Thing That Makes Me Happy

Di Balik The Dance of Love

Beberapa waktu yang lalu, seminggu sekali aku sempat mengunggah cerita The Dance of Love di sini. Kemudian, terhenti. Alasannya sepele dan lazim banget. Macet di tengah jalan. Aku nggak tahu gimana aku harus melanjutkannya. Bisa jadi karena aku salah start. Atau mungkin karena aku nggak bisa mengikuti outline yang kubikin. Kalau aku boleh menyebut, saat itu aku mengalami konstipasi dalam menulis. Di kepalaku ada banyak hal yang ingin kutulis, tapi meski kupaksa semua itu keluar dari kepalaku, tetap tidak bisa. Mirip seperti orang yang kesulitan, sorry, buang air besar.

Sebenarnya itu bukan kali pertama aku menulis cerita The Dance of Love. Dulu juga sempat pernah kutulis dan kuunggah. Nggak sanggup lanjut juga. Niatnya saat menulis cerita tersebut, aku ingin konsisten menulis seminggu dua ribu hingga tiga ribu kata. Nanti, dua puluh minggu kemudian, atau lima bulan, aku akan punya satu naskah utuh.

Tetapi itu semua nggak akan pernah terjadi. Sebab aku malah menunda-nunda menyelesaikan naskah. Hari Senin, kupikir besok aja, hari ini sudah capek. Besok malamnya, aku punya alasan lagi untuk menunda menulis. Begitu terus, malah akhirnya nggak nulis apa-apa.

Kemudian, aku memutuskan untuk kembali ke jadwal menulisku yang sebelumnya. Seperti ketika aku menulis My Bittersweet Marriage, When Love Is Not Enough, Bellamia, Midsommar, dan buku-bukuku yang lain. Dengan cara menulis setiap malam, sebanyak yang kubisa. Dalam waktu dua puluh hingga tiga puluh hari, The Dance of Love tersebut harus selesai.

Aku memulai menulis dari nol. Kurombak dari outline, deskripsi tokoh, semuanya. Tidak ada sedikit pun dari dua naskah terdahulu yang kupakai. Benar-benar kuawali dari halaman putih kosong. Berkali-kali aku bengong di depan laptop dan membatin, aduh apa lagi yang harus kutulis, bisa nggak aku menghasilkan seribu kata malam ini, dan macam-macam lagi.

Marathon menulis naskah seperti itu ada risikonya. Bisa bikin frustrasi karena kita seperti membuat diri kita sendiri dikejar deadline. Kalau sudah frustrasi, biasanya kata dan kalimat sulit sekali keluar. Atau kalau bisa, nggak akan natural. Cara menyiasatinya, begitu mulai tertekan, aku tinggalkan laptopku. Lalu ngobrol dengan keluarga, chatting dengan teman-teman,  nonton streaming badminton, membaca buku, dan cuma duduk-duduk di teras. Selama menulis, aku hampir menghilang dari media sosial, cuma muncul beberapa hari sekali untuk update.

Apa naskah The Dance of Love berhasil kuselesaikan? Ya, dalam waktu dua puluh satu hari. Hanya saja, aku merasa nggak puas. Seperti biasa. Setelah kuendapkan selama seminggu, aku membukanya lagi dan membaca ulang. Paragraf pembuka sudah pasti kuperbaiki. Lalu beberapa bagian di bagian tengah dan akhir.

Masih saja aku merasa nggak yakin dengan naskah tersebut. Rasanya aku banyak menulis paragraf deskriptif dan naratif. Meskipun kalimat-kalimat yang kubikin sudah lincah dan paragraf tersebut berperan mengalirkan cerita, aku agak ragu. Karena aku ingat, dulu aku pernah mengirim naskah ke penerbit, aku diminta untuk mengganti paragraf semacam itu dengan dialog. Alasannya sebab pembaca lebih suka buku yang banyak dialognya. Gundahlah diriku.

Tetapi alhamdulillah, aku punya guru dan panutanku, seorang editor yang hebat, Mbak Tari, yang bersedia membaca naskah tersebut dan memberiku masukan. Beliau belum mengirim balik naskah The Dance of Love kepadaku, tetapi sudah menyebut di status Facebook-nya bahwa …. she loves it.

Apakah aku akan mengunggah The Dance of Love di sini? Insyaallah, jika aku sudah menerima lagi naskahku dan masukan dari Mbak Tari sudah kulakasanakan.

My Books

Afnan Møller: An Interview

Afnan Møller adalah salah satu tokoh yang berarti dalam hidupku. Berkat dirinya buku pertamaku berhasil terbit dan kemudian menyusul buku-bukuku yang lain. Dalam banyak pesan yang kuterima melalui Instagram, Facebook, Twitter, e-mail, maupun WhatsApp, aku tahu bahwa teman-teman juga menyukai Afnan. Karena itu, ketika ada kesempatan, aku ‘mewawancarai’ Afnan dan mencari tahu bagaimana hidupnya dulu dan sekarang. Jalan yang kulalui berliku, aku harus menghubunginya melalui Instagram Hessa dan … di bawah ini kupersembahkan hasil ‘wawancara’ dengan Afnan beberapa hari yang lalu.

 

 

Good afternoon, Dr. Møller. Thanks for letting me interviewing you for all of your fans out there.

Afnan, please. Fans? Aku bukan artis atau apa. Hanya orang biasa.

Orang biasa? Mungkin menurut Hessa tidak.

Hessa. She is something, isn’t she? Sampai hari ini aku tidak pernah menyangka ada seorang gadis yang rela mengorbankan segalanya demi laki-laki sepertiku. Kalau mengingat betapa lamanya dia mengambil keputusan untuk menikah denganku, tentu permintaanku waktu itu sangat tidak mudah.

Aku lihat foto-foto Hessa di Instagram, sepertinya kalian baru pulang liburan dari tempat hangat.

Iya, musim panas ini Hagen memilih untuk ikut camp, science camp, because he is his father’s son, selama satu bulan dan kami baru ada waktu untuk liburan pada bulan Agustus. Hanya sebentar, tapi cukup bagi kami semua untuk mendapatkan cukup sinar matahari. Hessa masih aktif di sana? Aku sudah memperingatkannya untuk berhati-hati membagi kehidupannya kepada orang lain.

Hanya foto tempat-tempat yang dia datangi dan foto anak-anak. Bagaimana kabar Hessa sekarang?

Masih terus beradaptasi dengan Aarhus. Proses yang tidak akan pernah selesai. Tidak mudah pindah dari Indonesia, yang sudah dia tinggali sejak lahir sampai 27 tahun kemudian, ke sini. Hessa adalah wanita yang paling kuat di dunia, keteguhan hatinya sangat luar biasa. Dia tidak ingin menyerah memperjuangkan pernikahan kami. Seasonal Affective Disorder tidak membuatnya menangis minta pulang ke Indonesia. Kesepian dan kesenderian dia telan sendiri, hanya karena dia tidak ingin membebaniku.

Jadi, kamu pernah merasa terbebani?

Tidak sama sekali. Saat menikah dengannya, aku belum bisa mengatakan aku mencintainya. Karena, memang kamu memutuskan menikah dengan banyak pertimbangan, kecuali cinta. Hessa bukan beban, tetapi tanggung-jawab. Sejak melamarnya, aku sudah mengatakan bahwa aku akan memperlakukannya sebagaimana seorang suami memperlakukan seorang istri. Mau cinta atau tidak cinta, aku akan menyayanginya dan membahagiakannya. Meskipun, Hessa tidak merasakannya pada tahun pertama pernikahan kami. Mungkin karena aku tidak terlalu bisa menunjukkan. Orang tidak tahu betapa menderitanya Hessa pada masa itu.

Menderita seperti apa? 

Salah satu syarat yang kuajukan sebelum menikah adalah istriku harus mau pindah ke Aarhus dan tinggal di sini bersamaku. Dengan paksa aku mencabut akar kehidupan Hessa dan memindahkan ke tanah yang sama denganku. Di tanah ini, aku punya lebih banyak kehidupan daripada Hessa. Aku punya teman, aku punya pekerjaan, aku punya restoran favorit, aku punya segalanya. Tetapi milik Hessa semua harus ditinggalkan di Indonesia. Dia tidak punya siapa-siapa, tidak tahu harus melakukan apa, dia di rumah sendirian selama aku berada di kantor dari pagi hingga sore, bahkan dia tidak bisa berbahasa Denmark. Juga, aku salah memilih waktu untuk pindah ke Denmark. Menjelang musim semi. Cuaca dingin sekali dan hari semakin pendek. Tubuh Hessa menolak untuk menyesuaikan diri. Semua faktor tersebut berkumpul dalam tubuh Hessa dan dia jatuh sakit. Diagnosis dokter menunjukkan bahwa Hessa menderita Seasonal Affective Disorder dan tidak diperbolehkan hamil. Padahal menurut Hessa kehadiran seorang anak akan mengurangi rasa sepinya.

