Uncategorized

Tahun ke-6 Menjadi Penulis

 

ENAM TAHUN! Sudah enam tahun aku menjalani karier sebagai published author. Penulis profesional. Awal perjalanan dengan titel tersebut dimulai saat novel debutku, My Bittersweet Marriage, terbit melalui Elex Media pada minggu ketiga Maret 2016. Biasanya aku nggak hafal tanggal terbit novel-novelku, tapi khusus cerita Afnan dan Hessa ini, aku nggak akan pernah bisa melupakannya. Selain karena ingat nggak tidur selama lebih dari lima malam karena mengurus preorder buku perdanaku, aku juga nggak sabar mau pergi ke toko buku pas di tanggal terbit. Walaupun aku tahu buku sudah didistribusikan sebelum tanggal terbit, tapi aku ingin secara resmi mengunjungi ‘anak pertamaku’ pada hari lahrinya.

Tetapi … bukunya nggak ada😅 Menurut pegawai toko buku, My Bittersweet Marriage hanya datang sepuluh buku dan sudah habis. Aku bersyukur dan memaklumi itu, sebab beberapa minggu sebelumnya, aku mengobrol dengan editorku. My Bittersweet Marriage adalah buku debut sehingga oplah cetaknya tidak terlalu banyak. Itu pun masih dipotong dengan jumlah preorder yang di luar dugaan, menggerus buku yang baru keluar dari percetakan. Beberapa toko buku harus menunggu cetak ulang untuk bisa memajang My Bittersweet Marriage.

Hari itu juga, aku menuju toko buku lain. My Bittersweet Marriage tetap nggak kelihatan di bagian New Arrivals. Aku nggak tahu harus senang atau sedih. Senang karena buku debutku diminati banyak pembaca atau sedih sebab aku gagal mendapati namaku ada di toko buku. Setelah dibantu seorang pegawai, akhirnya aku melihatnya. Tumpukan My Bittersweet Marriage ada di tengah dan lebih dalam dibanding buku lain–menjelang habis. Oleh pegawai tersebut dipindahkan ke tepi. Aku bahagia banget. Jingkrak-jingkrak, bodo amat. Namaku ada di toko buku, bersisian dengan nama penulis-penulis hebat yang terkenal. Pegawai toko buku memberi selamat padaku, setelah aku sampaikan hari itu aku memulai hari baru sebagai penulis profesional.

Saat itu aku tidak memiliki pandangan apa-apa. Tidak punya rencana jangka panjang. Bahkan aku sempat berpikir mungkin aku akan bertahan sampai satu atau dua buku saja. Beberapa teman penulis yang sempat membantuku waktu itu, menghilang dari dunia literasi tidak lama kemudian. Bisa saja aku bernasib sama. Tetapi siapa yang menyangka, ENAM TAHUN KEMUDIAN aku masih menulis. Bukuku masih terbit. Masih selalu ditunggu-tunggu. Satu naskahku sudah ada di tangan editor sekarang.

Menerbitkan secara tradisional/mayor, self-published, dan premium melalui platform menulis digital sudah pernah kujalani. Aku menyatakan menulis adalah salah satu karier yang akan kupertahankan. Setelah melewati lima tahun pertama, bukan tidak mungkin aku akan bisa melalui lima tahun berikutnya. Pada beberapa titik, aku sering ingin berhenti menulis. Berhenti menerbitkan buku. Kehilangan motivasi melihat buku-bukuku dibajak dengan keji dan dibagikan cuma-cuma di Telegram, WhatsApp, situs-situs, dijual murah di Instagram dan market place. Setiap kali mendapati itu, rasanya apa yang kukerjakan sia-sia. Aku nggak mendapatkan apresiasi apa-apa, tapi pembajak menerima ucapan terima kasih bahkan donasi dari para penikmat hasil curian. Aku berharap akan ada solusi untuk masalah ini dan rezeki penulis tidak lagi dirampok.

Ditambah gangguan kecemasan yang kumiliki, aku nggak bisa membayangkan jauh ke depan. Aku harus menjalani hari satu demi satu. Dalam menulis, kata demi kata. Naskah demi naskah. Aku nggak mau membebani diriku, kecuali dengan satu tujuan; buku yang kutulis saat ini harus lebih baik daripada buku sebelumnya.

Sepanjang perjalanan aku banyak belajar. Dari para editor yang bekerja sama denganku, rekan-rekan sesama penulis, dan yang lebih penting, dari teman-teman pembaca. Yang paling sulit adalah belajar berani bicara di depan banyak orang. Dulu aku tidak pernah menyangka bahwa profesi ini akan mengharuskanku untuk pandai berkomunikasi secara verbal. Kalau dengan tulisan jangan ditanya lagi, salah satu bentuk komunikasi yang kusukai. Menjalani wawancara radio, mengadakan bedah buku di universitas, mengajar kelas menulis, menjadi narasumber talkshow, dan lain sebagainya, kini adalah bagian dari pekerjaanku sebagai penulis. Aku tidak memiliki pendidikan formal di bidang itu–aku lulus dari Fakultas Teknologi Elektro dan Komputer Cerdas, Institut Teknologi Sepuluh Nopember–maupun pelatihan di bidang itu. Setelah wawancara, aku selalu bertanya pada host, atau peserta yang mengikuti, apakah penjelesanku bisa dipahami dengan baik. Mereka menjawab bisa dan senang aku menjelaskan dengan runut, jadi kukira aku cukup piawai di sini hahaha.

Untuk sampai di titik ini, aku tidak sendirian. Ada orang-orang hebat yang membantuku. Yang pertama tentu saja Miss Tina. Tanpa beliau aku nggak akan bisa menulis dengan tenang. Kesabaran beliau dalam mengatur preorder, menghitung stok buku, dan banyak lagi printilan pekerjaan yang kutinggalkan di tangannya. Para editor Kak Afri, Kak Jia, Kak Mitha, dan lainnya, yang sudah membagikan ilmu padaku. Para penulis yang karyanya kunikmati dan menginspirasi. Teman-teman pembaca yang selalu menunggu karyaku berikutnya dan menyemangatiku untuk terus menulis. Terima kasih tak terhingga aku ucapkan. Tanpa kalian semua, perjalanan ini tidak akan bermakna.

Note:
Kamu bisa membaca My Bittersweet Marriage gratis di aplikasi iPusnas. Atau di Gramedia Digital, cukup Rp 45.000 bisa membaca semua bukuku di sana. My Bittersweet Marriage is not perfect–my first book!–but I gotta start somewhere, right?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *