My Books

THE DANCE OF LOVE: Bagian 6

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play LoveMidsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4 | Bagian 5

 

Lebih menyenangkan menghabiskan musim panas di luar ruangan. Sambil menikmati es krim atau smoothie. Hati Mara hancur menyaksikan anak-anak harus tinggal di rumah sakit selama musim panas. Meski dinding lantai khusus anak di rumah sakit dihiasi dengan mural yang indah, tapi tetap tidak akan menggantikan hangatnya sinar matahari. Mara berjalan bersama Nora dan Viggo, masing-masing membawa setumpuk hadiah di tangan. Ada beberapa surat dari anak-anak yang masuk ke RDB. Beberapa dari mereka mengatakan bahwa mereka rindu menari balet dan menonton pertunjukan balet. Karena itu, hari ini Mara dan dua temannya membawa serta kostum mereka dan akan menari di sini, di depan anak-anak yang kurang beruntung.

“Ups, sorry.” Karena melamun sejak tadi, Mara menabrak sesorang saat berbelok di lorong. “I didn’t … oh … Hagen? Kenapa kamu pakai baju seperti itu?” Mara tertawa mendapati Hagen di hadapannya. Di hidung Hagen ada bola bulat merah dan rambut palsu berwarna kuning menghiasi kepalanya. Baju yang dikenakan Hagen berwarna oranye dengan celana dan suspender berwarna hitam.

“Berbeda dengan balerina yang cantik, tugasku di sini adalah menjadi badut dan melakukan trik sulap.” Hagen mengambil kotak-kotak kado dari tangan Mara. “Aku datang ke sini setiap hari Jumat pada minggu keempat. Aku tidak punya keahlian lain selain berbuat konyol dan membuat mereka tertawa.”

“Seandainya mereka seumuran denganku, mereka pasti akan lebih memilih dikunjungi oleh Hagen tanpa topeng,” kata Mara ketika mereka sudah sampai di ruang tunggu ruang rawat khusus anak.

“Kenapa wanita seumuran kamu memilih melihat wajah asliku?” Apa Mara menganggap hagen menarik? Tampan? Seksi? Atau apa? Hagen penasaran.

Mara menggeleng sedikit salah tingkah, lalu menunduk dan berjalan menjauh untuk menemani Nora bicara dengan suster. Tiga menit kemudian, Mara kembali menghampiri Hagen untuk mengambil kembali kotak-kotak kado.

“Terima kasih banyak, Hagen.”

“Apa kamu ada waktu untuk makan malam setelah dari sini?’ Hagen memeriksa jam tangannya. Sudah sore saat ini dan Hagen berharap Mara tidak ada acara lagi sampai akhir hari.

“Tentu saja aku selalu ada waktu untuk makan malam setiap hari, Hagen.”

Hagen tertawa mendengar candaan Mara. “Karena kita sama-sama perlu makan malam, bagaimana kalau melakukannya bersama?”

“Kamu mengajakku kencan?” tanya Mara.

“Kita tidak perlu membebani diri kita dengan judul kegiatan seperti itu. Kita akan makan dan jalan-jalan sebentar. Aku akan menjemputmu nanti jam lima? Di apartemenmu?”

Kening Mara berkerut. Hagen sudah tahu di mana dia tinggal tanpa Mara perlu memberikan alamatnya.“Stalker. Baiklah. Aku harus masuk dulu.”

Kalau tidak harus menghibur dan membesarkan hati anak-anak yang sedang sakit, saat ini Mara pasti sudah menelusuri berbagai macam situs untuk mencari tahu apa yang harus dan tidak boleh dilakukan pada kencan pertama. Termasuk pakaian apa yang pantas dikenakan saat kencan pertama dan di mana pasangan harus melakukan kencan pertama. Mara bukan jenis orang yang menjawab terserah jika dimintai pendapat ingin makan di mana atau ingin melakukan apa. Hagen tidak akan membawanya makan di restoran bintang lima, sebab Hagen tidak menyebutkan bahwa Mara harus memakai gaun. Kencan pertama mereka akan berjalan santai.

Meski Hagen tidak mau menjuduli acara makan malam mereka dengan ‘kencan’, Mara tetap mengategorikannya sebagai kencan. Satu kata tersebut teramat penting bagi Mara, karena selama ini, kencan pertamanya tidak pernah bisa berlanjut hingga kencan berikutnya. Karena salahnya sendiri. Mara terlalu takut jika seorang laki-laki merasa nyaman dengannya, maka laki-laki tersebut berharap lebih dari hubungan mereka. Hingga hari ini Mara tidak siap untuk menjalin hubungan serius dengan laki-laki. Mara tidak berencana menikah hingga kariernya memasuki masa senja. Atau jika menikah, Mara tidak ingin memiliki anak hingga dia benar-benar sudah siap untuk meninggalkan panggung megah yang selama ini menjadi dunianya.

