Uncategorized

THE DANCE OF LOVE: Bagian 5

 

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play LoveMidsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3 | Bagian 4

“Menguntit orang itu kejahatan. Beruntung aku nggak melaporkanmu ke polisi.” Mara melipat tangan di dada.

“Berati kamu menyukainya.” Hagen tersenyum penuh arti. “Karena kamu tidak melapor kepada polisi, aku menganggap kamu berharap aku sering mengirimimu bunga.”

“Aku membiarkannya karena aku penasaran. Jadi, nggak cukup di depan rumahku dan di RDB, kamu juga menguntitku sampai sini?”

“Aku bekerja di sini.” Hagen menegakkan punggungnya. “Aku tidak menguntitmu ke mana-mana. Saat di kafe, aku mengingat warna dan model sepedamu. Saat aku menonton pertunjukanmu di RDB, aku tidak diizinkan untuk menemuimu, jadi aku meninggalkan bunga di sepedamu. Saat aku mengunjungi temanku, aku tidak sengaja tahu kalian tinggal di gedung yang sama. Apa kamu tidak melihatnya sebagai tanda bahwa kita ditakdirkan untuk bertemu?”

“Apa sudah ada yang mengatakan padamu bahwa kamu menyebalkan?” Mara duduk di sini karena menunggu Laure yang katanya ingin bicara dengannya setelah pemotretan. Bukan untuk berbasa-basi dengan laki-laki yang namanya menghantui Mara selama dua minggu terakhir. Tidak sabar Mara memeriksa jam tangannya. Sudah lima belas menit berlalu tapi Laure tidak juga muncul.

“Hanya adikku yang mengatakan aku menyebalkan, lainnya menganggapku menyenangkan.” Hagen berhenti bicara karena melihat Mara memutar bola mata. “Laure menitipkan ini padaku. Kontrak yang bisa kamu pelajari, kamu diskusikan dengan pengacaramu, baru setelah itu kita bisa mendiskusikan jika ada poin yang membuatmu keberatan. Laure sudah menjelaskan, kan, bahwa semua pendapatan dari buku ini akan digunakan sepenuhnya untuk membeli sepeda bagi anak-anak yang kurang beruntung?” Di tangan Hagen ada map berwarna putih dengan logo perusahaan berwarna hitam.

Mara mengangguk. Salah satu alasannya mengiyakan permintaan Laure untuk menjadi model dan narasumber dalam buku ini adalah dia bisa berbuat baik tetapi tidak perlu mengeluarkan uang sedikit pun. Alasan lainnya karena dia akan menjadi model sampul bersama menantu Ratu Kerajaan Denmark.

“Setelah kita menandatangani kontrak nanti, kamu akan mendapat kartu khusus yang bisa kamu gunakan untuk naik kereta gratis selama satu tahun penuh di seluruh Denmark dan Scania,” lanjut Hagen.

“Serius?” Mara mengerjapkan mata. “Kalau kalian ingin menulis buku lagi dan memerlukan model dan narasumber, hubungi aku kapan saja.”

“Hanya kalau DSB[1] menjadi sponsornya.” Hagen tertawa sebentar, sebelum wajahnya berubah menjadi serius. “Aku minta maaf kalau kamu merasa dikuntit selama ini, Mara. Saat di kafe dulu, aku berniat mengenalkan diri padamu, tapi aku tidak mendapatkan kesempatan. Kamu tergesa-gesa pergi. Setelahnya, aku tidak tahu harus menghubungimu di mana. Aku pernah mengirim e-mail ke RDB tetapi tidak ada balasan.”

“Gimana kamu bisa … mengenalku?” Mara mengerutkan kening.

“Yang benar saja, Mara? Siapa yang tidak tahu namamu? Memang aku tidak terlalu menaruh perhatian padamu. Tetapi semenjak adikku mulai sering memintaku untuk menemaninya menonton balet, aku sering meng-update dan mengikuti perjalanan kariermu. Suatu waktu aku mengalami masa sulit … paling sulit dalam hidupku. Tidak ada yang ingin kulakukan selain mengurung diri di dalam rumah dan tidak berinteraksi dengan manusia.”

Mara bisa melihat binar semangat di mata Hagen perlahan meredup.

“Tetapi hari itu adalah hari ulang tahun adikku dan aku sudah berjanji padanya bahwa kami akan menonton balet bersama. Di atas panggung saat itu, kamu memerankan Giselle, Mara. Kalau ada orang yang bisa menggambarkan bagaimana rasanya patah hati hingga ingin mati, kamu adalah orangnya. Untuk pertama kalinya aku melihat ada orang yang benar-benar bisa memahami apa itu rasa sakit. Kita seperti berbagi kesedihan yang sama, rasa putus asa yang tidak terkira besarnya. Malam itu aku merasa lega luar biasa. Seperti aku baru menceritakan masalahku kepada orang lain tanpa dihakimi.

“Sepulang dari sana, aku mulai berpikir bahwa semua yang terjadi pada diriku memang menyakitkan, tapi aku bisa memilih apakah aku akan membiarkan diriku hancur karenanya atau menggunakan energi dan emosi negatif yang terlalu besar untuk sesuatu yang bermanfaat. Tarianmu menyentuhku hingga ke bagian hatiku yang paling dalam, Mara. Aku tidak bisa mengedipkan mata barang sekali selama pertunjukan. Aku berani bersumpah banyak orang mengusap air mata saat itu dan kalau tidak ada adikku yang cerewet, mungkin aku juga akan menangis.”

Mara tertegun. Selama dia menari, belum pernah ada satu orang pun yang mengaku tersentuh oleh tariannya. Orang hanya sibuk mengomentari kekurangannya. Para pengamat dan ahli lebih sering mengkritik dan seperti tidak mau melihat satu kelebihan pun dalam setiap penampilan Mara. Senior dan teman-temannya bicara di belakang punggungnya, mengatakan bahwa sesungguhnya Mara tidak pantas membawakan peran Giselle. “Yang menciptakan tarian dan gerakan indah adalah koreografer. Aku nggak melakukan apa-apa, kecuali menari dengan sebaik-baiknya.”

Hagen menggeleng. “Kamu menari menggunakan hati, Mara. Kata ibuku … sorry, apa kamu akan menganggap aku cengeng karena mengutip nasihat ibuku?”

Mara bisa melihat kilatan jenaka kembali muncul di mata Hagen, meski sekilas saja.

“Nggak sama sekali,” geleng Mara. “Ibu adalah sumber nasihat terbaik di dunia.”

“Kata ibuku, kalau kamu melakukan sesuatu dari hati, maka hasilnya akan sampai ke hati. Semua orang pasti bisa melihat dengan jelas bahwa kamu menari karena memang kamu menyukainya. Tidak ada hal lain yang ingin kamu lakukan selain menari. Apa aku salah?”

“Nggak. Terima kasih karena kamu membuatku merasa apa yang kulakukan selama ini nggak sia-sia. Sebenarnya aku nggak hanya ingin bisa menari, aku ingin sedikit menginspirasi. Tapi kurasa aku nggak pernah bisa melakukannya. Sampai malam itu, kurasa.” Mara menarik napas dan melirik jam tangannya. “Aku harus pergi sekarang.”

“Apa kamu memaafkanku?” Hagen berdiri dan berjalan bersama Mara.

“Aku menyukai bunga dan gambar darimu.” Mara menyimpan dua kartu dari Hagen. Setelah hari yang melelahkan, Mara selalu tersenyum memandangnya. Hatinya terasa lebih ringan ketika tahu di luar sana ada seseorang yang menghargai kerja kerasnya.

“Kalau kamu mengizinkan, aku ingin berteman denganmu, Mara.”

Bersambung,

[1] Operator kereta api di Denmark.

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *