My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 4

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Geek Play Love, Midsommar dan Midnatt.

Bagian 1 | Bagian 2 | Bagian 3

 

“Aku sudah pernah bicara dengannya. Di kafe. Beberapa waktu yang lalu.” Hagen memberi tahu Annamari.

“Itu tidak bisa dihitung sebagai memperkenalkan diri, Hagen.”

“Baiklah. Aku akan menemuinya nanti, kalau dia datang. Apa aku bisa kembali bekerja sekarang?” Memang Hagen adalah pendiri dan pemimpin firma konsultasi yang bergerak di bidang tata kota ini. Tetapi pemilik peraturan adalah Annamari. Tanpa Annamari kantor ini tidak akan berjalan.

Hagen tenggelam dalam pikirannya setelah Annamari meninggalkan ruangannya. Saat mencuri dengar pembicaraan Mara di kafe siang itu, Hagen tidak sempat memperkenalkan diri karena Mara buru-buru pergi. Siapa pun juga akan bergegas pergi kalau disapa oleh orang asing. Apalagi kalau orang asingnya dianggap menguping.

Gadis itu cantik sekali. Wajahnya berbentuk hati. Bibirnya penuh dan hidungnya sempurna. Bagian yang disukai Hagen adalah mata Mara. Mengingatkan Hagen pada mata ibunya. Lembut, namun penuh semangat. Berbeda dengan kebanyakan orang sini, Mara berambut hitam legam. Tubuhnya tidak tinggi. Pernah suatu ketika, Hagen menonton acara televisi, di mana Mara diwawancara selama tiga puluh menit, setelah gadis itu mendapat kehormatan menari di depan keluarga kerajaan. Pada wawancara tersebut Mara mengungkapkan bahwa selama tinggal di Denmark, sangat sering Mara berharap dirinya berkulit putih, berambut pirang, berbadan tinggi, dan bermata biru. Menjadi berbeda, kata Mara, membuat orang lebih tertarik melihat dan memperhatikannya. Setiap gerak dan perkataan Mara tidak akan luput dari penilaian orang. Oleh karena itu, Mara lebih memilih untuk bersembunyi.

Tetapi sekarang, tampaknya Mara sudah tidak bisa lagi bersembunyi lagi. Seluruh penduduk di negara ini, baik yang menyukai balet atau tidak, mengenal Mara. Termasuk Hagen. Awalnya Hagen terpaksa menemani adiknya menonton dan pada hari itu, adiknya menjelaskan mengenai siapa Mara. Sampai satu bulan kemudian, Hagen tidak bisa menghilangkan tarian indah Mara dari ingatannya. Setiap Mara tampil, Hagen membelikan tiket untuk adiknya, supaya dia memiliki kesempatan untuk menonton Mara. Hingga hari ini adiknya tidak curiga, malah semakin baik padanya. Supaya terus mendapatkan tiket.

Kalau Mara ambil bagian dalam buku yang digagas Hagen, seluruh dunia akan tahu namanya. Mungkin jika diadakan tur buku di negara lain, Hagen akan meminta Mara untuk ikut berbicara. Kombinasi yang menarik. Bukan warga negara Denmark, berkarier dan berprestasi di sini. Orang akan menyukainya.

Layar komputer Hagen menampilkan pesan dari Annamari, yang mengatakan bahwa Tim Catalan menolak rapat di ruangan Hagen dan menginginkan rapat diadakan di pelabuhan. Hagen berdiri dan membawa tabletnya keluar. Tidak terlalu banyak orang di kantor hari ini. Mungkin mereka memilih bekerja dari rumah. Bagian belakang gedung ini langsung menghadap laut. Dekat dengan area pelabuhan. Ada meja dan kursi di area marina yang selama ini dimanfaatkan oleh banyak orang untuk duduk bersantai, makan siang, atau mengadakan pertemuan. Cuaca bagus sekali hari ini. Matahari bersinar dengan hangat.

“Laure,” sapa Hagen kepada salah seorang gadis yang ikut duduk mengelilingi meja bundar. “Bukankah kamu ada wawancara hari ini?”

Gadis berambut pirang tersebut menggeleng dan berdiri. “Bukan wawancara. Pemotretan. Tapi nanti sore. Aku cuma bergosip di sini.”

Hagen mengangguk. “Di mana lokasinya?”

“Di dekat sini. Mara Hakinen akan akan dipotret sebelum dia berangkat ke acara pengumpulan dana untuk anak-anak penderita kanker,” jelas Laure. “Aku ingin menjadikan fotonya untuk cover belakang buku kita. Bagaimana menurutmu?”

