laki yang mengantarku pulang lima bulan lalu—mendekati kasurku dengan membawa benang yang digulung membentuk bola berwarna merah. Dulu aku suka sekali bermain benang bersama Kazia. Sekarang, aku lebih suka tidur.

“Kamu ngapain aja seharian ini, Mumu? Kenapa kamu selalu capek setiap aku pulang?” Kazia menggaruk punggungku. “Mumu, aku ada kabar baik dan kabar buruk. Kamu mau dengar yang mana?”

Terserah. Aku punya kabar yang lebih buruk, jawabku.

“Kabar baiknya … aku dan Hale ingin menikah.” Kazia mengangkat tubuhku dan memamerkan senyum lebarnya tepat di depan wajahku.

Bukan pekerjaan mudah menjodohkan kedua orang ini. Hampir setiap hari aku harus berjalan—terseok-seok dengan tenaga seadanya—ke rumah nomor 23 dan memaksa Hale untuk mengantarku pulang. Setelah aku kenyang dan tidur karena kelelahan, Hale dan Kazia duduk di teras. Dari tempat tidurku di samping televisi, aku bisa mendengar dengan jelas suara tawa mereka.

“Kabar buruknya, aku harus meninggalkanmu tiga hari, karena Hale dan aku akan mengunjungi rumah orangtuanya,” lanjut Kazia. “Kamu akan di rumah sendirian. Tapi aku sudah meminta Leila untuk datang ke sini setiap hari. Menyiapkan makanan dan minumanmu.”

Kenapa Kazia tetap memperlakukanku seperti anak-anak? Yang perlu dijaga orang dewasa. Dalam dunia kucing, aku sudah termasuk nenek-nenek. Pengalaman hidupku sudah banyak. Aku bisa hidup sendiri. Baiklah, kalau dengan menugaskan orang untuk menjagaku membuat hati Kazia tenang, aku tidak akan mengeluh. Tidak semua kucing diberi perhatian seperti ini oleh manusia. Betapa beruntungnya aku di usia senjaku, aku mendesah.

Hale tertawa melihatku kembali meringkuk dan siap mendengkur. Satu tangannya mengelus kepalaku dan tangan lainnya memeluk Kazia. Aku bahagia karena Kazia sudah menemukan belahan jiwanya. Gadis terbaik di seluruh dunia itu berhak mendapatkan laki-laki yang sama baiknya. Sejak membawa Hale ke rumah ini untuk pertama kali, aku sudah tahu dia adalah laki-laki yang tepat untuk Kazia. Bagaimana aku tahu? Itu rahasiaku dan manusia tidak perlu tahu.

***

Lebih baik aku mati kalau bernapas saja sakit sekali seperti ini. Lebih menyakitkan lagi melihat tatapan sedih Kazia. Kurang dari sebulan lagi gadis terbaikku ini akan menikah. Seharusnya dia menghabiskan waktunya dengan penuh harapan dan kegembiraan. Bukan duduk di samping kandangku dan membelai perutku. Kalimat-kalimat lembut penuh cinta terus keluar dari bibirnya. Aku berusaha memberitahunya bahwa aku selalu mencintainya. Bahwa aku akan terus menjaganya meski aku tidak lagi ada di dunia ini. Kazia tidak akan sendiri mengantarku pergi. Sudah ada Hale yang menggenggam tangannya dan mereka akan selalu bersama hingga maut memisahkan mereka.

Sungguh aku berharap aku bisa mengatakan kepada Kazia bahwa dia adalah manusia terbaik yang pernah kutemui sepanjang hidupku. Di dunia ini, aku tidak tahu apakah ada kucing lain yang seberuntung diriku. Dihujani dengan kasih sayang dan cinta oleh seseorang seperti Kazia. Ketika aku berkeliling di sekitar sini, aku melihat banyak teman-temanku menderita. Mereka ditelantarkan dan disiksa. Dipisahkan dari anak-anak mereka. Menderita sakit berkepanjangan. Kami adalah makhluk yang kuat, aku pernah bilang. Tetapi kami tetap memiliki batas. Sebab kami bukan Tuhan. Seandainya saja semua manusia bersikap seperti Kazia. Tidak perlu memelihara teman-temanku di rumah mereka. Mereka hanya perlu meletakkan makanan di sana dan di sini untuk teman-temanku. Hal penting lain yang dibutuhkan teman-temanku adalah kebiri—sesuatu yang tidak bisa kami lakukan sendiri—supaya populasi kami tidak terus meningkat.

Kadang-kadang manusia berpikir untuk apa menolong hewan ketika banyak manusia yang masih memerlukan pertolongan. Kenapa pula memberi makan binatang, saat banyak orang yang masih kelaparan. Masih banyak gelandangan, kenapa harus memikirkan rumah untuk seekor kucing? Manusia, kalian bisa berbicara, kalian bisa berpikir, dan kalian bisa bekerja. Semua itu adalah modal dasar untuk hidup. Kalian diciptakan untuk mengubah nasib kalian sendiri. Seburuk-buruknya hidup kalian, kalian masih bisa meminta makanan kepada orang lain. Kami? Kalau tidak ada sisa-sisa makanan atau hewan-hewan kecil yang bisa kami temukan, kami akan hidup dalam keadaan lapar selama berhari-hari. Sebab sekeras apa pun kami mengemis, manusia tidak akan paham apa yang kami butuhkan. Kalau aku punya kemampuan untuk bicara dan berpikir layaknya manusia, aku akan rajin belajar, aku akan berlatih keterampilan, lalu mengubah nasib.

“I love you, Mumu,” bisik Kazia.

“I love you too, Kazia.” Jika aku diizinkan mengucapkan kalimat terakhir dalam bahasa manusia, aku ingin mengatakan bahwa Kazia tidak hanya cantik wajahnya, namun hati dan perangainya juga. Selamanya aku ingin Kazia mempercayai satu hal itu.

Harapan terakhirku sebelum aku mati, aku ingin teman-temanku di luar sana sempat bertemu dengan seseorang yang sama luar biasanya dengan Kazia.

Terima kasih untuk semuanya, Kazia….

Wajah cantik Kazia semakin mengabur. Lalu semuanya semakin menggelap. Ada seorang anak perempuan kecil tengah menungguku di depan sana. Tidak jauh. Hanya di seberang sungai. Dia tersenyum lebar sekali, memamerkan gigi yang rapi dan putih. Ada lesung pipit di kedua pipinya. Mata anak itu mengingatkanku pada Kazia. Aku tidak tahu dia siapa, mungkin majikan baruku di kehidupan selanjutnya.

Lututku tidak lagi sakit. Kepalaku tidak lagi berat. Mataku bisa melihat dengan baik. Napasku kembali teratur.

Selamat tinggal, Kazia….

Sore ini Hale menggali lubang dalam-dalam di bawah pohon mangga besar di halaman rumah Kazia. Salah satu tempat favoritku, selain pelukan dan pangkuan Kazia. Setiap siang, jika tidak berkeliling, aku senang tidur-tiduran di sana.

“Supaya tidak ada yang mengganggu Mumu di peristirahatan terakhirnya,” alasannya.

Sambil tersenyum pedih Kazia melepaskan kalung di leherku.

“Dia bebas sekarang dan dia boleh memilih nama yang dia sukai,” kata Kazia. “Sering aku merasa … aku bisa mendengar Mumu protes karena nggak suka dengan nama yang kupilih.”

Untuk terakhir kali Kazia melarikan jari-jarinya di atas bulu-buluku—sebelum Hale menimbun tubuhku dengan tanah—dan berdoa semoga di surga aku bisa mendapatkan ayam goreng kesukaanku. Saking sukanya, aku pernah mencuri sepotong ayam dari piring Kazia. Selama lima menit Kazia menguliahiku, bahwa sebagai kucing yang beradab aku harus meminta dengan sopan jika menginginkan sesuatu. Lalu Kazia menggerutu karena merasa gagal mendidikku. Tetapi Kazia selalu memaafkanku, karena dia adalah gadis terbaik di seluruh dunia.

“Hari di mana aku menemukan Mumu di teras rumahku dan aku membawanya ke sini adalah salah satu hari terbaik dalam hidupku.” Aku belum terlalu jauh melangkah menuju kehidupan selanjutnya ketika aku mendengar suara Hale. “Seminggu pertama di kota ini aku merasa kesepian. Aku belum punya teman. Mumu adalah teman pertamaku. Berkat Mumu juga, aku bertemu kekasihku.”

“Mungkin itu tugas terakhir dari Tuhan untuk Mumu.” Kali ini suara Kazia yang sangat kusukai terdengar. “Dia nggak pernah membiarkanku sedih sendirian. Kamu lihat, Mumu, aku nggak menangisi kepergianmu. Aku sedih. Aku kehilangan sahabat terbaikku. Tapi aku nggak akan menangis. Karena kamu nggak suka melihatku menangis. Kami akan selalu mengingatmu dan selamanya berterima kasih padamu. Ah, Hale…..”

“Ya?” Hale meremas tangan Kazia.

“Kalau aku memelihara kucing lagi, kucing kampung seperti Mumu, apa kamu tetap akan mau menikah denganku?” Mendengar pertanyaan Kazia kepada Hale, aku tertawa. Sudah pasti Hale akan memenuhi apa saja yang diminta Kazia.

Setelah mengucapkan selamat tinggal untuk terakhir kali, Kazia dan Hale berjalan menuju teras rumah dengan bergandengan tangan. Tugasku di dunia sudah selesai. Sambil tersenyum lebar aku meloncat ke pelukan gadis kecil berbaju putih yang menungguku dengan tangan terbuka. Aku sudah menyiapkan hadiah istimewa, yang akan kukirimkan nanti tepat di hari pernikahan mereka.

END

 

Teman-teman, bukan tanpa alasan aku menulis cerita pendek ini. Cerita ini kutulis spesial untuk Mumu. Aku sertakan foto Mumu di atas. Mata Mumu hanya berfungsi sebelah. Mumu adalah salah satu kucing yang beruntung sebab dia hidup bersama seseorang yang amat menyayanginya. Namun sayang, ada banyak Mumu-mumu lain di luar sana yang tidak seberuntung itu dan membutuhkan bantuan kita. Memang kita tidak bisa menampung semua kucing di rumah kita. Juga kita tidak bisa memberi makan semua kucing di negara ini. Namun, kita bisa mencegah peningkatan populasi kucing. Saat ini temanku sedang melakukan kebiri untuk kucing-kucing di sekitar tempat tinggalnya. Biaya yang diperlukan untuk sekali kebiri adalah Rp 150.000. Dana untuk kebiri bersumber dari tabungan pribadinya.

Apa yang bisa teman-teman lakukan untuk membantu Mumu-mumu lain?

  1. Kalian bisa mengebiri kucing-kucing di lingkungan kalian masing-masing
  2. Kalian bisa berdonasi melaui Kita Bisa << klik
  3. Bagikan tautan cerita ini melalui media sosial kalian, instant messenger(WhatsApp, Line, dsb), bulletin board di sekolah, maupun media lain.

Terima kasih karena sudah mau membaca cerita pendek ini. Salam sayang dariku dan Mumu.

Ika Vihara

Thing That Makes Me Happy

Dear Me

 

 

Engkau adalah inspirasi terbesarku.
Segala hal, sekecil apapun itu, bisa terlihat menarik ketika kamu memandangnya. Kamu selalu melihat jauh ke balik permukaan, menemukan sesuatu yang luput dari perhatian orang lain. Kamu tidak takut untuk menyampaikan perbedaan itu. Meski sebagai konsekuensinya, teman-teman dan orang-orang di sekelilingmumenganggapmu aneh.

Orang tidak habis pikir kenapa kamu tahan menghabiskan waktu berjam-jam sendirian hanya dengan melukis, menulis, atau hanya mencoret-coret kertas, sekadar menuangkan isi pikiranmu yang seperti tidak ada habisnya.

Namun kamu memilih tidak memedulikan mereka.

Terima kasih kepada orangtuamu yang selalu membacakan cerita ketika kamu belum bisa membaca. Terima kasih kepada orangtuamu yang bersedia membelikanmu buku-buku karena kamu selalu haus membaca. Saat itu anak-anak sebayamu jarang ada yang gemar membaca. Tetapi kamu berani menjadi berbeda.

Buku pertamamu berkaitan dengan alam semesta. Luar angkasa, samudera, dan sejenisnya. Tidak semua anak seberuntung dirimu dulu. Kegemaranmu membaca terus dipupuk oleh kedua orangtuamu. sehingga pada masa dewasamu, kamu memetik hasilnya.

Kamu tidak pernah mau menutupi kenyataan bahwa kamu tahu lebih banyak hal daripada teman dan orang-orang di sekelilingmu. Tak apa bagimu jika menurut mereka pengetahuan dan wawasan tidak akan bisa membuat perutmu kenyang. Nanti jika sudah sama-sama usia senja, kita akan bisa melihat siapa yang memiliki ingatan lebih tajam. Kamu atau orang yang tidak mau membaca buku tersebut.

Sekali lagi, kamu benar-benar beruntung. Aku, dirimu yang kini telah dewasa, berterima kasih untuk semua itu. Di sinilah dirimu sekarang. Sudah menerbitkan buku dan sedang menulis buku yang lain. Kamu tengah berusaha menambah sudut pandang orang lain terhadap cinta dan kehidupan melalui tulisanmu.

Kamu menghadapi banyak tantangan. Kadang kamu ragu apakah upayamu ada manfaatnya. Kamu berjuang. Kamu bekerja lebih keras daripada orang lain karena kamu tidak punya modal apa-apa.

Jalan yang kau lalui akan semakin terjal. Mungkin akan perlu waktu lama dan mengubah arah untuk menuju cita-cita. Sepanjang jalan kamu berkenalan dengan banyak orang. Beberapa tetap menjadi temanmu, tapi lebih banyak yang melupakanmu. Apa pun itu, kamu akan sampai di sana. Aku bangga padamu. Kamu beruntung bisa mengerjakan apa yang kamu sukai.
Semua akan baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Jangan menyerah.
Vihara
Uncategorized

Aku dan Impostor Syndrom

 

Semenjak memutuskan untuk menjadi penulis, published author, pada tahun 2016 dan menerbitkan buku melalui penerbit mayor, aku menyadari impostor syndrom perlahan muncul dalam diriku. Pada waktu aku nggak memulai proses tersebut dengan mudah. Ada orang-orang yang iri padaku, ada orang-orang yang membenci keberhasilanku, bermacam-macam tanggapan buruk yang kudapat. Semuanya bukan tentang bukuku, bukan tentang tulisanku, melainkan mengenai pribadiku. Sering aku dapat informasi dari teman, di forum sana aku diomongkan begini, di forum sini aku dikabarkan begini. Keadaan tidak mengenakkan tersebut masih diperparah oleh pendapat keluarga besarku. Banyak dari mereka mengatakan aku hanya buang-buang waktu menulis cerita-cerita khayalan. Lebih baik aku menggunakan waktu untuk mendesak laki-laki yang mendekatiku supaya menikahiku. Lima ratus buku yang kujual selama lima hari tidak ada artinya. Ya memang 500 buku itu sedikit, tapi bagiku yang belum pernah menjual buku, otu rekor.

Aku mulai rajin meragukan kemampuan dan kualitasku dalam menulis. Memang banyak orang memberikan pujian dan reviu positif, antusiasme pembaca juga tak menurun. tetapi tetap saja aku tidak yakin apakah aku sudah berada di dunia yang benar. Banyak penulis yang lebih hebat dariku, yang tulisannya lebih memukau. Lebih baik orang memakai uangnya untuk membeli karya mereka. Pikiran seperti itu terus menghantuiku. Pada saat buku keduaku hendak terbit, impostor syndrom tersebut semakin membuatku sulit melangkah. Dari berbagai reviu, orang mengatakan bahwa buku keduaku jauh lebih baik dari buku pertama. Kata mereka aku semakin lincah menulis, semakin dalam menggali emosi–membuat pembaca menangis lalu tersenyum bersama Lilja dan Linus.

Tetapi bukannya bersemangat segera menulis naskah selanjutnya, aku malah nggak tahu harus melakukan. Ada beberapa target yang kutetapkan, tetapi ketika tak tercapai, aku merasa ingin berhenti berusaha karena aku merasa nggak mampu. Seberapa bagus pun karyaku—atau apa pun yang kulakukan, hanya kekecewaan yang kudapati pada akhirnya. Aku berpikir orang-orang di sekitarku tentu meragukanku, membicarakan kegagalanku dan mengatakan kepada anak-anak mereka supaya realistis saja, jangan sampai melakukan kebodohan sepertiku.

Ketika melihat orang lain berprestasi, atau sukses, aku kagum dan mengucapkan selamat. Tapi dalam hati aku merasa nggak akan bisa melakukan hal yang sama. Aku tidak merasa iri. Hanya semakin merasa tidak bisa. Rasanya tiap hari aku hanya mempaving jalan menuju kegagalan. Semakin hari aku semakin tenggelam dalam lubang hitam bernama keraguan-raguan. Buku ketigaku dan seterusnya memang tetap terbit dan aku berusaha membuat buku selanjutnya lebih baik daripada sebelumnya.

Karena sadar impostor syndrom ini tidak baik untuk kewarasanku, aku memulai langkah-langkah kecil untuk memperbaiki cara berpikirku. Dalam sebuah buku jurnal, aku menulis kalimat-kalimat positif dari teman-teman yang kuterima melalui media sosial, WhatsApp, atau e-mail, mempercayai orang-orang yang memberiku tugas—sebab mereka tahu kemampuanku meski aku merasa tidak layak untuk tugas tersebut, berhenti membandingkan diriku dengan orang lain, mendaftar kelebihanku plus pencapaian yang harus kusyukuri, menyadarkan diriku bahwa kegagalan adalah bagian dari kehidupan, dan berpura-pura sukses sampai aku benar-benar sukses.

Bagaimanapun caranya aku harus yakin pada diriku sendiri. Sebab jika aku sendiri tidak yakin, bagaimana orang lain akan percaya? Oleh karena itu, resolusi tahun 2019-ku yang paling utama berkaitan dengan impostor syndrom yang kuderita. Di tahun baru aku ingin mencintai, menghargai, dan merawat diriku sendiri. Meski, nggak terkira banyaknya cinta, penghargaan, dan perhatian yang kudapat dari orang-orang terdekatku, kalian semua, dan sumber-sumber lain di luar diriku. Selama ini aku selalu berharap orang lain mencintai, menghargai dan perhatian padaku. Semua hanya karena aku lupa melakukan semua itu untuk diriku sendiri.
Semestinya aku sadar, bahwa cinta, penghargaan, dan perhatian dari orang lain bisa memudar. Jika itu terjadi, yang tersisa hanya aku, seseorang yang sering meragukan diri sendiri. Makanya tahun baru nanti aku ingin memperbaiki diri di dalam.
Memang tahun 2019 dan seterusnya aku akan tetap memiliki orang-orang yang mencintaiku dan membuatku bahagia. Namun aku ingin salah satu dari orang-orang tersebut adalah diriku sendiri.
Thing That Makes Me Happy

Berhenti Menulis

 

14 November 2018. Pukul 23.27. Aku mengatakan kepada seseorang bahwa aku ingin berhenti menulis. Seseorang tersebut tertawa, nggak menanggapi serius apa yang kukatakan. Dia hanya melambaikan tangan dan mengatakan, “I have a feeling after a few weeks you will reach out for the pen again. Writing runs in your blood.”

Aku sendiri nggak tahu kenapa aku sampai bisa mengeluarkan kalimat seperti itu. Seseorang tersebut selalu benar. Rasanya aku nggak bisa membayangkan aku akan menyebut diriku apa, selain penulis. Tanpa sebuah karya, aku hanya manusia biasa. Dan aku ingin menjadi lebih dari biasa.

Keinginan untuk berhenti menulis bukan muncul karena nggak ada yang mau membaca tulisanku. Bukan. Selama ini aku selalu bersyukur aku punya jumlah teman yang cukup banyak yang bersedia mengeluarkan uang untuk membeli bukuku. Sesuatu yang sungguh kuhargai. Banyak penulis lain yang lebih hebat dariku, yang lebih terkenal, tulisan mereka jaminan bagus, namun ternyata beberapa orang masih bersedia memberi kesempatan untuk tulisanku, penulis kemarin sore ini.

Aku ingin berhenti menulis bukan karena aku nggak punya ide lagi. Tabungan ideku masih banyak. Sebuku penuh. Bahkan saat mengatakan aku ingin berhenti, aku punya dua tabungan naskah. Satu sedang direviu oleh seorang editor independen, mantan editor di sebuah penerbit besar. Lainnya sedang kuendapkan. Writer’s block nggak pernah menjadi masalah bagiku.

Lantas kenapa aku ingin berhenti? Karena aku lelah. Menerbitkan buku memang menyenangkan. Tetapi pada waktu bersamaan, melelahkan. Lepas menulis, tugasku nggak selesai. Aku harus mencarikan bukuku rumah baru, di rak buku teman-teman sekalian. Iya, itu namanya promosi. Apa yang harus kulakukan untuk promosi sungguh menghabiskan energi. Aku membagikan cerita gratis untuk mengenalkan tulisanku, harus memikirkan bahan untuk diunggah di media sosial. Sebab pendapatanku sebagai penulis masih kecil–setelah dikurangi biaya riset dan sebagainya untuk menulis, aku nggak bisa menyewa fotografer atau media content creator. Semua kukerjakan sendiri. Pendapatan royalti kusisihkan untuk membeli laptop dengan double processor, tablet gambar, dan kamera yang bagus. Ada waktu-waktu yang harus kupakai untuk belajar Photoshop dan Illustrator secara mandiri. Untungnya banyak orang yang membagi ilmu melalui situs berbagi video maupun blog-blog.

Aku nggak pernah mengeluhkan proses tersebut selama ini, karena aku memang suka belajar hal baru. Tetapi karena aku manusia biasa, ada masa di mana aku berharap aku hanya perlu menulis dan tugas lainnya dikerjakan orang lain. Supaya energiku nggak habis. Agar aku bisa menggunakan waktu untuk lebih banyak lagi membaca buku. Suatu saat mungkin akan tercapai, kalau bukuku laku sejuta kopi.

Ah, aku ingat sesuatu. Dosenku saat kuliah dulu, salah satu supervisorku saat aku mengerjakan undergraduate thesis, bertanya padaku mengenai penulisan dan penerbitan naskah fiksi. Aku merasa tersanjung, sebab ternyata ada orang yang mengamati perjalanan karierku sebagai seorang penulis dan merasa aku pantas untuk dimintai sedikit pengetahuan. Kepada beliau, dengan jujur aku mengatakan bahwa proses menulis, menerbitkan, mempromosikan dan seterusnya sangat melelahkan.

Bukan aku berniat menakut-nakuti penulis baru. Banyak penulis yang lebih baru dariku malah lebih terkenal dan mendapatkan pendapatan yang lebih besar, sehingga bisa mencari orang yang bisa membantu mereka untuk promosi dengan imbalan tertentu. Rezeki orang selalu berbeda dan aku tahu apa yang kudapatkan nggak mencerminkan apa yang orang lain akan dapatkan. Bisa jadi kalian viral di media sosial lalu menjadi populer dalam waktu satu malam. Atau satu bulan. Atau ada jalan lain.

Tahun depan, aku merasa aman jika aku berhenti menulis selama setengah tahun. Ada dua naskah yang bisa diterbitkan. Kalau rasa lelahku sudah hilang dan rasa rindu untuk menulis datang, aku akan mulai lagi.

 

 

Uncategorized

NEW BOOK: SAVARA

Dari sampul belakang buku:

“Aku berusaha untuk membalas perasaanmu, Darwin. Aku belum pernah merasa dicintai sedalam ini, oleh laki-laki.”
Supaya Darwin percaya, ingin sekali Vara bisa membalas kalimat cinta dari Darwin. Hanya satu kalimat. Aku juga mencintaimu. Tapi satu kalimat itu bahkan terlalu susah untuk keluar dari mulutnya. Karena kalimat itu tidak ada di dalam hatinya.
“Katakan padaku, Vara, apa yang harus kulakukan? Kadang-kadang aku merasa sulit sekali untuk mendapatkan hatimu.”
Hanya perlu satu tatapan mata, satu senyuman, satu tawa dan satu jam bercakap-cakap dengan Savara untuk membuat Darwin jatuh cinta. Darwin sempurna kehilangan hatinya setelah pertemuan ketiga. Tidak ada pilihan baginya selain memiliki Savara.
Namun Savara berulang kali meminta waktu. Sebab dia tidak mau memulai sebuah hubungan jika belum jatuh cinta. Sayangnya Darwin tidak tahu apakah dia sanggup menunggu lebih lama lagi.
BAB I SAVARA

Langkah Darwin terhenti saat mendengar suara Lea, keponakan kesayangannya, sedang ribut minta es krim. Kakinya sudah akan melangkah mendekati mereka ketika dia melihat Lea melintas digendong seorang gadis. Bukan Daisy, kakaknya, ibunya Lea. Tetapi seorang gadis cantik yang sedang tertawa lalu duduk di kursi memangku Lea. Darwin sudah siap menyaksikan adegan seorang gadis, dengan wajah kesal, marah-marah dan berteriak karena Lea merusak gaunnya yang sempurna. Gaun berwarna mint itu memang sempurna sekali untuk tubuhnya, ditunjang warna kulitnya, rambut hitamnya, tawanya  Darwin mengumpat menyadari dirinya sedang terpesona dengan seorang gadis yang baru pertama kali dilihatnya.

“Ah! Hahaha … Tante kedinginan kalau Lea jatuhin es krimnya di baju Tante.“

Tidak. Gadis itu tidak bereaksi seperti dugaannya—melipat wajah dan menggerutu—tetapi malah tertawa lalu mengelap bajunya dengan tisu. Wajahnya ketika  tertawa…. She laughs with her whole face. Darwin semakin terpukau. Seandainya saat ini malam hari dan gelap gulita, Darwin yakin seluruh ruangan ini akan tetap terang benderang di matanya. Her smile lights up the world. Or his world, to be exact. Darwin tidak bisa melepaskan pandangan dari gadis cantik itu.

Saat ini mendadak dirinya menyadari satu hal. Kenapa lagu cinta, novel, dan film roman menjadi industri yang keuntungannya mencapai miliaran dolar karena—pada satu titik tertentu—orang merasa hal-hal cengeng seperti ini menjadi sangat masuk akal. All people need love. All people need romantic relationship. Begitu juga dengan Darwin. Di waktu  yang tepat, ketika dia sedang tidak tahu di mana harus menemukan cinta, ada gadis yang menyedot perhatiannya. Gadis yang membuatnya lupa bagaimana cara bernapas.

“Cantik ya?”

Shit! You scared the hell…,” umpat Darwin, langsung berhenti saat melihat Daisy berdiri di sampingnya. Kakaknya, satu-satunya kakak yang dimilikinya, menikah dengan Adrien, kakak laki-laki dari pengantin wanita di resepsi kali ini.

“Mau kukenalkan? Biar bisa ngajak kencan.” Daisy tertawa pelan melihat adiknya sejak tadi tidak berkedip memperhatikan Vara.

Darwin tidak mengatakan apa-apa. Seandainya saja mengajak kencan seorang gadis bisa semudah itu. Menurut Darwin, ada beberapa pekerjaan sulit di dunia ini. Mulai dari memenangkan balap sepeda Tour De France dengan jarak tempuh 3.000 mil tanpa bantuan steroid dan obat dopping—banyak di antara pemenang itu selanjutnya diperiksa atau dibatalkan kemenangannya karena ketahuan curang—sampai pekerjaan sulit lain seperti memasukkan kembali pasta gigi yang sudah telanjur keluar ke dalam tube-nya. Di antara kedua pekerjaan mahasulit tersebut, ada pekerjaan yang tidak kalah sulit. Mengajak seorang wanita berkencan. Wanita istimewa yang benar-benar membuat jatuh cinta. Bukan wanita yang menjadi pengisi waktu luang atau untuk ditiduri lalu minggu depan berganti wanita lagi.

Kalau ada laki-laki di dunia ini yang mengatakan sebaliknya, bahwa mengajak wanita berkencan adalah pekerjaan paling mudah di dunia, semudah menekan tombol flush di toilet, menurutnya laki-laki itu hanya bermulut besar. Atau dia delusional.

“Apa kamu ada waktu hari Minggu nanti? Aku telanjur beli dua tiket konser dan temanku tidak bisa pergi.” Mengatakan ini sama dengan membuat laki-laki sengaja mengundang sebuah bencana hebat bernama penolakan. Bukankah ditolak adalah salah satu ketakutan terbesar manusia? Termasuk bagi laki-laki.

“Just go home and jerk off.”  Sebagian besar otak laki-laki memutuskan begini daripada mengambil risiko ditolak wanita.

Walaupun begitu, masih banyak laki-laki bernyali  untuk mengajak wanita berkencan. Sebab tetap ada kemungkinan—sekecil apa pun itu—wanita yang disukai juga menyukai mereka dan menerima ajakan kencannya.

Pandangan Darwin mengikuti Daisy yang melangkah mendekati gadis itu, yang hanya berjarak sepuluh langkah dari tempat Darwin berdiri. Sekali lagi gadis itu tertawa sambil mencium Lea yang kini digendong Daisy. Manis sekali. Kulitnya tidak putih seperti kulit Daisy. Itu yang membuatnya berbeda. Lebih memukau. Daripada gila karena gadis yang tidak dikenalnya, Darwin memutuskan bergerak mendekati Amia dan suaminya. Lebih cepat pergi dari sini lebih baik baginya.

“Selamat ya, Mia.” Darwin menyalami Amia lalu suaminya.

“Thank you…. Ah, Ini adiknya Kak Daisy. Namanya Darwin.” Amia mengenalkan Darwin kepada suaminya. “Eh, foto sekalian dulu kita,” ajak Amia.

“Tidak usah, Mia. Aku buru-buru.” Kalau mendatangi pesta pernikahan beramai-ramai bersama teman-temannya, Darwin dengan senang hati akan ikut berfoto. Kalau sendirian begini, berfoto bersama pengantin tampak menggelikan. Terlihat sangat putus asa sekali kalau dia harus berdiri di antara kedua mempelai.

“Kamu pasti dateng sendiri makanya nggak mau foto. Tapi…. ” Dan pintarnya, atau sialnya, Amia bisa menebak alasan sesungguhnya kenapa Darwin keberatan berfoto. “Vara! Sini!” Amia sedikit mengeraskan suaranya.

Kepala Darwin otomatis mengikuti arah pandangan Amia dan melihat gadis yang tadi bersama Lea mendekati mereka.

“Ada apa, Am? Ada yang bisa kubantu?” tanya gadis cantik itu—oke, baginya kata cantik susah ditinggalkan kalau menyangkut gadis bergaun panjang semata kaki itu—ketika sudah berdiri di dekat Amia.

“Ada. Foto, yuk. Temenin Darwin. Kasihan kondangan sendiri. Ini Darwin, adiknya Kak Daisy. Ini Vara. Savara. Mau, kan? Udah kucariin temen foto yang cantik begini.” Amia bicara dengan cepat lalu menarik Vara agar berdiri di sampingnya.

Darwin mengulurkan tangan untuk salaman dengan Vara sambil menyebutkan nama. Sementara gadis yang dikenalkan sebagai Vara itu hanya mengangguk sambil tersenyum samar. Mengecewakan. Tetapi tidak apa-apa. Setidaknya dia dan gadis itu bisa berada dalam satu foto. Meski tidak berdiri berdampingan, karena Darwin mengambil posisi di samping Gavin.

Vara lebih dulu meninggalkan mereka bertiga setelah sesi pemotretan selesai, ketika Darwin  bercakap sedikit dengan kedua mempelai. Saat mengamati sekelilingnya, Darwin melihat Vara sedang berdiri di samping meja empek-empek. Darwin tersenyum dan memutuskan untuk mengarahkan langkahnya ke sana.

“Keluarga Amia?” tanya Darwin setelah berdiri di dekat Vara.

“Teman.” Vara menerima semangkuk empek-empek dan mengucapkan terima kasih.

Darwin menyimpulkan Vara adalah salah satu anggota keluarga berdasarkan warna gaun Vara, yang sama seperti gaun yang dikenakan Daisy dan beberapa wanita di sini.

“Datang sendiri?” Darwin setengah berharap Vara tidak punya pasangan.

Vara tidak segera menjawab. Sepertinya hanya Vara yang merana sendirian di pesta pernikahan sahabatnya. Mata Vara menyapu ruangan dan tidak menemukan satu orang pun yang berdiri sendiri. Mendatangi kondangan sendirian itu menyedihkan. Saking menyedihkannya, sampai ada jasa sewa pasangan dengan tarif per jam sekian ratus ribu.

Catatan Penulis:

Sebelum membaca Savara, disarankan untuk membaca Bellamia dan Daisy Kedua cerita tersebut merupakan kisah dari dua sahabat Savara, Amia dan Daisy, yang banyak muncul dalam cerita Savara. Demi menghindari spoiler dan mengurangi keseruan.
Thing That Makes Me Happy

Di Balik The Dance of Love

Beberapa waktu yang lalu, seminggu sekali aku sempat mengunggah cerita The Dance of Love di sini. Kemudian, terhenti. Alasannya sepele dan lazim banget. Macet di tengah jalan. Aku nggak tahu gimana aku harus melanjutkannya. Bisa jadi karena aku salah start. Atau mungkin karena aku nggak bisa mengikuti outline yang kubikin. Kalau aku boleh menyebut, saat itu aku mengalami konstipasi dalam menulis. Di kepalaku ada banyak hal yang ingin kutulis, tapi meski kupaksa semua itu keluar dari kepalaku, tetap tidak bisa. Mirip seperti orang yang kesulitan, sorry, buang air besar.

Sebenarnya itu bukan kali pertama aku menulis cerita The Dance of Love. Dulu juga sempat pernah kutulis dan kuunggah. Nggak sanggup lanjut juga. Niatnya saat menulis cerita tersebut, aku ingin konsisten menulis seminggu dua ribu hingga tiga ribu kata. Nanti, dua puluh minggu kemudian, atau lima bulan, aku akan punya satu naskah utuh.

Tetapi itu semua nggak akan pernah terjadi. Sebab aku malah menunda-nunda menyelesaikan naskah. Hari Senin, kupikir besok aja, hari ini sudah capek. Besok malamnya, aku punya alasan lagi untuk menunda menulis. Begitu terus, malah akhirnya nggak nulis apa-apa.

Kemudian, aku memutuskan untuk kembali ke jadwal menulisku yang sebelumnya. Seperti ketika aku menulis My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, Bellamia, Midsommar, dan buku-bukuku yang lain. Dengan cara menulis setiap malam, sebanyak yang kubisa. Dalam waktu dua puluh hingga tiga puluh hari, The Dance of Love tersebut harus selesai.

Aku memulai menulis dari nol. Kurombak dari outline, deskripsi tokoh, semuanya. Tidak ada sedikit pun dari dua naskah terdahulu yang kupakai. Benar-benar kuawali dari halaman putih kosong. Berkali-kali aku bengong di depan laptop dan membatin, aduh apa lagi yang harus kutulis, bisa nggak aku menghasilkan seribu kata malam ini, dan macam-macam lagi.

Marathon menulis naskah seperti itu ada risikonya. Bisa bikin frustrasi karena kita seperti membuat diri kita sendiri dikejar deadline. Kalau sudah frustrasi, biasanya kata dan kalimat sulit sekali keluar. Atau kalau bisa, nggak akan natural. Cara menyiasatinya, begitu mulai tertekan, aku tinggalkan laptopku. Lalu ngobrol dengan keluarga, chatting dengan teman-teman,  nonton streaming badminton, membaca buku, dan cuma duduk-duduk di teras. Selama menulis, aku hampir menghilang dari media sosial, cuma muncul beberapa hari sekali untuk update.

Apa naskah The Dance of Love berhasil kuselesaikan? Ya, dalam waktu dua puluh satu hari. Hanya saja, aku merasa nggak puas. Seperti biasa. Setelah kuendapkan selama seminggu, aku membukanya lagi dan membaca ulang. Paragraf pembuka sudah pasti kuperbaiki. Lalu beberapa bagian di bagian tengah dan akhir.

Masih saja aku merasa nggak yakin dengan naskah tersebut. Rasanya aku banyak menulis paragraf deskriptif dan naratif. Meskipun kalimat-kalimat yang kubikin sudah lincah dan paragraf tersebut berperan mengalirkan cerita, aku agak ragu. Karena aku ingat, dulu aku pernah mengirim naskah ke penerbit, aku diminta untuk mengganti paragraf semacam itu dengan dialog. Alasannya sebab pembaca lebih suka buku yang banyak dialognya. Gundahlah diriku.

Tetapi alhamdulillah, aku punya guru dan panutanku, seorang editor yang hebat, Mbak Tari, yang bersedia membaca naskah tersebut dan memberiku masukan. Beliau belum mengirim balik naskah The Dance of Love kepadaku, tetapi sudah menyebut di status Facebook-nya bahwa …. she loves it.

Apakah aku akan mengunggah The Dance of Love di sini? Insyaallah, jika aku sudah menerima lagi naskahku dan masukan dari Mbak Tari sudah kulakasanakan.

My Books

Afnan Møller: An Interview

Afnan Møller adalah salah satu tokoh yang berarti dalam hidupku. Berkat dirinya buku pertamaku berhasil terbit dan kemudian menyusul buku-bukuku yang lain. Dalam banyak pesan yang kuterima melalui Instagram, Facebook, Twitter, e-mail, maupun WhatsApp, aku tahu bahwa teman-teman juga menyukai Afnan. Karena itu, ketika ada kesempatan, aku ‘mewawancarai’ Afnan dan mencari tahu bagaimana hidupnya dulu dan sekarang. Jalan yang kulalui berliku, aku harus menghubunginya melalui Instagram Hessa dan … di bawah ini kupersembahkan hasil ‘wawancara’ dengan Afnan beberapa hari yang lalu.

 

 

Good afternoon, Dr. Møller. Thanks for letting me interviewing you for all of your fans out there.

Afnan, please. Fans? Aku bukan artis atau apa. Hanya orang biasa.

Orang biasa? Mungkin menurut Hessa tidak.

Hessa. She is something, isn’t she? Sampai hari ini aku tidak pernah menyangka ada seorang gadis yang rela mengorbankan segalanya demi laki-laki sepertiku. Kalau mengingat betapa lamanya dia mengambil keputusan untuk menikah denganku, tentu permintaanku waktu itu sangat tidak mudah.

Aku lihat foto-foto Hessa di Instagram, sepertinya kalian baru pulang liburan dari tempat hangat.

Iya, musim panas ini Hagen memilih untuk ikut camp, science camp, because he is his father’s son, selama satu bulan dan kami baru ada waktu untuk liburan pada bulan Agustus. Hanya sebentar, tapi cukup bagi kami semua untuk mendapatkan cukup sinar matahari. Hessa masih aktif di sana? Aku sudah memperingatkannya untuk berhati-hati membagi kehidupannya kepada orang lain.