Apa yang kamu lakukan untuk mengurangi penderitaan Hessa?

Menemaninya. Aku mengambil cuti dan menemaninya untuk mencari aktvitas-aktivitas luar ruangan. Seperti ke perpustakaan. Mengenalkannya dengan orang-orang yang berbagi kegemaran yang sama. Juga mencarikan guru untuk mengajarinya bahasa Denmark. Banyak orang yang mengatakan Hessa terlalu manja. Hanya mengandalkan diriku untuk menjalani hidup di Aarhus. Seharusnya dia travelling, mumpung berada di luar negeri. Percayalah, ketika anda semua dihadapkan pada posisi Hessa, travelling adalah sesuatu yang tidak akan ada pikirkan. Kecuali anda datang ke sini untuk jalan-jalan dengan berlindung di balik kata beasiswa. Prioritas Hessa bukan travelling. Melainkan mengenalku, memperkuat fondasi pernikahan kami, dan membangun rumah tangga di sini. Semua itu tidak akan tercapai jika Hessa sibuk travelling.

Berlindung di balik kata beasiswa?

Aku mengajar di universitas dan aku tahu cukup banyak mahasiswa mencari beasiswa untuk kuliah di luar negeri karena ingin jalan-jalan gratis. Orang-orang seperti itu tidak akan bertahan lama di dalam laboratorium yang kupimpin.

Oh, hahaha. Ada yang menanyakan, sebagai orang Denmark, kenapa namamu tidak ada Denmark-Denmark-nya? Tidak seperti kembaranmu, Mikkel.

Setiap orangtua tidak sembarangan memberi nama anaknya. Karena nama adalah doa. Kakekku orang Denmark dan menikah dengan wanita Maroko. Nenekku yang mengusulkan nama Afnan dan karena namanya baik, maka orangtuaku setuju. Sedangkan nama Mikkel dipilih untuk menghormati sahabat karib ayahku yang sudah meninggal.

Mumpung membicarakan masalah nama, apa arti nama Sofia bagimu?

Segalanya. Sofia adalah titik balik kehidupan kami. Baik sebagai pasangan maupun sebagai pribadi. Kami banyak beradu pendapat mengenai masalah kapan akan punya anak. Awalnya aku merasa bahwa fokus pada kesehatan Hessa jauh lebih penting daripada punya anak. Tetapi Hessa, wanita yang teguh hati itu, bersikeras memilikinya. Pada akhirnya kami belajar untuk mencari jalan tengah dan sama-sama bertanggung-jawab atas keputusan yang kami ambil bersama. Aku tidak pernah menyalahkan Hessa atas apa yang terjadi pada Sofia. Meski Hessa seringkali merasa bersalah dan mengganggap dirinya gagal sebagai seorang istri karena kejadian itu.

Di mataku kehidupan kalian sempurna.

Hessa yang sempurna. Aku jauh dari sempurna. Kalau ditanya siapa yang paling banyak berkontribusi untuk pernikahan kami, Hessa adalah orangnya. Semua penghargaan harus diberikan kepadanya.

Kamu sangat mengagumi dan memuja Hessa ya.

Tentu saja. Itu tugas seorang laki-laki sejati. Menyayangi dan memuja istrinya.

Untuk orang-orang yang belum menikah di luar sana, apa kamu menyarankan untuk mencari pasangan melalui perjodohan?

Tidak. Jalan untuk bertemu dengan belahan jiwa bermacam-macam. Kebetulan saja aku dan Hessa sama-sama setuju saat kedua orangtua kami mengusulkan untuk saling bertemu. Adikku, Lilja, menikah dengan Linus yang sudah dikenalnya sejak kanak-kanak. Kembaranku, Mikkel, punya banyak sekali teman wanita dengan berbagai macam latar belakang, siapa yang menyangka dia malah jatuh cinta pada Liliana, teman SMP Lilja. Tidak perlu mengambil pusing mengenai masalah tersebut. Jika sudah waktunya akan bertemu, bagaimana pun caranya. Tuhan punya skenario sendiri.

Tetapi kita bisa mengatakan bahwa kamu dan Hessa berhasil dan bahagia hingga sekarang.

Pemandangan yang indah didapatkan ketika kita berhasil mendaki hingga ke puncak gunung. Yang ingin kukatakan adalah, tidak semua kebahagiaan yang tidak didapat dengan mudah. Seringkali kita harus menghadapi jalan yang terjal, panjang, dan melelahkan terlebih dahulu. Menghadapi kesulitan dan tantangan hidup, baik sebagai individu maupun pasangan, bersama dengan Hessa membuat semuanya menjadi lebih mudah.

Tidak ada rencana untuk pulang dan mengabdi di Indonesia?

Bukan masalah penting tinggal di mana. Yang penting di mana pun aku berada, aku akan berusaha menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain.

Berarti tidak?

Mungkin. Akar kehidupan Hessa sudah mulai tertancap di sini. Dia telah menyelesaikan master dan sedang menimbang-nimbang untuk meraih Ph.D, dia sempat bekerja sebagai guru, dan sekarang bersama teman-teman wanitanya di sini, dia mendirikan sebuah badan untuk membantu anak-anak di daerah konflik. Hagen nyaman dengan sistem kehidupan di sini. Pagi belajar di TK, siang hingga sore di daycare. Kehidupan kami sudah mulai stabil dan akan sulit membangun ulang di Indonesia.

Apa yang ingin kamu ucapkan pada Hessa?

Terima kasih sudah membuatku menjadi laki-laki paling beruntung sedunia. Anak-anak kita akan tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat karena mewarisi nilai-nilai kehidupan darimu.

Terakhir, apa yang ingin kamu sampaikan kepada fansmu?

Aku masih tidak percaya mereka ada. Tetapi jika benar-benar ada, pasti kalian sudah mendengar kabar mengenai Hessa dan masa sulit yang harus dia hadapi setelah melahirkan Thea. Mungkin kalian sudah tahu bagaimana ceritanya. Aku ingin mengucapkan terima kasih karena kalian selalu mendoakan dan mencintai Hessa. Sehingga dia bisa semakin kuat dan akan bisa menghadapinya.

Oppsie, itu suara Hagen? Sepertinya dia memerlukan ayahnya. Terima kasih sudah berbagi denganku hari ini. Aku yakin ini akan mengobati kerinduan kita semua kepada keluarga kalian. Tolong sampaikan pada Hessa, kalau dia bersedia, aku ingin mengobrol dengannya juga.

####

Penting:

  1. Cerita Afnan dan Hessa bisa diikuti dalam novel My Bittersweet Marriage dan Midnatt.
  2. Wawancara di atas adalah hasil imajinasiku belaka.
My Bookshelf

Yth. Orangtua

Aku masih ingat apa yang dikatakan Rektor UGM saat mengukuhkan wisudawan dua tahun yang lalu. Pada waktu itu, Profesor Dwikorita Karnawati—sekarang kepala BMKG—menyampaikan kepada orangtua wisudawan yang hadir—kalau mereka menyimak—bahwa tantangan menjadi orangtua zaman sekarang adalah menambah wawasan dan memahami bahwa ada banyak, dan semakin banyak, pilihan profesi baru yang tidak ada ada pada zaman mereka muda dulu. Orangtua harus mau menerima bahwa anak-anak mereka tahu lebih banyak daripada mereka. Mudah saja bagi anak-anak untuk terinspirasi dengan orang-orang hebat di luar sana—terima kasih kepada internet—dan ingin mengikuti jejak mereka.

Zaman sekarang, setelah lulus kuliah, pilihan pekerjaan anak muda tidak lagi terbatas pada pegawai negeri sipil, pegawai BUMN, atau karyawan swasta. Meski seorang anak lulus dari jurusan akuntansi, jika dia ingin menjadi seorang toy photographer, tidak ada masalah. Ada banyak media tersedia untuk memajang dan memasarkan karyanya. Inti dari menuntut ilmu tinggi-tinggi bukan semata perkara ijazah. Tetapi, di antaranya, adalah mengubah cara bepikir dan membangun jaringan. Masalahnya, apakah semua orangtua akan baik-baik saja dengan pilihan karier anaknya? Apakah semua orangtua bisa menerima anaknya tidak mendapatkan gaji tetap pada ujung bulan? Banggakah orang tua menyebut bahwa anaknya bekerja dari rumah, self-employed, bukannya berangkat ke kantor setiap pagi dan pulang saat senja? Bahagiakah orangtua ketika anaknya tidak menjadi bawahan siapa-siapa, melainkan cita-citanya?

Tidak ada orangtua yang kutanyai terkait masalah ini. Aku hanya meneliti sekitarku. Orang-orang di dalam lingkaran keluargaku. Berdasarkan pengamatanku, jawaban dari semua pertanyaan di atas adalah tidak. Jangankan mengenai karier, yang memutuskan kuliah di mana saja orangtuanya. Bagaimana sejak masuk SMA seorang anak sudah dicekoki doktrin bahwa selepas lulus nanti harus masuk sekolah kedinasan, supaya jadi pegawai negeri dan tidak pusing lagi mencari penghidupan. Sekolah sebentar saja sudah dijamin dapat gaji hingga uang pensiun. Boleh saja seorang anak bercita-cita menjadi pegawai negeri sipil atau polisi, asalkan memang itu yang dia inginkan. Misalnya karena dia ingin mengabdi kepada negara. Bukan karena orangtua yang tidak ingin repot berlama-lama mendukung anaknya mengejar passion-nya.

Ada artikel di letgrow.org yang menuliskan hasil  sebuah survei. Tiga puluh dua persen remaja hidup dalam kesedihan dan ketidakberdayaan yang tidak berkesudahan. Penyebabnya adalah mereka tidak diberikan kesempatan untuk memutuskan sendiri apa yang terbaik bagi mereka. Sebisa mungkin orangtua mengusahakan anak mereka mulus hidupnya dari lahir hingga dewasa. Anak-anak  tidak dibiarkan untuk jatuh dan terluka. Sehingga tidak tahu bagaimana caranya bangkit lagi. Padahal, pemberian kebebasan berperan dalam membangun kemandirian dan ketahanan mental. Tugas orangtua adalah membimbing dan mengarahkan, betul. Memberi nasihat, benar. Kalau sampai mengontrol keseluruhan aspek hidup mereka, itu agak kebablasan.

Kebanyakan orangtua berpikir bahwa masa depan anak harus ditata sejak dini. Sejak kecil sudah disuruh berenang, bukan demi kesehatan, tapi demi bisa masuk polisi. Nanti SMP di sini, supaya bisa SMA di sana, di SMA pilih jurusan A, supaya mudah nanti masuk sekolah kedinasan. Akibatnya apa. Nilai rapornya tidak terlalu bagus untuk ikut babak pertama seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Sebab selama sekolah, anak berpikir toh nanti yang dipakai hasil tes masuk. Ketika teman-temannya sudah mengamankan kursi di perguruan tinggi terbaik dengan rapornya, anak mereka masih harus menunggu seleksi nasional. Yang tidak diikuti dengan sepenuh hati, pilihan jurusan diisi sembarangan, yang paling tidak banyak peminatnya, karena nanti juga akan ditinggal saat diterima sekolah kedinasan.

Sayangnya, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Gagal masuk kedinasan. Jurusan yang dipilih di perguruan tinggi negeri bukan yang diinginkan. Sedangkan orangtua sudah kadung memakai uang untuk membeli rumah ketiga dan mobil baru. Permintaan untuk masuk perguran tinggi sesungguhnya sudah ditutup sejak awal, oleh orangtuanya sendiri. Yang tidak rela mengeluarkan uang untuk pendidikan anaknya. Sebab kuliah juga tidak akan menjamin mendapatkan pekerjaan, jadi kenapa uang dibuang-buang.

Yang dimaksud dengan tidak mendapatkan pekerjaan di sini adalah pekerjaan tradisional, yang kusebutkan di atas. Bakat anaknya adalah menggambar dan anaknya ingin masuk jurusan terkait. Meski sudah diberi banyak contoh orang-orang yang hidup nyaman dari menggambar—palaeoartist, skeletal drawer, scientific illustrator, dan sebagainya, sudah ditunjukkan Shutterstock dan tempat lain di mana para ilustrator menjual karyanya, sudah diberi tahu bahwa sekarang galeri seseorang bukan lagi di dalam ruangan—melainkan di media sosial, dan untuk menggambar komik superhero tidak harus tinggal di Amerika, tetap saja orangtuanya bergeming. Tunggu tahun depan untuk ikut tes sekolah kedinasan lagi. Menyedihkan sekali nasib anak itu. Dia hanya bisa termangu ketika teman-temannya mulai mengepakkan sayap mengenal dunia baru. Nanti saat dia reuni sepuluh tahun yang akan datang, saat teman-temannya menceritakan keberhasilan mewujudkan cita-cita, apa yang akan dia katakan? Dia hanyalah korban dari pemikiran orangtuanya yang tertinggal tiga dekade di belakang.

Orangtua zaman sekarang tidak lagi bisa bersembunyi di balik kalimat bahwa mereka tahu lebih banyak dan lebih baik sebab sudah hidup lebih lama. Sudah pernah muda dan sebagainya. Zaman sudah berbeda, ada pengalaman mereka yang tidak relevan lagi. Sedangkan wawasan anak lebih luas, sebab melalui media sosial saja, dia bisa melihat alumnus sekolah yang sudah sukses di luar bidang tradisional. Mendirikan start-up misalnya.

Bisakah kita menjadi orangtua berpikiran terbuka? Sebab kemajuan zaman akan semakin pesat dan pilihan profesi akan semakin beragam. Bisakah kita mengerem diri kita untuk tidak menjadi orangtua yang menganggap anak tidak tahu apa-apa? Seperti yang tertulis dalam letgrow.org, untuk menumbuhkan kontrol diri pada anak, kita harus berhenti mengontrol mereka. Kita harus memberi kesempatan pada anak-anak untuk membuat keputusan benar maupun salah. Mereka akan belajar dari setiap kesalahan dan mereka akan semakin kuat. Bisakah kita berdiri di belakang mereka, baik mereka sukses mau pun berhasil? Anak-anak akan merasa aman jika tahu orangtuanya tetap bangga apa pun hasil dari usaha mereka, sebab yang penting adalah mencoba. Bisakah kita mempercayai anak-anak kita untuk menentukan sendiri jalan hidupnya? Sebab merekalah yang menjalani, bukan kita, orangtua.

Semoga kita bisa.

Sumber gambar Freepik.com

Thing That Makes Me Happy

SEBUAH KESALAHAN

SEBUAH KESALAHAN DALAM MENULIS

Ini bukan tentang kesalahan dalam teknis kepenulisan. Bukan. Melainkan salah motivasi dalam menulis.

Tadi malam, sebelum tidur, aku memikirkan perjalanan karier menulisku—uh huh, biar tampak hebat meski sebenarnya ya nggak juga. Sejak SMA aku sudah aktif menulis di buku harian. Ini adalah fondasi karier yang amat penting, tidak bisa diremehkan. Semenjak kelas dua atau tiga SMA, aku bertukar buku harian dengan sahabatku, Kristian. Isinya macam-macam. Dari cowok yang kami sukai, lirik lagu yang menggambarkan suasana hati, keluarga, teman yang menyebalkan, sampai pembahasan soal-soal biologi. Sampai hari ini aku masih sering membaca buku tersebut, karena cerita-cerita di dalamnya begitu hidup.

Waktu kuliah, aku ikut menulis di majalah komunitas kampus. Isinya tentang IT dan orang-orang IT. Aku mengikuti berbagai pelatihan jurnalistik, gratis maupun bayar. Masa-masa kuliah adalah masa-masa aku patah hati berkali-kali dan aku menuangkan perasaaanku dalam tulisan. Semua masih tersimpan rapi hingga kini. Bahkan, aku memenangkan lomba menulis cerita pendek karena cerita pedih tentang diriku dan seseorang yang tidak ingin kuingat sepanjang hidupku. (Hai, seseorang, kalau kamu baca ini, jangan komen-komen lagi di Instagramku, ya, bikin ingat kenangan kita.)

Saat aku mulai masuk dunia kerja—yang kerasnya minta ampun—aku berhenti menulis. Kecuali menulis status di media sosial, aku tidak pernah lagi menghasilkan tulisan yang lebih panjang daripada 1000 huruf. Beberapa kali aku mencoba meniatkan diri untuk ikut lomba menulis novel, tapi naskah tidak pernah selesai karena aku lebih sibuk pergi ke luar kota terkait pekerjaan.

Bagiku menulis adalah sebuah terapi mental. Karena itu, pada masa-masa mudaku—haha I mean school days—tulisanku banyak berputar-putar pada masalah kesedihan, kekecewaan, patah hati, dan segala hal negatif lain. Memang tulisan tersebut tidak menyelesaikan masalah, tetapi selalu berhasil membuat hatiku dan pikiranku lebih ringan. Suatu ketika saat kutengok lagi tulisan tersebut, aku akan tertawa, memikirkan betapa konyolnya diriku yang membesar-besarkan hal kecil.

Aku menulis apa yang ingin kutulis. Aku menulis apa yang benar-benar kurasakan. Aku menulis untuk menghibur diriku sendiri. Aku menulis untuk kebahagiaanku. Aku menulis karena aku perlu menulis. Aku menulis karena aku suka menulis.

Baru pada tahun 2015 aku mulai menulis lagi. Naskah yang berhasil kuselesaikan adalah Geek Play Love. Lalu The Danish Boss, dan My Bittersweet Marriage. Tahun berikutnya, ketiganya sudah terbit dan berwujud buku. Hingga hari ini, aku masih ingat betul apa yang kurasakan saat menulisnya. Hanya ada perasaan bahagia. Aku menikmati setiap prosesnya. Dari menciptakan karakter Dinar hingga meriset kota yang ditinggali Afnan. Biaya yang kukeluarkan untuk menulis buku tersebut tidak murah. Banyak buku yang harus kubeli dan aku harus mentraktir temanku kopi, karena dia bersedia jadi narasumber. Tetapi aku tidak memikirkan semua itu. Hanya satu yang penting. Naskah yang sedang kukerjakan selesai dan aku bisa berbangga di hadapan diriku sendiri.

Pada waktu itu aku menghadapi masa sulit dan aku membenci hidupku. Aku sudah traveling, aku sudah mencurahkan isi hati kepada teman dan tetap saja, aku ingin lari dari duniaku. Lagi-lagi tulisan menyelamatkanku. Dalam tulisanku, aku bisa membuat kehidupan baru. Aku boleh menciptakan dunia baru sesuai dengan keinginanku. Dengan mudah aku mengatur hidup Dinar dan Jasmine. Memindahkan Hessa ke dekat kutub utara. Membuat Fritdjof bertemu dengan Kana. Sepanjang menulis, aku menyadari bahwa aku sendirilah yang tahu apa yang terbaik untuk diriku, apa yang membuatku bahagia, siapa orang yang harus kudengarkan dan siapa yang perlu kuabaikan.

Sekarang, tiga tahun sudah berlalu dan aku masih tetap menulis dan menerbitkan buku. Kebahagiaan yang dulu kurasakan, kini semakin sulit kutemukan. Pokok permasalahannya satu. Uang. Setelah merasakan mendapatkan uang dari penjualan buku—terhitung banyak, dalam duniaku—aku menjadikannya sebagai tujuan utama. Ketika laporan penjualan buku sangat bagus, aku tergerak untuk menulis. Ketika tidak, aku merasa tidak ada gunanya aku menulis.

Kiamat!

Sudah banyak cerita seseorang berhenti menulis karena naskahnya tidak pernah diterima oleh penerbit. Atau seseorang memutuskan untuk tidak lagi menulis karena bukunya tidak laku. Aku tidak mau menjadi bagian dari kelompok mereka. Aku ingin terus menulis meski tidak mendapatkan uang. Aku ingin terus menulis meski aku hanya punya satu pembaca: diriku sendiri.

Karena itu, aku berusaha untuk tidak menjadikan jumlah penjualan sebagai motivasi untuk menulis. Aku berusaha untuk tidak mengontrol hasil akhir, orang lain suka atau tidak, urusan belakangan, yang penting aku bahagia selama menulisnya. Aku berusaha untuk tidak mengatur arah masa depan tulisanku, mau dijual atau hanya disimpan di laptop, tidak akan menjadi masalah.

Seluruh energi—bahan bakarnya cinta—yang kupunya kucurahkan dalam karyaku. Untuk bertahan menghasilkan karya dalam jangka waktu panjang, diperlukan gairah yang kuat. Tidaklah muncul gairah tersebut jika tak ada cinta yang mendorongnya. Katanya, segala karya yang didasari cinta akan menarik lebih banyak kesempatan dan kesuksesan.

Tetapi, sekali lagi, aku tidak memikirkan kedua hal tersebut. Aku ingin memperbaiki niatku, mengatur ulang motivasiku. Sebab, disadari atau tidak, niat dan motivasi bisa terbaca dari sebuah karya. Ketika merasa terpaksa harus menulis demi mengejar target selain kebahagiaan, hati akan selalu dipenuhi rasa iri. Mulai membanding-bandingkan dengan pencapaian orang lain. Sangat tidak sehat dan bisa mempengaruhi warna tulisan. Tidak menyenangkan menikmati hasil karya yang tidak dibuat sepenuh hati.

 

12 Juli 2018

Ika Vihara

Uncategorized

RAMADAN GIVE AWAY

 

Sudah lama aku nggak ngadain give away. Sekarang aku … ngadain. Hadiahnya voucer Gramedia untuk dua orang yg beruntung, masing-masing Rp 100.000,-.

Untuk ikutan, teman-teman cukup memotret novel yang kutulis yang kalian miliki, minimal 4 novel, di Instagram. Pada caption/keterangan gambar, tuliskan tokoh novelku yang kalian sukai dan alasannya, boleh satu, dua, atau semua. Boleh upload lebih dari satu foto. Jangan lupa mention aku dan pakai hashtag-nya #giveawayvihara

Give away dimulai saat ini, 7 Juni sd 13 Juni 2017 dan hanya dilakukan di Instagram.

Jangan lupa juga untuk bergabung di VIP list-ku untuk baca dua cerita dariku, khusus buat kalian. Daftarkan e-mail kalian di pop up yang muncul pada halaman ini.

My Bookshelf

BACA CERITA GRATIS DI MAILING LIST IKA VIHARA

 

Kalau teman-teman bergabung dengan mailing-list-ku, teman-teman akan menerima satu bagian cerita SAVARA dan cerita pendek menarik lain ke inbox e-mail masing-masing secara berkala. Cerita-cerita pendeknya bisa berupa cerita para tokoh novelku, yang sudah terbit, saat masih remaja atau di masa depan. Aku yang akan mengirimkannya langsung. Di atas adalah design yang akan kugunakan sebagai edisi pertama.

KAPAN E-MAIL AKAN DIMULAI? Kalau yang bergabung sudah 100 orang. Saat ini baru ada 40 orang. Jadi, silakan ajak teman-teman kalian, atau bagikan link ke ikavihara.com. Supaya makin cepat terpenuhi kuota dan makin cepat kita mulai!

Berikut ini cara bergabung di mailing list, kalau masih bingung.

DARI BROWSER PONSEL

Masuk ke ikavihara.com, lalu tunggu sampai muncul pop-up seperti gambar di bawah. Klik gabung, setelah itu isikan alamat e-mail teman-teman di sana, lalu klik kembali gabung. Pastikan e-mailnya aktif, supaya bisa langsung baca ketika kukirimi.

 

 

DARI BROWSER LAPTOP

Masuk ke ikavihara.com, dan ketikkan langsung alamat e-mail di field yang tersedia, dan klik gabung.

 

Aku nggak sabar mau berbagi cerita dengan teman-teman, jadi … semoga kuota 100 cepat terpenuhi. Aku tunggu banget ya, teman-teman. In the meantime, have a nice weekend!

Thing That Makes Me Happy

THING THAT MAKES ME HAPPY (2): HEARTFELT MESSAGE

 

Is it wonderful that my books will have traveled farther than I have?

Or … frightening?

Sampai pada titik ini, aku tahu bahwa lebih mudah untuk berhenti menulis daripada menjaga kebiasaan baik tersebut. Iya, bagiku menulis adalah sebuah kebiasaan, bukan pekerjaan, bukan pula hobi. Sebuah kegiatan, sebelum disebut sebagai kebiasaan, harus dilakukan dulu berulang-ulang. Aku tidak tahu apa yang kutulis, tapi aku tetap menulis. Mau nanti ada hasilnya–diterbitkan–atau tidak–teronggok saja–namanya kebiasaan akan selalu kulakukan. Karena itu, tiga tahun sejak aku menulis kalimat pertamaku, aku berada di posisi yang berbeda, a well-practiced-writer.

Seperti kusebutkan dalam bukuku When Love Is Not Enough, aku tidak pernah sendirian dalam menulis sebuah buku. Ada banyak sekali orang yang membantuku. Yang paling berperan besar adalah teman-teman semua yang membaca bukuku dan menunggu buku selanjutnya. Tanpa kalian, aku tidak akan pernah sampai pada Midsommar dan Midnatt.

Bersama dengan jauhnya perjalanan bukuku ke tempat-tempat yang belum pernah kukunjungi, aku mendapatkan banyak teman yang belum pernah kutemui. Tapi tidak masalah. Definisi teman jauh lebih dalam daripada itu. Bagiku semua yang telah membaca bukuku adalah temanku. Yang paling membuatku bahagia adalah, jika teman-temanku mengirimkan sebaris atau dua baris kalimat melalui media sosialku, e-mail, atau LINE dan WhatsApp.

