My Books

THE DANCE OF LOVE

BAGIAN 3

Oleh Ika Vihara

Penulis Buku Midsommar, Midnatt, Bellamia, dan Daisy

Bagian 1 | Bagian 2

Di balik penampilan sempurna seorang balerina, ada ratusan jam latihan yang melelahkan dan cedera ringan maupun berat yang harus dilalui. Dari tempat duduk penonton, seorang balerina tampak cantik dan tariannya terlihat indah. Mempesona. Mereka tidak tahu, sesungguhnya seorang balerina sedang bermandi keringat dan mungkin, bau seperti kuda. Setelah melewati latihan, cedera, menahan ketidaknyamanan karena tubuhnya lengket dan basah, dan sebagainya selama sepuluh tahun, malam ini Mara tetap menari sebagaimana biasanya dia menari. Menari seolah panggung ini adalah panggung terakhirnya dan lain waktu dia tidak akan memiliki kesempatan untuk berdiri di sini.

Besok dia akan menerima pujian dan banyak kritikan atas penampilannya kali ini. Tidak masalah. Yang penting malam ini dia berhasil membawakan peran Nikiya dengan sangat baik. Setelah mandi air hangat dan mengganti baju, yang paling ingin dilakukan Mara adalah pulang ke rumah dan tidur.

“Mara.” Nora, salah satu balerina yang juga ambil bagian dalam pementasan malam ini, masuk ke ruang ganti membawa satu buket bunga superbesar. Bunga mawar, favorit Mara.

“Untukmu.” Sambil tersenyum lebar Nora mendekati Mara.

“Dari siapa?” Mara mengamati bunga-bunga mawar merah muda yang indah sekali di pelukannya. Tidak mungkin Rafka membeli bunga semahal ini untuknya. Adiknya terlalu pelit untuk melakukannya.

“Dari Hagen,” jawab Nora dengan ringan. Seolah-olah Mara mendapatkan dua belas kuntum bunga yang indah seperti ini bukan kejadian langka.

“Hagen? Siapa Hagen?” Kali ini Mara mengalihkan pandangan dari bunganya dan fokus menatap temannya.

“Siapa Hagen?” Nora malah mengolok dan menertawakan pertanyaan Mara. “Bukankah dia kekasihmu?”

“Kekasih?” Mata Mara hampir meloncat keluar. Jadi orang asing tersebut masuk ke sini dengan mengatakan bahwa dia adalah kekasih Mara? Semua orang percaya dan mengizinkannya? “Dari mana kamu tahu namanya? Apa dia bilang dia mengenalku?”

“Dari mana tahu namanya? Astaga, Mara. Kamu pikir aku hidup di bawah batu? Tentu saja aku tahu namanya. Semua orang juga tahu siapa dia. Dia tidak perlu mengatakan bahwa dia kekasihmu. Bunga ini, yang harganya paling tidak seribu krona, sudah membuktikan. Memangnya laki-laki akan membawa bunga semahal itu untuk sembarang orang?”

Kalau ditukar dengan rupiah, uang seribu krona setara dengan Rp 2.200.000,- lebih sedikit. Bunga ini tidak murah untuk diberikan kepada seseorang yang tidak dikenal. Sudahlah, nanti Mara akan mencari tahu siapa Hagen yang memberinya bunga istimewa ini. Sekarang dia harus pulang dan istirahat. Hari ini terlalu panjang untuknya.

Saat berjalan keluar bersama Nora, Mara mendapati Rafka sedang menunggunya di dekat tempat parkir sepeda. Sedang mengobrol akrab dengan seorang gadis berambut gelap. Nora melambaikan tangan saat membawa sepedanya meninggalkan lokasi parkir.

“Congrats.” Rafka langsung memeluknya. “Kalau Mama dan Papa di sini, dia pasti bangga melihatmu menari dengan sangat bagus seperti tadi.”

“Thanks.” Pengakuan dari orang-orang terdekatnya, orang-orang yang dia cintai, jauh lebih berarti daripada pujian yang pernah dia dapatkan dari para pengamat.

“Kenalkan ini Agnetha. Dia bilang dia selalu nonton pementasanmu dan dia nggak percaya kalau aku adalah adikmu. Dia orang Indonesia juga. Setengah.” Rafka mengenalkan gadis muda yang cantik yang berdiri di sampingnya.

Mara tertawa. “Wajah kami memang nggak mirip.” Karena dia dan Rafka berbeda ayah dan berbeda ibu. Mara sudah diasuh oleh ibu Rafka semenjak usia dua bulan. Tiga tahun kemudian, ibu Rafka menikah dengan ayah Rafka dan mereka berdua mengadopsi Mara secara hukum. Setahun kemudian, Rafka lahir. “Terima kasih sudah datang menonton malam ini. Apa kamu datang sendiri?”

“Tadi bersama kakakku, tapi dia tidak bisa lama-lama di sini. Harus mengejar penerbangan ke Amsterdam karena ada urusan di sana besok pagi-pagi buta,” jawab Agnetha.

“Kalau kalian masih ingin jalan-jalan atau apa, aku akan pulang duluan,” kata Mara. Malam masih sangat muda dan masih banyak tempat di Copenhagen yang bisa mengakomodasi mereka untuk lebih saling mengenal.

Setelah sepakat bahwa malam ini mereka berpisah jalan, Mara mengayuh santai sepedanya. Di depannya tampak tiga orang laki-laki di atas tiga sepeda sedang mengangkut satu ranjang besar. Mara tertawa. Orang Copenhagen benar-benar luar biasa. Kalau sebelumnya Mara terkagum-kagum melihat orang mengangkut pohon natal setinggi lebih dari dua meter menggunakan sepeda, kali ini Mara tidak tahu harus berkata apa melihat dengan mudahnya orang memindahkan ranjang besar tanpa bantuan mobil. Mara berhenti sebentar untuk mengambil gambar. Selama ini dia senang memotret hal-hal menarik mengenai kota yang sudah dia anggap sebagai rumah sendiri ini.

Kata Copenhagen mengingatkannya pada nama Hagen. Sosok misterius yang tadi memberinya bunga. Sambil melanjutkan perjalanan, Mara memikirkan kembali bung-bunga yang dia terima. Sepertinya Hagen, H, dan HM adalah orang yang sama. Saat berhenti di lampu merah, Mara mengeluarkan ponsel dan memasukkan nama Hagen ke dalam mesin pencari. Banyak berita berkaitan dengan urbanisme muncul pada halaman pertama. Seandainya Mara tahu nama belakangnya. Mara mendesah kecewa karena tidak punya petunjuk lain. Setelah menyimpan kembali ponselnya, Mara kembali melaju sambil berpikir. Apa yang dikatakan Nora betul. Atas tujuan apa seorang laki-laki memberikan bunga sebegini mahal kepada seseorang yang tidak benar-benar istimewa? Atau mungkin Mara istimewa baginya? Memikirkannya saja sudah membuat hati Mara melambung karena tersanjung.

Mungkin Nora tahu lebih banyak mengenai Hagen. Selama mereka bercakap tadi, Mara menangkap kesan bahwa, bagi Nora, Hagen adalah sosok yang familier. Saat berhenti menuntun sepedanya masuk ke dalam apartemen, Mara mengetik pesan singkat kepada temannya. Menanyakan nama lengkap Hagen. Kalau Mara memiliki nama lengkapnya, akan lebih mudah untuk menemukannya dan mengonfrontasi kebiasaan Hagen mengiriminya bunga, tanpa sekali pun menemuinya.

***

Tidak ada satu kota pun yang sempurna. Tetapi ada beberapa kota yang lebih baik dari kota-kota lainnya. Dalam proyek terbarunya, Hagen akan mengunjungi enam kota di masing-masing benua dan akan menunjukkan bagaimana sebuah kota mempermudah hidup penghuninya. Sekecil apa pun usaha yang dilakukan kota itu. Setelah empat tahun menggodok ide tersebut, membicarakan dengan production company, akhirnya program yang dia ususlkan disetujui dan season pertama akan mulai syuting dua bulan lagi. Trailer sudah mulai dilempar dan sejauh ini tanggapan dari banyak orang sangat menggembirakan.

“E-mail-e-mail yang penting sudah kutandai. Yang perlu perhatian segera adalah e-mail dari Barcelona. Sepertinya kamu harus membacanya, sebelum conference meeting dengan orang dari perwakilan pemerintah Catalunia jam satu nanti. Siapa namanya?” Annamari, executive assistant Hagen, mengernyitkan keningnya.

“Kalau begitu, tolong minta Tim Catalan untuk diskusi denganku sekarang,” kata Hagen, tidak menjawab pertanyaan Annamari. Membangun kota berbasis sepeda tidak mudah dilakukan. Perlu waktu yang tidak singkat. Tim Catalan yang dibentuk Hagen, akan mendampingi pemerintah Catalunia dalam setiap proses pembangunan, mulai dari desain hingga uji coba.

“Well, dalam e-mail tersebut ada sesuatu yang tidak bisa dilakukan Tim Catalan.”

Hagen mengangkat sebelah alisnya. Tim yang dibentuk Hagen adalah tim serbabisa. Tidak ada yang tidak bisa mereka lakukan.

“Catalonian Civil Engineers Assosiation akan mengadakan seminar saat kamu di sana. Mereka ingin memintamu menjadi pembicara utama.”

“Aku tidak ada rencana untuk ke sana.”

“Tapi kamu akan ke sana. Karena kamu tidak akan melewatkan peluang untuk membagikan ilmumu kepada banyak orang.” Asistennya tersenyum, sudah tahu bahwa Hagen tidak akan melewatkan kesempatan untuk mengedukasi lebih banyak orang, mengenai pentingnya menata ulang sebuah kota dengan mengutamakan kepentingan manusia. “Oh, ya, Hagen, ada telepon dari Vancouver tadi, mereka ingin mengajukan proposal, juga memintamu menjadi juri dalam bicycle film festival.”

“Kalau tidak mendesak, aku akan memikirkan nanti. Setelah memanggil Tim Catalan, tolong belikan bunga mawar, bukan yang besar. Satu kuntum. Seperti yang sebelumnya. Dan kartu yang kertasnya bagus, yang bisa kugambari.”

“Mara Hakinen akan datang ke sini sore ini untuk diwawancara. Dia menjadi salah satu tokoh perempuan yang dipilih Laure untuk buku terbaru kita,” jelas Annamari. Dari semua orang di gedung ini, Hagen sangat mempercayai ibu tiga anak ini. Termasuk mengenai ketertarikannya kepada Mara, balerina kelahiran Indonesia, yang berdarah setengah Finlandia. “Aku akan tetap membeli bunganya, Hagen. Tapi sekarang sudah saatnya kamu berhenti bertingkah seperti penguntit. Perkenalkan dirimu dengan benar kepada gadis itu.”

 

Bersambung.

Catatan:

Halo teman-teman. Selamat membaca cerita The Dance of Love. Ada tiga hal yang sangat kusukai. Cerita fiksi, STEM(Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan Scandinavia-fenno Scandinavia. Setelah Midsommar, Midnatt dan My Bittersweet Marriage, sekarang aku mulai menggabungkan ketiganya dalam cerita cerita ini. Yang kuunggah di sini sedikit demi sedikit dan bisa dibaca gratis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *