Thing That Makes Me Happy

Di Balik The Dance of Love

Beberapa waktu yang lalu, seminggu sekali aku sempat mengunggah cerita The Dance of Love di sini. Kemudian, terhenti. Alasannya sepele dan lazim banget. Macet di tengah jalan. Aku nggak tahu gimana aku harus melanjutkannya. Bisa jadi karena aku salah start. Atau mungkin karena aku nggak bisa mengikuti outline yang kubikin. Kalau aku boleh menyebut, saat itu aku mengalami konstipasi dalam menulis. Di kepalaku ada banyak hal yang ingin kutulis, tapi meski kupaksa semua itu keluar dari kepalaku, tetap tidak bisa. Mirip seperti orang yang kesulitan, sorry, buang air besar.

Sebenarnya itu bukan kali pertama aku menulis cerita The Dance of Love. Dulu juga sempat pernah kutulis dan kuunggah. Nggak sanggup lanjut juga. Niatnya saat menulis cerita tersebut, aku ingin konsisten menulis seminggu dua ribu hingga tiga ribu kata. Nanti, dua puluh minggu kemudian, atau lima bulan, aku akan punya satu naskah utuh.

Tetapi itu semua nggak akan pernah terjadi. Sebab aku malah menunda-nunda menyelesaikan naskah. Hari Senin, kupikir besok aja, hari ini sudah capek. Besok malamnya, aku punya alasan lagi untuk menunda menulis. Begitu terus, malah akhirnya nggak nulis apa-apa.

Kemudian, aku memutuskan untuk kembali ke jadwal menulisku yang sebelumnya. Seperti ketika aku menulis My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, Bellamia, Midsommar, dan buku-bukuku yang lain. Dengan cara menulis setiap malam, sebanyak yang kubisa. Dalam waktu dua puluh hingga tiga puluh hari, The Dance of Love tersebut harus selesai.

Aku memulai menulis dari nol. Kurombak dari outline, deskripsi tokoh, semuanya. Tidak ada sedikit pun dari dua naskah terdahulu yang kupakai. Benar-benar kuawali dari halaman putih kosong. Berkali-kali aku bengong di depan laptop dan membatin, aduh apa lagi yang harus kutulis, bisa nggak aku menghasilkan seribu kata malam ini, dan macam-macam lagi.

Marathon menulis naskah seperti itu ada risikonya. Bisa bikin frustrasi karena kita seperti membuat diri kita sendiri dikejar deadline. Kalau sudah frustrasi, biasanya kata dan kalimat sulit sekali keluar. Atau kalau bisa, nggak akan natural. Cara menyiasatinya, begitu mulai tertekan, aku tinggalkan laptopku. Lalu ngobrol dengan keluarga, chatting dengan teman-teman,  nonton streaming badminton, membaca buku, dan cuma duduk-duduk di teras. Selama menulis, aku hampir menghilang dari media sosial, cuma muncul beberapa hari sekali untuk update.

Apa naskah The Dance of Love berhasil kuselesaikan? Ya, dalam waktu dua puluh satu hari. Hanya saja, aku merasa nggak puas. Seperti biasa. Setelah kuendapkan selama seminggu, aku membukanya lagi dan membaca ulang. Paragraf pembuka sudah pasti kuperbaiki. Lalu beberapa bagian di bagian tengah dan akhir.

Masih saja aku merasa nggak yakin dengan naskah tersebut. Rasanya aku banyak menulis paragraf deskriptif dan naratif. Meskipun kalimat-kalimat yang kubikin sudah lincah dan paragraf tersebut berperan mengalirkan cerita, aku agak ragu. Karena aku ingat, dulu aku pernah mengirim naskah ke penerbit, aku diminta untuk mengganti paragraf semacam itu dengan dialog. Alasannya sebab pembaca lebih suka buku yang banyak dialognya. Gundahlah diriku.

Tetapi alhamdulillah, aku punya guru dan panutanku, seorang editor yang hebat, Mbak Tari, yang bersedia membaca naskah tersebut dan memberiku masukan. Beliau belum mengirim balik naskah The Dance of Love kepadaku, tetapi sudah menyebut di status Facebook-nya bahwa …. she loves it.

Apakah aku akan mengunggah The Dance of Love di sini? Insyaallah, jika aku sudah menerima lagi naskahku dan masukan dari Mbak Tari sudah kulakasanakan.

Thing That Makes Me Happy

SEBUAH KESALAHAN

SEBUAH KESALAHAN DALAM MENULIS

Ini bukan tentang kesalahan dalam teknis kepenulisan. Bukan. Melainkan salah motivasi dalam menulis.

Tadi malam, sebelum tidur, aku memikirkan perjalanan karier menulisku—uh huh, biar tampak hebat meski sebenarnya ya nggak juga. Sejak SMA aku sudah aktif menulis di buku harian. Ini adalah fondasi karier yang amat penting, tidak bisa diremehkan. Semenjak kelas dua atau tiga SMA, aku bertukar buku harian dengan sahabatku, Kristian. Isinya macam-macam. Dari cowok yang kami sukai, lirik lagu yang menggambarkan suasana hati, keluarga, teman yang menyebalkan, sampai pembahasan soal-soal biologi. Sampai hari ini aku masih sering membaca buku tersebut, karena cerita-cerita di dalamnya begitu hidup.

Waktu kuliah, aku ikut menulis di majalah komunitas kampus. Isinya tentang IT dan orang-orang IT. Aku mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik, gratis maupun bayar. Masa-masa kuliah adalah masa-masa aku patah hati berkali-kali dan aku menuangkan perasaaanku dalam tulisan. Semua masih tersimpan rapi hingga kini. Bahkan, aku memenangkan lomba menulis cerita pendek karena cerita pedih tentang diriku dan seseorang yang tidak ingin kuingat sepanjang hidupku. (Hai, seseorang, kalau kamu baca ini, jangan komen-komen lagi di Instagramku, ya, bikin ingat kenangan kita.)

Saat aku mulai masuk dunia kerja—yang kerasnya minta ampun—aku berhenti menulis. Kecuali menulis status di media sosial, aku tidak pernah lagi menghasilkan tulisan yang lebih panjang daripada 1000 huruf. Beberapa kali aku mencoba meniatkan diri untuk ikut lomba menulis novel, tapi naskah tidak pernah selesai karena aku lebih sibuk pergi ke luar kota terkait pekerjaan.

Bagiku menulis adalah sebuah terapi mental. Karena itu, pada masa-masa mudaku—haha I mean school days—tulisanku banyak berputar-putar pada masalah kesedihan, kekecewaan, patah hati, dan segala hal negatif lain. Memang tulisan tersebut tidak menyelesaikan masalah, tetapi selalu berhasil membuat hatiku dan pikiranku lebih ringan. Suatu ketika saat kutengok lagi tulisan tersebut, aku akan tertawa, memikirkan betapa konyolnya diriku yang membesar-besarkan hal kecil.

Aku menulis apa yang ingin kutulis. Aku menulis apa yang benar-benar kurasakan. Aku menulis untuk menghibur diriku sendiri. Aku menulis untuk kebahagiaanku. Aku menulis karena aku perlu menulis. Aku menulis karena aku suka menulis.

Baru pada tahun 2015 aku mulai menulis lagi. Naskah yang berhasil kuselesaikan adalah Geek Play Love. Lalu The Danish Boss, dan My Bittersweet Marriage. Tahun berikutnya, ketiganya sudah terbit dan berwujud buku. Hingga hari ini, aku masih ingat betul apa yang kurasakan saat menulisnya. Hanya ada perasaan bahagia. Aku menikmati setiap prosesnya. Dari menciptakan karakter Dinar hingga meriset kota yang ditinggali Afnan. Biaya yang kukeluarkan untuk menulis buku tersebut tidak murah. Banyak buku yang harus kubeli dan aku harus mentraktir temanku kopi, karena dia bersedia jadi narasumber. Tetapi aku tidak memikirkan semua itu. Hanya satu yang penting. Naskah yang sedang kukerjakan selesai dan aku bisa berbangga di hadapan diriku sendiri.

Pada waktu itu aku menghadapi masa sulit dan aku membenci hidupku. Aku sudah traveling, aku sudah mencurahkan isi hati kepada teman dan tetap saja, aku ingin lari dari duniaku. Lagi-lagi tulisan menyelamatkanku. Dalam tulisanku, aku bisa membuat kehidupan baru. Aku boleh menciptakan dunia baru sesuai dengan keinginanku. Dengan mudah aku mengatur hidup Dinar dan Jasmine. Memindahkan Hessa ke dekat kutub utara. Membuat Fritdjof bertemu dengan Kana. Sepanjang menulis, aku menyadari bahwa aku sendirilah yang tahu apa yang terbaik untuk diriku, apa yang membuatku bahagia, siapa orang yang harus kudengarkan dan siapa yang perlu kuabaikan.

Sekarang, tiga tahun sudah berlalu dan aku masih tetap menulis dan menerbitkan buku. Kebahagiaan yang dulu kurasakan, kini semakin sulit kutemukan. Pokok permasalahannya satu. Uang. Setelah merasakan mendapatkan uang dari penjualan buku—terhitung banyak, dalam duniaku—aku menjadikannya sebagai tujuan utama. Ketika laporan penjualan buku sangat bagus, aku tergerak untuk menulis. Ketika tidak, aku merasa tidak ada gunanya aku menulis.

Kiamat!

Sudah banyak cerita seseorang berhenti menulis karena naskahnya tidak pernah diterima oleh penerbit. Atau seseorang memutuskan untuk tidak lagi menulis karena bukunya tidak laku. Aku tidak mau menjadi bagian dari kelompok mereka. Aku ingin terus menulis meski tidak mendapatkan uang. Aku ingin terus menulis meski aku hanya punya satu pembaca: diriku sendiri.

Karena itu, aku berusaha untuk tidak menjadikan jumlah penjualan sebagai motivasi untuk menulis. Aku berusaha untuk tidak mengontrol hasil akhir, orang lain suka atau tidak, urusan belakangan, yang penting aku bahagia selama menulisnya. Aku berusaha untuk tidak mengatur arah masa depan tulisanku, mau dijual atau hanya disimpan di laptop, tidak akan menjadi masalah.

Seluruh energi—bahan bakarnya cinta—yang kupunya kucurahkan dalam karyaku. Untuk bertahan menghasilkan karya dalam jangka waktu panjang, diperlukan gairah yang kuat. Tidaklah muncul gairah tersebut jika tak ada cinta yang mendorongnya. Katanya, segala karya yang didasari cinta akan menarik lebih banyak kesempatan dan kesuksesan.

Tetapi, sekali lagi, aku tidak memikirkan kedua hal tersebut. Aku ingin memperbaiki niatku, mengatur ulang motivasiku. Sebab, disadari atau tidak, niat dan motivasi bisa terbaca dari sebuah karya. Ketika merasa terpaksa harus menulis demi mengejar target selain kebahagiaan, hati akan selalu dipenuhi rasa iri. Mulai membanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain. Sangat tidak sehat dan bisa mempengaruhi warna tulisan. Tidak menyenangkan menikmati hasil karya yang tidak dibuat sepenuh hati.

 

12 Juli 2018

Ika Vihara

Thing That Makes Me Happy

THING THAT MAKES ME HAPPY (2): HEARTFELT MESSAGE

 

Is it wonderful that my books will have traveled farther than I have?

Or … frightening?

Sampai pada titik ini, aku tahu bahwa lebih mudah untuk berhenti menulis daripada menjaga kebiasaan baik tersebut. Iya, bagiku menulis adalah sebuah kebiasaan, bukan pekerjaan, bukan pula hobi. Sebuah kegiatan, sebelum disebut sebagai kebiasaan, harus dilakukan dulu berulang-ulang. Aku tidak tahu apa yang kutulis, tapi aku tetap menulis. Mau nanti ada hasilnya–diterbitkan–atau tidak–teronggok saja–namanya kebiasaan akan selalu kulakukan. Karena itu, tiga tahun sejak aku menulis kalimat pertamaku, aku berada di posisi yang berbeda, a well-practiced-writer.

Seperti kusebutkan dalam bukuku When Love Is Not Enough, aku tidak pernah sendirian dalam menulis sebuah buku. Ada banyak sekali orang yang membantuku. Yang paling berperan besar adalah teman-teman semua yang membaca bukuku dan menunggu buku selanjutnya. Tanpa kalian, aku tidak akan pernah sampai pada Midsommar dan Midnatt.

Bersama dengan jauhnya perjalanan bukuku ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi, aku mendapatkan banyak teman yang belum pernah kutemui. Tapi tidak masalah. Definisi teman jauh lebih dalam daripada itu. Bagiku semua yang telah membaca bukuku adalah temanku. Yang paling membuatku bahagia adalah, jika teman-temanku mengirimkan sebaris atau dua baris kalimat melalui media sosialku, e-mail, atau LINE dan WhatsApp.

Setiap kali aku merasa ingin berhenti menulis, aku membaca kembali pesan-pesan dari teman-teman. Aku ingin berhenti menulis bukan karena malas atau apa. Tapi karena aku merasa upayaku untuk memberi perubahan baik pada dunia, melalui tulisan, tidak akan pernah ada gunanya. Apa kontribusiku, orang yang menulis 350 halaman buku, akan ada pengaruhnya bagi kehidupan lebih dari tujuh miliar penduduk bumi? Dari situ aku sering berpikir bahwa diriku kecil sekali dan aku tidak akan bisa berbuat banyak.

Pesan dari teman-teman membuatku memiliki tujuan baru. Aku tidak perlu mengubah dunia, karena belum bisa. Tapi aku bisa membuat perubahan baik pada hidup beberapa orang. Yang membaca bukuku, tentu saja. Orang yang tadinya tidak tahu mengenai Aarhus, Lund, Seasonal Affective Dissorder, dan sebagainya yang kujelaskan di novelku, menjadi tahu. Yang tadinya tidak begitu tertarik dengan dunia STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sekarang mulai banyak yang berdiskusi denganku. Yang mulanya tidak percaya bahwa pendidikanlah yang mengubah hidup kita, bukan menikah dengan orang kaya, sekarang beberapa sudah menyampaikan bahwa mereka berhasil kuliah di tempat-tempat jauh seperti Afnan, Lilja, Mikkel, atau Dinar, dari novel-novelku.

Bukuku adalah hidupku. Aku ingin sekali hidupku bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun itu. Dan aku bahagia ketika teman-teman menceritakan kebaikan yang didapat dari bukuku. Semua lebih berharga daripada status best seller, kurasa.

Ah, aku jadi ingat, tadi malam di Instagram, ada yang mengunggah semua foto bukuku yang sudah dan sedang dia baca, dan dalam caption-nya, Mbak Maya mengatakan bahwa rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi ada bentuk lain, salah satunya: teman. Aku seratus persen menyetujui. Teman-teman semua alah rezeki paling berharga yang akan selalu kusyukuri–supaya ditambah–dan sampai kapan pun teman-teman akan selalu menjadi harta yang paling berharga dalam hidupku. Terima kasih sudah berteman denganku selama ini.

We are never far apart. Since friendship doesn’t count  miles, it is measured by heart.