Setiap kali aku merasa ingin berhenti menulis, aku membaca kembali pesan-pesan dari teman-teman. Aku ingin berhenti menulis bukan karena malas atau apa. Tapi karena aku merasa upayaku untuk memberi perubahan baik pada dunia, melalui tulisan, tidak akan pernah ada gunanya. Apa kontribusiku, orang yang menulis 350 halaman buku, akan ada pengaruhnya bagi kehidupan lebih dari tujuh miliar penduduk bumi? Dari situ aku sering berpikir bahwa diriku kecil sekali dan aku tidak akan bisa berbuat banyak.

Pesan dari teman-teman membuatku memiliki tujuan baru. Aku tidak perlu mengubah dunia, karena belum bisa. Tapi aku bisa membuat perubahan baik pada hidup beberapa orang. Yang membaca bukuku, tentu saja. Orang yang tadinya tidak tahu mengenai Aarhus, Lund, Seasonal Affective Dissorder, dan sebagainya yang kujelaskan di novelku, menjadi tahu. Yang tadinya tidak begitu tertarik dengan dunia STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), sekarang mulai banyak yang berdiskusi denganku. Yang mulanya tidak percaya bahwa pendidikanlah yang mengubah hidup kita, bukan menikah dengan orang kaya, sekarang beberapa sudah menyampaikan bahwa mereka berhasil kuliah di tempat-tempat jauh seperti Afnan, Lilja, Mikkel, atau Dinar, dari novel-novelku.

Bukuku adalah hidupku. Aku ingin sekali hidupku bermanfaat bagi orang lain, sekecil apa pun itu. Dan aku bahagia ketika teman-teman menceritakan kebaikan yang didapat dari bukuku. Semua lebih berharga daripada status best seller, kurasa.

Ah, aku jadi ingat, tadi malam di Instagram, ada yang mengunggah semua foto bukuku yang sudah dan sedang dia baca, dan dalam caption-nya, Mbak Maya mengatakan bahwa rezeki tidak hanya berupa materi, tetapi ada bentuk lain, salah satunya: teman. Aku seratus persen menyetujui. Teman-teman semua alah rezeki paling berharga yang akan selalu kusyukuri–supaya ditambah–dan sampai kapan pun teman-teman akan selalu menjadi harta yang paling berharga dalam hidupku. Terima kasih sudah berteman denganku selama ini.

We are never far apart. Since friendship doesn’t count  miles, it is measured by heart.

 

Thing That Makes Me Happy

THING THAT MAKES ME HAPPY (1)

 

Kebahagiaan.

Dicari atau datang sendiri?

Belakangan ini aku berusaha mengurangi kegiatan men-scroll media sosial dan news feed. Mengecek Instagram/Twitter/Facebook kulakukan dua kali sehari. Siang dan malam. Untuk membalas komentar dari teman-teman, atau membagi sesuatu yang kuanggap boleh dilihat oleh banyak orang. Kalau aku ingin tahu kehidupan terkini salah seorang teman, aku mengunjungi profile-nya dan meninggalkan komentar di sana. Update berita? Aku membaca di koran, selain ulasannya lebih dalam, juga lebih fokus, tidak tertarik untuk mengklik link Baca Juga, yang biasanya membuat kegiatan baca berita jadi merembet lebih lama.

Masalah menghabiskan waktu dengan apa ada hubungannya dengan kebahagiaan, menurutku. Melihat orang-orang lebih kaya, lebih sukses, lebik cantik, dan lebih lain-lain memberi beban padaku. Ada banyak pertanyaan timbul di benakku. Apa aku salah memilih pekerjaan? Apa aku kurang beruntung? Apa aku bahagia dengan pilihan jalan hidupku? Dan macam-macam pertanyaan yang tidak kusukai.

Eventhough we know that no one has a perfect life, sometimes it just hurts to see other have a blessed life, while we are struggling. Aku bercerita kepada temanku dan dia mengatakan,“You have to remember that Allah has given everybody rizq. It is distributed evenly between human.”

Dalam kepalaku, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa benar, Tuhan memberi rezeki dengan adil. Untukku, bisa jadi tidak berbentuk uang dan kekayaan. Tapi … bakat. Sejauh ini aku sudah mewadahi beberapa bakatku: menulis, menjahit, dan memasak. Dan kemarin, aku mendapati bahwa mungkin, aku berbakat juga dalam membuat kue. Atau baking. Siapa tahu, kalau tidak dicoba?

Kemarin, jam setengah delapan pagi aku bergerak ke toko bahan kue dan membeli bahan-bahan yang kuperlukan, khusus biji bunga matahari kudapat dari bunga matahari yang ditanam adikku. Hanya perlu waktu 15 menit sampai semua bahan siap dan aku mulai menimbang. Selama prosesnya, aku berpikir. Seperti inilah proporsi segala sesuatu dalam hidup, pikirku. Tentu Tuhan sudah menimbang dengan tepat apa-apa, tidak lebih dan tidak kurang, yang diberikan padaku, sehingga hasilnya bisa kunikmati.

Apa yang lebih membahagiakan daripada aroma biskuit hangat yang baru keluar dari oven? Mempersilakan orang lain untuk menikmatinya. Semua lebih membahagiakan jika dinikmati bersama orang lain. Baking and giving are truly acts of love, kalau mengutip kata Martin Phillip dalam buku Breaking Bread.

Kalau ada yang ingin melihat apakah dirinya berbakat juga dalam membuat biskuit, aku membagi resep sederhana ini untuk dicoba.

SUNFLOWER SEEDS COOKIES/BISKUIT BIJI BUNGA MATAHARI

Bahan:

113 gram mentega suhu ruang

400 gram brown sugar

2 butir telur

2 sdt vanilla essence

280 gram terigu

280 gram old fashionate oats

1 sdt soda kue

1 sdt garam

150 gram biji bunga matahari yang sudah dikupas

Cara Membuat:

  1. Campur mentega dan brown sugar dalam satu wadah yang lebar, supaya leluasa, menggunakan garpu. Ketika sudah tercampur, tambahkan telur dan vanilla essence.
  2. Masukkan oats, terigu, soda kue dan garam. Aduk sampai tercampur. Aku tidak pakai mixer pada proses ini, hanya menggunakan garpu.
  3. Taburkan biji bunga matahari di atas adonan
  4. Siapkan loyang, olesi dengan mentega dan lapisi dengan baking sheet atau kertas roti. Ambil adonan menggunakan scoop es krim, supaya volumenya konsisten, dan jatuhkan di atas loyang. Pencet-pencet sedikit supaya agak pipih. Beri jarak yang cukup supaya biskuit tidak saling menempel saat mengembang.
  5. Panaskan oven dan panggang biskuit selama 8-10 menit dengan suhu 177 derajat celsius.

Percayalah, ketika membuka pintu oven dan melihat biskuit-biskuit yang cantik dan harum, kita akan tersenyum bahagia. Apalagi ketika kita menggigitnya. That is heaven on earth … or tongue. 

Satu pertanyaan dariku. Apa yang membuat teman-teman bahagia hari ini?

My Books

MIDSÖMMAR: SNEAK PEAK

 

 

 

 

 

 

Cinta. Kalau bukan karena cinta, dia tidak akan berdiri di sini. Jika bukan demi laki-laki yang dicintai, dia tidak akan menempuh perjalanan sejauh ini. Perjalanan pertamanya ke luar negeri. Memakan jarak separuh belahan bumi dari rumahnya, yang berada di bawah garis khatulistiwa. Tempatnya berdiri saat ini, terletak hampir dekat dengan kutub utara. Untuk bisa sampai di koordinat ini saja dia harus duduk dan melayang hampir sehari penuh di udara. Atau kurang. Tidak tahu. Lilian kehilangan hitungan.

Memang yang harus dilakukan bukan berhitung. Tapi menyelesaikan segala urusan sebelum bergerak untuk mencari jam bulat besar di terminal tiga. Tubuhnya sudah sangat penat. Kepalanya pening dan perutnya mual. Tuhan, kenapa hanya untuk bertemu orang yang dicintai perjuangannya harus seberat ini. Sudah melelahkan, biayanya juga tidak murah. Sebagai orang yang terbiasa hidup sederhana—kalau tidak mau disebut pas-pasan—membuang uang lebih dari lima puluh juta untuk selembar tiket terasa seperti menanggung dosa besar yang tidak terampuni. Uang sebanyak itu hampir mendekati gaji plus bonus setelah satu tahun memeras keringat.

Lilian memejamkan mata, berusaha menyuruh tubuhnya untuk bertahan sebentar lagi. Suara-suara percakapan dalam berbagai bahasa tertangkap telinganya sejak tadi. Begitu turun dari satu jam penerbangan dari bandara Munich-Franz Josef Strauss, kepalanya berdenyut dan kakinya gemetar. Sambil menahan dingin, Lilian mengeratkan syal merah yang melingkari lehernya. Betul kata Mikkel, lupakan pakaian musim panas dan bawa baju-baju tebal. Padahal saat mengecek di internet kemarin, Lilian merasa tidak salah baca kalau sekarang musim panas. Kalau musim panas saja sudah begini menyakitkan, bagaimana dengan musim dinginnya?

Pada saat seperti ini, bagaimana rasa cinta terhadap tanah airnya tidak bertambah? Negara tropis yang hangat lebih cocok untuknya. Scandinavia is too cold for her.

Dengan mengerahkan sisa-sisa tenaga, Lilian melangkah di bandara Kastrup. Laki-laki yang melintas di sebelahnya, dengan ponsel menempel di telinga, berbicara keras sekali, seperti sedang meneriaki seisi bandara, dalam bahasa yang sama sekali tidak dipahami Lilian. Membuat Lilian ingin menyumpal kedua lubang telinganya.

Mata Lilian sibuk memperhatikan papan-papan petunjuk arah—dalam tiga bahasa: Denmark, Inggris, dan Mandarin—di seluruh penjuru bandara, sebelum melangkah lagi untuk bergabung dengan satu gelombang besar orang yang bergerak menuju tempat pengambilan bagasi. Untungnya, dia tidak perlu mengeluh—selama hampir 24 jam ini, sudah berapa kali dia mengeluh?—karena pengambilan bagasi tidak memakan waktu lama, delapan conveyor belt mengirim bawaan semua orang dengan cepat.

Lilian sudah hampir menyerah berjalan saat akhirnya jam bulat raksasa berwarna putih—tempat di mana Mikkel menunggunya—terlihat. Gampang sekali ditemukan. Mencolok. Atau malah menggelikan, menurut Lilian. Jam analog besar tersebut menggantung di atas layar hitam raksasa—yang menampilkan semua jadwal penerbangan dari dan ke bandara ini—di main hall terminal tiga.

Jam delapan pagi. Waktu Copenhagen.

Lilian mengerjapkan mata. Setelah satu setengah tahun tidak bertemu, sosok yang sangat dan paling dia rindukan sekarang benarbenar nyata ada di depan mata. Bukan dalam format .jpeg. Juga bukan dalam bentuk pixel. Tidak melalui perantara layar laptop atau ponsel. Tapi Mikkel versi manusia betul-betul berdiri lurus di depannya. Lilian mengembuskan napas lega. Sejujurnya dia sempat merasa sedikit khawatir saat pesawat mulai meninggalkan Jakarta. Takut kalau Mikkel tidak menjemputnya di Copenhagen. Apa yang harus dia lakukan saat tiba di sini dan tidak bisa menemukan Mikkel?

Tapi Mikkel tidak mungkin melakukan hal itu kepadanya, Lilian percaya. Mikkel terlalu mencintainya untuk membiarkannya sengsara. Mikkel. Laki-laki yang selalu dicintainya. Tinggi, kukuh dan tampan—seperti yang diingat Lilian—dengan dark whased jeans dan black classic coat yang dibiarkan terbuka. Meski terdengar konyol, Lilian tetap mengakui bahwa hatinya menghangat melihat Mikkel menunggunya. Suhu udara delapan derajat Celsius saat ini—terima kasih Accuweather—bahkan tidak akan bisa membuatnya menggigil ketika melihat Mikkel tersenyum kepadanya.

“Mikkel!” Lilian berteriak sekuat-kuatnya.

Masa bodoh orang mengira mereka sedang syuting film atau apa. Realita ini ratusan kali lebih indah daripada belasan judul film yang pernah dia tonton dan puluhan judul novel yang sudah dia baca.

“Hi, Sweets.” Dua kata yang diucapkan Mikkel terdengar menyenangkan di telinga Lilian. Tidak menyakitkan seperti yang didengar Lilian di setiap sesi video call mereka. Di mana mereka hanya bisa bicara, tanpa berbuat apa-apa.

Dengan sekali loncat, Lilian mendarat di pelukan yang selama ini hanya bisa dia bayangkan. Tubuh Lilian sedikit terangkat saat Mikkel mendekapnya dengan sangat erat. Lilian menghirup wangi yang dia rindukan, mengisi penuh paru-parunya. Pipi kanannya menempel di dada Mikkel yang berbalut sweater berwarna biru gelap. Setelah kedinginan belasan jam di pesawat, sekarang terasa hangat sekali. Seluruh bagian tubuhnya hidup kembali. Bahkan sampai hatinya yang terdalam. Ini yang paling dia inginkan. Berada di sini. Di pelukan kekasihnya.

“I missed you.” Lilian menatap ke atas, tepat ke mata biru Mikkel.

“I’ve missed you too.” Tahu apa obat rindu terbaik di dunia ini? Bukan bertemu. Tetapi dibalas dirindukan.

Saat ini, lagu-lagu cinta di ponsel Lilian—yang didengarkan sepanjang perjalanan dari Munich ke Copenhagen tadi—terdengar basi sekali. Suara semua penyanyi tidak seindah suara tawa Mikkel yang baru saja didengarnya. Kalimat mereka tidak sarat makna seperti kata rindu sederhana yang baru saja meluncur dari bibir yang kini menciumi kepalanya.

Mikkel menatap dalam-dalam mata Lilian. “I demand a kiss.”

Lilian menutup bibirnya dengan telapak tangan kanannya. “Aku nggak gosok gigi selama di jalan, Mikkel. Aku nggak mau nyium kamu dengan bibir terbuka.” Memang Lilian sempat berkumur dengan mouthwash, tapi tetap saja dia tidak percaya diri untuk membiarkan Mikkel menjelajahi mulutnya.

“Kalau mau cium, di sini.” Lilian menunjuk bibirnya yang terkatup rapat.

“Kamu pikir kita masih remaja? Ciuman model begitu?”  Mikkel menggerutu tidak terima. “Aku sudah pernah menciummu pagi-pagi saat kamu bangun tidur. Dan aku tetap hidup.” Tidak mencium Lilian sama sekali yang akan membuatnya mati.

“Waktu itu, tujuh jam sebelumnya aku gosok gigi.” Yang dimaksud Mikkel adalah ciuman pada saat Mikkel datang ke rumah Lilian selepas subuh untuk memberi kejutan ulang tahun. “Ini aku nggak gosok gigi selama 24 ja….” Sebelum Lilian menyelesaikan kalimat, Mikkel sudah lebih dulu menempelkan bibir di sana.

Lilian sempat melotot sebentar, kaget karena Mikkel tidak memberi aba-aba. Tapi menit selanjutnya, dia sudah memejamkan mata dan ikut melepaskan kerinduan mereka. Tidak ada gunanya melawan, jadi lebih baik menikmati. Lilian bisa merasakan Mikkel tersenyum dalam ciumannya. Ciuman paling panjang dan paling dalam yang dia dapat selama satu tahun ini. Ciuman terbaik, kalau boleh dikategorikan. Mau tidak terbaik bagaimana, ini pertama kalinya mereka bertemu, setelah lebih dari tiga ratus hari.

Peduli setan orang mau bilang apa melihat mereka berciuman di tengah bandara padat begini. Mikkel sudah pernah menciumnya di Soekarno-Hatta. Di sini, di Eropa ini, orang lebih memaklumi—atau malah tidak peduli—dengan hal-hal semacam ini bukan? Otak Lilian berhenti bekerja lagi dan menikmati ciuman panjang ketiganya.

“See? I survived.” Mikkel tersenyum penuh kemenangan.

Ibu jari Mikkel menyapu bibir Lilian dengan lembut. Lalu kembali membungkam bibir Lilian yang sudah siap protes lagi. “I never get enough of you….”

Sulit dipercaya. Setelah belasan bulan bertarung dengan koneksi internet yang busuk, perbedaan waktu, urusan domestik— pekerjaan, keluarga, teman, dan masalah dalam negeri lain—serta masalah-masalah teknis atau non teknis lain, akhirnya mereka bisa bersama lagi. Mengulang ciuman untuk keempat kali. Airport kisses are the best.

Plus, rekor baru dalam sejarah perjalanan mereka. Berciuman di dua negara berbeda. Denmark dan Indonesia.

####

Selengkapnya silakan baca pada novel karya Ika Vihara, Midsommar.

Pembelian dengan bonus Midnatt, silakan menghubungi e-mail novel.vihara@gmail.com

 

My Bookshelf

MEMELUK OKTOBER

Oktober, setahun yang lalu

Aku rindu hujan. Meski aku benci hujan. Hujan dan kamu. Hujan pernah mengiringi salah satu kebersamaan kita. Ketika aku sudah bisa berdamai dengan waktu, malam mingguku tak lagi kugunakan untuk mengingatmu dengan air mataku, walaupun aku juga tidak bisa mengingatmu sambil mengulas senyum.

***

Saat itu, pertama kalinya dalam hidupku aku mau mengajak lelaki kencan di malam minggu. Aku? Tak habis pikir siapa kamu bisa membuatku berbuat begitu. Istimewa ya kamu?

Tidak tahu apa yang sedang kupikirkan saat aku mulai mengetikkan pesan singkat Sabtu malam itu.

Keluar yuk!

Bukan karena aku sedang bosan, atau aku tidak ada kerjaan. Saat itu aku malah sedang berada di ruang karaoke, bersama dua kawan. Kawanku tentu saja bisa dipakai untuk teman malam mingguan, tidak perlu mengajak kamu. Mungkin saat itu aku terbawa pengaruh lagu galau.

Setelah menekan tombol send, detik berikutnya aku harap-harap cemas. Cemas apa kau mau menerima atau menolak ajakanku. Aku? Cemas? Biasanya selama ini aku yang membuat para lelaki, yang berniat mendekatiku, mempunyai perasaan itu. Lihat, lagi-lagi, kamu istimewa bukan?

Dan aku seolah ingin bertepuk tangan ketika kamu menjawab.

Ke mana?

Sedetik kemudian aku sudah mengirimkan balasan paling memalukan

Malam mingguan.

Dunia pasti menertawakanku, aku bukan remaja lagi. Rasanya sudah basi kalau aku membutuhkan kegiatan malam mingguan, dan aku pula yang menawarkan kencan.

Boleh. Kapan dan ke mana, You decide.

Nah, cupid-cupid bodoh dalam hatiku pun ikut bersorak kegirangan mengetahui kamu mengiyakan ajakanku. Kukirimkan pesan lagi. aku perlu menanyakan ini.

So, get me here, as usual?

Langsung ada balasan lagi.

Aku kepingin naik Mio. Di kampusku ya, jam 6?

Oh! Bahkan aku mengiyakan saat kamu memintaku untuk menjemputmu, setengah jam dari sekarang, di kampusmu yang jauh letaknya dari tempatku berada saat ini.

Kalau kamu tahu, semenit kemudian aku sibuk mengalkulasi waktu yang kuperlukan. Aku hanya punya 30 menit sebelum pukul enam. Masih harus pulang dan berdandan. Dan masih harus membuat diriku repot dengan menjemputmu. Tapi tidak sia-sia, kan, aku berdandan habis-habisan dulu, sebelum menemuimu?

”Kamu keliahatan segar dan cantik.”

Pujianmu itu sudah membayar semua hal tolol yang kulakukan sejak aku mengirimimu pesan singkat itu. Aku berharap kamu tidak menganggapku agresif karena aku berani mengajakmu berkencan.

Acara pertama kita, makan dan duduk bersama. Kamu mendengarkan aku bercerita. Sembari menikmati makan malam di bawah langit kota Surabaya yang berhias bintang redup, bintang yang sepertinya sudah malas bercahaya.

“Aku nggak suka kubis.” Aku mendorong tanganmu yang berusaha menyelundupkan kubis ke piringku.

“Jangan pilih-pilih makanan!” katamu, memaksaku, sambil tetap memindahkan kubis-kubis itu.

“Hah! Sok sekali kamu itu ya, mengaturku begitu.” Aku cemberut dan menusuk kubis itu dengan garpu. Hal-hal sepele itu, menurutku manis, meski menyebalkan. Lalu kamu akan menanggapi protesku dengan mengusap lembut puncak kepalau.

“Kita makan hampir tiga jam di sana,” katamu sambil tertawa.

Memang aku lambat dalam urusan makan. Salahmu sendiri punya kecepatan makan 10 kali lipat ketimbang kecepatan makanku. Dan seingatku kamu pernah bilang, “Aku senang-senang aja nungguin kamu makan.” Jadi tidak ada masalah, kan, aku makan berlama-lama sambil bercerita?

Aku selalu mengisi waktu kita dengan bercerita. Seperti biasa pula, kamu mendengarkan dan mengingat semuanya. Semuanya! Ah, itulah kenapa aku mencintaimu. Sampai sekarang juga kamu pasti masih ingat semua apa yang selalu kuceritakan, kamu memang benar-benar istimewa.

“Sekarang kemana?” Pertanyaanmu membuatku memutar bola mata. Aku tidak sempat merencanakan akan pergi ke mana. Ke mana saja boleh bagiku, asalkan bersamamu.

“Madura!” Aku menjawab setengah berteriak. Biasanya aku menghabiskan malam minggu dengan nonton midnight, nongkrong di gerai es krim, atau apa saja yang dilakukan manusia normal di malam minggu. Bukannya mengajakmu pergi ke seberang pulau. Tetapi kamu menanggapinya dengan membelokkan Mio putihku menuju jembatan Suramadu.

Mungkin aku kampungan. Baru pertama kali itu aku pergi melewati Suramadu pada malam hari, di malam minggu dan dalam keadaan sedang berkencan. Dan kita menikmatinya pelan-pelan sambil sedikit membicarakan masa depan. Menyeberang jembatan, dan kedatangan kita disambut hujan.

Bersamamu di bawah gerimis terasa menyenangkan. Berteriak panik sekaligus kegirangan karena bisa bermain hujan. Lalu kamu menarikku untuk berteduh di warung tenda ketika hujan mulai membesar. Dan petir mulai menyambar.

Aku hampir saja tidak bisa menahan senyumku, karena kamu yang mengingat dengan baik bahwa aku tidak suka lumpur, berusaha menarikku berjalan melewati tanah yang masih kering. Tapi menit berikutnya aku cemberut karena kamu sibuk berbasa-basi dengan orang asing. Menanggapi pertanyaannya dan malah asyik bercerita dengan mereka mengenai macam-macam yang tidak penting.

“Dingin?” Setelah beberapa saat akhirnya kamu bertanya kepadaku.

Aku menggelengkan kepala. Padahal aku sangat kedinginan. Mungkin seperti ini yang disebut merajuk. Aku mamandang segelas kopimu. Pasti enak hujan-hujan begitu minum kopi. Sayang aku tidak bisa minum kopi. Kurasakan kmau merapatkan tubuhmu, mendekat ke tubuhku, dan melepaskan jaketmu.

“Pakai ini ya?”

Aku sedikit terkesima dengan sikapmu itu. Apa aku terlihat menggigil? Aku menggeleng, menolak menerima jaket itu.

“Lain kali kamu harus bawa jaket.” Kamu membantuku mengenakan jaket yang kebesaran itu.

Sudah sering kamu bilang agar aku membawa jaket kemana-mana, tapi aku tidak suka. Aku lebih suka jaket yang kamu pinjamkan kepadaku, baunya itu bau kamu. Aku suka.

Dan suka dengan banyak waktu yang kuhabiskan bersamamu malam itu. Aku suka menikmati hujan bersamamu. Aku mau menukar hangatnya selimutku dengan dinginnya udara tetapi aku bersamamu. Seperti ini.

Tiba-tiba aku berharap hujan tidak reda, agar waktu bisa kita nikmati berdua saja. Rasanya tak akan habis hal-hal yang bisa dibicarakan malam itu.

Tetapi waktu terus berlalu.

***

Tengah malam.

Hujan tak kunjung reda. Kamu merasa aku sudah lelah dan saatnya beristirahat di rumah. Sebenarnya aku sudah membayangkan hangatnya meringkuk di bawah selimut sedari tadi. Tapi bersamamu begini tidak kalah hangat. Malah jauh lebih hangat. Sampai ke dalam hati.

Lima belas menit kemudian aku dan kamu mendebatkan hal manis lagi, jas hujan merahku. Saat itu jam tanganku sudah menunjukkan dini hari, pukul satu.

“Kamu pakai ini ya?” Kamu meletakkan jas hujan merah itu di dekatku.

Kamu melepaskan kemeja dan memberikannya kepadaku juga. Aku melotot tidak percaya. Kamu sudah meminjamkan jaketmu, sekarang kemeja dan kamu hanya menggunakan kaos hitam yang sangat tipis itu.

“Kamu saja yang pakai. Aku di belakang dengan baju setebal ini? Aman saja.” Aku menunjukkan kemeja dan jaketnya yang sedang kupakai, meyakinkannya.

“Nanti kamu sakit.” Kamu bersikeras memberikan jas hujan merah itu kepadaku.

Aku menggelengkan kepala. Meskipun aku juga mempertanyakan kekuatan fisikku sendiri, tapi aku rasa kamu lebih membutuhkan jas hujan merah itu.

“Besok kamu tes kerja, aku nggak mau merasa bersalah karena kamu flu dan tidak bisa ikut.” Aku mendorong kembali jas hujan merah itu ke arahmu.

Kamu memandangku, dan memilih berhenti mendebatku. Ekspresi mati di wajahku selalu bisa membuatmu menurutiku.

Menembus hujan badai, aku menikmati hangatnya punggungmu. Aku memeluk pinggangmu. Rasanya aku rela menukar kehangatan selimutku dengan punggungmu selamanya.

Tiba-tiba aku berharap lagi, agar perjalanan ini tidak berakhir. Aku suka bersamamu, memelukmu. Aku tidak peduli kamu merasakan yang sama atau tidak.

Sepertinya Tuhan sedang memperhatikan kita, decitan rem yang kamu tarik mendadak membuatku menyesali doaku tadi. Hampir saja kita celaka.

“Maaf!” teriakm di antara deru hujan.

Aku memilih tidak menanggapi. Suara gemeletuk gigiku pasti akan membuatmu khawatir. Tanganku yang kebas karena dingin masih memegangmu erat-erat. Dalam hati aku terus merapal doa, semoga kita selamat, masih banyak hari-hari yang akan kita lalui bersama esok.

Akhirnya setelah bersama hujan di sepanjag perjalanan, kamu memandangku cemas, ketika berdiri di depan pagar rumahku. Aku basah kuyup, bibirku biru, dan suaraku yang bergetar melawan dingin yang menusuk hingga ke tulangku.

Just go, I’ll be fine.” Aku tersenyum dan meyakinkanmu.

Kamu tak beranjak juga. Aku juga tahu badanku tidak sedang baik-baik saja. Tapi semua bukan salahmu, aku yang menyarankan pergi ke seberang pulau. Siapa sangka hujan lebat menyertai kita.

“Kamu masuk dan ganti baju, ya.” Kamu tersenyum dan menyentuh lenganku.

Aku menurutimu. Lalu berhenti untuk mengintipmu dari balik pintu, hingga kau berlalu. Malam ini, aku tahu dengan pasti bahwa aku mencintaimu.

***

Oktober, hari ini

Aku seperti berjudi. Taruhannya waktu. Untuk memenangkan hatimu. Aku telah siap di sini, jika nanti semua sia-sia, dan aku hanya memenangkan sepi. Semua berawal dari malam minggu itu. Cerita tentang cinta, rindu, percaya, perpisahan, dan penantian. Tepat malam ini setahun yang lalu.

Seandainya tahun lalu tidak ada iseng-iseng mengobrol hampir setiap malam di setelah malam minggu itu, di sela-sela kesibukanmu mengerjakan tugas akhirmu, di antara perjuanganku melawan rasa kantukku. Hanya untuk sekadar melepas kangen yang menghimpitku.

Seandainya aku tidak iseng mengirimimu ucapan selamat atas kelulusanmu. Seandainya aku tidak mengiyakan ajakanmu untuk pergi berkencan, dengan alasan merayakan ini itu. Seandainya aku berhenti di malam minggu setahun lalu.

“Kamu cuek sekali kalau sama aku.” Aku masih ingat protes kerasmu beberapa bulan yang lalu.

“Masa?” Aku tersenyum simpul. Tentu aku berbuat begitu, untuk melihat apakah kamu akan memilih berhenti atau terus maju. Untuk mendapatkanku.

“Iya. Kalau sama teman-temanku kamu mengobrol ramai sekali,” jawabmu.

Bodoh. Tentu saja karena kamu berbeda, umpatku dalam hati.

Tidakkah kamu ingat aku selalu mengatakan bahwa kamu selalu membuatku kehilangan kemampuan berkata-kata.

Akhir-akhir ini aku tidak bisa banyak berkata-kata saat bersamamu. Karena aku terlalu sibuk mengurusi debar jantungku. Agar tak terdengar sampai ke telingamu.

Jika aku menghentikan komunikasi denganmu setahun yang lalu, tentu tak akan ada bulan Oktober yang sangat menyesakkan ini, menurutku.

Tapi aku menikmatinya. Menikmati setiap kebersamaan kita. Dan kamu mengaku juga iya. Walaupun kamu tidak pernah menyinggung mengenai cinta.

Masih jelas di kepalaku apa-apa yang kamu katakan. Masih jelas dalam ingatanku tempat-tempat yang sudah kita ukir menjadi kenangan.

“Am I a good girl?” Saat itu aku bertanya kepadamu, ketika aku sudah hampir lelah menunggumu menyadari perasaanku.

“Exactly you are. And for me, you are the best girl I’ve ever known. You’re one in million.

Jawaban yang keluar dari mulutmu jelas jawaban yang tidak kuduga. Tidak kuduga kamu akan mengatakan begitu. Kamu mengatakan dengan lembut sekaligus tegas. Bahkan aku yang biasa mendapatkan pujian dari lelaki, masih harus menundukkan kepala agar kamu tidak melihat rona merah di pipiku. Hanya karena kata-katamu.

Masih terasa bagaimaa rasanya kamu menggenggam tanganku saat pertama kali, masih kuingat pula pertama kali aku memeluk pinggangmu. Aku mengingat lebar punggungmu, mengingat wangi tubuhmu. Holding your hand means holding a whole world for me.

“Ada suatu tempat yang ingin kukunjungi,” katamu tiba-tiba, setelah aku tidak bisa menanggapi kata-kata paling manis darimu.

“Kota mana?” Aku mengernyitkan keningku.

“Bukan kota.” Jawabanmu membuatku bertambah tidak mengerti.

“Lalu?”

“Nggak tahu bisa ke sana atau tidak.”

“Ke mana sih?”

“Ada deh.”

Kamu berhasil membuatku mati penasaran.

“Nggak kasih tahu aku?”

“Nanti kalau aku sudah sampai di sana.”

Aku memilih diam dan mendoakan apa pun yang kamu harapkan, bisa kamu wujudkan. Tapi jika betul terjadi, maukah kamu mengajakku? Rasanya seperti kamu hendak meninggalkanku. Ke tempat yang ingin kamu kunjungi itu. Dan aku semakin merana karena tahu kamu memilih tidak membawaku.

Inilah yang akhirnya membuatku menyimpulkan kamu bukan jawaban yang dimaksud Tuhan. Cintaku hanya akan bertepuk sebelah tangan.

***

“Ingat tempat yang ingin kukunjungi?” tanyamu tiba-tiba.

“Luar negeri? Dalam negeri?” sahutku, sudah tidak terlalu tertarik dengan lagi.

Ke mana pun kamu pergi, kamu tetap tidak akan membawaku bersamamu, kan?

“Tebak dulu!” Kamu tidak mau langsung memberitahu, seperti biasa.

“Jakarta?”

Kamu menggelengkan kepala.

“Italia?”

Kamu menggelengkan kepala lagi. ”Tempatnya jauh lebih berharga.”

“Kamu bilang akan memberitahu kalau sudah mengunjunginya.”

Aku sudah sampai di sana,” jawabmu, terdengar puas dan bangga.

“Di mana?” Aku tak mengerti, seingatku kau tidak pergi ke mana-mana. Ah, ya, walaupun aku tidak selalu tahu, karena kamu tidak perlu selalu meminta izinku.

“Hatimu,” jawabmu singkat.

Hampir berhenti detak jantungku. Aku membisu. Kembali sibuk menenangkan debar jantungku. Dan menyembunyika senyum lebarku. Aku yakin kamu milikku. Tapi jawaban-jawabanmu yang di luar dugaan selalu bisa membuatku merasa tersanjung di saat-saat yang tidak kuduga.

“Dari dulu aku ingin masuk ke hatimu. Aku tidak menyangka aku bisa ada di situ. Jadi izinkan aku tetap di situ, ya?” Kau mengatakannya sambil metapaku dan menggenggam tanganku.

Aku benar-benar membiarkan air mataku jatuh, air mata yang menetes karena terharu. Kamu milikku. Benar-benar milikku.

Tidak ada lagi jarak yang menjauhkanmu dari detak jantungku, aku mengangguk dan berbisik dalam hati.

Sungguh, kamu bisa memegang kata-kataku.

***

Aku dilanda sesuatu yang, ah … seolah memabukkanku. Kamu. Hingga sekarang pun kamu masih seperti candu.

Sampai saat ini, satu tahun setelah hari itu, kamu boleh memegang kata-kataku. Tempat berharga itu masih milikmu. Walaupun kamu memilih pergi, meninggalkan hatiku dan membuang cintaku. Saat kamu kembali, kamu boleh menempati tempat paling berharga di hatiku.

Malam ini, sembil menatap bintang paling terang di langit, aku berbisik kepada angin dingin bulan Oktober, sambil memeluk diriku sendiri, “Kudengar kamu di sana sudah bahagia sekarang, memiliki semua apa yang diinginkan orang. Kamu jaga diri baik-baik disana ya! Semoga Tuhan menetapkan kebaikan di mana saja kamu berada.”

####

Catatan:

Cepen ini kutulis pada tahun 2010, enam tahun sebelum buku pertamaku, My Bittersweet Marriage, terbit. Dan cerpen ini pernah diterbitkan dalam bentuk antologi pada tahun 2011.

Baca juga:

The Dance of Love