Thing That Makes Me Happy

Dear Me

 

 

Engkau adalah inspirasi terbesarku.
Segala hal, sekecil apapun itu, bisa terlihat menarik ketika kamu memandangnya. Kamu selalu melihat jauh ke balik permukaan, menemukan sesuatu yang luput dari perhatian orang lain. Kamu tidak takut untuk menyampaikan perbedaan itu. Meski sebagai konsekuensinya, teman-teman dan orang-orang di sekelilingmumenganggapmu aneh.

Orang tidak habis pikir kenapa kamu tahan menghabiskan waktu berjam-jam sendirian hanya dengan melukis, menulis, atau hanya mencoret-coret kertas, sekadar menuangkan isi pikiranmu yang seperti tidak ada habisnya.

Namun kamu memilih tidak memedulikan mereka.

Terima kasih kepada orangtuamu yang selalu membacakan cerita ketika kamu belum bisa membaca. Terima kasih kepada orangtuamu yang bersedia membelikanmu buku-buku karena kamu selalu haus membaca. Saat itu anak-anak sebayamu jarang ada yang gemar membaca. Tetapi kamu berani menjadi berbeda.

Buku pertamamu berkaitan dengan alam semesta. Luar angkasa, samudera, dan sejenisnya. Tidak semua anak seberuntung dirimu dulu. Kegemaranmu membaca terus dipupuk oleh kedua orangtuamu. sehingga pada masa dewasamu, kamu memetik hasilnya.

Kamu tidak pernah mau menutupi kenyataan bahwa kamu tahu lebih banyak hal daripada teman dan orang-orang di sekelilingmu. Tak apa bagimu jika menurut mereka pengetahuan dan wawasan tidak akan bisa membuat perutmu kenyang. Nanti jika sudah sama-sama usia senja, kita akan bisa melihat siapa yang memiliki ingatan lebih tajam. Kamu atau orang yang tidak mau membaca buku tersebut.

Sekali lagi, kamu benar-benar beruntung. Aku, dirimu yang kini telah dewasa, berterima kasih untuk semua itu. Di sinilah dirimu sekarang. Sudah menerbitkan buku dan sedang menulis buku yang lain. Kamu tengah berusaha menambah sudut pandang orang lain terhadap cinta dan kehidupan melalui tulisanmu.

Kamu menghadapi banyak tantangan. Kadang kamu ragu apakah upayamu ada manfaatnya. Kamu berjuang. Kamu bekerja lebih keras daripada orang lain karena kamu tidak punya modal apa-apa.

Jalan yang kau lalui akan semakin terjal. Mungkin akan perlu waktu lama dan mengubah arah untuk menuju cita-cita. Sepanjang jalan kamu berkenalan dengan banyak orang. Beberapa tetap menjadi temanmu, tapi lebih banyak yang melupakanmu. Apa pun itu, kamu akan sampai di sana. Aku bangga padamu. Kamu beruntung bisa mengerjakan apa yang kamu sukai.
Semua akan baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Jangan menyerah.
Vihara
Thing That Makes Me Happy

Berhenti Menulis

 

14 November 2018. Pukul 23.27. Aku mengatakan kepada seseorang bahwa aku ingin berhenti menulis. Seseorang tersebut tertawa, nggak menanggapi serius apa yang kukatakan. Dia hanya melambaikan tangan dan mengatakan, “I have a feeling after a few weeks you will reach out for the pen again. Writing runs in your blood.”

Aku sendiri nggak tahu kenapa aku sampai bisa mengeluarkan kalimat seperti itu. Seseorang tersebut selalu benar. Rasanya aku nggak bisa membayangkan aku akan menyebut diriku apa, selain penulis. Tanpa sebuah karya, aku hanya manusia biasa. Dan aku ingin menjadi lebih dari biasa.

Keinginan untuk berhenti menulis bukan muncul karena nggak ada yang mau membaca tulisanku. Bukan. Selama ini aku selalu bersyukur aku punya jumlah teman yang cukup banyak yang bersedia mengeluarkan uang untuk membeli bukuku. Sesuatu yang sungguh kuhargai. Banyak penulis lain yang lebih hebat dariku, yang lebih terkenal, tulisan mereka jaminan bagus, namun ternyata beberapa orang masih bersedia memberi kesempatan untuk tulisanku, penulis kemarin sore ini.

Aku ingin berhenti menulis bukan karena aku nggak punya ide lagi. Tabungan ideku masih banyak. Sebuku penuh. Bahkan saat mengatakan aku ingin berhenti, aku punya dua tabungan naskah. Satu sedang direviu oleh seorang editor independen, mantan editor di sebuah penerbit besar. Lainnya sedang kuendapkan. Writer’s block nggak pernah menjadi masalah bagiku.

Lantas kenapa aku ingin berhenti? Karena aku lelah. Menerbitkan buku memang menyenangkan. Tetapi pada waktu bersamaan, melelahkan. Lepas menulis, tugasku nggak selesai. Aku harus mencarikan bukuku rumah baru, di rak buku teman-teman sekalian. Iya, itu namanya¬†promosi. Apa yang harus kulakukan untuk promosi sungguh menghabiskan energi. Aku membagikan cerita gratis untuk mengenalkan tulisanku, harus memikirkan bahan untuk diunggah di media sosial. Sebab pendapatanku sebagai penulis masih kecil–setelah dikurangi biaya riset dan sebagainya untuk menulis, aku nggak bisa menyewa fotografer atau media content creator. Semua kukerjakan sendiri. Pendapatan royalti kusisihkan untuk membeli laptop dengan double processor, tablet gambar, dan kamera yang bagus. Ada waktu-waktu yang harus kupakai untuk belajar Photoshop dan Illustrator secara mandiri. Untungnya banyak orang yang membagi ilmu melalui situs berbagi video maupun blog-blog.

Aku nggak pernah mengeluhkan proses tersebut selama ini, karena aku memang suka belajar hal baru. Tetapi karena aku manusia biasa, ada masa di mana aku berharap aku hanya perlu menulis dan tugas lainnya dikerjakan orang lain. Supaya energiku nggak habis. Agar aku bisa menggunakan waktu untuk lebih banyak lagi membaca buku. Suatu saat mungkin akan tercapai, kalau bukuku laku sejuta kopi.

Ah, aku ingat sesuatu. Dosenku saat kuliah dulu, salah satu supervisorku saat aku mengerjakan undergraduate thesis, bertanya padaku mengenai penulisan dan penerbitan naskah fiksi. Aku merasa tersanjung, sebab ternyata ada orang yang mengamati perjalanan karierku sebagai seorang penulis dan merasa aku pantas untuk dimintai sedikit pengetahuan. Kepada beliau, dengan jujur aku mengatakan bahwa proses menulis, menerbitkan, mempromosikan dan seterusnya sangat melelahkan.

Bukan aku berniat menakut-nakuti penulis baru. Banyak penulis yang lebih baru dariku malah lebih terkenal dan mendapatkan pendapatan yang lebih besar, sehingga bisa mencari orang yang bisa membantu mereka untuk promosi dengan imbalan tertentu. Rezeki orang selalu berbeda dan aku tahu apa yang kudapatkan nggak mencerminkan apa yang orang lain akan dapatkan. Bisa jadi kalian viral di media sosial lalu menjadi populer dalam waktu satu malam. Atau satu bulan. Atau ada jalan lain.

Tahun depan, aku merasa aman jika aku berhenti menulis selama setengah tahun. Ada dua naskah yang bisa diterbitkan. Kalau rasa lelahku sudah hilang dan rasa rindu untuk menulis datang, aku akan mulai lagi.