Hanya foto tempat-tempat yang dia datangi dan foto anak-anak. Bagaimana kabar Hessa sekarang?

Masih terus beradaptasi dengan Aarhus. Proses yang tidak akan pernah selesai. Tidak mudah pindah dari Indonesia, yang sudah dia tinggali sejak lahir sampai 27 tahun kemudian, ke sini. Hessa adalah wanita yang paling kuat di dunia, keteguhan hatinya sangat luar biasa. Dia tidak ingin menyerah memperjuangkan pernikahan kami. Seasonal Affective Disorder tidak membuatnya menangis minta pulang ke Indonesia. Kesepian dan kesenderian dia telan sendiri, hanya karena dia tidak ingin membebaniku.

Jadi, kamu pernah merasa terbebani?

Tidak sama sekali. Saat menikah dengannya, aku belum bisa mengatakan aku mencintainya. Karena, memang kamu memutuskan menikah dengan banyak pertimbangan, kecuali cinta. Hessa bukan beban, tetapi tanggung-jawab. Sejak melamarnya, aku sudah mengatakan bahwa aku akan memperlakukannya sebagaimana seorang suami memperlakukan seorang istri. Mau cinta atau tidak cinta, aku akan menyayanginya dan membahagiakannya. Meskipun, Hessa tidak merasakannya pada tahun pertama pernikahan kami. Mungkin karena aku tidak terlalu bisa menunjukkan. Orang tidak tahu betapa menderitanya Hessa pada masa itu.

Menderita seperti apa? 

Salah satu syarat yang kuajukan sebelum menikah adalah istriku harus mau pindah ke Aarhus dan tinggal di sini bersamaku. Dengan paksa aku mencabut akar kehidupan Hessa dan memindahkan ke tanah yang sama denganku. Di tanah ini, aku punya lebih banyak kehidupan daripada Hessa. Aku punya teman, aku punya pekerjaan, aku punya restoran favorit, aku punya segalanya. Tetapi milik Hessa semua harus ditinggalkan di Indonesia. Dia tidak punya siapa-siapa, tidak tahu harus melakukan apa, dia di rumah sendirian selama aku berada di kantor dari pagi hingga sore, bahkan dia tidak bisa berbahasa Denmark. Juga, aku salah memilih waktu untuk pindah ke Denmark. Menjelang musim semi. Cuaca dingin sekali dan hari semakin pendek. Tubuh Hessa menolak untuk menyesuaikan diri. Semua faktor tersebut berkumpul dalam tubuh Hessa dan dia jatuh sakit. Diagnosis dokter menunjukkan bahwa Hessa menderita Seasonal Affective Disorder dan tidak diperbolehkan hamil. Padahal menurut Hessa kehadiran seorang anak akan mengurangi rasa sepinya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengurangi penderitaan Hessa?

Menemaninya. Aku mengambil cuti dan menemaninya untuk mencari aktvitas-aktivitas luar ruangan. Seperti ke perpustakaan. Mengenalkannya dengan orang-orang yang berbagi kegemaran yang sama. Juga mencarikan guru untuk mengajarinya bahasa Denmark. Banyak orang yang mengatakan Hessa terlalu manja. Hanya mengandalkan diriku untuk menjalani hidup di Aarhus. Seharusnya dia travelling, mumpung berada di luar negeri. Percayalah, ketika anda semua dihadapkan pada posisi Hessa, travelling adalah sesuatu yang tidak akan ada pikirkan. Kecuali anda datang ke sini untuk jalan-jalan dengan berlindung di balik kata beasiswa. Prioritas Hessa bukan travelling. Melainkan mengenalku, memperkuat fondasi pernikahan kami, dan membangun rumah tangga di sini. Semua itu tidak akan tercapai jika Hessa sibuk travelling.

Berlindung di balik kata beasiswa?

Aku mengajar di universitas dan aku tahu cukup banyak mahasiswa mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri karena ingin jalan-jalan gratis. Orang-orang seperti itu tidak akan bertahan lama di dalam laboratorium yang kupimpin.

Oh, hahaha. Ada yang menanyakan, sebagai orang Denmark, kenapa namamu tidak ada Denmark-Denmark-nya? Tidak seperti kembaranmu, Mikkel.

Setiap orangtua tidak sembarangan memberi nama anaknya. Karena nama adalah doa. Kakekku orang Denmark dan menikah dengan wanita Maroko. Nenekku yang mengusulkan nama Afnan dan karena namanya baik, maka orangtuaku setuju. Sedangkan nama Mikkel dipilih untuk menghormati sahabat karib ayahku yang sudah meninggal.

Mumpung membicarakan masalah nama, apa arti nama Sofia bagimu?

Segalanya. Sofia adalah titik balik kehidupan kami. Baik sebagai pasangan maupun sebagai pribadi. Kami banyak beradu pendapat mengenai masalah kapan akan punya anak. Awalnya aku merasa bahwa fokus pada kesehatan Hessa jauh lebih penting daripada punya anak. Tetapi Hessa, wanita yang teguh hati itu, bersikeras memilikinya. Pada akhirnya kami belajar untuk mencari jalan tengah dan sama-sama bertanggung-jawab atas keputusan yang kami ambil bersama. Aku tidak pernah menyalahkan Hessa atas apa yang terjadi pada Sofia. Meski Hessa seringkali merasa bersalah dan mengganggap dirinya gagal sebagai seorang istri karena kejadian itu.

Di mataku kehidupan kalian sempurna.

Hessa yang sempurna. Aku jauh dari sempurna. Kalau ditanya siapa yang paling banyak berkontribusi untuk pernikahan kami, Hessa adalah orangnya. Semua penghargaan harus diberikan kepadanya.

Kamu sangat mengagumi dan memuja Hessa ya.

Tentu saja. Itu tugas seorang laki-laki sejati. Menyayangi dan memuja istrinya.

Untuk orang-orang yang belum menikah di luar sana, apa kamu menyarankan untuk mencari pasangan melalui perjodohan?

Tidak. Jalan untuk bertemu dengan belahan jiwa bermacam-macam. Kebetulan saja aku dan Hessa sama-sama setuju saat kedua orangtua kami mengusulkan untuk saling bertemu. Adikku, Lilja, menikah dengan Linus yang sudah dikenalnya sejak kanak-kanak. Kembaranku, Mikkel, punya banyak sekali teman wanita dengan berbagai macam latar belakang, siapa yang menyangka dia malah jatuh cinta pada Liliana, teman SMP Lilja. Tidak perlu mengambil pusing mengenai masalah tersebut. Jika sudah waktunya akan bertemu, bagaimana pun caranya. Tuhan punya skenario sendiri.

Tetapi kita bisa mengatakan bahwa kamu dan Hessa berhasil dan bahagia hingga sekarang.

Pemandangan yang indah didapatkan ketika kita berhasil mendaki hingga ke puncak gunung. Yang ingin kukatakan adalah, tidak semua kebahagiaan yang tidak didapat dengan mudah. Seringkali kita harus menghadapi jalan yang terjal, panjang, dan melelahkan terlebih dahulu. Menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, baik sebagai individu maupun pasangan, bersama dengan Hessa membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Tidak ada rencana untuk pulang dan mengabdi di Indonesia?

Bukan masalah penting tinggal di mana. Yang penting di mana pun aku berada, aku akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Berarti tidak?

Mungkin. Akar kehidupan Hessa sudah mulai tertancap di sini. Dia telah menyelesaikan master dan sedang menimbang-nimbang untuk meraih Ph.D, dia sempat bekerja sebagai guru, dan sekarang bersama teman-teman wanitanya di sini, dia mendirikan sebuah badan untuk membantu anak-anak di daerah konflik. Hagen nyaman dengan sistem kehidupan di sini. Pagi belajar di TK, siang hingga sore di daycare. Kehidupan kami sudah mulai stabil dan akan sulit membangun ulang di Indonesia.

Apa yang ingin kamu ucapkan pada Hessa?

Terima kasih sudah membuatku menjadi laki-laki paling beruntung sedunia. Anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat karena mewarisi nilai-nilai kehidupan darimu.

Terakhir, apa yang ingin kamu sampaikan kepada fansmu?

Aku masih tidak percaya mereka ada. Tetapi jika benar-benar ada, pasti kalian sudah mendengar kabar mengenai Hessa dan masa sulit yang harus dia hadapi setelah melahirkan Thea. Mungkin kalian sudah tahu bagaimana ceritanya. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian selalu mendoakan dan mencintai Hessa. Sehingga dia bisa semakin kuat dan akan bisa menghadapinya.

Oppsie, itu suara Hagen? Sepertinya dia memerlukan ayahnya. Terima kasih sudah berbagi denganku hari ini. Aku yakin ini akan mengobati kerinduan kita semua kepada keluarga kalian. Tolong sampaikan pada Hessa, kalau dia bersedia, aku ingin mengobrol dengannya juga.

####

Penting:

  1. Cerita Afnan dan Hessa bisa diikuti dalam novel My Bittersweet Marriage dan Midnatt.
  2. Wawancara di atas adalah hasil imajinasiku belaka.
My Bookshelf

Yth. Orangtua

Aku masih ingat apa yang dikatakan Rektor UGM saat mengukuhkan wisudawan dua tahun yang lalu. Pada waktu itu, Profesor Dwikorita Karnawati—sekarang kepala BMKG—menyampaikan kepada orangtua wisudawan yang hadir—kalau mereka menyimak—bahwa tantangan menjadi orangtua zaman sekarang adalah menambah wawasan dan memahami bahwa ada banyak, dan semakin banyak, pilihan profesi baru yang tidak ada ada pada zaman mereka muda dulu. Orangtua harus mau menerima bahwa anak-anak mereka tahu lebih banyak daripada mereka. Mudah saja bagi anak-anak untuk terinspirasi dengan orang-orang hebat di luar sana—terima kasih kepada internet—dan ingin mengikuti jejak mereka.

Zaman sekarang, setelah lulus kuliah, pilihan pekerjaan anak muda tidak lagi terbatas pada pegawai negeri sipil, pegawai BUMN, atau karyawan swasta. Meski seorang anak lulus dari jurusan akuntansi, jika dia ingin menjadi seorang toy photographer, tidak ada masalah. Ada banyak media tersedia untuk memajang dan memasarkan karyanya. Inti dari menuntut ilmu tinggi-tinggi bukan semata perkara ijazah. Tetapi, di antaranya, adalah mengubah cara bepikir dan membangun jaringan. Masalahnya, apakah semua orangtua akan baik-baik saja dengan pilihan karier anaknya? Apakah semua orangtua bisa menerima anaknya tidak mendapatkan gaji tetap pada ujung bulan? Banggakah orang tua menyebut bahwa anaknya bekerja dari rumah, self-employed, bukannya berangkat ke kantor setiap pagi dan pulang saat senja? Bahagiakah orangtua ketika anaknya tidak menjadi bawahan siapa-siapa, melainkan cita-citanya?

Tidak ada orangtua yang kutanyai terkait masalah ini. Aku hanya meneliti sekitarku. Orang-orang di dalam lingkaran keluargaku. Berdasarkan pengamatanku, jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah tidak. Jangankan mengenai karier, yang memutuskan kuliah di mana saja orangtuanya. Bagaimana sejak masuk SMA seorang anak sudah dicekoki doktrin bahwa selepas lulus nanti harus masuk sekolah kedinasan, supaya jadi pegawai negeri dan tidak pusing lagi mencari penghidupan. Sekolah sebentar saja sudah dijamin dapat gaji hingga uang pensiun. Boleh saja seorang anak bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil atau polisi, asalkan memang itu yang dia inginkan. Misalnya karena dia ingin mengabdi kepada negara. Bukan karena orangtua yang tidak ingin repot berlama-lama mendukung anaknya mengejar passion-nya.

Ada artikel di letgrow.org yang menuliskan hasil  sebuah survei. Tiga puluh dua persen remaja hidup dalam kesedihan dan ketidakberdayaan yang tidak berkesudahan. Penyebabnya adalah mereka tidak diberikan kesempatan untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi mereka. Sebisa mungkin orangtua mengusahakan anak mereka mulus hidupnya dari lahir hingga dewasa. Anak-anak  tidak dibiarkan untuk jatuh dan terluka. Sehingga tidak tahu bagaimana caranya bangkit lagi. Padahal, pemberian kebebasan berperan dalam membangun kemandirian dan ketahanan mental. Tugas orangtua adalah membimbing dan mengarahkan, betul. Memberi nasihat, benar. Kalau sampai mengontrol keseluruhan aspek hidup mereka, itu agak kebablasan.

Kebanyakan orangtua berpikir bahwa masa depan anak harus ditata sejak dini. Sejak kecil sudah disuruh berenang, bukan demi kesehatan, tapi demi bisa masuk polisi. Nanti SMP di sini, supaya bisa SMA di sana, di SMA pilih jurusan A, supaya mudah nanti masuk sekolah kedinasan. Akibatnya apa. Nilai rapornya tidak terlalu bagus untuk ikut babak pertama seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Sebab selama sekolah, anak berpikir toh nanti yang dipakai hasil tes masuk. Ketika teman-temannya sudah mengamankan kursi di perguruan tinggi terbaik dengan rapornya, anak mereka masih harus menunggu seleksi nasional. Yang tidak diikuti dengan sepenuh hati, pilihan jurusan diisi sembarangan, yang paling tidak banyak peminatnya, karena nanti juga akan ditinggal saat diterima sekolah kedinasan.

Sayangnya, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Gagal masuk kedinasan. Jurusan yang dipilih di perguruan tinggi negeri bukan yang diinginkan. Sedangkan orangtua sudah kadung memakai uang untuk membeli rumah ketiga dan mobil baru. Permintaan untuk masuk perguran tinggi sesungguhnya sudah ditutup sejak awal, oleh orangtuanya sendiri. Yang tidak rela mengeluarkan uang untuk pendidikan anaknya. Sebab kuliah juga tidak akan menjamin mendapatkan pekerjaan, jadi kenapa uang dibuang-buang.

Yang dimaksud dengan tidak mendapatkan pekerjaan di sini adalah pekerjaan tradisional, yang kusebutkan di atas. Bakat anaknya adalah menggambar dan anaknya ingin masuk jurusan terkait. Meski sudah diberi banyak contoh orang-orang yang hidup nyaman dari menggambar—palaeoartist, skeletal drawer, scientific illustrator, dan sebagainya, sudah ditunjukkan Shutterstock dan tempat lain di mana para ilustrator menjual karyanya, sudah diberi tahu bahwa sekarang galeri seseorang bukan lagi di dalam ruangan—melainkan di media sosial, dan untuk menggambar komik superhero tidak harus tinggal di Amerika, tetap saja orangtuanya bergeming. Tunggu tahun depan untuk ikut tes sekolah kedinasan lagi. Menyedihkan sekali nasib anak itu. Dia hanya bisa termangu ketika teman-temannya mulai mengepakkan sayap mengenal dunia baru. Nanti saat dia reuni sepuluh tahun yang akan datang, saat teman-temannya menceritakan keberhasilan mewujudkan cita-cita, apa yang akan dia katakan? Dia hanyalah korban dari pemikiran orangtuanya yang tertinggal tiga dekade di belakang.

Orangtua zaman sekarang tidak lagi bisa bersembunyi di balik kalimat bahwa mereka tahu lebih banyak dan lebih baik sebab sudah hidup lebih lama. Sudah pernah muda dan sebagainya. Zaman sudah berbeda, ada pengalaman mereka yang tidak relevan lagi. Sedangkan wawasan anak lebih luas, sebab melalui media sosial saja, dia bisa melihat alumnus sekolah yang sudah sukses di luar bidang tradisional. Mendirikan start-up misalnya.