Mara mengiyakan permintaan Hagen untuk makan malam bersama sebab Mara tahu—dari berbagai sumber—bahwa Hagen masih sibuk membangun usahanya dan menjalin hubungan tentu belum menjadi prioritas utamanya. Mungkin mereka bisa menyepakati jadwal pertemuan yang akan menguntungkan mereka berdua. Bertemu sekali seminggu jika sama-sama sedang tidak ada kesibukan atau tidak pergi ke luar negeri misalnya. Tanpa sadar Mara tersenyum, yakin bahwa pertemanannya dengan Hagen akan berjalan sebagaimana yang dia harapkan.

***

Hagen memilih Julian Tolboden untuk lokasi makan malam mereka kali ini. Letaknya tidak jauh dari patung The Little Mermaid—yang terinspirasi dari cerita Den Lille Havfrue karya Hans Christian Andersen—yang sangat terkenal itu. Setelah makan malam, Hagen berencana mengajak Mara untuk berjalan-jalan sebentar di sana, sambil menunggu isi perut turun. Dari tempat mereka duduk saat ini, mereka bisa melihat pelabuhan ferry dengan laut birunya dan segala kesibukan di sana melalui jendela kaca lebar berkusen putih. Tetapi Hagen lebih suka dengan pemandangan di depannya. Wajah cantik Mara yang sedang serius membaca buku menu. Rambut hitam legam Mara berkilau tertimpa sinar matahari.

Hagen mengalihkan pandangan ketika Mara mengangkat kepala. Mata abu-abunya menatap Hagen penuh tanda tanya. Matahari mungkin sedang merasa malu karena kalah bersinar dengan senyuman Mara. Mara bertanya padanya apa ada yang salah dengan wajahnya. Kesalahan Mara hanya satu, menurut Hagen. Dia terlalu sempurna.

Kalau Hagen bisa duduk makan malam semeja dengan Mara dan tidak memiliki niat untuk menjadikan pertemanan mereka berkembang sesuai keinginan Hagen, dia pasti tidak waras lagi. Tetapi semuanya perlu waktu. Mara akan menganggapnya gila kalau Hagen terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada makan malam pertama mereka.

Karena tidak ingin terus memikirkan bagaimana rasanya mencium bibir penuh Mara, Hagen memilih untuk memperhatikan sekelompok orang yang sedang duduk di bagian restoran, seperti sedang merayakan kelulusan. Sebentar lagi beberapa di antara mereka dipastikan akan mabuk, Hagen sudah tahu betul bagaimana akhirnya acara berkumpul anak-anak muda.

“Salmon ‘n’ Chips dan Anton’s Juice. Rhubarb.” Setelah mempelajari menu, Mara menentukan pilihan. “Aku ingin makan udang, tapi aku harus mengupasnya sendiri, betul kan?” Mara mengonfirmasi pada gadis muda yang akan mencatat pesanan mereka.

“Kalau begitu aku akan memesan Shrimp ‘n’ Chips. Large. Supaya kamu bisa mencicipi dan aku akan mengupaskan kulitnya untukmu,” jelas Hagen ketika mata Mara membesar mendengar Hagen memesan makanan dengan ukuran tidak biasa. “Dan softdrink.”

“No beer?” tanya Mara setelah pesanan mereka selesai dikonfirmasi.

“No wine?” Hagen balik bertanya pada Mara.

“Umurku belum delapan belas tahun.” Jawaban sambil bercanda seperti ini selalu dilontarkan Mara ketika teman-temannya bertanya kenapa dia tidak pernah menyentuh alkohol.

“Kalau alkoholnya tidak sampai 16%, umur 16 tahun sudah boleh minum.”

“Oh ya? Kukira dipukul rata minimal usia 18 tahun.” Meski lama tinggal di Copenhagen, agaknya Mara masih belum banyak tahu mengenai informasi kecil semacam ini.

“Apa kamu sudah pernah makan di sini sebelumnya?” Hagen menunggu hingga pelayan selesai meletakkan minuman mereka di meja sebelum memulai percakapan berikutnya.

“Sudah. Barbecue, saat salah satu temanku ulangtahun. Dia seorang aktivis lingkungan dan dia percaya bahwa restoran ini menekan penggunakan karbon dalam semua bahan dan setiap proses memasak. Apa menurutmu informasi itu benar?” Mara menyesap minumannya.

“Aku tidak tahu benar atau salah, hanya saja jika benar, aku menghargai usaha mereka. Menghindari karbon sangat mungkin dilakukan. Apa kamu pernah pergi ke Samsø?”

“Belum pernah. Kenapa memangnya?” Mara pernah mendengar nama salah satu pulau kecil di laut Kattegat tetapi belum pernah mengunjunginya.

“Samsø adalah pulau bebas karbon. Kalau kamu bisa libur beberapa hari, kita bisa pergi ke sana bersama dan kamu akan merasakan tingginya kualitas udara Samsø. Kita bisa camping di sana. Berangkat dari sini naik sepeda, jadi kita tidak pusing tranportasi selama di sana.”

“Camping?” Raut wajah Mara saat memastikan satu kata ini membuat Hagen tertawa. Seperti Mara disuruh makan kelabang—bukan salmon—untuk makan malam mereka kali ini. “Terima kasih. Lebih baik aku diam di rumah.”

 

Bersambung.

 

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *