Uncategorized

Membahagiakan Diri Sendiri Sebelum Membahagiakan Pembaca

Malam ini, di tengah hujan yang tak ada tanda-tanda akan mereda, ingatanku melayang kembali ke tahun 2014 dan 2015. Sebelum buku debutku terbit. Betapa menyenangkannya menjadi penulis–non published, amatir–pada masa itu. Aku menulis hanya semata-mata karena aku suka menulis. Tidak ada beban dan harapan apa-apa. Ya, sesekali bersedih dan menahan kecewa karena menerima surat penolakan dari penerbit atas naskah yang kukirimkan tahun-tahun sebelumnya. Tetapi selebihnya, aku bahagia dan sangat bersyukur hanya karena bisa menyelesaikan sebuah novel yang utuh.

Selain menulis, aku menghabiskan waktu dengan berangan-angan nanti aku akan begini dan begitu, melakukan ini dan itu, saat aku menjadi penulis terkenal. Apalagi masa-masa itu aku sedang aktif-aktifnya bermain Twitter dan mengikuti penulis-penulis yang sudah lebih dulu terbit bukunya. Ada beberapa penulis yang kutandai sebab aku nggak ingin bersikap seperti dirinya–sok ekslusif, kurang toleran, jauh dari pembaca, yang seperti itu. Ada lebih banyak lagi penulis yang ingin kujadikan teladan.

Hari-hariku kujalani dengan bahagia. Setiap malam aku semangat meriset calon naskah, menyusun outline, hingga berbulan-bulan duduk menulisnya. Bahkan merombak naskah-naskah yang pernah ditolak penerbit pun kujalani dengan ringan. Aku menganggap setiap prosesnya adalah pembelajaran. Pertumbuhan. Langkah menjadi penulis yang lebih baik daripada hari kemarin. Kurasa-rasa, pada masa itu aku sangat produktif.

Sekarang, delapan tahun telah berlalu sejak hari itu. Banyak sekali yang berubah. Aku masih menyukai menulis. Masih bahagia setiap kali memulai cerita baru dan menyelesaikan naskah tersebut. Tetapi begitu masuk aspek bisnis, semua kebahagiaan kalah oleh kekhawatiran. Penjualan buku ada di puncak daftar faktor pemicu kecemasan. Buku debutku, My Bittersweet Marriage, di luar dugaan mendapat sambutan luar biasa dari pembaca. Instant best seller, menurut penerbitnya. Sampai editoku pun terkagum-kagum.

Tahun berikutnya, buku kedua terbit. Secara tradisional/mayor. Otomatis aku menarget diriku sendiri. Performa buku tersebut haruslah lebih baik daripada buku debut, My Bittersweet Marriage. Harus terjual lebih banyak. Sebagai orang yang, pada waktu itu, aku nggak suka bermain Instagram–yang sedang populer–aku dituntut untuk aktif di sana. Sebab pembaca dan reviewer banyak beraktivitas di sana. Aku membangun akunku mulai dari nol dan memiliki seribuan followers. Penjualan bukuku masih sebagus tahun pertama tapi tidak ada peningkatan yang signifikan. Pada saat itu timbul pemikiran kalau seperti ini terus editor dan penerbit mungkin menilai aku nggak layak dapat kesempatan terbit lagi.

Selama 2018, aku tidak menerbitkan buku secara mayor. Karena aku merasa tertekan dan tidak bahagia. Tekanan datang dari diriku sendiri memang. Sebab penerbit atau siapa pun tidak pernah menarget ini dan itu. Beban itu begitu berat kurasa. Pada waktu itu sahabatku, Lily, mengatakan aku harus mencari cara untuk membahagiakan diriku sendiri dulu, sebelum membahagiakan pembaca. Selama setahun aku tidak kunjung menemukan jawabannya. Aku tetap menulis demi menjaga kewarasanku, tapi tidak mengirimkan naskah tersebut ke mana-mana.

Suatu di awal tahun 2019, hari editorku menghubungiku untuk mendiskusikan cover baru My Bittersweet Marriage. Beliau menanyakan apakah aku sedang menulis naskah atau punya naskah yang siap diterbitkan. Setelah menimbang-nimbang, aku memutuskan aku siap menerbitkan buku baru. Kepada semua pembaca setiaku, melalui berbagai kanal, aku mengumumkan terbitnya The Game Of Love. Sambutan mereka luar biasa. Kebahagiaan mereka bisa kurasakan. Setelah setahun tidak menikmati karyaku, rasa rindu mereka terobati.

Aku masih terus mencari cara bagaimana membahagiakan diriku sebelum membahagiakan pembaca. Bagaimana cara menghilangkan kekhawatiran akan jumlah followers dan jumlah buku terjual. Banyak waktu yang kuhabiskan untuk merenung dan menengok kembali perjalananku sejak awal menulis dulu. Sejak aku masih menjadi penulis cerpen di majalan dinding SMA-ku–yang kemudian berkembang menjadi majalah internal sekolah, lalu menjadi penulis dan editor di majalah komunitas IT di kampus, dan menulis fiksi di sela waktu luang saat menjalani manajemen trainee.

Aku belum mendapatkan jawabannya. Tetapi aku mulai mengubah cara pandangku. Fokusku harus berada pada hal-hal yang bisa kukendalikan. Kualitas karyaku dan usahaku mengenalkan buku-bukuku kepada pembaca, misalnya. Hal-hal yang berada di luar kuasaku, aku menyerahkan kembali kepada semesta. Apakah banyak orang akan menyukai dan membeli bukuku? Apakah orang akan mengikutiku di media sosial? Aku mengupayakan itu semua tercapai. Tapi karena melibatkan orang lain, maka hasilnya bukan terserah padaku.

Di luar sana banyak buku yang bagus tapi angka penjualannya buruk. Buku yang buruk–isinya, ceritanya–bisa menjadi best seller. Demikian juga sebaliknya. Buku bagus terjual banyak, buku buruk tidak laku. Ada orang yang mengurasi konten bagus di media sosial dan tidak mendapat tanggapan dari banyak orang. Konten nggak mutu bisa ramai. Sebagai penulis, kalau aku menghabiskan lebih banyak waktu untuk menganalisis dan memahami itu semua, aku nggak akan ada waktu untuk menulis buku. Aku belum mampu menggaji orang untuk mengurusi media sosialku 🙂 Sedikit demi sedikit, aku kembali menikmati dunia yang kucintai ini.

Aku bersemangat memulai proyek baru, tanpa memikirkan apakah buku terbaruku, Right Time To Fall In Love, menjadi best seller seperti A Wedding Come True dan lainnya atau tidak. Rencana promosi sudah kususun dan kueksekusi. Apakah nanti proyek yang kukerjakan ini mendapatkan kesempatan terbit atau tidak, aku belum memikirkan itu. Targetku adalah menyelesaikan naskah. Aku tidak tergesa menulisnya, tapi juga tidak menunda. Langkah selanjutnya akan kupikirkan saat naskah sudah siap nanti. Satu demi satu, supaya tidak membuatku cemas.

Melakukan yang terbaik yang aku bisa–tentu saja dengan memperhatikan kesehatan mentalku–sudah cukup. Dalam berbagai aspek. Aku senang berkarya, aku mencintai karyaku. Menulis menyelamatkanku hidupku berkali-kali, terutama saat aku depresi. Pada saat seperti itu, aku bahagia bisa sejenak melarikan diri dari tekanan dan tenggelam dalam dunia yang kureka. Dunia yang ideal hahaha. Bersama tokoh-tokoh rekaanku. Harapanku, pembaca pun juga mendapatkan rasa aman dan nyaman dalam buku-buku yang kutulis. Tokoh-tokohku menjadi teman mereka. Cerita-cerita yang kusajikan memberi mereka kebahagiaan, optimisme, dan wawasan.

My Books

Le Mariage Terbaru dari Ika Vihara x Elex Media: Right Time To Fall In Love

Blurb Right Time To Fall In Love:

Dari penulis A Wedding Come True dan My Bittersweet Marriage, pemenang The Wattys 2021 Kategori Romance:
Ketika rencananya untuk menikah dipupus takdir, Lamar Karlsson memutuskan pulang ke Indonesia. Meninggalkan segalanya–termasuk karier sebagai structural engineer–untuk memikirkan dan memetakan kembali masa depannya. Masa depan yang akan dilalui sendiri, tanpa risiko patah hati. Semua akan berjalan sempurna, seandainya Malissa Niharika–seorang environmental scientist–tidak mengetuk pintu rumah Lamar. Kini justru timbul masalah baru; Lamar tidak bisa mengusir Malissa dari pikirannya.

Setelah bangkit dari keterpurukan atas pengkhianatan dan skandal besar yang dilakukan almarhum suaminya, Malissa fokus membesarkan anak kembarnya. Waktu yang tersisa digunakan untuk menyelamatkan lingkungan melalui free store dan food rescue yang dirintisnya, sehingga mencari pasangan hidup tidak menjadi prioritas utama Malissa. Tetapi perkenalan dengan Lamar menyebabkan impian Malissa untuk memiliki pernikahan yang penuh cinta bersemi kembali.

Ini bukan waktu yang tepat untuk jatuh cinta, Lamar meyakinkan dirinya. Masih terlalu cepat. Namun Malissa menunjukkan kepada Lamar bahwa hati memiliki cara kerja sendiri yang tidak bisa diintervensi. Apakah Lamar akan mendengarkan kata hatinya untuk segera memberi kepastian kepada Malissa? Atau tetap bertahan di zona teman, yang aman tapi tanpa kesempatan hidup bahagia selama-lamanya bersama Malissa?

Menyambut Le Mariage Keenamku+Judul Ketujuhku Bersama Elex Media Komputindo

Sampai juga aku di titik ini. Saat menerbitkan Le Mariage pertamaku, My Bittersweet Marriage, awal 2016, aku sama sekali nggak berpikir jauh ke depan. Jangankan buku ketujuh, setelah buku kedua When Love Is Not Enough, aku sempat berpikir untuk tidak lanjut menjadi penulis. Aku masih menulis, tapi hanya untuk konsumsi sendiri. Kusimpan saja di laptop. Tetapi editorku di Elex Media menghubungiku dan bertanya apa ada naskah yang sudah siap diterbitkan. Karena masih menulis, maka aku masih punya naskah novel yang telah selesai. Yaitu The Game of Love. Karena nggak berpikir untuk menerbitkan buku tersebut, maka naskah yang kutulis nggak sepanjang bukuku yang lainnya.

Saat proses revisi, ada catatan dari editor, yang mengatakan bahwa saat membaca The Game of Love, pembaca akan tertarik dengan kisah-kisah tokoh yang lain. Tokoh yang di The Game of Love tidak menjadi tokoh utama. Catatan itu mendorongku untuk menulis buku selanjutnya, A Wedding Come True. A Wedding Come True terbit saat pandemi. Di tengah rasa pesimisku–takut buku tersebut nggak laku sebab kondisi ekonomi sedang lesu–A Wedding Come True malah menjadi bukuku yang paling sukses sepanjang karier menulisku. Best seller baik buku cetak maupun e-book.

Ide-ide baru terus muncul dan aku sadar aku ingin memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Kesempatan untuk meningkatkan kesadaran akan invisible disabilities, menceritakan tentang women in STEM–Science, Technology, Engineering, and Mathematic–sepertiku, dan membahas berbagai macam topik. Yang kupadukan dengan cerita romance yang manis, realistis, romantis, dan logis. Berapa pun jumlah pembaca bukuku, aku berharap dari sana sudah ada yang mengambil manfaat dari tulisanku. Sudut pandang mereka akan cinta dan kehidupan semakin bertambah. Wawasan semakin luas dan menjadi pribadi yang semakin toleran.

Dan sekarang aku berdiri di titik ini. Di buku ketujuhku. Le Mariage keenamku. Menghadirkan Right Time To Fall In Love. Tidak hanya kisah asmara Lamar dan Malissa yang kusajikan dengan manis, tapi aku juga membahas perubahan iklim, penyelamatan makanan dan barang-barang kebutuhan lain, structural engineering, single motherhood, dan beberapa topik lain.

Kalau kamu suka membaca cerita romance yang berbobot tapi tidak berat, kamu harus banget membaca Right Time To Fall In Love. Kalau ikut preorder, ada bonus booklet bab ekstra 65 halaman A6. Biar puas baca kisah Lamar, Malissa, dan si kembar yang lucu membangun keluarga.

My Books, Thing That Makes Me Happy

Bongkar Dapur Cerpen Juara Pertama Lomba Teman Tulis 2022

Setelah menunggu beberapa waktu, karena sempat diundur masa lombanya, akhirnya cerpen Sebaik-baik Manusia keluar sebagai juara pertama Lomba Teman Tulis 2022 yang diadakan aplikasi Lontara. Aku bersyukur, sangat bersyukur, atas pencapaian ini. Yang kuharapkan akan menaikkan kepercayaan diriku dan menguatkan niatku untuk terus mengangkat topik-topik berbeda dalam setiap cerita yang kutulis. Baik cerpen maupun novel.

Aku tertarik mengikuti Lomba Teman Tulis 2022 setelah melihat temanya, yang menurutku lebih menantang daripada tema tahun sebelumnya. Apalagi, sebagai orang yang menyukai detail aku semakin nyaman karena disediakan juga subtema pilihan. Jadi ke mana aku harus melangkah sudah jelas. Tinggal mengikuti jalur saja, tanpa perlu takut tersesat.

‘Bertumbuh menjadi Tangguh’ adalah subtema yang kupilih. Sebab aku paling paham dengan kalimat tersebut. Bagaimana tidak, aku sedang menjalaninya dan tahu menjadi tangguh memerlukan perjuangan yang tidak mudah. I am not disabled, but I have disabilities. Hanya saja orang lain tidak bisa melihat kekuranganku. Atau, kalau aku biasa menyebutnya, invisible disabilities. Kekurangan yang tak tampak dari luar. Aku tidak bisa berjalan kaki dalam waktu lama, setelah lututku dioperasi tahun 2017. Ditambah aku menerima diagnosis general anxiety disorder, yang berjalan bersisian dengan depresi. Salah satu tanda aku sudah semakin tangguh adalah berani memberi tahu orang-orang terdekat, teman, atasan, rekan dekat dan siapa pun yang banyak berinteraksi denganku mengenai kondisiku.

Mau tidak mau, kondisi tersebut membuat cara hidupku harus disetel ulang. Disesuaikan kembali. Aku harus bisa menyentuh hati orang-orang di sekitarku harus agar mereka bisa mengakomodasi kebutuhanku. Misalnya membuat atasanku menyetujui aku pindah bekerja dari lantai 3 ke lantai 1, karena lututku tidak kuat naik tangga banyak-banyak. Dalam profesiku sebagai penulis, aku meminta kepada editorku untuk langsung menuju pokok keperluan saat mengirim WhatsApp, agar tidak memicu kecemasan. Ketika diundang menjadi narasumber di radio, universitas, dan lain-lain, aku meminta dikirimi dulu jadwal acara dan daftar pertanyaan. Sebagian besar orang mengerti, sebagian lainnya tetap bilang aku kelihatan baik-baik saja.

Sebagaimana novel-novel yang kutulis, dari pengalamanku itulah ketika membuat cerpen aku bercerita dari sudut pandang seorang wanita yang juga mendapatkan diagnosis dokter dan mengetahui dirinya memiliki invisible disabilities pada usia dewasa. Invisible disabilities yang kupilih untuk cerpen Sebaik-baik Manusia adalah autis dan ADHD. Alasan spesifik kenapa aku memilihnya, aku kurang tahu. Hahaha. Yang jelas pada masa-masa sebelum menulisnya, aku banyak membaca mengenai spektrum autisme. Bukan karena sedang meriset tulisan, tapi memang aku tertarik saja.

Tantangan Shiya, tokoh utama cerpen Sebaik-baik Manusia, sama denganku. Memberi tahu orang-orang terdekatnya mengenai kondisi barunya. Termasuk menghadapi kekhawatiran ibunya akan kemungkinan Shiya bisa mendapatkan pasangan hidup. Menyusun perjalanan Shiya semenjak kanak-kanak hingga dia dewasa, perjuangannya mendapatkan jawaban atas semua pertanyaannya, hingga memanfaatkan kekuatan supernya untuk membantu orang lain dalam 4.000 kata sempat membuatku pusing. Di mana harus memilih titik berat, mengatur pace—supaya tidak terlalu cepat, dan lain-lain adalah proses yang sangat sulit. Sampai aku ingin menyerah dan ingin menjadikannya novel hahaha. Karena pada saat bersamaan juga ada lomba pitching novel. Tetapi demi melihat panjang novel hanya 40.000 kata dan itu nanggung untuk ukuranku, maka aku tetap bertahan pada cerpen.

Oh, aku membuat blurb untuk cerpenku, atas permintaan penyelenggara lomba, sebagai berikut:

Sejak kecil Shiya merasa dirinya mendarat di planet yang salah. Sebab Shiya kesulitan mengikuti cara hidup dan berkomunikasi manusia. Bertahun-tahun Shiya mencari tahu apa yang membedakan dirinya dengan mereka. Tetapi jawaban baru dia dapatkan 20 tahun kemudian. Menerima diagnosis autis dan ADHD pada usia dewasa membuat Shiya terguncang. Ditambah, ibunya memintanya merahasiakan kenyataan itu, karena khawatir tidak akan ada laki-laki yang mau menikah dengan Shiya. Kini Shiya dihadapkan pada dua pilihan. Diam dan melanjutkan hidup seperti dulu namun dia menderita atau mengumumkan kondisinya, menanggung semua risiko yang menyertai, dan hidup dengan identitas baru yang membuatnya bahagia.

Karena aku penulis romance, maka aku sisipkan juga unsur romantis di dalamnya. Bagaimana Shiya bertemu cinta sejatinya, seseorang yang mau menerimanya dengan segala kelebihan dan kekurangannya, pada saat dan dari jalan yang tidak disangka-sangka. Aku puas dengan hasilnya dan senang bisa menyelesaikannya. Bahkan aku berangan suatu hari nanti aku bisa menjadikan kisah Shiya menjadi novel hahaha. Kalau aku tidak terlalu malas untuk meriset lebih lanjut hehehe.

Aku mendapatkan pertanyaan dari salah satu teman di Instagram. Apa rahasianya bisa memenangkan lomba cerpen. Jawabannya adalah aku nggak tahu. Karena yang memutuskan memang atau tidak adalah juri. Dari sisi penulis, aku menyarankan untuk menulis cerpen yang benar-benar sesuai tema. Karena terbatasnya ruang, maka sebuah cerpen nggak boleh bertele-tele. Cerita harus menarik perhatian sejak kalimat pertama dan tentu saja, ada plot twist di akhir cerpen. Itu saja sih rumusku dalam menulis cerpen.

Kalau kamu ingin membacanya, cerpen Sebaik-baik Manusia nanti akan terbit dalam buku antologi. Bersama dengan sepuluh cerpen terbaik dalam Lomba Teman Tulis 2022. Aku akan mengumumkan lagi kalau sudah ada info lebih lanjut dari penerbit.

My Books

Baca Gratis Buku Ika Vihara di Aplikasi iPusnas

Judul bukuku yang dibeli oleh iPusnas terus bertambah. Kini ada A Wedding Come True dan My Bittersweet Marriage Collector Edition yang menyusul buku-buku sebelumnya; My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough dan The Game of Love. Kamu bisa membaca blurb buku di laman kumpulan karyaku. Jangan pernah ragu untuk membaca karyaku melalui aplikasi iPusnas. Sebab walaupun kamu membacanya tanpa biaya, aku tetap mendapatkan royalti sebagaimana jika bukuku dibeli melalui aplikasi Gramedia Digital atau Google Playstore. Ini seperti kamu ditraktir pemerintah membaca buku. Enak kan?

Untuk bisa menikmati semua bukuku di iPusnas, kamu cukup mengunduh aplikasinya di Playstore/Appstore. Seperti biasa, kamu harus membuat username dan password. Setelah itu kamu bisa memasukkan judul buku atau namaku di kolom pencarian. Klik judul buku yang kamu inginkan. Kalau tulisan Baca/Borrow sudah muncul di bawah cover, berarti kamu bisa langsung membacanya. Kalau masih dalam status Antre/Queue, kamu harus menunggu sampai ada orang lain yang mengembalikan. Jangan khawatir dengan nomor antrean(simbol jam beker di kiri bawah) yang mencapai ratusan. Agar kamu bisa ‘menyerobot antrean’ sering-sering saja mengecek judul tersebut. Biasanya mereka yang antre kadang masih sibuk jadi tidak gercep mengambil e-book yang baru dikembalikan. Oh ya, koneksi internet kamu perlukan saat kamu menekan tomobol baca dan menunggu e-book ter-download. Selanjutnya kamu bisa membacanya walau tidak tersambung internet.

Aplikasi iPusnas bisa menjadi jalan mudah bagimu untuk terus mendukungku. Secara finansial. Kita sama-sama tahu bahwa untuk menulis buku, ada biaya yang harus dikeluarkan yang seringkali tidak sedikit. Dari royaltilah penulis membiayai penulisan bukunya. Mungkin kamu pernah mengunduh atau membeli e-book bajakan. Atau mungkin membeli buku preloved/bekas/second. Keduanya tidak menghasilkan royalti sama sekali kepada penulis. Oleh karena itu, kamu bisa menebus kesalahan tersebut dengan membaca bukuku di aplikasi iPusnas. Agar aku mendapatkan hakku. Karena saat kamu membaca bajakan atau preloved, aku tidak mendapat apa-apa. Sedih.

Aku sangat berterima kasih karena kamu telah memilih menjadi pembaca yang bermartabat. Dengan menghargai karya penulis dan mau berkorban–meng-install aplikasi, membuat username dan password, dan lain-lain–untuk membaca karya penulis. Kamu tidak hanya mendukung kelangsungan karier penulis, tapi memajukan ekosistem literasi Indonesia. Kamu adalah pahlawan.

Selamat membaca karya-karya Ika Vihara di aplikasi Ipusnas.

Note: Selain iPusnas, ada juga aplikasi membaca buku milik pemerintah daerah seperti iJak, iMalang, dan sejenisnya.

Uncategorized

RUANG KREATIF PENULIS

Hampir semua bukuku kutulis di sini. Di pojok sebuah ruangan di rumahku. Aku tidak memerlukan banyak peralatan untuk menulis naskah novel. Hanya laptop. Dibandingkan melihat pemandangan alam di depanku, aku lebih suka memandang novel-novelku yang sudah terbit. Dengan begitu aku menjadi yakin, jika dulu aku bisa menulis sebuah novel, sekarang aku juga pasti bisa. Kadang-kadang aku juga membaca ulang novel-novelku, saat aku merasa aku kehilangan ciri khas cara bertuturku. Hanya di sinilah aku bisa mengakomodasi semua kebutuhanku saat sedang menulis.

Aku tidak pernah menulis sambil mendengarkan lagu. Sebab lagu hanya akan membuatku ingin menyanyi dan kalau aku tidak tahu liriknya, aku akan tergoda untuk meng-google-nya. Untuk membatasi diriku dengan gangguan suara dari luar, aku mendengarkan suara-suara alam, yang selalu ada di playlist-ku. Saat sedang menulis bagian yang sedih, aku mendengarkan suara hujan. Bagian yang menyenangkan, aku mendengarkan suara kicau burung. Dengan begitu, walau aku berada di dalam kamar, aku merasa seperti berada di alam bebas.

Dulu aku menggunakan buku agenda untuk membuat jadwal menulis. Sekarang aku menggunakan Google Calendar. Sebab aku memiliki gangguan kecemasan, maka aku harus selalu membuat jadwal dan mem-break-down apa-apa yang harus kulakukan, sehingga tidak terlalu overwhelming. Tanpa penjadwalan, novel yang kutulis tidak akan pernah selesai. Jadwal menulisku biasanya mulai pukul delapan malam. Sampai minimal, pukul sepuluh. Kalau tidak ngantuk, ya dilanjutkan sampai tengah malam. Saat nggak ada naskah yang harus kuselesaikan–sambil menunggu terbit–aku tetap menulis. Bukan naskah, tapi jurnal. Untuk menjaga agar rutinitasku nggak terganggu.

Menjaga semangat untuk terus menulis adalah bagian tersulit dari perjalanan ini. Sebab menulis kini bukan lagi hobi, melainkan profesi. Sudah banyak tekanan yang kurasakan, misalnya penjualan buku, review dan lain-lain. Karena hobiku sudah hilang, maka aku harus menemukan hobi baru. Aku memilih menggambar. Tetapi karena aku nggak suka ribet dan repot, aku membeli wacom tablet untuk pemula. Ketika jenuh menulis, lewat video-video di YouTube, aku belajar menggambar.

Bukan hanya menggambar menjadi jalan untuk melepaskan penat dan sejenak menjadi tempat pelarian diriku dari tekanan sebagai penulis, aku juga bisa menghemat uang untuk memproduksi novelku yang terbit self-publishing. Karena aku bisa menggamar sendiri covernya. Yang terbaru adalah cover The Danish Boss dan Geek Play Love.

Meski aku mulai menyukai menggambar, aku nggak akan menjadikannya sebagai profesi. Kalau sampai itu terjadi, aku akan pusing lagi mencari hobi. Hehehe bukan deng. Aku akan tetap fokus menulis, karena aku lebih mencintai dunia tersebut. Dunia yang menyelamatkanku dari depresi dan gangguan kecemasan yang gelap dan menyesakkan. Aku berharap novel-novel yang kutulis sendirian di dalam sunyi, bisa menjadi cahaya dan teman bagi mereka yang membacanya.

 

My Books, Uncategorized

Review Novel The Perfect Match Karya Ika Vihara di Media Cetak

Berikut review The Perfect Match di media Kedaulatan Rakyat Mei 2022.

Menghilangkan Perfeksionisme dalam Diri Sendiri

Judul Buku : The Perfect Match
Penulis : Ika Vihara
Penerbit : Elex Media Komputindo
Cetakan : 2021
Halaman : 371 halaman
ISBN : 978-623-00-2503-7

 

 

SEKERAS apapun usaha manusia menjadi sempurna, kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Sebab, manusia memang diciptakan memiliki keterbatasan, kekurangan untuk saling membutuhkan satu sama lain. Kecenderungan perfeksionisme dalam diri justru dapat memberi pengaruh buruk pada kesehatan baik fisik dan mental.

Seperti tokoh utama dalam novel ini, Nalia Kahlana, yang berhenti mempercayai cinta dan pernikahan. Penyebabnya, masa lalu yang buruk kehilangan ibu dan ayah yang meninggalkannya tanpa alasan. Namun, segalanya berubah ketika ia bertemu dengan Edvind Raishard Rashid.

Edvind pria tampan dan cukup sukses berkarier sebagai dokter, yang tak pernah kesulitan mendapatkan teman kencan. Kegigihan Edvind untuk mengubah pandangan Nalia secara perlahan meruntuhkan pertahanannya. Kendati demikian, abandonment issue yang Nalia miliki melibatkan banyak pertimbangan akan hubungan asramanya dengan Edvind. (Hal 107)

Nalia hampir dapat mengendalikan abandonment issue yang ia miliki sebelum kemudian hal buruk menimpa kakaknya, Jari. Gloria kakak iparnya mengalami kritis saat melahirkan. Hal tersebut membuatnya kembali ragu dan takut akan masa lalu yang terulang, hingga memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Edvind.

Nasihat Gloria membuka kembali mata hati Nalia bahwa Edvind merupakan lelaki yang tepat untuknya. Tak seorang pun yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Yang bisa kita lakukan hanya menjalani hidup saat ini sebaik-baiknya. Begitu pula hidup, akan lebih mudah jika selalu melihat ke depan.

“Waktu yang kita miliki di dunia ini singkat dan akan sia-sia kalau dilewati tanpa mencintai dan dicintai. Pergilah, berjuanglah. Pertaruhkan hatimu, pertaruhkan dirimu, pertaruhkanseluruh hidupmu.” (Hal 337)

Novel karya Ika Vihara ini menyajikan kisah romansa dengan dialog yang cerdas sesuai dengan profesi tokoh-tokoh di dalamnya. Seperti impian Edvind yang ingin menjadi ahli genetika dan kariernya sebagai dokter, ketertarikan
Nalia pada pendidikan inklusif serta Alesha, sepupu Edvind, seorang ahli kesehatan mental. Karya ini menambah wawasan kita seputar sains dan cara menyembuhkan trauma.

The Perfect Match mengingatkan pembaca bahwasannya satu kesalahan dalam hidup bukanlah cela, dan satu kegagalan tidak akan membuat kita hina sepanjang hidup.*

*) Marisa Rahmashifa, mahasiswi Sastra Inggris UIN Malang.

Uncategorized

Tahun ke-6 Menjadi Penulis

 

ENAM TAHUN! Sudah enam tahun aku menjalani karier sebagai published author. Penulis profesional. Awal perjalanan dengan titel tersebut dimulai saat novel debutku, My Bittersweet Marriage, terbit melalui Elex Media pada minggu ketiga Maret 2016. Biasanya aku nggak hafal tanggal terbit novel-novelku, tapi khusus cerita Afnan dan Hessa ini, aku nggak akan pernah bisa melupakannya. Selain karena ingat nggak tidur selama lebih dari lima malam karena mengurus preorder buku perdanaku, aku juga nggak sabar mau pergi ke toko buku pas di tanggal terbit. Walaupun aku tahu buku sudah didistribusikan sebelum tanggal terbit, tapi aku ingin secara resmi mengunjungi ‘anak pertamaku’ pada hari lahrinya.

Tetapi … bukunya nggak ada😅 Menurut pegawai toko buku, My Bittersweet Marriage hanya datang sepuluh buku dan sudah habis. Aku bersyukur dan memaklumi itu, sebab beberapa minggu sebelumnya, aku mengobrol dengan editorku. My Bittersweet Marriage adalah buku debut sehingga oplah cetaknya tidak terlalu banyak. Itu pun masih dipotong dengan jumlah preorder yang di luar dugaan, menggerus buku yang baru keluar dari percetakan. Beberapa toko buku harus menunggu cetak ulang untuk bisa memajang My Bittersweet Marriage.

Hari itu juga, aku menuju toko buku lain. My Bittersweet Marriage tetap nggak kelihatan di bagian New Arrivals. Aku nggak tahu harus senang atau sedih. Senang karena buku debutku diminati banyak pembaca atau sedih sebab aku gagal mendapati namaku ada di toko buku. Setelah dibantu seorang pegawai, akhirnya aku melihatnya. Tumpukan My Bittersweet Marriage ada di tengah dan lebih dalam dibanding buku lain–menjelang habis. Oleh pegawai tersebut dipindahkan ke tepi. Aku bahagia banget. Jingkrak-jingkrak, bodo amat. Namaku ada di toko buku, bersisian dengan nama penulis-penulis hebat yang terkenal. Pegawai toko buku memberi selamat padaku, setelah aku sampaikan hari itu aku memulai hari baru sebagai penulis profesional.

Saat itu aku tidak memiliki pandangan apa-apa. Tidak punya rencana jangka panjang. Bahkan aku sempat berpikir mungkin aku akan bertahan sampai satu atau dua buku saja. Beberapa teman penulis yang sempat membantuku waktu itu, menghilang dari dunia literasi tidak lama kemudian. Bisa saja aku bernasib sama. Tetapi siapa yang menyangka, ENAM TAHUN KEMUDIAN aku masih menulis. Bukuku masih terbit. Masih selalu ditunggu-tunggu. Satu naskahku sudah ada di tangan editor sekarang.

Menerbitkan secara tradisional/mayor, self-published, dan premium melalui platform menulis digital sudah pernah kujalani. Aku menyatakan menulis adalah salah satu karier yang akan kupertahankan. Setelah melewati lima tahun pertama, bukan tidak mungkin aku akan bisa melalui lima tahun berikutnya. Pada beberapa titik, aku sering ingin berhenti menulis. Berhenti menerbitkan buku. Kehilangan motivasi melihat buku-bukuku dibajak dengan keji dan dibagikan cuma-cuma di Telegram, WhatsApp, situs-situs, dijual murah di Instagram dan market place. Setiap kali mendapati itu, rasanya apa yang kukerjakan sia-sia. Aku nggak mendapatkan apresiasi apa-apa, tapi pembajak menerima ucapan terima kasih bahkan donasi dari para penikmat hasil curian. Aku berharap akan ada solusi untuk masalah ini dan rezeki penulis tidak lagi dirampok.

Ditambah gangguan kecemasan yang kumiliki, aku nggak bisa membayangkan jauh ke depan. Aku harus menjalani hari satu demi satu. Dalam menulis, kata demi kata. Naskah demi naskah. Aku nggak mau membebani diriku, kecuali dengan satu tujuan; buku yang kutulis saat ini harus lebih baik daripada buku sebelumnya.

Sepanjang perjalanan aku banyak belajar. Dari para editor yang bekerja sama denganku, rekan-rekan sesama penulis, dan yang lebih penting, dari teman-teman pembaca. Yang paling sulit adalah belajar berani bicara di depan banyak orang. Dulu aku tidak pernah menyangka bahwa profesi ini akan mengharuskanku untuk pandai berkomunikasi secara verbal. Kalau dengan tulisan jangan ditanya lagi, salah satu bentuk komunikasi yang kusukai. Menjalani wawancara radio, mengadakan bedah buku di universitas, mengajar kelas menulis, menjadi narasumber talkshow, dan lain sebagainya, kini adalah bagian dari pekerjaanku sebagai penulis. Aku tidak memiliki pendidikan formal di bidang itu–aku lulus dari Fakultas Teknologi Elektro dan Komputer Cerdas, Institut Teknologi Sepuluh Nopember–maupun pelatihan di bidang itu. Setelah wawancara, aku selalu bertanya pada host, atau peserta yang mengikuti, apakah penjelesanku bisa dipahami dengan baik. Mereka menjawab bisa dan senang aku menjelaskan dengan runut, jadi kukira aku cukup piawai di sini hahaha.

Untuk sampai di titik ini, aku tidak sendirian. Ada orang-orang hebat yang membantuku. Yang pertama tentu saja Miss Tina. Tanpa beliau aku nggak akan bisa menulis dengan tenang. Kesabaran beliau dalam mengatur preorder, menghitung stok buku, dan banyak lagi printilan pekerjaan yang kutinggalkan di tangannya. Para editor Kak Afri, Kak Jia, Kak Mitha, dan lainnya, yang sudah membagikan ilmu padaku. Para penulis yang karyanya kunikmati dan menginspirasi. Teman-teman pembaca yang selalu menunggu karyaku berikutnya dan menyemangatiku untuk terus menulis. Terima kasih tak terhingga aku ucapkan. Tanpa kalian semua, perjalanan ini tidak akan bermakna.

Note:
Kamu bisa membaca My Bittersweet Marriage gratis di aplikasi iPusnas. Atau di Gramedia Digital, cukup Rp 45.000 bisa membaca semua bukuku di sana. My Bittersweet Marriage is not perfect–my first book!–but I gotta start somewhere, right?

My Books

MENANG “THE WATTYS” KATEGORI ROMANCE

Ini cerita yang sangat terlambat. Pengumuman pemenang dilakukan pada bulan Desember 2021 dan aku baru menceritakan di blog sekarang. Aku sudah mengabarkan di Instagram dan Twitter lebih dulu. Karena lebih mudah dan cepat. Meskipun begitu, aku tetap ingin membagi pengalaman memenangkan kompetisi yang diikuti oleh banyak penulis di platform Wattpad ini.

Seperti yang pernah kuceritakan sebelumnya, ini adalah tahun pertama keikutsertaanku dalam kompetisi The Wattys. Sepasang Sepatu Untuk Ava dimulai dan selesai pada kurun waktu yang tepat, selaras dengan yang tertulis dalam peraturan lomba. Dari peserta yang begitu banyak, aku tidak menyangka Ava akan menjadi juara pertama untuk kategori romance. Kemenangan ini berarti banyak untukku. Namaku diumumkan di halaman home/beranda Wattpad Indonesia dan dalam daftar bacaan resmi Wattpad Indonesia. Dengan begitu, mereka yang dulu belum kenal Ika Vihara akan tahu. Namaku—sebagai penulis—akan semakin dikenal. Kunjungan ke profil Wattpadku dan daftar karya juga akan meningkatkan popularitasku. Walaupun sedikit hahaha.

Dengan cerita Sepasang Sepatu Untuk Ava yang bisa dibaca dengan gratis selama setahun di Wattpad, aku berharap akan lebih banyak lagi pembaca yang ketagihan dengan tulisanku dan membaca karya-karyaku yang lain. Aku juga ingin meningkatkan pengikut di Wattpad sampai 50.000. Sudah hampir tercapai.

Kemenangan ini juga membuktikan aku bisa membuat logline cerita—satu kalimat saja—dan sinopsis 500 kata. Berdasarkan e-mail pemberitahuan Daftar Pendek/Short list, mereka baru membaca lebih dalam dan lebih lengkap untuk karya-karya yang masuk dalam daftar pendek. Karena Sepasang Sepatu Untuk Ava sudah menarik perhatian juri, maka aku menyimpulkan aku sudah bisa, sudah berhasil menulis logline dan sinopsis dengan baik.

Cerita yang memenangkan penghargaan The Wattys diharuskan berada di Wattpad selama satu tahun, sejak diumumkan masuk Daftar Pendek. Ini menjawab pertanyaan teman-teman, kapan Sepasang Sepatu Untuk Ava diterbitkan menjadi buku cetak. Tahun 2022. Sekitar bukan Desember. Meskipun aku belum tahu bagaimana caranya. Apakah secara tradisional atau tidak tradisional. Nanti saja dipikirkan kalau sudah waktunya.

Juga, seharusnya bisa menjawab pesan-pesan dari kakak-kakak editor dari berbagai platform maupun penerbit yang bertanya apakah aku bersedia menerbitkan Sepasang Sepatu Untuk Ava bersama mereka. Jawabannya belum bisa. Karena aku sudah bersedia menayangkan cerita ini dengan gratis di Wattpad. Sebelum aku menang The Wattys, sudah banyak penawaran-penawaran penerbitan yang kuterima. Setelah The Wattys, semakin banyak lagi. Terima kasih sudah menghubungiku dan menilai aku layak berkarya bersama anda.

Sepasang Sepatu Untuk Ava membuatku semakin percaya untuk berkarya sesuai dengan keyakinanku sendiri. Tidak perlu mengikut apa yang sedang trend atau viral atau laris. Kalau aku percaya karyaku membawa manfaat untukku dan mereka yang membacanya, membawa kebaikan padaku dan pada mereka yang membacanya, tidak menjerumuskan pembaca ke dalam pemikiran atau perbuatan yang destruktif, aku akan menulisnya. Aku akan memublikasikan. Karya yang ditulis dengan hati, akan menyentuh hati orang lain juga. Karya yang baik pasti akan menemukan jalan untuk bertemu dengan pembacanya, bagaimana pun caranya.

Ada salah seorang yang kukagumi mengatakan, berkaryalah dengan sungguh-sungguh. Karya yang berkualitas, yang meninggalkan nilai-nilai kebaikan di dalam diriku dan pembaca—tanpa mereka sadari bahkan—yang mengubah diriku dan orang lain menjadi pribadi lebih baik adalah yang paling dibutuhkan di dunia ini. Viral atau terkenal adalah bonus dan jangan dijadikan tujuan. Sebab kalau seperti itu, aku pasti akan berhenti berkarya.

Kamu bisa membaca Sepasang Sepatu Untuk Ava, gratis di Wattpad.

My Books, Uncategorized

Daftar Pendek The Wattys 2021: Sepasang Sepatu Untuk Ava

Tahun ini adalah salah satu tahun terberat dalam hidupku. Dalam karierku sebagai penulis. Gelombang kedua Covid-19 membuatku kehilangan beberapa orang terdekat. Kerabat, teman, dan tetangga. Hampir setiap hari berita duka terus berdatangan. Sampai hatiku yang sudah patah berkali-kali ini berteriak ingin semua penderitaan ini berhenti. Level kecemasanku naik sepuluh kali lipat. Yang ingin kulakukan sepanjang hari adalah bergelung di tempat tidur, di bawah selimut tebal dan berharap semua itu hanya mimpi buruk.

Pilihanku untuk menyibukkan pikiranku adalah memperbaiki naskah cerita yang kutulis sekitar tahun 2014 atau 2015. Tidak ada judul untuk cerita itu. Nama salah satu tokoh utamanya pun harus kuganti, karena aku sudah memakai nama itu untuk nama tokoh utama di bukuku, A Wedding Come True.  Naskah tersebut hanya sepanjang 145 halaman dan jalan ceritanya tidak kompleks sama sekali. Sambil merombak naskah tersebut, aku mencari judul dan akhirnya aku memilih Sepasang Sepatu Untuk Ava. Nggak ada aroma-aroma Cinderella–kenapa sepatu selalu identik dengannya hahaha–tapi memang sepasang sepatu di sini memegang peran penting untuk kemajuan hubungan Ava dan Manal.Tapi aku tahu, menuruti apa yang diinginkan kecemasanku, adalah keputusan yang nggak sehat. Nggak akan kesehatan mentalku menjadi lebih baik. Jadi setiap pagi aku tetap turun dari tempat tidur, mandi, dan bekerja seperti biasa. Saat itu semua pegawai belum kembali ke kantor. Sebisa mungkin aku memilih tempat bekerja yang jauh dari ranjang atau sofa. Aku menjadwalkan setiap kegiatan dengan teliti dan mendetail, sehingga aku tahu di bagian mana ada waktu luang. Waktu luang ini harus kuisi, atau pikiranku akan bergerak liar ke mana-mana.

Sambil menulis ulang, aku mengunggahnya di Wattpad. Tujuanku adalah ‘mentraktir’ teman-teman setiaku di sana, yang menemani perjalanan menulisku selama 6 tahun. Karena aku hampir nggak pernah mengunggah cerita tamat di sana. Sebagian orang berpendapat cerita yang kutulis selalu serius, atau bahkan dibilang berat. Berkaca dari sana, aku nggak begitu mempermasalahkan berapa pun jumlah view yang kudapat. Mereka yang bisa menyukai ceritaku akan benar-benar membacanya dan mendapatkan manfaat. Yang nggak kalah penting juga, aku dan mereka jadi punya kesempatan mengobrol di kolom komentar. Menambah teman, bertukar pikiran.

Saat banner dan button The Wattys 2021 muncul di halaman karya, aku menekannya. Karena, kenapa tidak. Aku belum memikirkan langkah selanjutnya untuk Sepasang Sepatu Untuk Ava; apakah akan mengirimkan ke penerbit, menerbitkannya sendiri, atau lainnya. Selama aku membuat keputusan, aku mengikutkan Sepasang Sepatu Untuk Ava dalam kompetisi tahunan The Wattys yang diadakan Wattpad. Jujur saja, awalnya aku nggak berpikir Ava akan bisa masuk daftar pendek. Karena aku yakin, banyak cerita dengan viewers lebih banyak dariku(saat kuikutkan kompetisi hanya sekitar 150.000 saja)yang juga ikut serta. Kalau membicarakan paltform menulis online kan nggak bisa dipungkiri ukuran kesuksesan adalah banyaknya view.

Kompetisi ini juga menjadi kesempatan baik untuk mengasah kemampuanku membuat logline dan sinopsis. Dari dulu aku lemah di dua bagian tersebut. Eliminasi pertama pasti dimulai dari sana. Jadi keberhasilanku masuk ke daftar pendek sudah menjadi penyemangat bagiku, bahwa aku bisa membuat logline dan sinopsis dengan baik. Suatu hari nanti kalau aku ingin mengajukan cerita tersebut ke penerbit, aku sudah nggak perlu pusing lagi memikirkan sinopsis.

Kalau kamu adalah seorang penulis, yang sedang berjuang memperkenalkan karyamu di suatu platform, aku ingin meyakinkanmu untuk nggak mempermasalahkan jumlah views. Menulislah sebaik-baiknya. Naskah yang berkualitas, walaupun tidak mainstream, akan tetap mendapatkan jalan untuk bersinar.

Sekarang Sepasang Sepatu Untuk Ava masih harus berada di Wattpad. Belum bisa diapa-apakan. Bersama finalis lain menunggu pengumuman pemenang nanti tanggal 4 Desember 2021. Kamu bisa membacanya gratis di Wattpad ikavihara.

Thing That Makes Me Happy

Menang Lomba Cerpen Teman Tulis 2021

Late post! Cerpenku yang berjudul Sebaik-baik Pelajaran menang Lomba Cerpen Teman Tulis 2021 yang diselenggarakan oleh aplikasi Lontara untuk kategori umum. Pemenang diumumkan bulan September kemarin tapi aku baru bisa ‘merekam’ perjalanan itu sekarang. Karena sedang sangat sibuk revisi bukuku, The Promise of Forever, yang akan terbit bulan ini. Tiba-tiba diberi tahu editorku kalau tahun ini aku bisa menerbitkan dua buku itu, well, rasanya aku kaget, bingung, dan cemas. Tapi itu cerita untuk lain hari.

Yang tidak kalah mengagetkan–oke, sangat mengagetkan–adalah melihat namaku ada di daftar pemenang Lomba Cerpen Teman Tulis 2021. Sebagai pemenang pertama lagi. Untukku, penulis yang terbiasa dengan karya yang panjangnya 70.000 kata, bisa menyelesaikan tulisan sepanjang 3.000 kata adalah suatu pencapaian besar. Aku nggak menargetkan menang, hanya ingin membuktikan kepada diriku sendiri aku nggak hanya bisa menulis novel, tapi cerita pendek juga.

Tanggal 14 Juli 2021, temanku, Miss Tina, mengirimkan tautan Instagram padaku. Informasi lomba cerpen. Batas akhir pengumpulan tanggal 31 Juli 2021. Ada waktu dua minggu untuk menulis. Semestinya cukup. Kalau aku nggak sedang dalam proses revisi novel bersama editorku. Apalagi saat itu aku punya PR besar untuk mencari judul novel. Setelah dua judul yang kuajukan ditolak. Aku ragu apakah aku punya waktu untuk menulis cerpen. Tetapi, tema Lomba Cerpen Teman Tulis 2021 sangat ‘aku’ banget; keluarga. Ini salah satu tema yang selalu ada di dalam setiap novel yang kutulis. Jadi memasukkannya ke dalam cerpen terasa sangat menantang.

Tanggal 14 Juli malam aku duduk di meja dan memandangi monthly spread di jurnalku. Mencoba menyelip-nyelipkan jadwal menulis cerpen di antara padatnya proses menerbitkan buku. Karena aku perlu 3.000 kata, aku membaginya menjadi tiga hari. Perhari 1.000 kata. Namun di jadwal aku meluangkan tiga hari, sebab yang aku perlu mendaftar ide dan memilih mana yang bisa dipakai, kemudian membuat outline. Riset perlu, tapi nggak seintensif novel, jadi aku masih bisa melakukannya di sela-sela merevisi naskah.

Seperti biasa, aku nggak bisa membuat judul. Tetapi seperti biasa juga, aku nggak pernah memusingkan itu, Yang penting naskah cerpennya selesai dulu. Prinsipku dalam menulis cerpen ada lima; harus bisa membuat pembaca/juri baper sejak kalimat pertama, nggak boleh boros kata, sudut pandang jelas, dan nggak boleh boros kata kalimat–ruang terbatas, dan ada plot twist. Jadi ketika bisa menulis cerita dengan menerapkan lima prinsip tersebut, aku merasa puas. Bangga kepada diriku sendiri.

Hambatan dalam menulis cerpen tersebut, yang nomor satu, adalah BAPER sendiri. Iya, dadaku sesak dan sudut mataku menghangat–nangis. Aku memang ingin menguras air mata pembaca–ya kalau nggak sampai, paling nggak pembaca tersentuh hatinya. Indikasi itu akan berhasil, kalau aku sendiri saat menulis menangis. Kalau mataku sudah penuh air mata, aku harus berhenti menulis. Nggak kelihatan lihat layar.

Yang kedua, hambatannya adalah memilih judul. Aku jadi ingat saat bedah buku kemarin ditanya masalah judul. Aku bilang itu bagian yang nggak kusukai dalam menulis apa pun. Bahkan saat mengajukan naskah ke penerbit tahun 2016, yang akhirnya terbit sebagai buku debutku My Bittersweet Marriage, judulku nggak jelas banget. Tetapi aku punya editor yang menjadi teman diskusi menentukan judul. Sedangkan cerpen ini, aku nggak punya teman diskusi. Banyak yang kukhawatirkan saat membuat judul. Apakah dari situ isi ceritanya tertebak jadi orang nggak mau baca, atau apakah judulku mewakili ceritaku. Macam-macam. Belum lagi memikirkan mau pakai bahasa Inggris atau bahasa Indonesia. Akhirnya aku pilih Sebaik-baik Pelajaran. Ini merangkum isi cerita tapi juga–kurasa–membuat orang ingin tahu pelajaran apa yang kumaksud.

Naskah selesai, masalah timbul saat harus mengunggah. Di formulir ada kolom sinopsis. SINOPSIS. Aku belum pernah membuat sinosis cerpen. Sinopsis novel saja aku perlu waktu sangat lama buat bikin. Menceritakan novel sepanjang 70.000 kata menjadi 500 kata adalah suatu siksaan bagiku. Karena bagiku setiap bagian itu penting hahaha. Aku nggak tega kalau ada bagian yang nggak ikut kutulis.

Aku mengeluh kepada Miss Tina karena aku harus bikin sinopsis cerpen. Berapa panjang? Berapa kalimat? Berapa paragraf? Karena aku nggak punya waktu untuk mempelajari cara sinopsis cerpen, maka aku bikin saja sebisaku. Yang penting formulirnya bisa terkirim. Itu lebih baik daripada cerpennya nggak kukumpulkan, hanya diam di komputerku saja.

Sewaktu diumumkan sepuluh cerpen favorit juri–untuk di-vote menjadi pemenang favorit pembaca–cerpenku nggak ada. Aku pikir ya sudah, berarti cerpenku nggak berpeluang menang. Padahal aku sudah lihat di IGTV Lontara bahwa cerpen juara I dan II nggak dimasukkan dalam favorit demi menghindari menang dua kali. Tetapi karena aku pesimis aku lupa kenyataan itu.

Siang hari, habis panas-panasan beraktivitas di luar, aku membuka beranda Instagram. Scroll, scroll, scroll. Ada pengumuman pemenang. Aku bimbang mau lihat nggak ya. Takut kecewa hahaha. Tetapi kalau nggak dilihat nanti malam nggak bisa tidur. Akhirnya sambil berdoa, aku geser gambarnya. JUDUL CERPENKU ADA DI SANA. DI TENGAH. Kucek-kucek mata. Cubit-cubit lengan. Minta orang di sebelahku memastikan. Lalu aku baca komentar. Ada yang mengenaliku dan bilang ‘Ini Kak Ika Vihara yang itu yang menang ya?’ Apa aku Kak Ika Vihara yang itu?

Aku langsung berteriak,”Ibu, anakmu bisa menulis cerpen!” Teman-temanku kasih selamat. Dan wow, sampai uang hadiah ditransfer aku masih belum bisa percaya aku menang lomba cerpen. Bukan untuk pertama kalinya, tapi bertahun-tahun setelah aku pernah menang dan nggak pernah lagi menulis cerpen, ternyata aku bisa membuktikan kepada diriku sendiri aku mampu melakukannya.

Beberapa hari yang lalu, perwakilan penerbit menghubungiku. Menyampaikan cerpen Sebaik-baik Pelajaran akan terbit dalam buku kumpulan cerpen bersama cerpen-cerpen terpilih lainnya. Aduh, aku nggak sabar banget buat mendapatkannya dan membaca karya teman-teman yang lain di sana. Pasti bagus-bagus semua. Kamu mau punya buku itu juga? Hubungi aku di IG/Twitter ikavihara, nanti aku kasih tahu caranya.