Bisakah kita menjadi orangtua berpikiran terbuka? Sebab kemajuan zaman akan semakin pesat dan pilihan profesi akan semakin beragam. Bisakah kita mengerem diri kita untuk tidak menjadi orangtua yang menganggap anak tidak tahu apa-apa? Seperti yang tertulis dalam letgrow.org, untuk menumbuhkan kontrol diri pada anak, kita harus berhenti mengontrol mereka. Kita harus memberi kesempatan pada anak-anak untuk membuat keputusan benar maupun salah. Mereka akan belajar dari setiap kesalahan dan mereka akan semakin kuat. Bisakah kita berdiri di belakang mereka, baik mereka sukses mau pun berhasil? Anak-anak akan merasa aman jika tahu orangtuanya tetap bangga apa pun hasil dari usaha mereka, sebab yang penting adalah mencoba. Bisakah kita mempercayai anak-anak kita untuk menentukan sendiri jalan hidupnya? Sebab merekalah yang menjalani, bukan kita, orangtua.

Semoga kita bisa.

Sumber gambar Freepik.com

Thing That Makes Me Happy

SEBUAH KESALAHAN

SEBUAH KESALAHAN DALAM MENULIS

Ini bukan tentang kesalahan dalam teknis kepenulisan. Bukan. Melainkan salah motivasi dalam menulis.

Tadi malam, sebelum tidur, aku memikirkan perjalanan karier menulisku—uh huh, biar tampak hebat meski sebenarnya ya nggak juga. Sejak SMA aku sudah aktif menulis di buku harian. Ini adalah fondasi karier yang amat penting, tidak bisa diremehkan. Semenjak kelas dua atau tiga SMA, aku bertukar buku harian dengan sahabatku, Kristian. Isinya macam-macam. Dari cowok yang kami sukai, lirik lagu yang menggambarkan suasana hati, keluarga, teman yang menyebalkan, sampai pembahasan soal-soal biologi. Sampai hari ini aku masih sering membaca buku tersebut, karena cerita-cerita di dalamnya begitu hidup.

Waktu kuliah, aku ikut menulis di majalah komunitas kampus. Isinya tentang IT dan orang-orang IT. Aku mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik, gratis maupun bayar. Masa-masa kuliah adalah masa-masa aku patah hati berkali-kali dan aku menuangkan perasaaanku dalam tulisan. Semua masih tersimpan rapi hingga kini. Bahkan, aku memenangkan lomba menulis cerita pendek karena cerita pedih tentang diriku dan seseorang yang tidak ingin kuingat sepanjang hidupku. (Hai, seseorang, kalau kamu baca ini, jangan komen-komen lagi di Instagramku, ya, bikin ingat kenangan kita.)

Saat aku mulai masuk dunia kerja—yang kerasnya minta ampun—aku berhenti menulis. Kecuali menulis status di media sosial, aku tidak pernah lagi menghasilkan tulisan yang lebih panjang daripada 1000 huruf. Beberapa kali aku mencoba meniatkan diri untuk ikut lomba menulis novel, tapi naskah tidak pernah selesai karena aku lebih sibuk pergi ke luar kota terkait pekerjaan.

Bagiku menulis adalah sebuah terapi mental. Karena itu, pada masa-masa mudaku—haha I mean school days—tulisanku banyak berputar-putar pada masalah kesedihan, kekecewaan, patah hati, dan segala hal negatif lain. Memang tulisan tersebut tidak menyelesaikan masalah, tetapi selalu berhasil membuat hatiku dan pikiranku lebih ringan. Suatu ketika saat kutengok lagi tulisan tersebut, aku akan tertawa, memikirkan betapa konyolnya diriku yang membesar-besarkan hal kecil.

Aku menulis apa yang ingin kutulis. Aku menulis apa yang benar-benar kurasakan. Aku menulis untuk menghibur diriku sendiri. Aku menulis untuk kebahagiaanku. Aku menulis karena aku perlu menulis. Aku menulis karena aku suka menulis.

Baru pada tahun 2015 aku mulai menulis lagi. Naskah yang berhasil kuselesaikan adalah Geek Play Love. Lalu The Danish Boss, dan My Bittersweet Marriage. Tahun berikutnya, ketiganya sudah terbit dan berwujud buku. Hingga hari ini, aku masih ingat betul apa yang kurasakan saat menulisnya. Hanya ada perasaan bahagia. Aku menikmati setiap prosesnya. Dari menciptakan karakter Dinar hingga meriset kota yang ditinggali Afnan. Biaya yang kukeluarkan untuk menulis buku tersebut tidak murah. Banyak buku yang harus kubeli dan aku harus mentraktir temanku kopi, karena dia bersedia jadi narasumber. Tetapi aku tidak memikirkan semua itu. Hanya satu yang penting. Naskah yang sedang kukerjakan selesai dan aku bisa berbangga di hadapan diriku sendiri.

Pada waktu itu aku menghadapi masa sulit dan aku membenci hidupku. Aku sudah traveling, aku sudah mencurahkan isi hati kepada teman dan tetap saja, aku ingin lari dari duniaku. Lagi-lagi tulisan menyelamatkanku. Dalam tulisanku, aku bisa membuat kehidupan baru. Aku boleh menciptakan dunia baru sesuai dengan keinginanku. Dengan mudah aku mengatur hidup Dinar dan Jasmine. Memindahkan Hessa ke dekat kutub utara. Membuat Fritdjof bertemu dengan Kana. Sepanjang menulis, aku menyadari bahwa aku sendirilah yang tahu apa yang terbaik untuk diriku, apa yang membuatku bahagia, siapa orang yang harus kudengarkan dan siapa yang perlu kuabaikan.

Sekarang, tiga tahun sudah berlalu dan aku masih tetap menulis dan menerbitkan buku. Kebahagiaan yang dulu kurasakan, kini semakin sulit kutemukan. Pokok permasalahannya satu. Uang. Setelah merasakan mendapatkan uang dari penjualan buku—terhitung banyak, dalam duniaku—aku menjadikannya sebagai tujuan utama. Ketika laporan penjualan buku sangat bagus, aku tergerak untuk menulis. Ketika tidak, aku merasa tidak ada gunanya aku menulis.

Kiamat!

Sudah banyak cerita seseorang berhenti menulis karena naskahnya tidak pernah diterima oleh penerbit. Atau seseorang memutuskan untuk tidak lagi menulis karena bukunya tidak laku. Aku tidak mau menjadi bagian dari kelompok mereka. Aku ingin terus menulis meski tidak mendapatkan uang. Aku ingin terus menulis meski aku hanya punya satu pembaca: diriku sendiri.

Karena itu, aku berusaha untuk tidak menjadikan jumlah penjualan sebagai motivasi untuk menulis. Aku berusaha untuk tidak mengontrol hasil akhir, orang lain suka atau tidak, urusan belakangan, yang penting aku bahagia selama menulisnya. Aku berusaha untuk tidak mengatur arah masa depan tulisanku, mau dijual atau hanya disimpan di laptop, tidak akan menjadi masalah.

Seluruh energi—bahan bakarnya cinta—yang kupunya kucurahkan dalam karyaku. Untuk bertahan menghasilkan karya dalam jangka waktu panjang, diperlukan gairah yang kuat. Tidaklah muncul gairah tersebut jika tak ada cinta yang mendorongnya. Katanya, segala karya yang didasari cinta akan menarik lebih banyak kesempatan dan kesuksesan.

Tetapi, sekali lagi, aku tidak memikirkan kedua hal tersebut. Aku ingin memperbaiki niatku, mengatur ulang motivasiku. Sebab, disadari atau tidak, niat dan motivasi bisa terbaca dari sebuah karya. Ketika merasa terpaksa harus menulis demi mengejar target selain kebahagiaan, hati akan selalu dipenuhi rasa iri. Mulai membanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain. Sangat tidak sehat dan bisa mempengaruhi warna tulisan. Tidak menyenangkan menikmati hasil karya yang tidak dibuat sepenuh hati.

 

12 Juli 2018

Ika Vihara