“Kalau bisa menarik perhatian lebih banyak orang untuk membaca, tidak masalah bagiku.” Foto sampul depan sudah ditentukan. Puteri Mahkota kerajaan bersama dua anak perempuannya. “Aku akan ke sana nanti.”

“Ke mana?” Laure batal melangkah.

“Ke lokasi pemotretan.”

“Untuk apa?”

Untuk memperkenalkan diri kepada Mara. “Untuk menilai bagaimana kamu melakukan pekerjaanmu.”

Laure hanya menanggapinya dengan tawa.

***

Dari tempatnya berdiri, Hagen memperhatikan Mara yang sedang mengayuh santai sepedanya sambil mengikuti arahan fotografer. Sore ini Mara sangat cantik dengan gaun merahnya. Rambutnya diangkat ke atas dengan detail yang indah di bagian kanan. Riasan sederhana di wajahnya semakin menyempurnakan penampilannya. Meski mengenakan gaun panjang dan sepatu hak tinggi, Mara tampak nyaman duduk di atas sepeda.

Hagen melakukan segala cara untuk mengampanyekan kebiasaan bersepeda. Karena Hagen percaya bahwa sepeda adalah solusi bagi banyak masalah yang dihadapi kota-kota besar di dunia. Mulai masalah kemacetan hingga masalah kesehatan. Salah satu upaya Hagen adalah melalui buku. Kali ini, Hagen menginisiasi diterbitkannya buku yang berisi foto dan profil para wanita berbagai usia yang berprestasi dan menginspirasi, yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi utama dalam kesehariannya. Ada banyak orang yang terlibat. Mulai dari Puteri Mahkota, anggota senat, penyanyi, balerina, hingga seorang profesor. Buku sebelumnya, yang menampilkan tema serupa, namun semua tokoh yang terlibat adalah laki-laki, menjadi buku paling laris di seluruh dunia dan sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Seluruh hasil penjualan digunakan untuk membeli sepeda yang dibagikan kepada orang-orang di negara yang tertinggal secara ekonomi, korban bencana alam, maupun orang-orang yang terdampak konflik bersenjata. Hagen memperkirakan buku yang akan terbit ini akan menjangkau pembaca lebih banyak dan membuka pikiran mereka, mengenai salah satu solusi hidup yang mudah: sepeda.

“Aku sudah punya judul yang tepat untuk profil Mara Hakinen.” Laura, project coordinator yang ditunjuk Hagen, bersuara. “Simple simply classy to make even every princess envious.”

Tanpa sadar Hagen mengangguk. Sederhana dan berkelas adalah dua kata yang tepat untuk menggambarkan Mara. Setelah melihat foto Mara, seluruh anak-anak pasti akan melupakan tuan puteri yang canti di buku dongeng milik mereka. Mereka semua pasti ingin menjadi seperti Mara.

***

Kalau tidak menjadi balerina, Mara ingin bekerja di sini. Mara mengamati ruangan lebar di mana dia duduk saat ini. Kantor ini  nyaman sekali. Ada meja-meja lebar di tengah ruangan, dikelilingi kursi aneka warna. Ada lima rak buku putih dua sisi yang digunakan sebagai sekat. Sofa—di mana Mara duduk—dan bean bag merah mendominasi sepanjang dinding sisi kanan. Dinding dan mebel-mebel berwarna terang. Kabarnya, ada freezer khusus es krim di kantor ini dan semua pegawai boleh makan sepuasnya. Seolah ingin membuktikan kebenaran kabar tersebut, dua orang gadis berjalan keluar dari sebuah ruangan, masing-masing membawa popsicle.

“Untukmu.” Satu botol lemonade mendarat di meja rendah di depan Mara.

“Kamu?” Mara hampir menjerit saat melihat siapa yang duduk di sisi kanannya. Laki-laki yang mencuri dengar pembicaraan Mara di Granola saat itu.

“Hagen.” Laki-laki itu mengulurkan tangannya.

Mara menjabat tangan tersebut sebentar sambil menyebutkan nama.

“Hagen?” Mara mengerutkan kening. “Kamu yang menaruh bunga di sepedaku?”

“Apa kamu menyukainya?”

“Apa kamu gila?”

 

 

Bersambung.

___

Catatan Vihara:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai di dunia ini. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah MidsommarMidnatt, When Love Is Not Enough dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis. Kalau tertarik membaca ceritaku yang lain, silakan masuk ke menu BOOKS BY VIHARA.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *